Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantong Belanjaan Tak Mampu Membeli Suasana Hati
Langit di atas Amsterdam berubah menjadi kanvas kelabu keunguan ketika taksi hitam yang membawa Freya melambat memasuki gerbang keamanan otomatis penthouse hutan. Di dalam mobil, suasana hati Freya sebenarnya sedang berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil memborong beberapa barang impian yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik etalase majalah fesyen.
Kartu hitam tanpa batas dari Victor memberikannya kebebasan semu yang menyenangkan. Namun, di sisi lain, sisa-sisa rasa kesal akibat insiden kecil di mal masih menggores perasaannya.
Tadi, sebelum ia memutuskan pulang, seorang pelayan butik sempat meliriknya sinis dan berbisik-bisik dengan rekan kerjanya, menduga bahwa Freya hanyalah seorang gadis simpanan murahan yang menghabiskan uang pria kaya raya. Meskipun mereka mengucapkannya dengan suara pelan, pendengaran tajam Freya menangkapnya mentah-mentah. Harga dirinya terusik. Ia sadar, statusnya di mata publik saat ini memang tidak lebih dari wanita rahasia yang disembunyikan di tengah hutan—sebuah bayang-bayang dari lingkaran elite kota yang kejam.
Mobil berhenti sempurna di depan lobi pribadi. Freya membereskan empat kantong belanjaan besar di kursi belakang, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan ekspresi wajahnya, lalu melangkah keluar dengan langkah gontai.
Begitu pintu utama penthouse terbuka, sosok Victor Thorne langsung menyambut pandangannya. Pria itu berdiri tegak di dekat pulau dapur, mengenakan kemeja kerja putih yang lengannya sudah digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh.
Ekspresi wajah Victor awalnya menyiratkan kelegaan karena gadisnya sudah kembali dengan selamat, namun ekspresi itu langsung berubah kaku saat melihat cara Freya melangkah masuk tanpa senyuman sedikit pun.
Freya sama sekali tidak menoleh ke arah Victor. Ia berjalan melewati pria itu begitu saja, menenteng kantong-kantong belanjaannya seolah Victor adalah patung pajangan di sudut ruangan. Jangankan sapaan selamat sore atau senyuman manis seperti biasanya, melirik pun tidak.
"Freya," panggil Victor dengan nada suara baritonnya yang rendah dan berat, menghentikan langkah gadis itu yang baru saja hendak menuju koridor kamar utama.
Freya berhenti sejenak, punggungnya membelakangi Victor. Ia menarik napas panjang, bahunya sedikit naik turun menahan emosi yang mendadak membuncah. Tanpa berbalik, ia menjawab dengan nada ketus, "Aku lelah, Victor. Jangan ganggu aku dulu."
Tanpa menunggu balasan atau izin dari sang pemilik rumah, Freya melangkah cepat, masuk ke dalam kamar utama, lalu membanting pintu kayu mahoni itu dengan suara yang cukup keras—Brak!—mengunci dirinya rapat-rapat di dalam seakan-akan tidak ingin diganggu oleh siapa pun di dunia ini, termasuk oleh pria paling berkuasa di Amsterdam.
Victor berdiri terpaku di tempatnya. Alis tebalnya bertaut tajam, menciptakan garis-garis kemarahan di dahinya. Selama hidupnya, tidak pernah ada seorang pun yang berani mengabaikannya, apalagi membanting pintu di hadapannya seperti anak kecil yang ngambek. Harga diri seorang CEO kelas kakap yang terbiasa dihormati dan ditakuti mendadak tersengat.
"Berani sekali dia..." gumam Victor pelan dengan gigi menggeretup.
Rasa kesal langsung mengambil alih akal sehatnya. Sempat terbersit di pikirannya bahwa Freya bersikap seperti itu karena kelelahan fisik, namun insting bisnis dan protektifnya langsung mendeteksi ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin gadis itu tiba-tiba berubah dingin tanpa alasan yang jelas setelah berjam-jam menikmati waktu belanja yang menyenangkan di pusat kota. Sesuatu pasti terjadi di mal tadi—sesuatu yang merusak suasana hatinya hingga meluap menjadi kemarahan bisu.
Tanpa membuang waktu lagi, Victor menyambar ponsel pintar merek Vertu miliknya yang tergeletak di atas meja dapur. Jemarinya dengan cepat mencari kontak sang asisten pribadi yang paling diandalkan.
Sambung...
Tidak butuh waktu lama bagi Markus untuk mengangkat panggilan di seberang sana. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Markus menduga bosnya menelepon terkait urusan dokumen korporasi atau jadwal rapat esok pagi.
"Ya, Tuan Victor? Ada instruksi mendadak untuk laporan keuangan besok?" suara Markus terdengar sangat profesional dan waspada di ujung telepon.
