Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Bumi, memang kamu gak bisa romantis sedikit saja ya?, dasar!" Ucap Langit sambil menggelengkan kepala.
"Kita kan punya batasan tegas di kontrak, jangan lupa langit, Pasal 7: Dilarang memberikan rayuan gombal yang bisa menyebabkan distorsi perasaan," jawab Bumi lempeng, mengutip pasal palsu yang langsung dia karang sendiri.
Langit menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa mendengar kepintaran Bumi berkelit.
Namun di balik candaan itu, Langit merasakan kenyamanan yang luar biasa. Bersama Bumi, dia tidak perlu memakai 'topeng' CEO-nya. Dia tidak perlu khawatir tentang pengkhianatan saham, tentang laporan keuangan yang dimanipulasi, atau tentang tuntutan sosial dari lingkaran pertemanannya yang palsu.
Bumi adalah Bumi, jujur, apa adanya, dingin di luar namun memiliki kehangatan tersembunyi yang membuat Langit merasa nyaman.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Langit memundurkan kursinya sedikit.
Ia menatap Bumi dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi lebih serius, ekspresi yang biasa ia gunakan saat akan mengajukan sebuah proposal bisnis besar.
"Bumi, ada satu hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Langit.
Bumi yang sedang mengumpulkan piring kotor menoleh. "Apa? Mau bahas pamanmu lagi?"
"Bukan. Ini tentang kamu. Dan masa depanmu." Langit menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin membangun sebuah bengkel motor kelas nasional untukmu."
Bumi menghentikan gerakannya yang hendak membawa piring ke wastafel. Ia menaruh kembali piring-piring itu ke atas meja, lalu melipat tangannya di dada.
Matanya menatap Langit dengan tajam, tidak ada lagi kilat candaan di sana.
"Langit," suara Bumi terdengar lebih dalam. "Bukannya di kontrak sudah jelas? Perjanjian kita adalah: Kamu akan memberikan modal usaha untukku setelah masalah internal perusahanmu dengan Paman Hendra dan keluargamu selesai. Pernikahan ini baru berjalan satu hari. Masalahmu belum beres. Kenapa tiba-tiba mau memberikan ini sekarang?"
Langit sudah menduga reaksi ini. Bumi memiliki harga diri yang sangat tinggi.
Meskipun dia menyetujui pernikahan kontrak ini demi mendapatkan modal impiannya, dia bukan tipe laki-laki parasit yang ingin bersantai-santai menikmati kekayaan istrinya tanpa melakukan apa pun.
"Aku tahu apa yang tertulis di kontrak, Bumi," ujar Langit lembut, berusaha melunakkan ketegangan di antara mereka.
"Tapi dengarkan penjelasanku dulu. Pertama, aku tidak mau melihatmu hanya menjadi 'pajangan' yang mengikutiku ke mana-mana tanpa pekerjaan. Itu akan membuat Paman Hendra dan media curiga. Mereka tahu kamu seorang montir berbakat. Kalau kamu mendadak berhenti bekerja dan cuma jadi suami rumahan, mereka akan mencium bau pernikahan rekayasa ini."
Bumi terdiam, mencerna argumen Langit.
"Kedua," lanjut Langit, matanya berbinar dengan visi bisnisnya. "Ini bukan sekadar hadiah atau balas budi. Ini adalah strategi bisnis. Dewanta Group sudah lama ingin melakukan diversifikasi ke sektor otomotif dan gaya hidup anak muda. Membangun jaringan bengkel motor kelas nasional dengan konsep modern, lounge mewah, dan pelayanan digital adalah pasar yang sangat besar yang belum disentuh oleh perusahaanku. Aku punya modal dan jaringan bisnis, tapi aku tidak punya keahlian teknisnya. Dan kamu_, kamu adalah orang dengan otak otomotif paling jenius yang pernah aku temui."
Langit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jadi, aku tidak sedang memberikanmu sedekah, Bumi. Aku sedang mengajakmu bermitra. Kita kembangkan bisnis ini bersama. Kamu yang kelola secara teknis dan operasional, aku yang kelola manajemen dan pendanaannya. Bagaimana?"
Bumi menatap Langit cukup lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di wajah CEO muda itu. Namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan dan sedikit harapan agar dia menyetujuinya.
Bumi mengembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya mengendur. Sebuah senyuman tipis kembali muncul di wajah tampannya.
"Kamu ini memang benar-benar CEO ya, Langit. Segala hal dibikin jadi proposal bisnis yang tidak bisa ditolak," kata Bumi sambil menggelengkan kepala.
