Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interupsi

Pria berjas abu-abu itu sudah berdiri di dekat meja lelang selama sepuluh menit, dan Gwen mulai kehabisan cara sopan untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke tugasnya.

"Jadi," katanya, tersenyum lebar, memegang gelas champagne dengan gaya yang terlalu santai untuk acara formal seperti ini, "kamu yang atur semua ini sendirian? Impressive banget."

"Sama tim, Pak," kata Gwen, sopan tapi jelas sedang mencoba fokus pada daftar barang lelang di tangannya. "Saya cuma koordinator lapangan."

"Aditya Kusuma," katanya, mengulurkan tangan, memperkenalkan diri meski Gwen sudah punya tanda pengenal namanya sejak awal registrasi. "Direktur pengembangan bisnis, PT Cakra Mandiri. Kita mitra baru Kane Group tahun ini."

Gwen menjabat tangannya sopan, singkat. "Gwen Aditya, manajer operasional."

"Nama kita mirip," katanya, tertawa, terlalu keras untuk lelucon yang sebenarnya tidak lucu. "Mungkin jodoh."

Gwen tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa dia pakai untuk klien yang terlalu berusaha bercanda tanpa berhasil, dan mencoba mengembalikan pembicaraan ke topik kerja. "Bapak udah lihat item lelangnya? Ada beberapa yang menarik dari lokal artist."

"Belum," katanya, tidak menunjukkan minat sama sekali pada barang lelang, matanya lebih sering tertuju pada Gwen daripada apa pun yang ada di meja. "Kamu sering ke acara-acara kayak gini?"

"Kalau bagian dari kerjaan, iya, Pak."

"Boleh minta nomor kamu? Siapa tau ke depan kita perlu koordinasi lebih lanjut soal kerja sama Kane Group sama perusahaan saya."

Gwen menatapnya sejenak, mempertimbangkan permintaan itu dari sudut profesional. "Kalau soal kerja sama bisnis, lebih baik lewat divisi business development kami, Pak. Bukan saya."

"Tapi kalau di luar urusan bisnis?"

Nada suaranya berubah sedikit, dan Gwen mulai menangkap arah pembicaraan itu tidak sepenuhnya soal kerja sama perusahaan.

---

Madoc, yang sedang menyapa tamu lain di sisi ruangan berlawanan, melihat interaksi itu dari kejauhan—cara Aditya Kusuma berdiri terlalu dekat, cara dia tersenyum terlalu lebar, cara tangannya sesekali menyentuh lengan Gwen dengan gestur yang terlalu akrab untuk pertemuan pertama.

Sesuatu di dadanya mengencang, cepat dan tanpa peringatan.

"Permisi sebentar," katanya ke investor yang sedang dia ajak bicara, memutus percakapan lebih cepat dari yang biasa dia lakukan untuk siapa pun, dan berjalan menuju meja lelang dengan langkah yang dia coba buat terlihat santai—meski setiap langkah itu terasa jauh lebih cepat dari kecepatan berjalan normal.

"Gwen," katanya, begitu sampai, suaranya dibuat sedatar mungkin. "Ada update soal jadwal lelang?"

Gwen menoleh, sedikit heran dengan kedatangannya yang mendadak. "Belum, Pak. Masih sesuai jadwal, mulai jam sembilan."

"Bagus." Madoc berdiri di sana, tidak pergi, meski secara teknis pertanyaannya sudah terjawab dan tidak ada alasan lebih lanjut untuk tetap berada di situ.

Aditya Kusuma menatapnya, mengulurkan tangan dengan senyum yang sedikit kurang antusias dari sebelumnya. "Pak Kane. Aditya Kusuma, dari Cakra Mandiri."

"Saya tau," kata Madoc, menjabat tangannya singkat, tanpa senyum yang biasa dia berikan ke mitra bisnis lain. "Terima kasih udah hadir malam ini."

"Sama-sama, Pak. Tadi saya lagi ngobrol sama Gwen di sini, kebetulan bahas soal kemungkinan kerja sama lebih lanjut."

"Kerja sama bisnis biasanya lewat divisi business development," kata Madoc, cepat, hampir sebelum kalimat itu selesai diucapkan. "Gwen di operasional, bukan bagian yang nangani hal itu."

"Oh, saya tau," katanya, tertawa kecil, tidak sepenuhnya mengerti kenapa CEO perusahaan itu tiba-tiba begitu terburu-buru mengoreksi. "Cuma ngobrol santai aja tadi."

"Kalau gitu, Gwen masih ada tugas yang harus diselesein," kata Madoc, menoleh ke arahnya. "Kan, Gwen?"

Gwen mengangguk cepat, sebenarnya bersyukur ada alasan untuk mengakhiri percakapan yang mulai terasa tidak nyaman. "Iya, Pak. Saya harus cek meja katering dulu."

---

Dia berjalan pergi, meninggalkan Madoc berdiri berdua dengan Aditya Kusuma dalam keheningan yang sedikit canggung.

"Gwen orang yang cakap," kata pria itu, mencoba mencairkan suasana, meski nadanya masih sedikit menggoda. "Beruntung banget punya karyawan sebagus itu."

