Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:313.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan Roda Kemewahan

Bagi Reza Adijaya, mobil sedan Mercedes-Benz berwarna perak metalik yang terparkir di karpot rumahnya bukan sekadar alat transportasi. Benda itu adalah baju zirah logamnya. Di dalam kabin kedap beraroma kulit domba mahal itu, ia merasa seperti raja kecil yang kebal terhadap kebisingan dan debu jalanan Jakarta. Ketika menggenggam kemudi berlogo bintang segitiga itu, ia merasa seluruh dunia berada di bawah kendalinya.

Namun pagi ini, kilau perak metalik di bawah sinar matahari terasa menyakitkan mata.

Reza berdiri di ambang pintu depan dengan cangkir kopi instan yang mulai dingin di tangannya. Ia belum mandi, rambutnya yang biasa rapi dengan pomade kini mencuat kusut, dan kemeja rumahnya tampak lecek. Di luar pagar besi rumahnya yang menjulang, sebuah pemandangan buruk menyambutnya: sebuah truk derek hidrolik berukuran besar terparkir melintang, menghalangi jalan masuk.

Dua orang pria berbadan tegap mengenakan seragam biru tua melangkah turun dari truk tersebut. Salah satunya membawa sebuah papan jalan dengan tumpukan kertas dokumen, sementara yang lain memegang rantai besi besar yang berdenting parau saat bergesekan dengan aspal.

"Selamat pagi. Apakah benar ini kediaman Bapak Reza Adijaya?" tanya pria yang membawa papan jalan, suaranya terdengar sangat formal namun dingin, tanpa menyisakan ruang untuk basa-basi.

Reza meletakkan cangkir kopinya ke meja teras dengan bunyi berdentang yang keras. Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya. "Ya, saya sendiri. Ada perlu apa pagi-pagi begini membuat kegaduhan di depan rumah saya?"

"Kami dari divisi penarikan aset PT Mega Finansial Mandiri," pria itu menunjukkan tanda pengenal dan selembar surat dengan kop merah tebal. "Kami ke sini untuk melakukan penyitaan dan penarikan paksa unit kendaraan Mercedes-Benz C-Class dengan nomor polisi B 1204 REZ atas nama Bapak Reza Adijaya."

Mendengar kata "penarikan paksa," darah Reza langsung mendidih, naik ke ubun-ubunnya yang sudah pening sejak kemarin. Ia melangkah cepat menuruni anak tangga teras, membuka pagar dengan sentakan kasar.

"Penyitaan apa?! Kalian gila, ya?!" teriak Reza, suaranya parau, melengking di antara kesunyian perumahan elite yang mulai terusik. "Mobil ini cicilannya selalu lancar! Saya tidak pernah menunggak satu bulan pun! Jangan asal menuduh!"

Ningsih yang mendengar teriakan anaknya segera berlari keluar dari dalam rumah. Wajahnya yang pucat tanpa riasan tebal tampak semakin keriput di bawah sinar matahari pagi. "Ada apa ini, Reza? Siapa orang-orang kasar ini?!"

"Mereka mau mengambil mobilku, Ibu!" adu Reza dengan napas memburu.

Pria berseragam biru itu tidak terpengaruh oleh kemarahan Reza. Ia menyodorkan lembaran dokumen keuangan ke hadapan wajah Reza.

"Silakan periksa laporannya, Bapak Reza. Cicilan mobil ini memang selalu lancar selama tiga puluh enam bulan terakhir karena menggunakan sistem debit otomatis dari rekening korporasi Yayasan Dharma Atmadja. Namun, tiga hari yang lalu, rekening penampung tersebut resmi dibekukan secara hukum oleh pihak yayasan. Upaya pendebitan otomatis untuk bulan ini gagal karena saldo nol dan status rekening dalam sengketa."

Pria itu menjeda, menatap Reza dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan.

"Berdasarkan klausul kontrak nomor 14B mengenai gagal bayar akibat pembekuan rekening penjamin, pihak leasing berhak melakukan penarikan unit seketika tanpa melalui proses somasi tertulis. Jika Bapak ingin mempertahankan unit ini, silakan lunasi sisa tunggakan dan denda sebesar dua ratus empat puluh juta rupiah tunai hari ini di kantor pusat kami."

Dua ratus empat puluh juta rupiah.

Angka itu menghantam kepala Reza bagai palu godam. Jangankan dua ratus juta, untuk membayar uang belanja harian ibunya saja ia sudah harus merelakan Rolex kesayangannya kemarin.

"T-Tapi... bagaimana bisa..." gumam Reza, lututnya mendadak lemas.

Selama tiga tahun ini, ia selalu berpikir bahwa cicilan mobil mewah itu dibayar otomatis dari "bonus prestasi" yang diberikan kantornya sebagai fasilitas jabatan. Ia selalu bangga memberi tahu ibunya dan teman-temannya bahwa mobil itu adalah bukti kehebatannya bekerja. Ia tidak pernah tahu—atau lebih tepatnya, menolak mencari tahu—bahwa seluruh kenyamanan itu dialirkan secara diam-diam oleh Naya melalui rekening yayasan keluarganya.

Naya yang membayar setiap jengkal kenyamanan yang ia gunakan untuk membusungkan dada. Naya yang membayar mobil yang ia gunakan untuk membuang wanita itu di bahu jalan tol KM 26.

"Ini pasti salah paham! Panggil atasanmu!" jerit Ningsih histeris, ia mencoba mencengkeram kap mesin mobil perak itu seolah tubuh rentanya sanggup menahannya dari penarikan. "Mobil ini milik anakku! Kalian tidak boleh mengambilnya! Tetangga-tetangga melihat, dasar perampok!"

