Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Baskara langsung menunduk. Karena tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ia tidak suka pembicaraan seperti ini. Tidak suka kata-kata yang terdengar seperti perpisahan. "Bu. Jangan bicara seolah-olah akan pergi ke mana-mana. Ibu harus sehat, harus panjang umur. Setidaknya sampai usia ibu dua ratus tahun!"

Semua orang tertawa, namun kemudian diam. Mereka merasakan bagaimana sesaknya perasaan Baskara. Bu Mega tersenyum lagi. "Ibu hanya ingin menikmati keluarga Ibu." Lalu pandangannya berpindah kepada Vivi. "Dulu Ibu takut keluarga ini tidak akan utuh lagi." Kemudian kepada Sean dan adik-adiknya. "Ternyata Allah jauh lebih baik daripada rencana Ibu."

Vivi merasakan dadanya menghangat sekaligus tidak nyaman. Karena entah kenapa Kalimat-kalimat Bu Mega hari ini terdengar seperti seseorang yang sedang membereskan isi hatinya. Dan malam itu, saat seluruh keluarga berkumpul makan malam bersama, Bu Mega tampak sangat bahagia. Terlalu bahagia. Seolah ia sedang berusaha menyimpan sebanyak mungkin kenangan untuk dibawa dalam waktu yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya.

***

Jumat pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya. Tenang meski penuh suara anak-anak. Usai salat Subuh berjamaah, Vivi membantu Ella merapikan mukena. Sean sudah membuka Al-Qur'an. Yuan duduk di sampingnya. Saka yang biasanya paling sulit diam hari itu juga ikut mengaji. Lili duduk di pangkuan Bu Mega sambil memainkan ujung jilbab neneknya.

Beberapa hari terakhir, Bu Mega memang lebih sering berada di tengah-tengah mereka. Tidak banyak bicara. Hanya menikmati kebersamaan yang dulu jarang ia miliki.n"Lanjutkan, Sean." kata Bu Mega lembut.

Sean mengangguk. Lalu mulai membaca. Suara ayat suci memenuhi ruang keluarga. Rasanya sangat Menyejukkan. Bu Mega memejamkan mata. Mendengarkannya dengan senyum kecil.

Vivi yang duduk tidak jauh dari sana sempat memperhatikan. "Bu, mau dibuatkan teh hangat?" tanyanya.

Bu Mega menggeleng pelan. "Tidak usah." Perempuan tua itu tersenyum. Lalu pandangannya berpindah kepada satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Sean. Yuan. Saka. Ella. Lili. Kemudian Vivi. Tatapan yang hangat. Penuh kasih sayang.

Dan entah kenapa membuat Vivi merasa tidak tenang. "Kenapa, Bu?" tanya Vivi pelan.

Bu Mega hanya menggeleng. "Tidak apa-apa." Lalu ia berkata, "Lanjutkan mengajinya."

Sean kembali membaca. Anak-anak lain mengikuti.nBeberapa menit berlalu. Sampai tiba-tiba Lili menepuk-nepuk lengan neneknya. "Nenek?" Tidak ada jawaban. "Nenek..."

Lili mengangkat wajahnya. "Nenek tidur."

Semua tersenyum kecil. Namun Vivi merasa ada yang aneh. Karena Bu Mega terlalu diam. Perempuan itu segera mendekat. "Bu?" Tidak ada jawaban. "Bu?" Tangannya menyentuh bahu mertuanya. Tubuh itu masih hangat. Namun tidak bergerak. Senyum kecil masih tertinggal di wajahnya. Seolah beliau hanya sedang beristirahat. Jantung Vivi mulai berdegup kencang. "Mas..."

Baskara langsung menoleh.

"Mas..." ulang Vivi. Kali ini suaranya bergetar.

Ada sesuatu dalam nada suara istrinya yang membuat Baskara langsung berdiri Ia mendekati ibunya. "Bu?" Tidak ada jawaban. "Bu." Tangannya meraih tangan Bu Mega. Masih hangat. Tetapi tidak ada balasan.

Ruangan mendadak sunyi. Sean berhenti membaca. Yuan menurunkan mushafnya. Saka memandang bergantian antara ayah dan neneknya. Ella mulai terlihat bingung.

"Ayah..." bisik Sean.

Baskara tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal bertahun-tahun lalu, wajah lelaki itu kehilangan seluruh kekuatannya. "Bu..." Suaranya pecah. "Bu..." Namun tidak ada jawaban lagi. Tidak akan pernah ada lagi. Bu Mega telah pergi. Pergi pada pagi Jumat. Usai salat Subuh. Di rumah putranya. Dikelilingi cucu-cucu yang sedang membaca Al-Qur'an. Dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. Seolah Allah mengabulkan doa terakhirnya. Untuk melihat keluarganya utuh.

Sean mulai menangis lebih dulu. Disusul Ella. Lalu Saka yang berusaha keras menahan air matanya namun gagal. Yuan memeluk adiknya. Meski matanya sendiri sudah merah. Lili tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya terus bertanya, "Kenapa Nenek tidur?"

