Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
(Lanjutan part sebelumnya)
"Apa maksudmu Van, dia putri kandungku?"
"Iya tan, Andriana memiliki kalung giok bulan sabit dan untuk memastikan kebenarannya aku sudah melakukan test DNA antara anda dan Andriana, hasilnya sungguh mengejutkan, Andriana dan anda memiliki kecocokan lebih dari sembilan puluh persen. Itu artinya anda dan Andriana adalah ibu dan anak kandung".
Andriana menatap Devan dengan bingung "Van, dia mama kandungku?"
Devan pun mengangguk, satu tangannya mengusap pipi Andriana dengan lembut "Sayang, tunjukkan kalung giokmu" Pinta Devan lembut dengan senyum tipis.
Andriana segera membuka tas dan meraih kalung tersebut, menyodorkannya kepada Devan
Seketika Diana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, begitu melihatnya lalu mengambil kalung giok itu dan memastikan keasliannya " I-ini benar, ini kalung giok yang aku pakaikan pada kedua putriku".
Lagi lagi Andriana bingung" Dua putri?Jadi aku punya saudara perempuan?".
Diana mengusap wajahnya "Iya sayang, kamu mempunyai seorang saudara perempuan yang sudah meninggal karena kecelakaan satu bulan setelah kamu hilang...hiks hiks hiks "Ucap Diana lirih.
"Kalau aku punya saudara kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali"
Diana semakin tertunduk menahan tangisannya yang telah pecah, ia hendak memeluk Andriana tapi ditahan oleh Devan.
Diana menoleh dan menatap Devan tajam.
Devan pun membalas tatapan itu dengan lebih tajam dan menusuk.
"Tunggu dulu tan, sebelum kamu benar benar yakin kalau Andriana adalah putri kandungmu yang hilang, aku ingin mengajukan satu pertanyaan pada anda ".
"Katakan saja Devan!"
" Anda kenal nyonya Rosa?"
"Ehem, dia menderita jantung kronis" Jawab Diana.
" Satu bulan terakhir apa anda melakukan cangkok jantung padanya?"
Deg
Pertanyaan Devan membuat dokter jantung senior itu terkejut seketika. Ia terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban dengan sangat hati hati, mengingat Devan adalah orang yang sangat cerdas.
Devan mengernyitkan dahinya, tatapannya sangat tajam penuh penekanan membuat Diana terdiam semakin tertekan dan ragu ragu untuk memberikan jawaban.
Diana mengangkat wajahnya, mengambil nafas lebih dalam sebelum melemparkan pandangan pada dua orang yang sejak tadi menatapnya penuh tekanan.
"Devan, iya saya memang melakukan operasi cangkok jantung"
"Di mana?" Yanya Devan.
"Di sini" Jawab Diana terjeda.
"Apakah klinik anda sudah memenuhi syarat dan kualifikasi untuk melakukan bedah besar?"
Diana menunduk lalu menggeleng perlahan.
"Apakah anda tahu resiko apa yang akan terjadi jika operasi itu gagal, oke aku tahu anda adalah dokter profesional dan tidak diragukan lagi kehebatannya dalam masalah jantung. Tapi seharusnya anda tahu apa yang anda lakukan itu adalah perbuatan ilegal dan melanggar hukum!!"
Diana menatap wajah Devan " Tapi Devan, semua itu sudah sesuai prosedur, pendonor sudah bersedia dan ada berkas tanda tangannya".
Devan menarik tangan Andriana" Anda tahu dokter Diana siapa pemilik jantung itu, dia adalah kakak iparnya Andriana, itu berarti menantu nyonya Rosa sendiri ".
Deg
"A-apa yang kamu katakan Devan! Tuan Arnold dan Sonia bilang pemiliknya adalah wanita tuna susila yang sudah tidak memiliki keluarga dan terhimpit masalah ekonomi"
"Itu pun salah target tante, target sebenarnya adalah dia" Mengangkat tangan Andriana yang juga kaget.
Andriana menatap wajah Devan seketika
"Apa maksudmu Van, mereka menargetkan aku sebagai pendonor jantung untuk mama Rosa?"
Devan mengangguk perlahan " Dua puluh tahun yang lalu Andriana tidak hilang tapi sengaja diculik oleh Rosa untuk dijadikan anak angkat, kalau ada kesempatan saat sudah dewasa dia akan mengambil jantungnya".
