Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penyelamatan
Senyum tersungging di bibir Pradipta setelah berhasil mengingat siapa Leya. Dia pernah bertemu dengan gadis itu sekitar dua tahun yang lalu saat dirinya sedang membeli peralatan untuk komputernya.
Meski pertemuan itu hanya terjadi sebentar, Pradipta tetap tidak bisa melupakan senyum manis gadis itu.
“Lang, telepon Nino dan Asep. Kasih tahu lokasi kita sekarang dan minta mereka menyusul ke sini. Jangan lupa, bilang bawa bala bantuan dan ambulans juga.”
“Oke.” Gilang segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi Nino. Dia mengatakan persis seperti yang dikatakan Pradipta kepadanya.
Tak lama kemudian, Pradipta melajukan mobilnya. Leya segera menyusul dari belakang dengan motor trailnya.
Sementara itu, Giana sudah tiba di rumah yang dijadikan tempat penampungan untuk para gadis yang diculik.
Dia dimasukkan ke dalam salah satu satu kamar. Ukuran kamar memang cukup besar, dengan beberapa kasur busa diletakkan di lantai.
Begitu masuk ke dalam kamar, dia langsung memeriksa para penghuni kamar. Dia mengenali salah satu di antara mereka.
“Anjani,” panggilnya seraya mendekati gadis itu.
“Kamu mengenalku?” tanya Anjani dengan bingung.
“Iya. Ibumu sedang mencarimu.”
“Mama,” panggil Anjani dengan mata berkaca-kaca.
Penampilan Anjani tampak memprihatinkan. Penampilannya tidak terurus, rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja dan sedikit kusut. Wajahnya juga sedikit pucat.
“Kamu tenang aja. Aku akan mengeluarkanmu dari sini,” bisik Giana.
Anjani mengangguk pelan. Harapan mulai terbit dalam hatinya. Semoga saja dirinya benar-benar bisa keluar dari neraka ini.
“Bagaimana dengan kalian?” Giana melihat gadis-gadis yang lain. Keadaan mereka tidak kalah menyedihkan dari Anjani. Mereka hanya mengangguk pelan. Secara fisik, mereka baik-baik saja. Namun, secara mental, tentu saja tidak.
“Aku dengar, kami akan dikirim ke luar negeri dan akan dijadikan pekerja seks komersial.”
Giana tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Dia berharap Pradipta dan Gilang secepatnya datang dengan membawa bantuan.
Sementara itu, Ruben tengah berbincang dengan lima rekannya yang berjaga di rumah tersebut. Rencananya, pukul dua dini hari nanti, mereka akan berangkat meninggalkan kota Bandung.
Tujuan mereka adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Para gadis itu akan diselundupkan ke Thailand melalui jalur laut.
Mereka akan dimasukkan ke dalam kontainer dan diberangkatkan menggunakan kapal kargo tujuan Thailand.
Ruben melihat jam di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dia masih memiliki waktu jika ingin bermain dengan Giana.
Ruben segera menuju kamar kosong yang tersisa. Dia tampak kesal melihat kamar yang berantakan. Pria itu kembali menemui lima pria yang berkumpul di depan rumah.
“Kamarnya berantakan banget. Cepat bereskan!” perintah Ruben.
Dengan enggan, salah satu pria bangkit lalu menuju kamar tersebut. Lima menit kemudian, dia kembali setelah selesai membereskan kamar.
Ruben mengecek dulu kondisi kamar. Setelah yakin kamar sudah dalam keadaan rapi dan bersih, Ruben segera menuju kamar tempat Giana disekap.
Semua yang berada di dalam kamar terkejut saat pintu terbuka. Ruben masuk, lalu menarik Giana keluar.
“Lepas!” Giana berusaha melepaskan pegangan tangan Ruben. Namun, cengkeraman Ruben begitu erat, hingga sulit dilepaskan oleh Giana.
Gadis itu terus diseret Ruben masuk ke kamar yang tadi sudah dibersihkan. Dia mendorong Giana hingga tubuhnya jatuh di atas kasur.
Ruben menutup pintu, kemudian menguncinya. Giana beringsut mundur hingga ke sudut.
Ruben tampak menyeringai. Dia mendekati ranjang kemudian merangkak naik ke atasnya.
“Mau apa kamu?” tanya Giana dengan perasaan takut.
“Aku ingin mengajakmu bersenang-senang,” jawab Ruben sambil menatap Giana dengan pandangan mesum.
Giana mengambil bantal dan guling yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya kepada Ruben. Lemparan tersebut tentu saja tidak berarti apa-apa bagi Ruben.
Pria itu terus mendekati Giana. Dia meraih kaki Giana kemudian menarik ke dekatnya.
Giana menggerak-gerakkan kakinya agar lepas dari pegangan Ruben. Satu kakinya berhasil lepas dan kesempatan itu dimanfaatkan Giana.
Dia menendang wajah Ruben dengan cukup keras. Tubuh Ruben sampai terdorong dan hampir jatuh dari ranjang.
