"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Konsekuensi
Helena
Aku terbangun dengan ranjang yang kosong. Sisi tempat Nikolai berbaring masih menyimpan kehangatannya, tapi ia sudah pergi dari rumah. Beberapa detik kuhabiskan menatap langit-langit sebelum akhirnya bangkit.
Aku melangkah menuju kamar mandi, dan di tengah jalan, semuanya berputar. Kupegang dinding, kutarik napas dalam-dalam. Rasa pusing itu memudar, tapi rasa mualnya tetap ada. Sudah tiga hari. Tiga hari yang selama ini kuabaikan.
Aku berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Aku turun untuk sarapan. Meja sudah tertata, aroma kue yang baru matang langsung menyergapku. Aku kelaparan. Kumakan dengan cepat, hampir dengan tergesa, seolah tubuhku menagih sesuatu yang tertunda.
Lalu rasa mual itu naik.
Tak sempat berpikir. Aku berlari ke toilet terdekat. Kubertumpu pada wastafel dan muntah… sekali, dua kali, sampai kakiku lemas dan tenagaku habis.
Kudengar langkah tergesa.
"Nak!" seru Rosario, masuk dengan terburu-buru. Ia juru masak paling lama di rumah ini, yang sudah menyaksikan generasi demi generasi lahir dan tumbuh besar di sini.
Ia membantuku berdiri, mengusapkan kain dingin ke wajahku, memegang bahuku dengan mantap. Matanya menelitiku dengan ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada rasa mual ini.
Ia menatapku dalam-dalam. Tersenyum tipis, hampir penuh hormat.
"Anakku…" ucapnya pelan. "Sepertinya pewaris Ivanov sedang dalam perjalanan."
Seketika tubuhku membeku.
Dunia berhenti.
"Apa?" bisikku, suaraku tercekat.
Ia tak mengulanginya. Tak perlu. Kepastian lama itu, dari seorang perempuan yang sudah puluhan kali menyaksikan hal semacam ini, terasa berat di udara.
Tanpa sadar kubawa tanganku ke perut.
Takut.
Terguncang.
Dan ada sesuatu yang lain… sesuatu yang hangat, yang tak terduga.
Jantungku mulai berdetak terlalu kencang.
Karena, tiba-tiba, semuanya berubah.
Aku berpaling ke Rosario dengan jantung yang berdegup liar.
"Kumohon… belikan aku alat tes kehamilan," pintaku dengan suara nyaris tak terdengar. "Dan… tak seorang pun boleh tahu. Tak seorang pun."
Ia menatapku sejenak, lama dan serius, lalu mengangguk tanpa bertanya apa pun. Ia menghilang di lorong seakan mengerti mendesaknya keadaan ini lebih baik daripada aku sendiri.
Menit-menit terasa merangkak. Ketika ia kembali, ia membawa sebuah kantong sederhana yang tak mencolok. Diserahkannya padaku tanpa sepatah kata. Pandangan kami bertemu, dan jauh di dalam sorot matanya, ada kepastian yang menolak kuterima.
Aku naik ke kamar dengan kaki yang lemas.
Kukunci diri di kamar mandi.
Tanganku gemetar hebat sampai alat tes itu nyaris terjatuh. Kuikuti petunjuknya secara otomatis, seolah aku berada di luar tubuhku sendiri. Lalu kududuk di tepi bak mandi, siku bertumpu di lutut, kepala tertunduk.
"Kumohon, Tuhan…" gumamku. "Kumohon, semoga hasilnya negatif."
Waktu tak berjalan.
Ia hanya membebani.
Alarm berbunyi.
Jantungku berdegup begitu kencang sampai terasa sakit. Aku bangkit perlahan, seakan lantai bisa lenyap begitu saja dari bawah kakiku. Kudekati wastafel, kupejamkan mata sesaat sebelum melihat.
Ketika kubuka…
Istana pasirku runtuh.
Positif.
Kubawa kedua tanganku ke kepala, udara terenggut dari paru-paruku, kakiku lemas. Aku merosot ke lantai kamar mandi yang dingin, punggung bersandar di pintu.
"Tidak… tidak…" ucapku berulang, suaraku pecah.
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
"Nikolai takkan pernah memaafkanku…" gumamku sekali. "Tak akan pernah…" ulangku, seakan dengan mengucapkannya berkali-kali bisa menjadikannya kenyataan.
Aku menangis dalam diam, takut bahkan pada dinding-dinding di sekitarku. Takut pada masa depan. Takut pada pria yang kucintai… dan lebih lagi pada sosok pria yang ia jelma ketika merasa dikhianati.
Tanganku bergerak sendiri ke perut.
Dan di sana, di tengah kepanikan, ada sesuatu yang terlalu kecil untuk memiliki nama — tapi cukup besar untuk mengubah segalanya.