Andriana mundur sambil menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya" Tidak Van, kamu bohong! Mama sangat menyayangiku, tidak mungkin dia mau mengambil jantungku!".
"Jangan bodoh kamu Andriana!Kamu pikir kejadian 20 tahun yang lalu hanyalah kebetulan, kamu hilang dan ditemukan oleh keluarga Wijaya! Hmmm salah besar, mereka sengaja menculikmu lalu akan membunuhmu serta mengambil jantungmu!" Ucap Devan berapi api.
Andriana semakin sedih, ia sangat terluka, luruh terduduk di lantai sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.Ia tetap tidak percaya kalau keluarga Wijaya terutama mama Rosa sejahat itu.
"Tidak,tidak Van kamu pasti bercanda, tidak Van tidak!" Ucapnya sambil menangis sesenggukan.
Devan meraih pundak Andriana untuk memberinya kekuatan, lalu pandangannya beralih pada Diana yang terdiam membeku di sudut ruangan.
"Hampir saja anda membunuh darah daging anda sendiri demi orang lain yang jahat dan serakah. Sekarang apakah anda berani bertanggung jawab dan menyeret semua orang yang terlibat dalam kasus ini, dok ter Diana?" Ucap Devan kasar dan berjeda.
Diana melotot tajam, dadanya tiba tiba sesak, tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai mengalir di dahinya, nafasnya pun tercekat di tenggorokan.
"A-apa maksudmu Devan?"
Devan tersenyum tipis, sesekali ia mencium lembut jari jemari Andriana " Anda bisa menyeret keluarga Wijaya ke meja hijau dan memberikan kesaksian yang benar".
Diana luruh dan terduduk bersimpuh di lantai, kedua tangannya memangku tubuhnya, wajahnya yang mulai keriput kini menjadi pucat pasi.
"Sayang, dia memang mama kandungmu, aku sudah melakukan test DNA antara kalian berdua, tapi dia sudah berkomplot dengan para penjahat yang membunuh Saskia dan mengambil jantungnya. Jadi apa kamu masih bersedia menerimanya?" Devan menatap lekat wajah wanitanya.
Andriana pun membalas tatapannya dengan tajam, lalu ia menggenggam kedua tangan Devan tanpa melepaskan pandangannya, senyum tipis terukir di sudut bibirnya " Devan, aku sama kamu Van".
"Kemana pun?" Tanya Devan sambil mencubit hidung kekasihnya itu
"Iya Van kemana pun kamu membawaku, aku milikmu, seutuhnya milikmu" Jawab Andriana pelan.
Diana beranjak dan mengusap air matanya
"Sayang, maafkan mama? Mama sungguh tidak tahu kalau mereka yang menculikmu! Kalau dari awal mama tahu semuanya, mama tidak akan mau berteman dengan mereka".
"Dokter Diana, aku tidak tahu apa aku bisa memaafkanmu atau tidak. Meskipun dia sudah selingkuh dengan suamiku tapi tetap saja dia kakak iparku" Jawab Andriana tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Devan.
Diana semakin terpuruk di dalam penyesalan, tangisannya pun pecah.
"Sayang, mama janji akan menyerahkan diri kepada polisi dan menyeret mereka semua, tapi mama mohon maafkan mama".
Andriana menoleh ke arah Devan seakan meminta jawaban dari kekasihnya itu, Devan pun mengangguk perlahan dan tersenyum tipis membuat Andriana ikut mengangguk perlahan.
"Mama tenang saja aku aman bersama Devan, dia akan menjaga dan melindungiku, aku juga sudah memaafkan mama asalkan mama mau bertanggung jawab karena ikut dalam rencana pembunuhan ini".
Diana pun mengangguk dengan pasrah, kini semua telah hancur, gelar kedokteran yang ia bangga banggakan hancur dalam sekejap mata hanya karena keserakahan dan kebodohannya.
"Tante Diana, asal anda mau bersaksi dengan benar, aku Devan Ardana Collin akan menjamin untuk kebebasan dan membantu memulihkan gelar kedokteran anda" Ucap Devan dingin tanpa ekspresi.
Diana menarik nafasnya dalam-dalam " Aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku Van, yang terpenting saat ini adalah Andriana, aku titip jagalah dia, jangan biarkan ia terluka ".
Andriana menatap lekat wajah Diana" Mama"
Diana pun tertunduk sambil menangis mendengar putrinya memanggilnya mama.