"Lupakan soal laporan keuangan untuk sekarang, Markus," potong Victor to the point, suaranya terdengar dingin dan tajam seperti silet. "Aku butuh kau melakukan investigasi sekarang juga."
Di ujung sana, Markus terdiam sejenak, menangkap ketegangan yang kentara dari nada bicara atasannya. "Baik, Tuan. Apa yang harus saya selidiki?"
"Cari tahu apa yang terjadi pada Freya di pusat kota hari ini," perintah Victor tanpa ampun. "Lacak ke mana saja ia pergi selama di P.C. Hooftstraat, butik mana yang ia masuki, dan temui siapa saja dia di sana. Aku ingin laporan lengkap mengenai siapa pun yang membuat kekasihku kembali ke penthouse dengan wajah muram dan membanting pintu di depanku. Lakukan sekarang, dan laporkan hasilnya padaku sebelum tengah malam!"
"Dimengerti, Tuan Victor. Saya akan segera mengerahkan orang-orang untuk memeriksa rekaman CCTV dan mengumpulkan informasi dari para pelayan toko di sana," jawab Markus tegas sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Victor.
Victor melemparkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan kasar. Ia menatap pintu kamar utama yang masih tertutup rapat, rahangnya mengeras, sementara pikirannya melayang-layang memikirkan kemungkinan terburuk tentang apa yang telah menimpa Freya di luar sana.
Sementara Victor mondar-mandir di ruang tengah dengan amarah yang tertahan, di dalam kamar utama yang luas, suasana hatinya justru jauh dari kata tenang. Freya menyandarkan punggungnya di balik daun pintu kamar yang baru saja ia banting tadi. Kakinya perlahan lemas, membuat tubuhnya merosot jatuh duduk bersimpuh di atas karpet bulu yang lembut.
Keempat kantong belanjaan mewah tergeletak begitu saja di dekat tempat tidur, tampak tak berharga jika dibandingkan dengan beban mental yang sedang menghantam dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian di dalam taksi akhirnya tumpah juga membasahi pipinya.
"Kenapa harus peduli... Kenapa aku harus peduli pada omongan orang-orang sampah itu..." gumam Freya di sela-sela Isakannya, tangannya meremas ujung rok kainnya dengan kuat.
Kejadian di butik mewah tadi sore berputar ulang di kepalanya seperti film horor. Saat ia sedang membayar tas belanjaan menggunakan kartu hitam milik Victor, ia tidak sengaja mendengar dua orang wanita sosialita paruh baya berbisik di dekat rak tas tangan.
"Lihat gadis itu... gayanya seperti nyonya besar, padahal dia tidak lebih dari wanita simpanan murahan yang dipelihara oleh Victor Thorne di hutan pinggir kota. Cih, memanfaatkan kecantikan demi dompet pria kaya."
Kata-kata itu menghujam jantungnya bagaikan belati tak kasat mata. Seketika itu juga, euforia belanja dan kemewahan yang ia rasakan menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hina dan kesadaran pahit tentang posisinya. Di mata para elite Amsterdam, ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah mainan baru sang konglomerat—sebuah rahasia kotor yang disembunyikan di balik rimbunnya pohon pinus.
Freya membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, menangis dalam sunyi. Ia tidak marah pada Victor, melainkan marah pada keadaan dirinya sendiri yang merasa begitu lemah dan rentan di tengah dunia asing yang penuh dengan kelicikan ini.
Jauh dari kawasan hutan tempat Victor dan Freya berada, di sebuah penthouse mewah bergaya klasik di kawasan kanal utama Amsterdam, suasana justru terasa jauh lebih dingin dan penuh perhitungan.
Annelise van der Berg berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lampu-lampu kota yang mulai berpendar indah di malam hari. Di tangan kanannya, ia memegang segelas anggur merah Chianti berharga mahal, menggoyang-goyangkannya perlahan sambil memperhatikan cairan merah tua itu berputar di dalam gelas kristal.
Wajah cantiknya tampak tenang, namun di balik senyuman tipisnya tersimpan kebencian yang mendalam dan ambisi yang mematikan. Penolakan telak dari Victor di kantor pusat beberapa waktu lalu, ditambah kabar bahwa sang konglomerat kini secara terang-terangan mempublikasikan hubungannya dengan Freya di media sosial dan koran ekonomi, telah melukai harga diri keluarga van der Berg hingga titik nadir.
Bagi Annelise, Victor Thorne adalah miliknya—hak istimewa yang sudah dirancang sejak perjodohan keluarga mereka disetujui oleh Nyonya Valen. Kehadiran gadis rantau tak berdarah biru bernama Freya Zivanka adalah sebuah kesalahan besar dalam tata tatanan dunia sosialita Amsterdam yang harus segera dikoreksi secara permanen.
