Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pria misterius 2
Keesokan paginya, tepat saat jarum jam menunjukkan pukul lima pagi, aku terbangun. Cahaya fajar baru saja mulai menyelinap masuk melalui celah gorden jendela kamar. Aku merapikan selimut, lalu berjalan keluar kamar hendak mencuci muka.
Namun, langkahku terhenti saat melihat sosok Ibu sudah berdiri di sana. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela ruang tamu, menatap kosong ke arah halaman depan yang masih basah oleh embun. Tatapannya jauh, seolah pikirannya sedang melayang pergi ke tempat yang tak terjangkau—mungkin sedang merindukan sosok Ayah yang biasanya sudah sibuk bersiap berangkat kerja jam segini.
Aku mendekat perlahan, lalu menyentuh pundaknya dengan lembut. "Bu... Ibu jangan melamun begitu dong. Nanti Ibu sakit kalau begini terus."
Ibu tersentak kaget, lalu menoleh perlahan ke arahku. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tampak lelah. "Eh, Angela... Kamu sudah bangun ya?"
"Iya, Bu. Ibu mau masak apa nanti? Biar Angela yang masakin," tawarku sambil menatapnya dengan penuh kasih.
Ibu menghela napas pelan, lalu menggenggam tanganku hangat. "Apa saja boleh, Angel. Yang penting kita makan bersama."
Aku tersenyum mendengar jawaban Ibu, lalu segera beranjak ke dapur. "Baiklah, Bu. Angela akan buatkan bubur hangat dan tumis sayur ya."
Dengan hati-hati aku mencuci tangan, lalu mulai menyiapkan bahan-bahan yang ada. Aku mencuci beras hingga bersih, menaruhnya di panci, dan menyalakan kompor. Sambil menunggu bubur matang, aku mengiris sayuran segar sisa belanja kemarin. Aroma masakan yang mulai tercium harum perlahan mengusir kesunyian pagi itu.
Tak lama kemudian, sarapan sederhana sudah tersaji di atas meja makan. Aku memanggil Ibu untuk duduk bersamaku. Kami makan dengan tenang, sesekali saling melempar senyum kecil. Meski sederhana, rasa hangat dan kebersamaan itu membuat hati kami terasa cukup.
Setelah selesai makan, aku membereskan peralatan makan, lalu bersiap untuk berangkat bekerja. Aku mencium punggung tangan Ibu dengan lembut. "Ibu di rumah hati-hati ya. Jangan terlalu lelah bekerja. Nanti sore Angela pulang lagi."
Ibu mengusap kepalaku dengan penuh kasih. "Iya, Nak. Kamu juga semangat bekerja, jaga kesehatan ya."
Aku melangkah keluar rumah dengan membawa tas kerjaku, berharap hari ini akan berjalan baik dan membawa sedikit kelegaan bagi kami berdua.
Setelah sarapan sederhana bersama Ibu, aku bersiap berangkat kerja. Aku berjalan menuju halaman belakang, tempat sebuah sepeda motor Vespa tua berwarna krem terparkir rapi. Ini adalah pemberian Ayah saat aku lulus sekolah menengah dulu. Meski mesinnya sudah tak lagi baru dan kadang berbunyi nyaring, bagiku kendaraan ini adalah kenangan paling berharga yang selalu mengingatkanku pada kasih sayangnya.
Aku menyalakan mesinnya, lalu melaju perlahan membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Angin sejuk menyapa wajahku, membuatku seolah mendengar bisikan penyemangat dari Ayah.
Sesampainya di kafe tempatku bekerja, aku memarkirkan Vespa itu di tempat yang biasa. Begitu melangkah masuk, beberapa teman kerjaku langsung menyambutku. Aku memang sudah tiga hari tidak masuk sejak kepergian Ayah kemarin.
"Angela! Kamu sudah datang!" seru Rina sambil menghampiriku. "Kabar kamu dan Ibu gimana? Kami semua sangat khawatir."
Vina yang berdiri di balik meja kasir ikut mendekat dengan wajah penuh iba. "Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya, Angel. Semoga almarhum Ayahmu beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Kamu harus tabah dan sabar ya."
Kemudian Vina menyodorkan sebuah amplop putih tertutup ke arahku. "Ini ada sedikit sumbangan dari kami semua. Terima saja ya, ini bentuk perhatian kami untukmu dan Ibu."
Aku menggeleng pelan sambil menahan haru. "Tidak usah, Vin. Terima kasih banyak atas niat baik kalian, tapi aku tidak bisa menerimanya."
"Terima saja, Angel! Jangan malu-malu sama kami!" seru Bagus yang juga ikut mendekat.
"Iya benar! Kalau kamu menolak, kami malah merasa bersalah," timpal teman-teman yang lain sambil tersenyum memaksaku dengan ramah.
Melihat ketulusan dan kebaikan mereka yang terus mendesak dengan penuh persahabatan, akhirnya aku pun menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Air mata haru menetes di pipiku. "Terima kasih... terima kasih banyak, teman-teman. Kalian benar-benar seperti keluarga bagiku."
