Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17.
Sudut bibir Clarissa menyunggingkan senyuman dingin, sepertinya perempuan jahat itu sudah tidak sabaran ingin segera menikahkan keponakannya dengan Stephen! bisik hati Clarissa memandang wanita cantik itu.
"Apa kamu tidak salah bertanya seperti itu kepadaku? kamu yang orang luar saja bisa datang ke jamuan ini, aku sebagai istri sah Stephen, kenapa aku tidak boleh datang ke jamuan ini?"
Sembari bicara Clarissa merangkulkan tangannya ke lengan Stephen, dengan sikap yang terlihat mesra pada Stephen.
Stephen melihat tangan Clarissa yang merangkul lengannya.
Perasaan senang dalam hatinya, tidak dapat terlihat jelas di wajah Stephen, karena ia memperlihatkan raut wajah datar dan dingin.
"Ka.. kau!!" wajah wanita itu seketika memerah, dan ia sangat marah mendengar jawaban Clarissa.
Ia pun tidak dapat berkata-kata untuk membalas jawaban Clarissa.
Wajah Clarissa mendadak terlihat senang, saat ia melihat Jennie ternyata datang juga ke jamuan itu, bersama dengan seorang lelaki yang Clarissa kenal juga.
Pria itu teman mereka juga semasa sekolah dulu.
"Jennie, ternyata kamu datang juga!" Clarissa begitu senang menghambur menyambut Jennie.
Mereka kemudian saling memegang tangan.
"Nona Wilson, pinjam Stephen sebentar, ya?" lelaki yang datang bersama Jennie, melemparkan pandangannya ke arah Stephen.
Clarissa menoleh ke arah lelaki itu, "Oh, iya! biar aku yang jaga Aurora!" Clarissa mengulurkan tangannya kepada putrinya.
Melihat tangan Clarissa terulur padanya, Aurora melepaskan tangannya dari memegang tangan Ayahnya, lalu berlari ke arah Clarissa sembari tersenyum senang.
Lelaki itu, Bastian Madison, melangkah mendekati Stephen, lalu merangkulkan lengannya ke bahu Stephen.
"Ayo!" katanya.
"Ayo!"
Sembari Bastian merangkul bahu Stephen, mereka melangkah bersama menuju sofa panjang.
Bastian melepaskan rangkulan tangannya dari bahu Stephen, begitu mereka duduk di sofa.
"Aku sudah selidiki semuanya, sesuai dengan apa yang kamu inginkan!" kata Bastian begitu mereka meletakkan tubuh mereka duduk di atas sofa.
Bastian meraih gelas minuman dari atas meja sofa, lalu menyesapnya sedikit.
"Istrimu itu sangat terobsesi dengan Ethan Grayson! tiap hari selalu berada disekitar Ethan Grayson! dan si Ethan itu, memiliki banyak teman wanita, tiap hari selalu berganti pasangan!" sambung Bastian, lalu kembali menyesap minuman dalam gelasnya.
"Hubungan mereka tidak ada kemajuan, tapi istrimu tetap saja tidak menyerah mengejar si Ethan Grayson itu!" kata Bastian lagi menyambung penyelidikan yang ia dapat.
Stephen mendengarkan apa yang di sampaikan Bastian, dan kemudian menanggapinya dengan pertanyaan.
"Bagaimana menurutmu, jika seseorang memiliki dua kepribadian?"
"Stephen, kamu kenapa? kamu lagi stres, ya? sampai bicara yang tidak masuk akal?"
"Bukan begitu, sebelumnya dia tiba-tiba berubah menyukai pria lain, lalu kemudian dia kembali berubah lagi! kali ini aku melihat perubahan sikapnya, seperti kembali ke usia delapan belas tahun!" jawab Stephen.
Bastian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, "Di kalangan pebisnis seperti kita, pernikahan hanyalah sekadar alat tawar saja untuk mengikat kerja sama! pernikahanmu terlalu lemah, sebaiknya kamu cepat berganti pasangan saja!" kata Bastian memberi saran pada Stephen.
Stephen meraih gelas minumannya dari atas meja, "Kalau bukan dia yang jadi pasangan ku, aku tidak ingin pernikahan bisnis!" jawab Stephen, lalu menyesap minuman dalam gelasnya.
"Eh, apa kamu memang berniat ingin mempertahankan pernikahanmu dengannya?!" tanya Bastian sontak bangun dari bersandarnya pada sandaran sofa memandang Stephen lekat.
Stephen diam tidak menjawab Bastian.
Melihat Stephen tidak menjawabnya, Bastian sudah dapat menebak jawabannya, tanpa perlu mendengar apa yang akan dikatakan Stephen.
Bastian mengangguk-nganggukkan kepalanya, dan tidak berniat untuk menanyakannya lagi.
"Oh, iya! kamu dengar, tidak? katanya, tim lawan yang bersaing dengan kita untuk mendapatkan proyek pinggiran itu keluarga Grayson!"
Wajah Stephen seketika menjadi dingin mendengar nama keluarga yang menjadi saingannya.
Ia kemudian menopangkan kaki ke atas kakinya satu lagi, sembari memegang gelas minumannya, "Benarkah? kalau begitu, proyek kali ini harus aku dapatkan!"
Stephen menyesap minumannya dengan pandangan mata, yang terlihat semakin dingin memikirkan saingannya.
Bersambung.....
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...