Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Suara hantaman keras dan rintihan kesakitan langsung memenuhi area restoran lobi hotel pagi itu.

Bugh. Krak.

Pasukan tentara bayaran elit itu tidak membuang waktu sedetik pun untuk melumpuhkan kelima polisi gadungan tersebut.

Hanya butuh waktu satu menit bagi sang Kapten bercodet untuk mematahkan lutut kelima pria berseragam palsu itu.

"Aaaargh! Ampun Tuan, kami hanya dibayar untuk berakting menakut-nakuti Anda!" teriak pemimpin polisi bodong itu sambil memegangi kakinya yang bengkok.

Gibran menyesap kopi paginya dengan sangat tenang seolah jeritan itu adalah alunan musik klasik yang indah.

"Kalian terlalu berisik dan mengganggu selera makanku pagi ini."

"Kapten, seret lima sampah ini keluar dari lobi dan buang mereka ke selokan depan jalan raya," perintah Gibran tanpa menoleh.

Kapten bercodet itu mengangguk patuh dan memberi isyarat kepada anak buahnya.

Srek srek.

Kelima polisi palsu itu diseret paksa melewati lantai marmer lobi hotel yang disaksikan oleh para staf dari kejauhan.

Kini hanya tersisa Siska yang masih meringkuk di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang patah.

Wanita itu gemetar hebat hingga gigi-giginya bergemeretak ketakutan melihat kebrutalan pasukan pengawal Gibran.

"Gibran... Maafkan aku, aku benar-benar dipaksa oleh Bratasena kali ini," isak Siska mencoba mencari secercah belas kasihan.

Gibran meletakkan cangkir kopinya dan menunduk menatap wanita yang dulu pernah menjadi pusat dunianya itu.

"Air matamu sudah tidak ada harganya lagi di mataku Siska, bahkan lebih murah dari batu kerikil di jalanan."

"Kembalilah ke pelukan majikan tuamu itu dan sampaikan padanya bahwa waktu bermainnya sudah habis," ucap Gibran sedingin es.

Siska menggelengkan kepalanya dengan putus asa karena ia tahu Bratasena pasti akan menyiksanya lagi jika ia pulang membawa kegagalan.

"Tolong izinkan aku pergi dari kota ini Gibran, beri aku sedikit uang tiket agar aku bisa pulang ke desa," mohon wanita itu memelas.

Gibran tertawa pelan mendengar permintaan tidak tahu malu dari wanita yang baru saja mencoba meracuninya itu.

Hahahaha.

"Uangku hanya kugunakan untuk membeli batu giok dan membayar orang-orang yang setia kepadaku."

"Kapten, lemparkan juga wanita murahan ini ke selokan bersama teman-temannya tadi," perintah Gibran memutus semua harapan Siska.

Dua orang tentara bayaran langsung mengangkat tubuh Siska secara kasar tanpa mempedulikan teriakan histerisnya.

"Lepaskan aku! Gibran kau jahat sekali padaku!" jerit Siska yang suaranya perlahan menjauh menghilang dari balik pintu lobi.

Gibran menghela napas panjang dan merasa udara di sekitarnya menjadi jauh lebih bersih setelah hama-hama itu disingkirkan.

Ponselnya berdering pelan memunculkan sebuah pesan singkat dari Aurel Larasati.

"Pasukan elit itu bekerja dengan baik Nona Aurel, terima kasih atas kirimannya pagi ini," balas Gibran melalui pesan suara.

Di waktu yang sama pada sebuah rumah mewah di kawasan elit ibu kota, Bratasena Mahendra sedang mengamuk sejadi-jadinya.

Prang. Brak.

Barang-barang antik di ruang kerjanya kembali menjadi sasaran amukan pria paruh baya yang sedang stres berat itu.

Di depannya, lima orang polisi bayarannya tergeletak berlumuran darah setelah dibuang dari selokan depan hotel.

"Dasar kumpulan manusia tidak berguna! Kalian dibayar ratusan juta hanya untuk pulang dengan kaki patah?!" bentak Bratasena dengan urat leher menonjol.

Pemimpin polisi bodong itu menundukkan kepalanya menahan rasa sakit dan malu yang luar biasa.

