Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Suasana di dalam ruang kerja pribadi Jameson di lantai dua Gedung Akademik terasa begitu menyesakkan.
Tirai venetian yang terpasang pada jendela kaca raksasa dibiarkan tertutup rapat, menyisakan pendar redup dari lampu meja berbahan kuningan yang menimpa permukaan meja mahoni tebal.
Jameson berdiri melamun di dekat barisan rak buku tua, meremas pelan gelas kristal berisi wiski tanpa es di genggamannya.
Kalimat-kalimat dingin dari mulut Hazel masih bergema nyaring di dalam dadanya, memantul bagai gema dari ruang hampa.
“Kau yang memilih meniduri seorang pembunuh. Jadi jangan pernah mengeluh jika tanganmu harus ikut tercemar oleh darah yang kubawa.”
Pria Ashford itu menyunggingkan senyum miring yang getir. Ia meneguk habis wiskinya hingga rasa terbakar menyengat tenggorokannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang wanita tidak hanya berhasil menundukkan tubuhnya, tetapi juga merobek kendali logis yang menjadi kebanggaan keluarganya.
Klek.
Pintu ruang kerja Jameson mendadak terbuka tanpa ketukan.
Seorang pria jangkung berpostur tegap melangkah masuk dengan santai. Pria itu mengapit sebuah stofmap cokelat tebal di bawah lengannya, lalu mengunci kembali pintu dari dalam dengan gerakan cekatan yang terbiasa.
Louis.
Sahabat karib Jameson sekaligus pengacara kepercayaan keluarga Ashford yang mengurus operasional intelijen pribadi mereka.
"Kau terlihat seperti pria yang baru saja dijatuhi hukuman mati oleh hakim, JB," ujar Louis dengan suara rendah, melangkah mendekat dan melemparkan stofmap cokelat itu ke atas meja mahoni.
Jameson menoleh pelan, menaruh gelas kristalnya yang telah kosong.
"Apa yang kau dapatkan, Louis?"
Louis menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Jameson dengan pendar mata yang teramat sangat serius.
"Hasil otopsi awal dari tim forensik internal kita untuk jasad Derek—pria yang ditemukan di balik Gedung Seni kemarin."
Jameson menyipitkan matanya.
"Polisi menduga dia bunuh diri karena minum racun akibat patah hati."
"Polisi awam yang tidak berpengalaman memang akan menyimpulkan hal dungu seperti itu," potong Louis cepat, menyunggingkan senyum sinis.
"Tapi tim kita menemukan jejak potassium cyanide konsentrasi tinggi yang disuntikkan secara sangat halus di celah antara lipatan kulit leher korban. Jarum yang digunakan begitu tipis, hampir tidak meninggalkan bekas tusukan di permukaan kulit."
Louis memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam pupil mata Jameson.
"Eksekusi itu dilakukan dalam kurun waktu kurang dari empat detik. Korbannya bahkan tidak sempat berteriak atau menyadari apa yang menusuk lehernya sebelum jantungnya berhenti berdetak."
Jameson menghembuskan napas panjang lewat hidungnya.
Ketelitian berdarah dingin itu... tidak salah lagi, itu adalah gaya eksekusi murni milik Hazel.
"Bagaimana dengan Alistair Reed?" tanya Jameson, mengalihkan topik dengan nada suara yang memadat.
"Penyidik baru itu..."
"Dia bahaya nyata, JB," sahut Louis tanpa ragu. "Alistair Reed bukan tipe polisi korup yang bisa kau sumpal dengan selembar cek jutaan dolar. Pria itu adalah mantan detektif spesialis pembunuhan berantai dari kepolisian New York. Dia dipindahkan ke Los Angeles karena ketajamannya membaca pola psikologis pelaku yang tidak meninggalkan bukti fisik."
Louis menepuk stofmap cokelat di meja.