"Iya," kata Madoc, singkat, tidak berniat memperpanjang percakapan.

"Dia single, Pak? Kalau boleh tau."

Pertanyaan itu keluar begitu santai, seolah menanyakan status hubungan seseorang di acara formal perusahaan adalah hal yang sepenuhnya wajar, dan Madoc merasakan rahangnya mengeras tanpa sepenuhnya bisa dia kontrol.

"Saya rasa itu bukan pertanyaan yang perlu ditanyakan di acara kerja sama bisnis," katanya, nadanya lebih tajam dari yang dia inginkan.

Aditya Kusuma mengangkat alis, sedikit kaget dengan reaksi itu. "Oh, maaf kalau kurang berkenan, Pak. Cuma basa-basi aja."

"Saya harus sapa tamu lain," kata Madoc, memotong percakapan itu tanpa basa-basi lebih lanjut, dan berjalan pergi sebelum sempat mendengar respons apa pun.

---

Elias, yang menyaksikan seluruh interaksi itu dari beberapa meter jauhnya sambil berpura-pura sibuk dengan tablet di tangan, hampir tidak bisa menahan tawanya.

Dia sudah melihat Madoc menangani berbagai situasi sulit sepanjang kariernya sebagai asisten pribadi—negosiasi tegang dengan investor asing, konfrontasi dengan kompetitor bisnis, bahkan sesi wawancara media yang penuh pertanyaan menjebak. Dalam semua situasi itu, Madoc selalu tampil tenang, terkontrol, tidak pernah kehilangan komposur di depan publik.

Tapi yang barusan terjadi—cara dia buru-buru menyela percakapan Gwen dengan tamu, cara dia menjawab pertanyaan sederhana soal status pernikahan dengan nada setajam itu, cara dia berjalan pergi dengan langkah yang jelas menunjukkan dia sedang berusaha keras terlihat santai padahal jelas tidak—adalah pertunjukan paling tidak terkontrol yang pernah dia saksikan dari bosnya.

Dia mendekat, mencoba menjaga ekspresi wajahnya tetap serius meski dadanya bergetar menahan tawa.

"Pak," katanya, begitu Madoc sudah cukup jauh dari Aditya Kusuma, "itu tadi rapi banget caranya, Pak."

"Apanya?"

"Nyela obrolan mereka. Alesan cek jadwal lelang padahal Bapak baru aja tanya hal yang sama lima menit sebelumnya ke saya, dan udah dijawab."

Madoc menatapnya, wajahnya mulai memerah. "Saya emang perlu update."

"Iya, Pak, tentu." Elias tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Terus soal jawab pertanyaan status Gwen itu juga keren, Pak. 'Bukan pertanyaan yang perlu ditanyakan di acara kerja sama bisnis.' Formal banget."

"Itu emang bukan pertanyaan yang pantas."

"Iya, Pak, betul banget." Elias mengangguk-angguk, matanya berbinar geli. "Cuma... biasanya Bapak gak terlalu peduli soal etika basa-basi tamu kalau lagi networking. Ini kali pertama saya liat Bapak langsung tersinggung gara-gara pertanyaan sesimpel itu."

Madoc menghela napas panjang, tidak lagi berusaha membantah, karena dia sendiri sudah cukup sadar betapa transparannya reaksi yang barusan dia tunjukkan.

"Dia terlalu deket," katanya akhirnya, pelan, lebih ke pengakuan pada diri sendiri daripada penjelasan ke Elias. "Aditya Kusuma itu. Berdiri terlalu deket, pegang lengannya, nanya nomor telepon."

"Bapak liatin dari jauh?"

"Kebetulan liat."

"Kebetulan," Elias mengulang kata itu, tersenyum lebar, tidak lagi berusaha menyembunyikan gelinya. "Pak, kalau Bapak terus-terusan 'kebetulan' liat setiap kali ada pria lain deket-deket sama Gwen, mungkin udah saatnya Bapak akui aja ini bukan kebetulan lagi."

Madoc tidak menjawab, matanya kembali mencari sosok Gwen di antara kerumunan tamu—yang sekarang sudah berpindah ke meja katering, jauh dari jangkauan Aditya Kusuma, sibuk kembali dengan tugasnya seolah interaksi tadi sama sekali tidak meninggalkan bekas apa pun di pikirannya.

Gwen sendiri, kalau ditanya soal insiden barusan, hanya akan bilang bahwa dia sedikit risih dengan cara pria itu terlalu personal untuk sekadar obrolan bisnis, dan bersyukur ada alasan kerja yang membuatnya bisa pergi tanpa harus terang-terangan menolak dengan cara yang kurang sopan.

Dia sama sekali tidak menyadari bahwa alasan kerja itu sendiri datang dari seseorang yang, di seberang ruangan, masih berusaha keras menenangkan detak jantungnya sendiri sambil berpura-pura sibuk menyapa tamu lain—gagal total menyembunyikan kecemburuan yang, malam itu, akhirnya cukup jelas terlihat oleh setidaknya satu orang yang cukup dekat untuk menangkapnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!