Vivi tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk anak kecil itu erat-erat. Sementara air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Karena hari itu mereka bukan hanya kehilangan pemilik yayasan. Bukan hanya kehilangan seorang ibu. Bukan hanya kehilangan seorang nenek. Mereka kehilangan perempuan yang selama ini menjadi tiang penyangga keluarga. Perempuan yang menyatukan semua bagian yang retak. Perempuan yang membawa Vivi masuk ke keluarga ini. Dan di tengah tangisan yang memenuhi rumah itu, Vivi teringat kalimat terakhir Bu Mega beberapa hari lalu.

"Ternyata Allah jauh lebih baik daripada rencana Ibu." Saat itu Vivi tidak memahaminya. Kini ia mengerti. Bu Mega memang sedang berpamitan. Dan sebelum pergi, beliau telah memastikan bahwa keluarga yang sangat dicintainya akan tetap baik-baik saja.

***

Rumah Baskara tidak pernah sesunyi ini. Padahal orang-orang datang dan pergi sejak pagi. Tetangga. Kerabat. Guru-guru yayasan. Murid-murid lama. Pengurus yayasan. Semuanya berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. Namun di tengah keramaian itu, keluarga kecil mereka justru terasa kehilangan suara. Untuk pertama kalinya, tidak ada telepon dari Bu Mega. Tidak ada pesan singkat yang menanyakan kabar cucu-cucunya. Tidak ada nasihat yang kadang terdengar seperti perintah.bTidak ada sosok yang selama ini selalu hadir di setiap masalah keluarga. Tidak ada Bu Mega.bDan kenyataan itu terasa sangat berat.

Sean duduk di teras rumah sejak pagi. Biasanya ia selalu terlihat dewasa untuk anak seusianya. Namun hari ini ia hanyalah seorang anak yang kehilangan neneknya.

"Sean." panggil Vivi lembut.

Sean mengangkat wajahnya. Matanya sembab. "Aku kangen Nenek."bKalimat sederhana itu membuat dada Vivi terasa sesak. Karena tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki keadaan.bIa hanya duduk di samping Sean. Membiarkan anak itu menangis.

Di dalam rumah, Yuan memilih diam. Ia duduk di ruang baca milik Bu Mega. Memegang salah satu buku yang sering dibaca neneknya.

"Yuan." Anak itu tidak menjawab. "Nak."

Akhirnya Yuan menoleh. "Aku belum sempat menunjukkan nilai matematikaku ke Nenek." Suaranya nyaris berbisik.

"Nenek pasti senang melihatnya." kata Vivi.

Yuan menunduk. "Tapi sekarang Nenek tidak bisa lihat." Dan untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, anak yang selalu terlihat paling logis itu menangis.

Di kamar lain, Saka justru membuat semua orang khawatir. Karena ia tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak membuat keributan. Ia hanya duduk diam memeluk lututnya.

"Saka, Kamu tidak apa-apa?"

Anak itu mengangguk. Namun beberapa detik kemudian berkata, "Kalau aku nakal lagi, siapa yang akan membela aku dari Ayah?" Air mata akhirnya jatuh dari wajah Saka. Dan saat itu Vivi sadar. Setiap cucu memiliki kenangannya sendiri bersama Bu Mega.

Ella lebih sulit lagi. Sejak pagi ia terus menangis. "Aku mau Nenek." Matanya sudah bengkak. "Aku mau Nenek bangun." Tangisan anak perempuan itu membuat semua orang ikut berkaca-kaca. Karena pada usia lima tahun, kematian masih terlalu sulit dipahami.

1
Agung Khan
👍
Tyas Wahyoe
aku jadi inget adegan film "The Sound of Music"🤭🤭
Her Lina
bibi dan nenek punya hak apa selagi masih punya ayah...emosi liatnya
Her Lina
ada aja upayanya Helda nyari warisan...anak2 masih ada ayahnya kok di minta. aneh...
Her Lina
bapak kok di nasehati anak 😄
Her Lina
baskara dan Alina udah berkeluarga meski Alina udah tiada...kenapa keluarga nya ikut campur?? padahal udah di wasiatkan Bu Mega kalo Vivi yg akan meneruskan.
Her Lina
di depan makam Alina udah mengakui kalo mencintai Vivi...knp di depan orangnya justru menjaga jarak
Her Lina
kok jadi flasback ceritanya
Patrish
enteng banget bicaramu Sinta....manusia itu punya otak
Patrish
ewaallaahhhh......patah hati ternyata...dan minta ganti...dokter kok picik...
Patrish
naahhh......Baskara lebih peka
Patrish
ini tante beneran apa jadi jadian ya...kelihatan energi negatifnya
Sriza Juniarti
masyaAllah...cerita kehidupan yang luarr biasa,mantap..inspirasi banyak orang..hidup jangan menyerah Allah tau yg kita butuhkan
bukan yg kita inginkan
Her Lina
pinter banget Vivi...cuma di cuekin sebentar, peran nya skrg yg lebih mendominasi
Patrish
berarti Helda ini yang punya 4 anak..yang hidupnya ditopang Baskara?..waaahhh....jadi duri dia
tiniteyok
tokoh laki² bodo😄
💗 AR Althafunisa 💗
🥹🥹🥹🥹🥹🥹
💗 AR Althafunisa 💗
Menyedihkan 🥲
💗 AR Althafunisa 💗
Innalillahi wa innailaihi rojiun... 😭😭😭
Patrish
balas dendam dengan keluarga Vivi?..ibunya?...ayahnya yang menolak cinta?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!