"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azura
"Alka, aku cantik ndak?" seru seorang gadis cilik sambil berputar-putar menggunakan dress rok mengembang.
"Ndak. Biasa saja,"
Jawaban Arka itu membuat Azura kesal. Dia sudah menggunakan dress pink cantik pemberian dari Mama Anisa kemarin. Dilengkapi dengan flatshoes sehingga membuatnya terlihat seperti seorang princess. Namun Arka sama sekali tidak mau melihat ke arah Azura. Dia hanya berkomentar saja tanpa melihat bagaimana penampilan dari Azura.
Plakk...
"Udah dandan secantik ini bilangnya biasa saja? Itu kalimat kelamat yang ndak boleh diucapkan oleh seolang laki-laki. Bagaimana pun wajahnya halus bilang cantik," ucap Azura sambil memukul lengan Arka.
"Iya, Arka. Kamu harus memuji Azura itu cantik. Nggak boleh begitu," ucap Nana membela Azura. Apalagi terlihat jika Arka sangat cuek dengan kehadiran Azura.
Hah...
"Kenapa wewek libet sekali? Mau bilang cantik, ndak, atau biasa saja kan telselah dong. Kok maksa," gerutu Arka sambil menghela nafasnya lelah.
"Mau sama Papa dan Opa aja, di sini semua cewek lempong." teriaknya sambil mengacak rambutnya frustasi.
Ariska yang melihat anaknya pusing menghadapi keinginan para cewek berbeda usia pun hanya bisa tertawa. Namun setelah mendengar ucapan Arka yang terakhir, dia sedikit terkejut. Ariska langsung tersadar bahwa ternyata memang Arka membutuhkan sosok seorang laki-laki dewasa dalam hidupnya. Arka butuh seorang Ayah yang kelak akan menjadi panutannya. Namun Ariska sebisa mungkin akan mengajarkan Arka untuk tidak melakukan sesuatu di luar batas. Bahkan jika nanti bertemu Frans, dia akan memperingatkan laki-laki itu untuk tidak mengajarkan hal yang buruk.
"Ndak papa kumpulnya sama pelempuan-pelempuan ini. Yang penting, Alka jangan jadi pelempuan. Nanti Azula ndak bisa sayang," ceplos Azura dengan asal.
Eh...
"Astaga... Kamu ngomong apa sih, Azura? Tante nggak pernah ngajarin begitu lho," Lina tampaknya sedikit was-was dengan kosa kata yang keluar dari bibir Azura.
"Tante Lina emang ndak pelnah ajalin Azula ngomong begitu kok," ucap Azura dengan yakin.
"Lalu siapa yang ngajarin? Nggak baik begitu, Azura. Itu omongan orang dewasa," tegur Lina lagi.
"Tante Mely, Mamanya Ichal. Suka bilang kalau Alka dan Azula saling cinta sebagai wewek dengan wowok," ceplos Azura dengan polosnya mengadukan bahwa itu hasil menirukan ucapan dari Mely.
Lina dan Ariska geram dengan Mely yang mengajarkan hal seperti itu kepada Azura. Padahal seharusnya tidak boleh mengajarkan hal yang bukan untuk usianya. Arka melirik ke arah Azura yang sama sekali tidak merasa bersalah. Ariska menarik tangan Azura untuk duduk di atas pangkuannya. Sedari awal mengenal Azura, Ariska sudah cocok dengan gadis cilik ini menjadi sahabatnya Arka. Dulu Azura adalah sosok pendiam karena anak kecil di sini jarang ada yang mau berteman dengannya. Kemudian bertemu dengan Arka dan diajak pulang ke tokonya. Sampai sekarang anak itu berubah menjadi ceria dan banyak bicara setelah mengenal Arka.
"Sayangnya Tante Ariska, dengarkan ya." ucap Ariska sambil merapikan rambut Azura yang berantakan.
"Dengal apa, Tante?" tanya Azura yang saat ini membalikkan badannya mengarah pada Ariska. Bahkan kedua tangan mungil Azura berada pada kedua pipi Ariska.
"Azura ndak boleh dengar lagi ucapannya Tante Mely. Pokoknya dengar aja ucapannya Tante Lina, Ariska, Nana, Nenek Yuli, dan Arka. Mereka tidak akan ngomong hal-hal dewasa sebelum usianya," ucap Ariska dengan lembut.