Kata-kata tulus dari teman-teman seolah meruntuhkan sisa pertahanan yang selama ini ku jaga sekuat tenaga. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang terasa kaku. Aku tak sanggup lagi menahan perasaan haru yang bercampur dengan rasa kehilangan yang mendalam. Tanpa banyak bicara, Vina melangkah maju dan langsung merangkulku erat. Pelukannya hangat, penuh ketulusan, seolah ingin menyampaikan bahwa aku tidak sendirian menghadapi semua ini. Tak lama kemudian, Rina dan teman-teman yang lain ikut menyertakan pelukan itu, membentuk lingkaran kasih sayang yang membuat dadaku terasa lebih lega.
"Kuat ya, Angel. Kami ada di sini buat kamu," bisik Vina lembut di samping telingaku.
Aku mengangguk di sela isak tangis yang perlahan mereda, lalu membalas pelukan mereka dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih... terima kasih banyak, kalian semua baik sekali padaku."
Setelah suasana sedikit tenang dan hati kami pun merasa lebih lega, kami pun kembali menata diri. Waktu tak bisa berhenti begitu saja, dan pekerjaan tetap harus diselesaikan. Kami pun berpisah menuju tugas masing-masing. Vina kembali ke balik meja kasir untuk mencatat pesanan dan melayani pembayaran. Rina merapikan daftar menu dan memastikan persediaan alat makan sudah lengkap. Bagus masuk ke bagian dapur untuk membantu menyiapkan bahan makanan, sementara aku berdiri di area depan, bersiap menyambut pengunjung dan mengantar pesanan ke meja. Meski hati masih terasa berat, senyum tulus kembali kucoba tampilkan di wajahku, sebagaimana yang selalu diajarkan Ayah: bekerja dengan ikhlas dan sopan kepada siapa saja.
Kafe mulai terasa ramai dengan kedatangan pelanggan pagi yang mencari sarapan atau sekadar minuman hangat untuk memulai hari. Aku sibuk berjalan ke sana kemari, menyeka meja, menuangkan air, dan mencatat pesanan. Namun, tak lama kemudian, suasana riuh di kafe itu perlahan berubah menjadi hening saat pintu kaca utama terbuka lebar. Langkah kaki yang terdengar berirama namun berat masuk ke dalam ruangan, membuat beberapa pelanggan yang sedang duduk ikut menoleh penasaran.
Seketika tubuhku kaku berdiri di tempatku berpijak. Napasku tertahan sejenak.
Yang masuk bukanlah pelanggan biasa. Itu adalah sekelompok pemuda yang mengenakan setelan jas hitam rapi, tampak gagah dan berwibawa. Gerak mereka teratur, tatapan mata mereka waspada menyisir seluruh ruangan. Namun, yang membuat jantungku berdegup kencang bukanlah penampilan mereka, melainkan ingatan yang langsung muncul di benakku. Ya, aku tak mungkin lupa. Mereka adalah rombongan yang sama persis dengan yang kulihat kemarin di pasar! Pakaian serba hitam, aura yang misterius dan mengintimidasi, serta satu sosok yang berdiri paling depan dengan tatapan dingin yang tak pernah berubah.
Darahku seolah berdesir kencang. Kenapa mereka ada di sini? batinku bertanya dengan cemas. Mereka berjalan dengan tenang seolah memiliki tempat itu, dan tatapan pemuda yang paling depan itu kembali menatap lurus ke arahku, tepat di mana aku berdiri terpaku. Kali ini aku tak bisa lagi berpura-pura tidak melihat atau sekadar mengabaikannya. Kehadiran mereka di sini, di tempatku bekerja, terasa terlalu dekat dan terlalu mendadak.
Dengan perasaan yang berdebar tak menentu, aku memberanikan diri melangkah menghampiri meja mereka. Aku berusaha menyembunyikan rasa gugup dan takutku, berusaha tampil tenang dan profesional sebagaimana mestinya seorang pelayan.
"Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu? Ingin memesan apa?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap berusaha sopan.
Pemuda yang paling muda dan berdiri paling depan itu duduk tegak di kursi, menatapku lekat-lekat tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin. "Kopi lima," ucapnya singkat, padat, dan tanpa nada bertanya.
Baru saat itulah aku menyadari posisi mereka. Keempat orang yang berdiri agak menjauh namun tetap mengawasi dengan saksama itu ternyata adalah pengawalnya. Mereka adalah pasukan pengawal pribadi—bodyguard—yang menjaga keselamatan pemuda itu. Rasa takutku perlahan berubah menjadi kekaguman yang bercampur cemas melihat betapa istimewanya sosok di hadapanku ini.
Aku mengangguk pelan. "Baik, terima kasih."
Tak lama kemudian, pesanan siap kusiapkan. Dengan hati-hati, aku mengangkat nampan berisi lima cangkir kopi panas menuju meja itu. Namun, saat hendak meletakkannya, kakiku tak sengaja tersandung kaki meja. Tubuhku oleng seketika! Cangkir di tanganku terguling, dan kopi panas itu tumpah tepat membasahi bagian depan jas hitam yang dikenakan pemuda itu.