"Dan tebak siapa yang sedang masuk ke dalam radar utamanya saat ini? Gadis pembuat lukisanmu itu. Hazel Rosemary Brooks."
"Dia tidak punya bukti apa pun untuk menyentuh Hazel," desis Jameson dengan suara serak yang dipenuhi nada intimidasi.
"Belum punya, JB. Bukan berarti Tidak Ada," tegas Louis, menunjuk dada kemeja Jameson.
"Tapi jika penyidik gila itu terus menempel pada Hazel, cepat atau lambat dia akan menemukan benang merah antara kematian Derek dan kematian pria pertama minggu lalu. Dan jika itu terjadi..."
"Maka aku yang akan memastikan Alistair Reed kehilangan lisensi dan pekerjaannya sebelum ia sempat menuliskan nama Hazel di dalam surat penangkapan," potong Jameson tajam dan mutlak.
Louis menatap sahabatnya dengan gelengan kepala tak percaya.
"Kau benar-benar sudah gila, JB. Kau mempertaruhkan nama besar Ashford, reputasi akademismu, dan masa depanmu hanya demi melindungi seorang wanita yang bahkan tidak berkedip saat membahas cara mencabut nyawa orang lain?"
Jameson tidak menjawab.
Pria itu melangkah menuju jendela, menyibak sedikit celah tirai venetian dan menatap ke arah pelataran kampus di bawah sana.
Di bawah pendar sinar matahari sore yang mulai meredup, tampak Hazel sedang berjalan sendirian menuju area parkiran.
Dari kejauhan, wujud ramping gadis itu terlihat begitu anggun, rapuh, dan cantik—sebuah keindahan luar biasa yang menyembunyikan iblis pemangsa di balik kulit porselennya.
Dan di sudut pelataran yang lain, berdiri Alistair Reed yang sedang bersandar di mobil dinasnya, menatap lurus ke arah punggung Hazel dengan rokok yang menyala di jemarinya.
"Aku tidak sedang mempertaruhkan apa pun, Louis," bisik Jameson pelan, pandangannya terkunci pada sosok Hazel.
"Aku hanya sedang menjaga milikku."
Sementara itu, di dalam mobil taksi yang membawanya membelah jalanan Los Angeles, Hazel menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.
Jemarinya meremas pelan tali tasnya.
Ucapan Jameson di dalam lorong sepi tadi terus membayang-bayangi benaknya.
Rasa cemas yang diperlihatkan pria Ashford itu, kemarahan yang dipicu oleh rasa takut akan keselamatannya... semuanya terasa terlalu nyata untuk ukuran sebuah kesepakatan fisik semata.
“Aku tidak peduli berapa banyak orang yang tewas di tanganmu! Yang kupedulikan hanyalah keselamatanmu!”
Hazel memejamkan matanya rapat-rapat. Kenapa pria itu harus bertindak sejauh ini?
Kenapa Jameson tidak membuangnya saja saat menyadari betapa mengerikannya kegelapan yang ia bawa?
Jika Jameson bersikap kejam, dingin, dan manipulatif seperti biasa, Hazel akan jauh lebih mudah untuk memanfaatkannya dan meninggalkannya begitu kesepakatan tiga malam itu usai.
Namun ketulusan dan perlindungan yang ditawarkan Jameson... justru menjadi racun paling berbahaya yang pelan-pelan merobohkan benteng pertahanannya.
•••
Dua puluh menit kemudian, taksi berhenti di sebuah pinggiran kawasan seni yang tenang. Hazel melangkah turun, merapatkan jaketnya, lalu berjalan menuju sebuah bangunan bata tua dua lantai yang tampak terasing.
Di sinilah studio lukis pribadinya berada.
Dari luar, tempat itu hanya terlihat seperti studio seni biasa milik mahasiswi tingkat awal.
Pintu kayu berpelitur gelap dengan papan nama kuningan kecil, jendela kaca besar yang berdebu tipis, serta aroma khas cat minyak dan turpentine yang menyengat begitu pintu dibuka.