"Pemuda itu ternyata dijaga oleh sepasukan tentara bayaran elit bersenjata api laras panjang Tuan Besar."

"Kami sama sekali tidak sempat mengeluarkan pistol dari sarungnya saat mereka menyergap kami," alasan pria itu dengan suara bergetar.

Master Seno yang sedang duduk bersantai di sofa kulit hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemandangan memalukan tersebut.

"Sudah kubilang Tuan Bratasena, jangan gunakan cara kotor dunia bawah yang murahan seperti ini."

"Kekuatan Keluarga Mahendra ada pada kekayaan finansial, bukan pada preman jalanan," tegur Master Seno sambil menyesap teh herbalnya.

Bratasena mengusap wajahnya yang kasar dan mencoba menenangkan ritme jantungnya yang berdegup kencang.

"Tapi pemuda bernama Gibran itu terus-terusan mengganggu rencana kita Master Seno."

"Jika dia datang ke pelelangan akbar lusa dan kembali mengacau, reputasi keluargaku bisa benar-benar hancur lebur," keluh Bratasena frustrasi.

Master Seno tersenyum sombong dan meletakkan cangkirnya perlahan ke atas meja kaca.

"Pelelangan akbar bukanlah pasar gelap pinggiran yang bisa dimasuki oleh sembarang orang kaya baru."

"Fokus saja kumpulkan semua dana likuid milik keluargamu, karena kita harus mengamankan batu Raja Hijau apa pun yang terjadi," instruksi Master Seno mutlak.

Bratasena menelan ludahnya pelan mendengar instruksi gila dari pakar giok nasional tersebut.

"Untuk memenangkan Raja Hijau, aku harus mencairkan seluruh saham perusahaan dan menjual beberapa aset properti utamaku."

"Itu adalah pertaruhan hidup dan mati bagi Keluarga Mahendra, Master Seno," ucap Bratasena mengingatkan risiko besarnya.

Master Seno berdiri dan menepuk bahu Bratasena dengan penuh keyakinan yang membutakan.

"Batu Raja Hijau itu memiliki aura zamrud kaisar yang seratus persen sempurna."

"Begitu batu itu dibelah, harganya akan melonjak tiga kali lipat dan kau bisa membeli seluruh kota ini dalam semalam," janji Master Seno dengan mata berbinar rakus.

Janji keuntungan gila-gilaan itu langsung menghapus semua keraguan di dalam hati Bratasena Mahendra.

"Bagus, aku akan menyuruh sekretarisku untuk mencairkan seluruh dana cadangan Keluarga Mahendra hari ini juga."

"Kita akan tunjukkan pada bocah ingusan itu dan Keluarga Larasati siapa penguasa sejati di dunia giok ini!" teriak Bratasena penuh semangat.

Siska yang baru saja merangkak masuk ke dalam rumah mewah itu hanya bisa meringkuk di sudut ruangan tanpa berani bersuara.

Wanita itu menangis dalam diam meratapi nasibnya yang kini menjadi gelandangan cacat di tengah pusaran konflik para naga.

Dua hari kemudian, hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh konglomerat di ibu kota provinsi akhirnya tiba.

Pelelangan Akbar Batu Giok Internasional diselenggarakan di aula utama Hotel Grand Royal yang sangat megah.

Ratusan mobil mewah dari berbagai merek Eropa memadati area parkir VIP sejak sore hari.

Gibran berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan setelan jas tuksedo hitam pekat yang dirancang khusus dari desainer Italia.

Aurel Larasati masuk ke dalam kamar Gibran tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna emas berkilau yang membuatnya terlihat seperti seorang dewi kecantikan yang turun dari langit.

"Kau terlihat sangat menawan malam ini Gibran, nyaris seperti seorang pangeran dari kerajaan Eropa," puji Aurel sambil tersenyum tipis.

Gibran membalikkan badannya dan membalas senyuman itu dengan tatapan mata yang sangat percaya diri.

"Dan kau terlihat sangat berbahaya Nona Aurel, para konglomerat itu pasti akan kehilangan fokus lelang karena terus menatapmu," goda Gibran santai.