Suasana di dalam kafe seketika hening. Semua mata pelanggan dan teman kerjaku menoleh ke arah kami serentak. Dalam hati, Vina pasti berteriak panik: Aduh, bahaya besar, Angel!
Keempat bodyguard itu langsung bereaksi seketika, berdiri tegak dengan tangan terangkat seolah siap menangkapku atau melindungi tuannya. Namun, pemuda itu hanya mengangkat satu tangan pelan, memberi isyarat agar mereka duduk kembali. Tanpa banyak suara, mereka pun menurut dan kembali ke posisi semula.
Aku buru-buru bangkit, wajahku memerah padam karena malu dan takut. "Maaf! Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja!" seruku panik sambil meraih tisu di meja untuk mengelap jas mahalnya.
"Kamu tahu kan, jas ini mahal," ujarnya datar, tanpa amarah yang meledak namun terdengar jauh lebih mengintimidasi.
"Saya minta maaf, Pak. Saya sungguh tidak bermaksud," kataku lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Nanti malam pukul dua puluh lewat nol nol, temui aku di Kafe XX1," ucapnya tegas. Ia meletakkan selembar uang kertas cukup besar di atas meja—jauh lebih mahal dari harga kopi itu—lalu berdiri dan pergi begitu saja diiringi pengawalnya.
Aku menghela napas panjang, lalu segera membersihkan sisa tumpahan kopi di lantai dan meja. Tak lama kemudian Vina datang menghampiriku dengan wajah cemas.
"Angel! Haduh, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.
"Sepertinya tidak apa-apa, Vin. Tapi tadi dia bilang aku harus menemuinya nanti malam," jawabku pelan.
Vina melotot tak percaya. "Haduh, kamu tahu tidak siapa mereka?"
"Siapa?" tanyaku polos, hatiku mulai diliputi firasat buruk.
"Mereka itu kelompok mafia yang sangat disegani di kota ini! Dan yang paling muda tadi itu adalah pemimpin utamanya!"
Aku terbelalak kaget, rasanya nyawaku hampir melayang mendengarnya. Namun aku hanya bisa menghela napas pasrah. "Yah... mau bagaimana lagi, Vin? Itu memang salahku juga."
Kami pun kembali bekerja melayani pengunjung yang datang dan pergi, namun hatiku tak sepenuhnya tenang. Pikiran tentang pertemuan malam itu terus mengganggu, membuatku harus berusaha keras berkonsentrasi pada tugas-tugasku. Waktu terasa berjalan sangat lambat, namun akhirnya jam pulang pun tiba. Aku mengucapkan salam pada teman-temanku, lalu bergegas pulang dengan perasaan campur aduk.
Sesampainya di rumah, Ibu sudah menungguku di meja makan dengan hidangan sederhana yang masih mengepul hangat. "Ayo makan dulu, Nak. Ibu sudah siapkan untukmu," tawarnya lembut.
Aku mengangguk pelan, lalu langsung duduk dan menyantap makanan itu. Perutku sebenarnya tak terlalu lapar karena gugup, tapi aku tak ingin mengecewakan Ibu. Saat sedang makan, Ibu bertanya lagi, "Gimana pekerjaanmu hari ini, Angel? Tidak ada masalah kan?"
"Lancar-lancar saja kok, Bu," jawabku sekuat tenaga menyembunyikan kegelisahan yang sedang kurasakan.
Setelah selesai makan, aku segera mencuci piring dan peralatan makan yang tadi kami gunakan. Setelah itu, aku masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dengan sebaik-baiknya. Aku merapikan diriku, memakai wangi-wangian yang tak terlalu menyengat namun tetap menyegarkan. Tanganku meraih gaun berwarna putih bersih yang modelnya sederhana namun sopan. Aku menyisir rambutku lurus, lalu menguncirnya rapi di tengah dengan sebuah pita putih kecil. Terakhir, aku memakai sepatu hak pendek berwarna putih yang nyaman digunakan.
Saat aku hendak melangkah keluar kamar, Ibu yang sedang duduk di ruang tengah menoleh dan bertanya heran, "Mau ke mana kamu, Nak? Sudah malam begini berdandan cantik begitu."
Aku menelan ludah, hatiku berdenyut bersalah harus berbohong padanya. Namun aku takut jika jujur tentang janji bertemu dengan pemimpin mafia itu, Ibu pasti akan sangat khawatir dan panik. "Mau ke rumah Vina sebentar, Bu. Katanya dia mau meminjamkan buku padaku," ujarku akhirnya.
"Oh begitu. Ya sudah, hati-hati ya, Nak. Pulangnya jangan terlalu malam-malam," pesan Ibu dengan senyum tulus yang membuatku semakin merasa berdosa.
"Iya, Bu. Angela berangkat dulu ya," jawabku sambil mencium punggung tangannya, lalu melangkah keluar menuju Vespa tua milik Ayah yang terparkir di halaman.