Di lantai utama, berjejer kanvas-kanvas setengah jadi, kuas yang terendam dalam wadah, dan palet warna yang teracak-acak—memberikan kesan tempat berkarya yang berantakan namun artistik.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang tersembunyi di balik kebiasaan studio itu.
Hazel melangkah menuju sudut belakang studio, di mana sebuah lemari kayu jati raksasa berdiri menempel pada dinding.
Jemari lentiknya menyusup ke balik ornamen ukiran lemari, menekan sebuah tombol tersembunyi.
Klek.
Suara engsel mekanis berbunyi halus. Lemari berat itu bergeser beberapa sentimeter, membuka akses menuju sebuah pintu baja kedap suara yang mengarah ke lantai bawah tanah.
Hazel melangkah turun menuruni tangga beton yang remang.
Di ruangan bawah tanah berpendingin udara itulah, studio yang sesungguhnya berada. Sebuah ruangan steril, berdinding kedap suara, dilengkapi peralatan analisis kimia raksasa, rak-rak wadah berisi cairan potassium cyanide, serta jarum suntik mikro bertaraf medis.
Di tempat inilah Hazel merancang setiap detail eksekusinya dengan presisi yang mengerikan.
Hazel berdiri di tengah ruangan, menatap pantulan dirinya di cermin besar.
Tidak ada satu pun rasa penyesalan, cemas, atau rasa kasihan yang tersisa di dalam matanya untuk dua orang korban yang telah tewas di tangannya.
Lagipula... bukankah mereka sendiri yang memohon kematian itu?
Dua pria itu selalu melontarkan kalimat manis konyol yang sama padanya: "Aku tidak bisa hidup tanpanya."
Bagi Hazel yang dingin, ia hanya mengabulkan permintaan itu secara harfiah.
Jika mereka memang tidak bisa hidup karena ditolak—cintanya, maka mati adalah konsekuensi paling logis.
Hazel menyunggingkan senyum tipis yang teramat sangat dingin. Ia sendiri tidak ingat secara pasti sejak kapan jiwanya berubah menjadi se-hampa dan se-berdarah ini.
Semuanya berakar dari rasa patah hati yang teramat sangat dalam di masa lalunya.
Pria yang dicintainya sejak kecil—seseorang yang menjadi satu-satunya pusat dunianya—lebih memilih menyatukan hidup dengan wanita lain.
Meskipun saat itu Hazel tersenyum anggun dan secara tulus mendoakan pernikahan bahagia mereka, sesuatu di dalam dada Hazel pecah dan mati secara permanen pada hari itu.
Sejak saat itu, konsep tentang cinta, empati, dan harga sebuah nyawa manusia menguap tanpa sisa dari dalam dirinya.
Seluruh keluarga intinya di Inggris sudah tahu betul tentang keanehan dan sisi gelap yang diidap oleh Hazel.
Mereka paham bahwa putri mereka adalah sosok yang rusak secara psikologis.
Karena itulah, keluarga besar Brooks dari Inggris secara khusus menugaskan dua orang anak buah berdarah dingin untuk mengawasi dan mengawal Hazel dari jarak jauh di Los Angeles.
Dua anak buah kepercayaan keluarga itulah yang selalu bergerak di dalam bayangan—membuang jasad-jasad korban yang dihabisi Hazel, membersihkan lokasi eksekusi, serta merekayasa jejak agar kepolisian tidak pernah bisa menyentuh Hazel.
Hazel menghembuskan napas pelan, mengusap permukaan meja sterilnya.
Permainan di Los Angeles ini makin rumit dengan hadirnya Jameson Baxter Ashford dan Detektif Alistair Reed.
Namun Hazel tahu pasti, di balik dinding studio yang sunyi ini, ia adalah penguasa atas takdirnya sendiri.
...----------------...
Happy reading 🦋