Aurel terkekeh pelan dan melangkah mendekati Gibran untuk membenarkan letak dasi kupu-kupu pemuda tersebut.

Aroma parfum mawar hitam yang elegan kembali menusuk indra penciuman Gibran dengan sangat lembut.

"Giok Salju Surgawi sudah diamankan di dalam brankas pameran utama dengan penjagaan berlapis."

"Malam ini kita akan membiarkan Bratasena menguras seluruh hartanya untuk batu Raja Hijau sebelum kita memukul telak harga dirinya," bisik Aurel merencanakan strategi.

Gibran mengangguk setuju dan menawarkan lengan kirinya kepada wanita cantik tersebut.

"Mari kita berangkat Nona Aurel, aku sudah tidak sabar melihat wajah putus asa Bratasena saat uangnya berubah menjadi abu."

Mereka berdua berjalan keluar dari kamar suite dan langsung disambut oleh formasi pengawalan ketat dari pasukan tentara bayaran bercodet.

Sesampainya di aula utama Hotel Grand Royal, kedatangan Gibran dan Aurel langsung menyita perhatian seluruh tamu undangan.

Lampu blitz dari kamera para wartawan kilat menyambar berkali-kali mencoba mengabadikan momen kehadiran dua penguasa muda tersebut.

Jepret jepret jepret.

Gibran berjalan dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat para konglomerat tua tanpa sadar menyingkir memberikan jalan.

Di barisan kursi VIP paling depan, Bratasena Mahendra dan Master Seno sudah duduk menanti dengan wajah penuh kebencian.

"Anjing itu berani datang kemari dengan gaya yang sangat arogan," gumam Bratasena sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Master Seno menyipitkan matanya menatap Gibran dari kejauhan.

"Biarkan saja dia menikmati kesombongannya saat ini Tuan Bratasena."

"Sebentar lagi panggung ini akan menjadi saksi kehancuran mentalnya saat melihat batu Raja Hijau milik kita terbelah," ucap Master Seno dengan senyum sinis.

Gibran membawa Aurel duduk di kursi VIP tepat di seberang meja Bratasena, sengaja memancing ketegangan secara langsung.

"Tuan Bratasena, kulihat kau masih hidup dan belum terkena serangan jantung malam ini," sapa Gibran dengan suara lantang yang memancing tawa tertahan dari tamu lain.

Bratasena mendengus kasar dan menatap Gibran dengan mata menyala-nyala.

"Simpan lelucon murahanmu itu Gibran, karena malam ini aku membawa dana tak terbatas untuk menelan seluruh harga dirimu," balas Bratasena dengan percaya diri tingkat dewa.

Gibran hanya menyandarkan punggungnya ke kursi empuk itu dan menyilangkan kakinya dengan sangat santai.

"Dana tak terbatas ya? Kuharap uangmu itu tidak berasal dari hasil menggadaikan sertifikat rumah dan ginjalmu Tuan Bratasena," ejek Gibran tepat sasaran.

Wajah Bratasena sedikit menegang karena tebakan Gibran tentang menggadaikan aset ternyata seratus persen akurat.

Tiba-tiba, suara merdu dari pembawa acara lelang bergema melalui pelantang suara raksasa di penjuru ruangan.

"Selamat malam para hadirin yang terhormat, selamat datang di Pelelangan Akbar Batu Giok Internasional tahun ini!"

"Mari kita mulai acara puncaknya, harap siapkan nyali dan kekayaan Anda untuk batu-batu legendaris malam ini!" teriak pembawa acara itu memanaskan suasana.

Gibran menatap tajam ke arah panggung utama di mana tirai merah raksasa mulai terbuka perlahan.

Di balik tirai itu, puluhan batu giok berukuran raksasa dipajang dengan pencahayaan yang sangat dramatis.

[Sistem Mata Sakti Raja Giok diaktifkan secara maksimal.]

[Memindai seluruh material di aula utama. Proses analisis dimulai.]

Suara dingin dari sistem kembali menggema di kepala Gibran, siap untuk membongkar semua kebohongan dan harta karun di ruangan tersebut.

Pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya akhirnya resmi dimulai.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!