"Kau pikir kau bisa merebut apa yang seharusnya menjadi milikku, gadis desa?" bisik Annelise pada dirinya sendiri, matanya menyipit tajam penuh ancaman.
Di atas meja marmer di hadapannya, terbentang sebuah map cokelat tebal berisi berbagai macam dokumen rahasia, foto-foto hasil pemantauan detektif swasta, serta sebuah rencana busuk yang sudah ia susun secara matang selama beberapa hari terakhir. Annelise tidak berniat menyerah begitu saja pada kemarahan Victor atau restu mendadak dari Nyonya Valen. Jika jalan halus melalui teguran keluarga tidak berhasil, maka ia akan menggunakan cara kotor yang tidak akan bisa dielakkan oleh siapa pun.
Pintu ruang kerja apartemennya terbuka pelan. Seorang pria bertubuh tegap berjas hitam—kepala keamanan pribadi keluarganya, sebut saja Willem—masuk dengan langkah cepat dan membungkuk hormat.
"Nona Annelise, semua informasi yang Anda minta sudah saya kumpulkan," ujar Willem dengan suara berat, melaporkan tugasnya.
Annelise berbalik, meletakkan gelas anggurnya di atas meja dengan bunyi dentingan halus yang memecah keheningan malam. Tatapannya beralih sepenuhnya kepada sang pengawal setia.
"Bagus, Willem. Ceritakan padaku apa saja yang berhasil kau temukan tentang wanita simpanan Victor itu," pinta Annelise, suaranya terdengar dingin namun mematikan.
Willem membuka map cokelat di tangan, mengeluarkan beberapa lembar foto cetak berukuran besar yang memperlihatkan aktivitas Freya saat berada di pusat kota tadi siang, termasuk saat gadis itu keluar dari butik mewah dengan membawa banyak kantong belanjaan.
"Freya Zivanka tidak memiliki latar belakang keluarga terpandang, Nona. Ibunya baru saja sembuh dari penyakit berat berkat biaya pengobatan dari Victor Thorne, dan adiknya bekerja di divisi keuangan Thorne Corporation. Mereka adalah keluarga kelas pekerja biasa yang terlilit utang sebelum Victor menyelamatkan mereka," papar Willem rinci.
Annelise mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Jadi, dia hanya seorang gadis miskin penguras harta yang beruntung mendapatkan perhatian sesaat dari pria bodoh seperti Victor. Menyedihkan sekali."
"Ada satu hal lagi, Nona," lanjut Willem dengan nada suara yang sengaja direndahkan, membuat mata Annelise kembali fokus.
"Orang-orang kita di lapangan juga melaporkan bahwa hubungan antara Victor dan Freya mulai diuji oleh rasa tidak aman gadis itu sendiri. Freya sempat terlihat bersitegang secara mental di salah satu kafe karena mendengar bisikan-bisikan miring dari para sosialita lokal."
Senyuman licik seketika terkembang di bibir merah Annelise. Sebuah peluang emas terpampang nyata di hadapannya. Kerentanan mental Freya adalah celah terbesar yang bisa ia manfaatkan untuk menghancurkan hubungan mereka dari dalam tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung.
"Ini sangat menarik..." Annelise melangkah mendekati meja, menatap foto wajah Freya yang tampak lelah di salah satu lembar cetakan. "Jika gadis itu merasa tidak pantas berada di dunia Victor, maka tugas kita adalah membuktikan bahwa ketakutannya itu benar."
Annelise mulai merinci strategi busuknya di hadapan sang pengawal kepercayaan. Suaranya berbisik pelan namun penuh dengan kepastian seorang wanita yang terobsesi pada kekuasaan dan balas dendam.
"Willem, aku ingin kau menyewa seseorang—seseorang dari lingkaran bawah yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga kita atau Thorne Corporation," perintah Annelise tajam. "Seseorang yang bisa dipercaya untuk menjalankan misi penyamaran kecil."
Willem mengangguk paham. "Apa tujuannya, Nona? Apakah kita akan melenyapkannya secara fisik?"
"Jangan bodoh, Willem!" hardik Annelise pelan namun tajam. "Jika kita melenyapkannya secara fisik, Victor akan membalikkan seluruh kota Amsterdam untuk memburu kita sampai ke lubang semut. Kita tidak boleh menjadi pembunuh; kita harus menjadi dalang dari kehancuran mental mereka."
Annelise mendekatkan wajahnya ke meja, menunjuk sebuah dokumen di dalam map. "Kita akan menggunakan kelemahan keluarganya. Ibu Freya yang baru pulih dan adiknya, Steven, yang sedang merintis karier di perusahaan Victor. Kita buat seolah-olah keberadaan Freya di sisi Victor adalah ancaman nyata bagi keselamatan keluarganya sendiri."