Giana secepatnya turun dari ranjang, lalu berlari menuju pintu. Belum sempat Giana memutar anak kunci, Ruben sudah sampai di dekatnya.
Pria itu menarik Giana, kemudian menghempaskan tubuh gadis itu ke ranjang.
Tanpa membuang waktu, Ruben naik ke atas ranjang, lalu menindihnya. Karena Giana terus berontak, Ruben terpaksa menghantamkan tinjunya ke wajah Giana. Pukulan Ruben berhasil menghentikan aksi Giana sebentar.
Ruben menarik kemeja yang dikenakan gadis itu hingga kancing kemejanya terlepas. Kemudian dia langsung menciumi leher dan dada gadis itu.
“Lepas! Aaaa!! Lepas!!” teriak Giana sambil terus berontak.
Teriakan Giana cukup terdengar ke seantero rumah. Namun, lima pria yang berjaga tampak tidak peduli sama sekali.
Sementara itu, para gadis yang disekap, langsung merasa ketakutan, terutama Anjani. Baru saja Giana mengatakan akan membebaskan dirinya dan semua tawanan, tetapi ternyata gadis itu yang pertama menjadi santapan predator bernama Ruben itu.
“Si Bos lagi garap siapa tuh?” tanya salah satu pria.
“Nggak tahu. Sue tuh orang. Dia larang kita icip-icip, nggak tahunya dia nyicip duluan,” sahut yang lain.
“Habis si Bos, giliran kita nggak sih?”
“Boleh, lah. Mayan nih yang di dalam kolor belum dapat jatah udah seminggu.”
“Hahaha!” Suara tawa mereka terdengar membahana, bersaing dengan teriakan Giana dari dalam kamar.
Namun, suara tawa mereka berhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, sebuah motor trail ikut berhenti.
Jung Kook dan Prisa langsung merasuki Gilang dan Pradipta. Tanpa basa-basi, Pradipta dan Gilang langsung menyerang lima pria tersebut.
Setelah melepas helmnya, Leya ikut menyerang para penjaga itu. Baru menghajar satu pria, gadis itu mendengar teriakan seorang gadis dari dalam rumah. Leya segera masuk ke dalam. Dia segera mencari sumber suara.
Leya mencoba membuka pintu kamar tempat Ruben dan Giana berada. Karena terkunci, gadis itu tidak bisa membukanya.
Tak mau menyerah, Leya mencoba membuka pintu dengan cara mendobraknya. Dia mundur beberapa langkah, lalu mendobrak pintu dengan kekuatan bahunya.
Sampai percobaan ketiga masih belum berhasil. Namun, dia tidak mau menyerah. Melihat pintu yang sudah mulai kendor engselnya, Leya menendang pintu tersebut sekuat tenaga dan berhasil.
Begitu pintu terbuka, matanya langsung menangkap Ruben yang hendak melakukan tindakan tidak senonoh terhadap Giana. Dia langsung mendekat, lalu menarik Ruben menjauh dari Giana. Dua buah pukulan menghantam wajah pria itu.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Ruben untuk melawan, Leya terus menyerang pria itu hingga Ruben terkapar tidak berdaya. Wajahnya sudah dipenuhi memar. Hidung dan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
Setelah yakin Ruben tidak berdaya, Leya langsung mendekati Giana. Dia melepaskan kemeja flanel yang melapisi kaus yang dikenakannya, lalu memakaikannya ke tubuh Giana.
“Apa ada yang terluka?” tanya Leya.
Giana hanya menggeleng. Tubuhnya bergetar hebat akibat ketakutan yang dialaminya.
“Dia belum sempat apa-apain kamu, kan?” tanya Leya lagi.
Kembali Giana menggeleng. Ketakutan masih menyelimuti hatinya sampai gadis itu belum bisa bersuara. Leya segera memeluk Giana sampai gadis itu tenang.
Sementara itu, Gilang dan Pradipta sudah berhasil menaklukkan lima penjaga tersebut. Gilang menemukan lakban di dalam rumah, lalu segera mengikat tangan dan kaki kelima pria tersebut. Tak lupa, Gilang juga menutup mulut mereka dengan lakban.
Gilang bergegas mendekati salah satu kamar. Semua yang ada di dalam terkejut saat pintu terbuka. Mereka berkumpul di sudut ruangan sambil berpelukan satu sama lain.
***
Untung Giana selamat
mulai sekarang kamu pelatihan ilmu bela diri ya Giana....harus punya bekal...ini jd pengalaman yg berharga....agar kedepannya siap segalanya ✊🏻
terima noo bogem mentah ...
hajar teroozzz si Ruben nya Leya.....jangan kasih kendor...
berarti nii pertemuan ke ✌🏻 ya 🤭
srikandi tanpa tanding ....pantesan berani ngebolang sendirian....dia punya cukup ilmu bela diri rupanya.....kalo gk punya bekal pastinya sangat riskan untuk seorang cewek melanglang buana menjelajah touring sendirian 👏🏻👍🏻