Hanya saja sekarang…
Yang bisa kurasakan hanyalah rasa takut.
Aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin, punggung bersandar di pintu, alat tes itu masih tergeletak di wastafel seolah bisa menudingku kapan saja. Tanganku gemetar saat kuraih ponsel.
Kutelepon Natalia nyaris tanpa melihat layar.
Ia langsung menjawab.
"Helena?"
Aku membuka mulut, tapi tangis datang lebih dulu sebelum kata-kata.
"Natalia… aku telah melakukan kesalahan besar…"
Suaraku putus-putus, tersendat oleh isak.
Di ujung sambungan, nadanya seketika berubah.
"Kesalahan apa? Apa yang kaulakukan?"
Kutarik napas dalam-dalam, tapi tak ada gunanya. Semuanya runtuh sekaligus.
"Aku berbohong…" kuakui. "Aku tak pernah memakai alat kontrasepsi apa pun. Itu ada di kontrak… aku tahu itu… tapi aku tak memakainya karena aku selalu ingin menjadi seorang ibu."
Keheningannya berlangsung terlalu lama.
"Helena…" ucapnya perlahan.
"Kau hamil?"
Aku tak sanggup menjawab dengan kata-kata.
Aku menangis.
Aku menangis keras, penuh luka, seolah udara mengoyak dadaku. Kutekan ponsel ke wajahku, dan di sela isak yang satu dengan yang lain, kuucapkan:
"Iya… aku hamil."
Di ujung sambungan, Natalia diam sejenak. Aku hanya mendengar embusan napasnya. Ketika ia bicara lagi, suaranya tak keras. Suaranya mantap.
"Bernapas," ucapnya.
"Dengarkan aku… bernapaslah. Kau tidak sendirian. Kau dengar?"
Tapi aku merasa demikian.
Sendirian.
Ketakutan.
Terlalu jatuh cinta hingga tak mungkin tidak merasa takut.
"Dia akan membenciku…" bisikku.
"Nikolai akan membenciku."
"Tidak."
Natalia menjawab, dengan kepastian yang belum bisa kurasakan.
"Dia akan hilang kendali. Dia akan marah. Dia akan kehilangan pijakan. Tapi membencimu? Tidak. Tidak akan pernah."
Kupejamkan mata, kusandarkan dahi ke lutut.
Aku ingin memercayainya.
Tapi saat itu, yang bisa kulihat hanyalah jurang antara cinta yang telah kami bangun…
Dan kebenaran yang harus kuungkapkan.
"Helena… kau harus memberitahunya," ucapnya, suaranya pelan tapi mantap.
Seluruh tubuhku bereaksi seolah ia baru saja mendorongku dari tebing.
"Jangan sekarang," jawabku terlalu cepat.
"Aku tak sanggup… tidak sekarang."
"Aku tahu," ucapnya. "Tapi menyembunyikannya hanya akan memperburuk keadaan. Nikolai harus mendengarnya darimu. Bukan dariku. Bukan dari orang lain. Darimu."
Kupejamkan mata kuat-kuat, air mata terus berjatuhan.
"Dia sudah menegaskannya dalam kontrak," ucapku, nyaris berbisik. "Aku menerimanya. Aku menandatanganinya. Aku berbohong, Natalia… aku berbohong padanya."
"Kau melakukan kesalahan," ia mengiakan tanpa memberiku keringanan. "Tapi itu tak menjadikanmu monster. Itu menjadikanmu manusia."
Kubawa lagi tanganku ke perut, kali ini dengan penuh kesadaran.
"Aku takut," kuakui. "Takut padanya. Takut kehilangan segalanya."
"Dengarkan," ucap Natalia, dan kini terdengar seperti seorang saudari, bukan penengah.
"Nikolai bisa jadi banyak hal. Tapi ketika ia mencintai… ia mencintai dengan utuh. Dan ia mencintaimu."
Aku menggeleng, meski tahu ia takkan bisa melihatnya.
"Beri tahu dia," ulangnya.
"Beri tahu dia sebelum ia mengetahuinya lewat jalan lain. Sebelum ini berubah menjadi satu luka lagi di antara kalian."
Keheningan menyelinap masuk. Hanya ada suara napasku yang tersengal.
"Aku akan…" ucapku akhirnya, dengan suara lemah.
"Aku akan memberitahunya."
Aku tak tahu kapan.
Aku tak tahu bagaimana.
Tapi aku tahu bahwa, mulai saat itu, tak ada lagi jalan untuk kembali.
Kuakhiri panggilan itu perlahan dan tetap duduk di sana, di lantai kamar mandi, memeluk lututku, merasakan rasa takut berdenyut bersama sesuatu yang baru — kecil, tak kasat mata… namun sudah begitu berkuasa.
Karena sekarang ini bukan lagi hanya tentang aku.
Ini tentang apa yang tumbuh di dalam diriku.