Rencana itu mulai terbentuk dengan rapi. Annelise berencana menyebarkan teror psikologis secara perlahan kepada Freya—mulai dari pesan-pesan ancaman anonim, surat-surat peringatan palsu yang mengatasnamakan musuh bisnis Victor, hingga menjebak Freya dalam situasi di mana gadis itu merasa kehadirannya hanya membawa malapetaka bagi sang konglomerat.
Di dunia bisnis dan percintaan kalangan elite Amsterdam, perang tidak selalu dimenangkan dengan senjata atau kekayaan semata. Terkadang, perang psikologis yang menghancurkan kepercayaan diri seseorang adalah cara paling ampuh untuk meruntuhkan benteng pertahanan terkuat sekalipun.
"Buat gadis itu percaya bahwa demi keselamatan ibu dan adiknya, satu-satunya cara adalah dengan melarikan diri sejauh-jauhnya dari Victor Thorne tanpa meninggalkan jejak," lanjut Annelise dengan seringai kemenangan di wajah cantiknya. "Dan saat Victor mendapati kekasihnya menghilang begitu saja akibat ketakutannya sendiri, saat itulah aku akan hadir sebagai wanita yang tepat untuk menenangkan dan mendampinginya kembali."
Willem mengangguk takzim, mengakui betapa licik dan briliannya otak wanita di hadapannya ini. "Baik, Nona. Saya akan segera memerintahkan anak buah untuk mulai mempersiapkan segala sesuatunya malam ini juga. Kita akan mulai bergerak perlahan besok pagi."
Annelise kembali mengambil gelas anggurnya, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah sedang bersulang menyambut kemenangan masa depan yang sudah ia bayangkan di pelupuk matanya. "Untuk kejatuhan gadis desa itu, dan kembalinya apa yang memang menjadi hakku."
Kembali ke penthouse hutan yang megah, malam semakin larut dan keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam.
Victor masih terjaga di ruang kerjanya yang terbuka. Ia duduk di balik meja kerja kayu mahoninya, menatap layar laptop tempat Markus baru saja mengirimkan laporan awal hasil investigasi singkat dari pusat kota. Di dalam laporan tertulis dengan jelas bahwa Freya sempat mendengar bisikan-bisikan sinis dari para sosialita di sebuah butik mewah, yang merendahkan statusnya sebagai wanita simpanan.
Membaca laporan itu, rahang Victor kembali mengeras. Ia mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan yang tadinya tertuju pada sikap dingin Freya kini berubah menjadi kemarahan terhadap dunia luar yang berani menyentuh dan melukai wanita yang sudah ia tetapkan sebagai bagian dari hidupnya.
Victor menutup laptop dengan gerakan tegas, lalu bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Langkah kakinya yang tidak bersuara membawanya menyusuri koridor remang-remang menuju kamar utama tempat Freya mengunci diri sejak sore tadi.
Ia berdiri di depan pintu kayu mahoni itu. Dengan perlahan, Victor mencoba memutar gagang pintu. Ternyata, Freya tidak menguncinya mati—hanya menutupnya rapat-rapat. Pintu bergeser pelan tanpa menimbulkan suara berisik.
Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya lampu tidur kekuningan dari nakas, ia melihat Freya. Gadis itu sudah tertidur di atas sisi ranjang dengan posisi meringkuk memeluk bantal. Sisa-sisa air mata masih tampak mengering di pipinya yang pucat, dan napasnya terdengar sedikit tersengat seolah ia menangis sampai tertidur kelelahan.
Hati Victor, yang selama bertahun-tahun dikenal dingin, keras, dan tak tersentuh oleh dunia luar, mendadak terasa ngilu melihat pemandangan itu. Pria yang paling ditakuti di kancah bisnis Amsterdam tersebut perlahan melangkah mendekati ranjang, berlutut di samping tempat tidur, lalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk menyeka sisa air mata di pipi Freya dengan sangat lembut.
Freya bergerak sedikit dalam tidurnya, bergumam pelan menyebut nama sesuatu yang tak jelas, lalu kembali terlelap dalam dekapan lelahnya.
Victor menatap wajah gadis itu lekat-lekat, menyadari betapa berat beban yang harus ditanggung oleh pundak kecil Freya sejak masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan sorotan tajam dan intrik beracun.
"Maafkan aku karena tidak melindungimu dengan cukup baik hari ini, sweetheart," bisik Victor sangat pelan, nyaris seperti embusan angin malam. "Tapi percayalah, siapa pun yang berani membuatmu menangis seperti ini, tidak akan pernah kubiarkan tidur dengan tenang di kota ini."