Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Namun, sebelum ia sempat benar-benar merasa tenang, dokter kembali berbicara.

"Namun, dia kehilangan cukup banyak darah selama operasi tadi. Meskipun kondisinya sudah stabil, kami masih perlu memantaunya secara berkala untuk memastikan kondisinya." Dokter itu kemudian menatap keluarga Edgar yang sejak tadi menunggu dengan cemas.

"Untuk saat ini, tuan Edgar masih belum sadarkan diri. Kita perlu menunggu sampai efek obat biusnya berkurang dan melihat bagaimana respon tubuhnya setelah operasi. Saya belum bisa memastikan kapan dia akan sadar, jadi untuk sementara, dia harus tetap berada di bawah pengawasan medis." Lanjut Sang dokter.

Senyum yang baru saja muncul di wajah Ivy perlahan memudar.

"Jadi... Edgar belum bangun?"

"Belum, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan intensif agar kondisinya bisa dipantau dengan lebih baik. Kami belum dapat memastikan kapan ia akan sadar." Tambah Sang dokter.

Ivy menunduk.

Dadanya kembali terasa sesak, tetapi kali ini ia berusaha menahan diri agar tidak larut dalam ketakutan.

Setidaknya, Edgar berhasil melewati operasi.

Setidaknya, pria itu masih memiliki kesempatan untuk pulih.

"Terima kasih, Dokter," ucap Ivy dengan suara lirih. "Terima kasih karena telah menyelamatkannya."

Dokter itu mengangguk sebelum memberikan beberapa penjelasan tambahan kepada James mengenai perawatan Edgar.

Setelah itu, ia meminta mereka menunggu hingga Edgar dipindahkan ke ruang perawatan.

Ivy kembali duduk, tetapi kali ini perasaannya sedikit lebih tenang.

Ia mengusap air matanya, lalu menatap kedua tangannya sendiri.

"Edgar, cepat bangun, jangan tidur terlalu lama." Batin Ivy.

"Aku belum sempat memberitahumu betapa berartinya dirimu bagiku. Aku juga belum sempat melakukan apa pun untuk membalas semua kebaikanmu."

Ivy menarik napas panjang.

"Jadi, jangan menyerah. Aku akan menunggumu."

Beberapa waktu kemudian, Edgar akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan intensif.

Tubuhnya terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat medis yang terpasang untuk memantau kondisinya. Wajahnya terlihat pucat, dan perban membalut beberapa bagian tubuhnya.

Ivy berdiri di balik kaca ruang perawatan, menatap pria yang terbaring tak berdaya itu.

Pemandangan tersebut membuat hatinya kembali terasa sakit.

Edgar yang biasanya selalu terlihat kuat, tenang, dan mampu menghadapi berbagai masalah kini bahkan tidak bisa membuka matanya.

Ivy menempelkan telapak tangannya pada kaca.

"Edgar...."

Suaranya begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar.

"Maafkan aku."

Air mata kembali membasahi pipinya.

"Maaf karena aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membantumu."

Ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap Edgar.

"Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan belajar menjadi lebih kuat. Aku tidak akan membiarkan diriku terus-menerus tidak berdaya."

Ivy menggigit bibirnya, berusaha mengendalikan emosinya.

"Aku akan belajar bela diri, aku juga akan belajar menggunakan senjata jika memang diperlukan. Aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh, sampai aku mampu menjaga diriku sendiri."

Ia menarik napas bergetar.

"Dan ketika kau sudah sembuh nanti, aku ingin menjadi seseorang yang bisa berdiri di sampingmu bukan terus berlindung di balik punggungmu."

Ivy tersenyum tipis di antara air matanya.

"Jadi, cepatlah bangun, Edgar. Aku akan menunggu sampai kau membuka mata."

Di belakangnya, Kakek James dan Nenek Veronika saling bertukar pandang.

Mereka mendengar setiap perkataan Ivy, dan keduanya menyadari bahwa gadis itu benar-benar telah membuat keputusan besar untuk mengubah hidupnya.

Kakek James kemudian mendekat dan meletakkan tangan di bahu Ivy.

"Mulai besok, Kakek akan mengatur jadwal latihanmu."

Ivy menoleh.

"Besok?"

"Benar, tapi jangan salah paham. Kau tetap harus menjaga kesehatanmu, granpa tidak akan membiarkanmu berlatih jika kau sendiri tidak memiliki kondisi tubuh yang baik." Kata kakek James tegas, karena berlatih bela diri membutuhkan fisik dan stamina yang kuat.

Ivy mengangguk mantap, kali ini dia sudah membuat keputusan. Dia ingin bisa melindungi Edgar saat pria itu dalam bahaya, kalaupun dia tidak mampu melindunginya setidaknya dia bisa berdiri di sampingnya dan bertarung bersamanya.

"Aku mengerti, granpa." Ucap Ivy mantap.

