Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Ular Hitam

Silvia memandangi ruang tamu. Dulu, tempat itu dipenuhi bingkai-bingkai foto. Kini, yang tersisa hanya sebuah pot tanaman hijau. Piala-piala yang dulu memenuhi lemari juga sudah berkurang cukup banyak.

Jejak kehidupan Chris perlahan menghilang dari rumah ini, sedikit demi sedikit. Hanya satu yang tidak berubah, pintu kamar di lantai dua itu masih tertutup rapat.

Rosie menggenggam tangan Silvia dengan lembut, “Silvia, kamar Chris tidak pernah kubiarkan siapa pun menyentuhnya. Kamu…mau masuk dan melihatnya?”

Silvia mengangguk pelan, lampu kamar tidak dinyalakan. Tirai tebal menutup seluruh Cahaya matahari dari luar, seluruh ruangan tenggelam dalam kesuraman.

Di samping lemari pakaian, di depan meja belajar, di atas nakas…

Di setiap sudut, terpajang foto mereka berdua. Chris selalu tersenyum cerah dai dalam foto-foto itu. Sementara Silvia yang berdiri di sampingnya selalu memasang ekspresi dingin dan datar.

Silvia berdiri di samping ambang pintu. Untuk waktu yang lama, ia tidak mampu melangkahkan kaki. Seperti kebiasaannya dulu, ia terlebih dahulu merapikan headset yang tergeletak di atas meja.

Kemduian, ia perlahan duduk di kursi gaming milik Chris, sandaran kursi itu bergoyang pelan. Tatapan Silvia jatuh pada kursi kecil di sampingnya.

Seketika, kenangan lama muncul kembali.

Dulu, setiap kali Chris bermain game, Silvia selalu duduk di sampingnya sambil membaca buku. Sesekali ketika ia mengangkat kepala, ia akan melihat Chris menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

Setiap kali menyelesaikan satu pertandingan, Chris selalu memberikan kursi gaming itu kepadanya. Sementara dirinya sendiri akan meringkuk di kursi kecil di samping. Sambil mengupas buah untuk Silvia, ia sesekali menyuapkan potongan buah yang sudah dipotong ke mulutnya.

Setiap sudut udara di ruangan ini seolah masih menyimpan jejaknya. Seakan-akan Chris hanya pergi sebentar, dan sebentar lagi akan kembali.

Sebuah catatan kecil masih tertempel di dinding.

“Temani si Bodoh Kecil makan hotpot.”

Silvia melepaskan catatan itu. Ujung jarinya perlahan mengusap tulisan yang sudah lama mengering di atasnya. Ia melipatnya dengan hati-hati, lalu memasukkannnya ke dalam saku mantel. Seolah-olah sedang menyimpan sesuatu yang tak mungkin bisa ia dapatkan kembali.

“Silvia.” Suara Rosie terdengar perlahan dari ambang pintu.

Silvia segera mengusap air mata yang berkilau di sudut matanya dengan telapak tangan, “Masuk.”

Rosie mengepalkan kedua tangannya, tatapannya sejak tadi tertuju ke lantai, “Silvia, semua barang Chris yang ada di kamar ini juga tidak pernah disentuh siapa pun.”

Rosie mengangkat pandangan dan bertemu dengan mata Silvia yang dipenuhi kesedihan. Tangannya perlahan mengusap permukaan seprai, “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bawa, ambillah.”

Suaranya perlahan bergetar, “Setidaknya…nanti masih ada sesuatu untuk dikenang.”

Silvia tidak menjawab, ia hanya perlahan memandangi meja, tempat tidur, dan lemari pakaian. Semua benda itu begitu ia kenal. Namun tidak ada satu pun yang sanggup ia bawa.

Ia takut, begitu benda-benda ini dibawa pergi, semuanya benar-benar tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu.

Silvia mengatupkan bibirnya dan menahan napas, “Baik, Bibi.”

Rosie berpegangan pada dinding dan perlahan meninggalkan kamar Chris. Ruangan yang luas itu kembali hanya menyisakan Silvia seorang diri.

Silvia membuka lemari pakaian. Di dalamnya tergantung hoodie yang sangat ia kenal. Motif pada hoodie itu dirancang sendiri oleh Chris. Dulu, Silvia bahkan menganggap desainnya jelek.

Setiap kali Chris mengenakan hoodie itu, Silvia selalu memutar bola mata dengan males karena merasa terganggu. Kini, ujung jarinya perlahan menyentuh motif yang sedikit timbul di permukaan kain.

Ia menghela napas pelan. Kemudian melipat hoodie itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas.

Silvia perlahan berdiri. Saat hendak meninggalkan kamar, pandangannya tanpa sadar tertuju pada laci di samping tempat tidur.

Langkahnya terhenti, kenangan lama kembali muncul.

Saat itu, Chris sedang bermain game, “Si Bodoh Kecil, laci ini nggak boleh dibuka!”

Chris bahkan sampai berlari terbirit-birit menghampiri Silvia. Silvia menatapnya dengan bingung, “Kenapa?”

Itu pertama kalinya Chris benar-benar melarangnya membuka sesuatu miliknya.

Namun Chris hanya mengangkat satu jari di depan bibir, memberi isyarat agar diam, “Karena…di sini ada rahasia misteriku.”

Selama ini, Silvia mengira Chris hanya sengaja menggodanya. Namun setelah menghubungkan semua hal yang ia temukan beberapa hari terakhir…jantung Silvia seketika seperti berhenti berdetak.

Ia membuka laci itu. Di dalamnya hanya terdapat sebuah buku dengan symbol aneh tercetak di sampulnya.

Silvia mengerutkan kening saat menatap simbol tersebut. Ujung jarinya perlahan menggenggam buku itu lebih erat. Tiba-tiba, Silvia teringat sesuatu.

Saat itu tadi memasukkan hoodie ke dalam tas, motif border di atasnya terasa begitu familiar. Ia segara mengeluarkan kembali hoodie tersebut. Kemudian meletakkannya berdampingan dengan buku itu.

Dua simbol yang tidak lengkap perlahan menyatu di tangannya.

Detik berikutnya—

Sebuah pedang tajam tiba-tiba terbentuk dengan sempurna. Bilah pedangnya lurus dan panjang, dua ekor ular hitam melilit naik dari gagang pedang. Kepala kedua ular itu saling berhadapan. Seolah sedang menjaga sesuatu, atau justru memberikan sebuah peringatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!