"Kita semua harus saling sayang, pada teman dan saudara. Bukan hanya antara cewek dan cowok saja. Ingat ucapan Tante Ariska tadi ya, Azura sayang." lanjutnya.
"Nyamannya," gumam Azura sambil memejamkan matanya.
Azura menganggukkan kepalanya mengerti kemudian memeluk Ariska dengan erat. Begitu nyaman, berbeda jika memeluk Lina. Bahkan kini Azura terisak pelan dalam pelukan Ariska. Lina yang mendengar itu langsung mendekati Azura. Berusaha untuk mengambil Azura, tapi bocah cilik itu menggelengkan kepalanya. Ariska meminta agar Lina menjauh. Biar dia saja yang menangani Azura.
"Tidak apa, ada Tante Ariska di sini. Anggap Tante Ariska ini Mamanya Azura juga. Arka tidak masalah kok berbagi Mama," ucap Ariska yang tahu kalau Azura pasti mengingat tentang orangtuanya.
"Kenapa Azula ndak punya Mama kaya anak kecil lainnya, Tante?" ucap Azura dengan sangat pelan membuat Ariska terdiam saat mendengarnya.
"Punya. Ini Mama Ariska kan Mamanya Azura," Ariska menepuk lembut punggung Azura agar berhenti menangis.
"Nanti Papanya Alka juga jadi Papa Azula. Nanti kita plolotin uangnya buat beli sempol di depan," ucap Arka yang tak nyaman melihat Azura menangis mengingat kedua orangtuanya.
Cepol?
Ayo, Alka. Kita beli cepol sepuluh juta,
Heh...
Kok langsung berhenti nangisnya setelah ngomongin sempol?
***
Sedangkan di kota lain, Frans datang kembali ke rumah orangtuanya. Saat ini jam kerja, tapi dia harus segera pulang ke rumah. Pasalnya dia akan bertanya mengenai sosok anak kecil yang bersama dengan orangtuanya di mall. Dia harus memastikan semuanya agar bersiap mencari cara untuk menaklukkan anaknya itu. Kemarin dia sudah mencoba mencari dan meretas CCTV mall, tapi lagi-lagi gagal. Dia yakin kalau ini adalah ulah dari Papa Bayu. Padahal tanpa Frans dan Papa Bayu tahu, itu sebenarnya adalah ulah Arka sendiri. Dia yang mengunci rekaman CCTV agar tidak dapat diakses karena melihat pergerakan mencurigakan di mall.
"Papa, Mama... Kemarin jadinya kalian pergi kemana? Kalian menemui Ariska dan anakku kan?" seru Frans tiba-tiba.
"Ayo lah, Pa. Kasih aku foto mereka berdua. Sebentar lagi perusahaan juga sudah stabil karena kerjasama banyak yang masuk dan pengiriman lancar," lanjutnya.
"Kamu itu ngomong apa sih, Frans? Aneh banget. Datang-datang tanya tentang Ariska dengan anaknya. Anak siapa?" tanya Papa Bayu sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan pelit-pelit napa? Nanti kuburannya sempit lho kalau meninggoy," ceplos Frans membuat Papa Bayu memelototkan matanya.
Bugh...
"Kamu do'ain orangtua mati? Nggak akan dapat warisan kamu itu nanti dari kami. Semuanya akan aku berikan pada cucuku," seru Papa Bayu dengan tatapan sinisnya.
Bahkan Papa Bayu langsung melempar bantal sofa ke arah wajah Frans. Beruntung bisa ditangkap oleh Frans kemudian laki-laki itu duduk di kursi sofa paling ujung. Apalagi melihat tatapan tak bersahabat dari Papanya itu membuat dia sedikit takut. Frans menampilkan raut wajah memelasnya agar diberikan foto anak dari Ariska.
"Ma, punya kan fotonya anakku dan Ariska?" tanya Frans sambil menatap Mama Anisa. Wanita paruh baya itu menatap suaminya meminta ijin. Papa Bayu masih terkejut saat Frans bisa mengetahui hal ini.
"Punya," jawab Mama Anisa setelah Papa Bayu menganggukkan kepalanya setuju.
Mana, Ma?
Kok nggak ada ya di ponsel Mama. Kemarin ada kok, coba di ponsel Papa.
Punya Papa juga kosong ini,
Kok bisa hilang sih?
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