"Dan satu hal lagi," lanjut James dengan nada serius. "Kau tidak boleh menjadikan kebencian sebagai alasan untuk belajar bertarung. Jangan sampai keinginanmu untuk melindungi Edgar berubah menjadi keinginan untuk menyakiti orang lain."

Ivy terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

"Aku tidak ingin membalas siapa pun, granpa. Aku hanya ingin memastikan bahwa suatu hari nanti, aku tidak akan menjadi orang yang sama sekali tidak berdaya ketika menghadapi bahaya." Kata Ivy serius.

Kakek James menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Bagus, kalau begitu granpa akan membantumu." Ucap kakek James sambil menepuk bahu Ivy lembut.

Ivy merasa bahwa saat ini akhirnya ia memiliki sesuatu yang bisa dia lakukan selain menunggu dan menangis.

Ia tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, Ia juga tidak bisa menghapus luka yang kini diderita Edgar. Namun, ia bisa mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa depan dan itulah yang akan dilakukannya.

Di tempat lain, jauh dari rumah sakit yang dipenuhi kecemasan, sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah bangunan mewah.

Seorang pria berpakaian gelap turun dari kursi penumpang. Wajahnya tampak tegang ketika ia memasuki ruangan luas yang hanya diterangi beberapa lampu.

Di sana, seorang pria sedang duduk di sofa dengan segelas minuman di tangannya.

"Bagaimana hasilnya?" tanya pria yang duduk di sofa itu tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya.

Pria berpakaian gelap menundukkan kepala.

"Target berhasil diserang, Tuan. Namun, Edgar Falcon masih hidup."

Gerakan tangan pria di sofa itu terhenti.

"Apa katamu?"

Suaranya terdengar begitu dingin hingga pria yang berdiri di hadapannya langsung menundukkan kepala lebih dalam.

"Edgar Falcon masih hidup, Tuan. Dia berhasil dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi."

Ruangan itu mendadak terasa mencekam.

Pria di sofa meletakkan gelasnya ke atas meja dengan gerakan perlahan.

"Jadi, setelah semua yang kalian lakukan, dia masih bisa bertahan?"

"Tuan, kami—"

"Cukup!"

Bentakan itu membuat pria berpakaian gelap langsung terdiam.

Pria di sofa bangkit berdiri. Tatapannya berubah tajam, dipenuhi kemarahan yang berusaha ditahannya.

"Kalau Edgar Falcon masih hidup, berarti masalah kita belum selesai."

Ia berjalan menuju jendela, lalu menatap pemandangan malam di luar sana.

"Dan selama pria itu masih bernapas, dia bisa menjadi ancaman bagi rencana kita."

Pria berpakaian gelap menelan ludah.

"Apakah kami harus melakukan sesuatu lagi, Tuan?"

Pria itu terdiam beberapa saat.

Kemudian, sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Belum."

Ia berbalik, menatap bawahannya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Untuk saat ini, biarkan dia pulih terlebih dahulu. Kita tidak boleh bertindak gegabah dan menarik perhatian polisi."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara rendah.

"Tapi awasi rumah sakit itu, aku ingin mengetahui setiap perkembangan kondisi Edgar Falcon."

"Baik, Tuan."

"Dan pastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa dalang di balik semua ini."

Pria berpakaian gelap segera mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, pria misterius itu kembali duduk di sofa.

Jarinya mengetuk permukaan meja dengan tidak sabar.

"Edgar Falcon...."

Ia menyebut nama itu dengan nada penuh kebencian.

"Kau seharusnya tidak ikut campur dalam urusanku."

Senyumnya semakin melebar.

"Semoga saja kau tidak pernah mengetahui siapa yang sebenarnya ingin melihatmu mati."

Malam itu, ketika Ivy mulai membangun tekad untuk menjadi lebih kuat, seseorang di balik layar justru sedang menyusun rencana berikutnya.

Dan tanpa disadari Ivy, bahaya yang mengancam Edgar mungkin belum benar-benar berakhir.

Bersambung...

1
Putry Chan
aku suka luar biasa 😍
Dinda Putri
semangat up thor🔥🔥🔥
dyah EkaPratiwi
semangat edgar
Dera_
Bagus
Dera_
lanjut thor👍
Siti Isya
Aku suka novelnya, semangat Thor👍
Siti Isya
Semangat terus updatenya thor💪
Siti Isya
Double up thor🤭
Putry Chan
gara gara kejadian ini lvy inisiatif pgen jadi kuat , waduh lvy serem nih nanti 🤣
Putry Chan
lvy tenangkan pikiran mu aku yakin Edgar baik baik aja
Putry Chan
jelas lah kan dia cinta kau apa lah isi pikiran laki ini 🗿
Putry Chan
semoga Edgar baik baik aja ya
Putry Chan
lvy calon suami mu ini lumayan menantang ya
Putry Chan
mungkin musuh nya
Putry Chan
siapa ya yang ikutin mereka
Itha Ast
Menarik
Mundri Astuti
good ivy
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!