Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Bab 1: Fitnah di Pagi Hari

Pagi di kediaman keluarga Adijaya selalu dimulai dengan sunyi yang menindas. Sebelum matahari benar-benar menyembul dari balik cakrawala pinggiran kota, Naya sudah terjaga. Tangannya yang halus—yang selalu ia sembunyikan di balik sarung tangan karet saat mencuci—kini tengah sibuk di dapur. Bau harum bawang putih yang ditumis beradu dengan kepulan uap air mendidih. Di rumah mewah ini, ia bukan menantu yang dimanjakan; ia adalah mesin tak bersuara yang memastikan seluruh roda kehidupan penghuninya berputar tanpa cela.

Naya mengusap peluh di dahinya dengan ujung daster katunnya yang mulai menipis. Sudut bibirnya terangkat tipis, memikirkan bahwa setidaknya, sarapan pagi ini—sup ayam herbal kesukaan suaminya, Reza—akan menghangatkan suasana dingin yang belakangan menyelimuti pernikahan mereka.

Namun, kehangatan fajar itu koyak seketika.

"Naya! Turun kamu! Perempuan gila, di mana kamu?!"

Suara lengkingan bernada tinggi itu memecah keheningan rumah bagai batu besar yang dilemparkan ke permukaan kaca. Itu suara Ningsih, ibu mertuanya. Langkah kakinya yang menghentak keras di tangga marmer terdengar bagaikan ketukan lonceng kematian.

Naya tergemap. Ia bergegas mematikan kompor, menyeka tangannya yang basah pada serbet, lalu melangkah keluar dari dapur. Di ruang tengah yang luas, Ningsih sudah berdiri dengan napas memburu. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, matanya yang dilapisi riasan tebal melotot tajam, seolah ingin menguliti Naya hidup-hidup.

"Ada apa, Ibu? Kenapa berteriak-teriak sepagi ini?" tanya Naya lembut, mencoba meredam badai yang ia tahu kerap melanda tanpa sebab yang jelas.

"Jangan pura-pura bodoh, Naya!" Ningsih melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga Naya bisa mencium bau parfum mawar pekat yang menyesakkan dada. "Di mana kamu sembunyikan uang itu? Hah?!"

Naya mengerutkan kening, rasa dingin tiba-tiba merayapi tengkuknya. "Uang? Uang apa, Ibu?"

"Uang arisan sosialitaku! Lima puluh juta rupiah dalam amplop cokelat di laci mejariasku! Semalam masih ada di sana, dan pagi ini, setelah kamu masuk ke kamarku untuk merapikan seprai, uang itu hilang!" Ningsih menunjuk wajah Naya dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin berlian besar—berlian yang, andai Ningsih tahu, sebenarnya dibeli menggunakan dana talangan dari rekening rahasia Naya.

"Ibu, saya tidak menyentuh laci meja rias Ibu. Saya hanya mengganti seprai dan langsung keluar," bela Naya, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegap. "Mungkin Ibu lupa menyimpannya, atau teringsut di tempat lain?"

"Teringsut? Jangan mengajari saya!" bentak Ningsih. Suaranya kian meninggi, menggema di langit-langit rumah yang tinggi. "Di rumah ini hanya ada aku, Reza, Andi, dan kamu! Andi adalah keponakanku yang saleh, tidak mungkin dia menyentuh barang haram. Reza anakku, dia yang memberi makan kamu! Jadi siapa lagi kalau bukan tikus kelaparan yang kubawa dari selokan ini?"

Kata-kata itu bagai belati berkarat yang ditancapkan tepat di dada Naya. Tikus kelaparan dari selokan. Begitulah Ningsih selalu memandangnya. Hanya karena Naya datang tanpa membawa nama besar keluarga atau mahar berlimpah, di mata Ningsih, ia tak lebih dari benalu yang beruntung bisa memanjat pohon yang tinggi.

"Ibu, tolong jaga bicara Ibu. Saya miskin, tapi saya tidak pernah mencuri sepeser pun uang orang lain," ujar Naya, matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena luka yang terus-menerus disiram cuka.

"Oh, sudah berani menjawab ya sekarang?" Ningsih tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan telinga. "Dasar mental pencuri! Darah miskinmu itu memang tidak bisa bohong. Kamu iri kan melihat teman-temanku? Kamu ingin membeli baju-baju bagus agar tidak terlihat seperti pelayan di rumah ini, kan?"

Sebelum Naya sempat membalas, Ningsih melangkah cepat ke arah dapur. Dengan gerakan kasar, ia meraih panci sup ayam herbal yang baru saja matang di atas kompor.

Prang!

Ningsih menjatuhkan panci itu ke lantai marmer yang bersih. Kuah sup yang panas menyebar, potongan ayam dan sayuran berserakan, mengotori lantai yang baru saja Naya pel subuh tadi.

"Ini! Ini pantas untuk perempuan pencuri sepertimu! Kamu tidak layak memasak di rumah ini, kamu tidak layak tinggal di sini!" teriak Ningsih histeris.

Naya menatap genangan sup di kakinya. Dada bergemuruh hebat. Di dalam kepalanya, sebuah batas kesabaran yang selama ini ia pelihara dengan saksama, perlahan-lahan mulai retak. Ia menatap mertuanya dengan pandangan yang tidak lagi menyiratkan ketakutan, melainkan sebuah kekosongan yang dingin.

Pada saat itulah, terdengar langkah kaki lain menuruni tangga. Reza, dengan kemeja kantor yang setengah terkancing dan dasi yang masih menggantung longgar di lehernya, muncul dengan wajah kusut.

"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut sekali?" tanya Reza dengan nada kesal, matanya beralih dari lantai yang kotor ke arah wajah ibunya yang memerah, lalu ke arah Naya yang berdiri membeku.

Badai sesungguhnya baru saja akan dimulai.

Terpopuler

Comments

Mamah Dini11

Mamah Dini11

katanya msh pagi2 tpi ibu ningsih uh menor katanya dandanan ny emang mau kemana pagi buta , asalamualaikum ikutan nimbrung thor moga ceritanya bagus dn menghibur , 🙏 tpi baru baca udh sesak thor ,tpi gk apa. lanjut 💪💪💪💪

2026-08-06

0

Punkpunk 234

Punkpunk 234

baru mulai ikutan baca.. udah ikut esmosi ..🤭

2026-08-01

0

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Baru mampir

2026-07-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!