Beberapa tetangga di kompleks perumahan elite itu mulai membuka jendela atas mereka, sementara beberapa pekerja rumah tangga berdiri di tepi jalan, menonton drama keluarga Adijaya yang kini kehilangan martabatnya sepotong demi sepotong.

"Mohon maaf, Ibu. Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan hukum," petugas kedua mulai memasang rantai besi pada bagian kolong depan mobil Mercedes-Benz tersebut. Bunyi denting besi yang beradu dengan logam mobil terdengar bagai melodi kematian bagi ego Reza.

"Hentikan! Jangan sentuh mobil saya!" Reza mencoba merangsek maju, namun petugas yang berbadan tegap itu dengan mudah menahan dadanya dengan satu tangan yang kokoh.

"Bapak Reza, mohon tidak melakukan perlawanan fisik atau kami akan meminta bantuan pihak kepolisian yang sudah bersiaga di ujung jalan," ancam petugas itu dengan nada dingin yang sangat tegas.

Reza membeku. Seluruh kekuatannya runtuh. Ia menatap mobilnya yang kini perlahan-lahan ditarik naik ke atas bak truk derek hidrolik. Roda-roda perak yang biasanya berputar mulus di atas aspal jalanan protokol kini terkunci mati, terseret kasar menghasilkan decitan memilukan yang mengoyak kesunyian pagi.

Ningsih terduduk di atas lantai paving karpot, menangis tersedu-sedu sembari memaki nama Naya. "Perempuan ... ini pasti gara-gara perempuan pembawa sial itu... dia menghancurkan hidup kita, Reza..."

Sementara di dalam rumah, di balik tirai jendela kamar Ningsih yang setengah terbuka, Andi berdiri diam. Matanya tidak menatap kepergian mobil mewah pamannya, melainkan menatap laci meja rias bibinya yang kini tak terkunci.

Andi tersenyum sangat tipis di tengah kepanikan yang melanda rumah itu. Di dalam sakunya, seuntai kalung emas dengan liontin permata safir milik Ningsih—satu-satunya sisa kejayaan yang belum digadaikan—telah berpindah tempat dengan sangat rapi.

Di luar, truk derek itu mulai melaju perlahan, membawa pergi lambang kemewahan terakhir Reza Adijaya, meninggalkan kepulan asap tipis dan goresan hitam rantai besi di atas lantai karpot yang kini terasa begitu kosong dan sunyi.

1
djerrih leni
biasa kesombongan harus di kalahkan dgn kejatuhan yg akhirnya br di sadari.... penyesalan slalu ada di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran...
djerrih leni
baru sadar ya bu.. kmrn2 kau masih banggakan karena penampilan luarnya dan sandiwara utk mengelabui mu bu Ningsih... daan kau lempar kesalahan pd menantu yg tlah menolong gaya hidupmu
Nurlaila Hidayah
sebenarnya ceritanya sudah bagus ga banyak episode/bab yg kdang suka mles baca'a, tpi yg memang ada typo/ selalu di ulang2. mohon untuk author'a diperhatikan lagi biar nanti pembaca yg lain selalu semangat untuk membaca karya2mu yg lain thor. semangat jangan putus asa karna setiap ada ulasan dari pembaca yg tidak enak dibaca yg sebenarnya hanya untuk author lebih baik lagi dalam membuat cerita2 yg menarik
Reni Yulistia: sekarang judul novel dah kaya sinema indosiar🤣🤣
total 1 replies
Nurlaila Hidayah
ya kan Reza sendiri yg mulai menyebut ada hubungan suami istri jdi ya Naya membeberkan alasan'a wlwpun ga etis jg didalam rapat, karna Naya hanya membela diri, kalo ga digituin yg ada mlah ngelunjak nanti c Reza nya
Nurlaila Hidayah
masin untung ga struk kau za msih bsa berdiri wlwpun shok berat
Nurlaila Hidayah
pede kali kau Reza, yg ada kau yg dibawah kaki istrimu yg kau sia2kan dan dipndang rendah olehmu dan slruh kluelargamu. nantikan kehancuranmu🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
seru euy
Nurlaila Hidayah
widiiiih mntap euy pmbalasan'a ga lgsg, klo lgsg ga seru ya nay ga bsa ngerasain apa yg kamu rasakan dulu. semangat thor
Nurlaila Hidayah
mntap nay, ayo nay tunjukan dirimu yg sesungguhnya pada kluarga benalu yg okb, itu pun berkat dirimu nay
Bonny Liberty
,asal anak sama ibu saudaraan thor?
djerrih leni
harusnya Naya lebih profesional tdk masukan masalh pribadi dlm rapat perusahaan, meski mau menjatuhkan Reza tetap hrs profesional biar tetap ada wibawa nya seorang CEO
djerrih leni
kok bisa lg rapat perusahaan tiba-tiba masuk masalah pribadi di dlm rapat yh notabenebya pasti hadir seluruh jajaran direksi di ktr tersebut
aswati seran
keren pembalasan naya
Rina Arie
good
Fdila Dila
toooobaat rasahin kamu, suami Naya udh mati dua malam yg lalu
Fdila Dila
keringat dingin membanjiri sekujur tubuhmu yg lusuh
Fdila Dila
itulah karma mu
Fdila Dila
tobat kamu org2 sombong dan serakah
Fdila Dila
lanjut seru... aduh reja ternyata km salah. esar ,kamu akan di tengelam kan, jgn sombong fulu
Fdila Dila
terimalah kehancuranmy Reza yg TDK tau diri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!