"Jadi_, kamu setuju?" tanya Langit memastikan, matanya berbinar penuh harap.
"Ada syaratnya," ujar Bumi.
"Apa?"
"Namanya harus sesuai ide ku. Dan di bengkel nanti, tidak ada kasta CEO atau istri bos. Di sana, aku rajanya. Kamu kalau datang ke sana dan pakai baju mewah, siap-siap saja kena cipratan oli."
Langit tersenyum lebar, rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya. "Sepakat! Jadi, apa nama bengkelnya?"
Bumi mengambil spatula dari meja, mengacungkannya seperti seorang kesatria dengan pedangnya, namun dengan ekspresi wajah yang sangat lempeng.
"Bengkel Bumi. Singkat, padat, dan membumi. Biar semua orang tahu kalau motor mereka diservis di sini, performanya akan meroket sampai ke langit."
Langit tertawa mendengar kalimat gombalan bisnis terburuk sekaligus terbaik yang pernah ia dengar dari mulut seorang montir dingin bercelemek merah muda.
***
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Grand Opening Bengkel Bumi—bengkel motor berskala nasional milik Bumi—resmi dibuka dengan perayaan yang sangat megah.
Karangan bunga dari berbagai pejabat, kolega bisnis, dan pengusaha otomotif berjejer sepanjang jalan. Suara sirine pemotongan pita menggema, menandai mulainya babak baru dalam hidup Bumi.
Di tengah kemewahan potong tumpeng dan jepretan kamera media, berdiri Langit, sang istri sekaligus CEO yang mengomandoi seluruh jalannya acara.
Langit tampil memukau dengan setelan blazer formal yang elegan, memancarkan aura pemimpin yang tegas namun tetap anggun. Sementara itu, Bumi tetap menjadi dirinya yang merakyat.
Bumi itu menolak memakai jas mahal yang sudah disiapkan tim PR istrinya. Ia memilih berdiri di samping jajaran motor sport dengan kaos hitam polos, celana kargo penuh kantong, dan handuk kecil yang tersampir di pundak.
Merakyat, cuek, dan sama sekali tidak peduli pada gemerlap di sekelilingnya.
Saat sesi foto bersama para investor di atas panggung, Langit menyenggol lengan Bumi dengan gemas.
"Bumi, tolong senyum sedikit ke kamera. Itu perwakilan ventura kapital dari Singapura sedang memperhatikan kita," bisik Langit di sela-sela senyum profesionalnya yang menawan.
"Saya sedang mempraktikkan restoring dignity, Langit. Di dunia korporat, makin irit senyum, makin tinggi valuasi. Mereka akan mengira saya sedang memikirkan strategi akuisisi, padahal saya cuma sedang menghitung sisa baut di bengkel belakang," balas Bumi lempeng tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedatar papan gilasan.
Langit menahan tawa agar tidak merusak momen foto. "Tapi investor butuh melihat kehangatan dari owner-nya, Bumi. Tolong manis sedikit."
"Kalau mereka mencari yang manis, mereka salah mengalokasikan dana. Mereka harusnya investasi ke pabrik gula, bukan ke industri avtur dan pelumas. Lagipula, kamu sudah mengambil porsi pesona itu. Kalau kita berdua sama-sama obral senyum, infografis internal kita kehilangan keseimbangan visual," sahut Bumi dengan analogi berkelas yang diucapkan begitu dingin, membuat Langit harus menggigit bibir bagian dalam agar tidak tertawa terpingkal-pingkal di depan kamera wartawan.
Setelah acara formal yang melelahkan selesai, kontras kehidupan Bumi langsung terlihat jelas. Sore hari, dia sudah melepas euforia panggung.
Bumi kembali berada di kolong motor besar, memegang kunci pas dengan tangan yang legam terkena oli rantai.
Keringat bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan debu bengkel. Namun, beberapa jam kemudian, dunia itu berputar seratus delapan puluh derajat.
Bumi dan Langit sudah berada di penthouse mewah mereka, yang ada hanya wewangian aromaterapi yang menenangkan.
Langit, yang sejak siang memperhatikan Bumi, mulai melihat sisi menarik dari cowok itu. Bagi Langit, Bumi seperti teka-teki dua dunia yang membingungkan namun memikat.
Di bengkel dia tampak kasar dan tak tersentuh sebagai montir legendaris, tapi di penthouse ini, Bumi kembali menjadi sosok yang tenang, walau tetap dingin dan kaku seperti biasanya.
Bab berikutnya akan semakin seru nih, yuk mana komennya?, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.