Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Cklik.

​Suara kait kunci pintu yang terpasang rapi di dalam kamarnya menjadi batas terakhir antara Alana dan dunia luar. Begitu kenop pintu itu mengunci rapat, seluruh kekuatan yang Alana bangun sepanjang hari seolah runtuh tanpa sisa.

​Punggung tegar Alana meluncur pelan menyusuri daun pintu kayu, hingga akhirnya dia terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. Kedua lututnya ditarik mendekati dada. Tangan kanannya kembali mencengkeram perut atasnya yang kram tajam, sementara tangan kirinya membungkam mulutnya sendiri mencegah agar rintihan perih tak meloloskan diri ke luar kamar.

​Kamar ini... ruangan berukuran empat kali lima meter yang terletak di sudut paling sunyi lantai satu ini adalah saksi bisu.

"Kamar tamu," bisik Alana dalam hatinya. Bibirnya mengulas senyum sumbing yang sarat akan rasa ironis.

​Sejak malam pertama dia melangkahkan kaki ke rumah ini enam tahun lalu sebagai seorang istri, Gema tak pernah menawarkannya kamar utama di lantai atas. Kamar utama itu tetap menjadi milik Gema dan almarhumah kakaknya sebuah tempat sakral yang pintunya selalu terkunci rapat dan tak boleh tersentuh oleh siapa pun. Dan Alana, tanpa banyak bertanya, langsung tahu diri untuk menempati kamar tamu ini.

​Enam tahun. Selama dua ribu seratus sembilan puluh hari, kamar dingin ini yang mendengarkan setiap isak tangis Alana yang teredam bantal. Kamar ini yang menjadi saksi bagaimana seorang Alana wanita yang dipuja dan disegani banyak orang di luar sana harus melepas seluruh martabatnya hanya untuk menangisi sebuah pernikahan yang mati sejak awal.

"Sampai kapan kamu mau membohongi dirimu sendiri, Alana?" tanya sebuah suara di dalam dadanya, berdenyut menyakitkan seirama dengan detak jantungnya.

"Pernikahan apa yang sedang kamu jalani ini? Pernikahan macam apa yang bahkan tak pernah tersentuh oleh kehangatan seorang suami?"

​Alana memejamkan mata rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi dia tahan di hadapan Gema dan Kala akhirnya menetes hangat, membasahi kain jilbab sage green yang masih membalut kepalanya.

​Di luar sana, orang-orang menganggapnya sebagai wanita paling beruntung. Menikahi pengusaha sukses yang bertanggung jawab, tinggal di rumah mewah, dan dikelilingi fasilitas melimpah. Soal nafkah finansial, Gema memang tak pernah bercela. Pria itu mentransfer uang bulanan yang nominalnya lebih dari cukup, membiayai semua kebutuhan rumah, dan tak pernah memprotes bisnis toko kue yang didirikan Alana.

​Namun, di balik semua kemewahan yang kasat mata itu, Alana hidup bagaikan seorang biarawati dalam balutan status pernikahan.

"Nafkah batin..." Alana tertawa getir dalam benaknya. Sebuah tawa yang lebih terdengar seperti tumpahan rasa sakit.

​Bagaimana dia bisa menuntut nafkah batin, jika sekadar bersentuhan kulit saja Gema selalu menghindar seolah Alana adalah penyakit yang menular? Bahkan, rahasia paling menyakitkan yang tersimpan rapat di kamar ini adalah kenyataan bahwa setelah enam tahun menyandang status sebagai istri sah Gema... Alana masih seorang perawan.

​Pria itu tak pernah menyentuhnya. jangankan hubungan suami istri, mengelus rambut Alana atau menggenggam tangannya dengan tulus pun tak pernah Gema lakukan. Bagi Gema, ikatan di atas kertas agama dan negara itu murni sebuah formalitas demi memberikan sosok ibu bagi Tania. Gema membelenggu Alana dalam sangkar emas, tapi menolak untuk memberinya kunci kehangatan.

"Apakah aku seburuk itu di matamu, Mas?" batin Alana menjerit pilu pada ruangan yang hampa. "Apakah wajahku ini hanya akan terus mengingatkanmu pada Mbak? Apakah aku memang sama sekali tak bernilai sebagai seorang wanita di matamu?"

​Rasa sakit di lambungnya kembali menyengat tajam, mengingatkan Alana bahwa tubuhnya juga sudah mulai lelah menampung beban batin yang terlalu berat. Dengan sisa tenaga yang ada, Alana memaksakan diri bangkit. Dia melangkah menuju kamar mandi, menyalakan kran, dan membiarkan air dingin membasahi wajah serta mengalir ke sela-sela tangannya saat berwudhu.

​Cairan bening itu perlahan membasuh sisa air mata di pipinya, tetapi tak mampu memadamkan rasa perih di dadanya.

​Beberapa menit kemudian, Alana sudah membentang sajadah merah kusam di samping ranjangnya. Kain mukena putih bersih menyelimuti tubuhnya, menyisakan hanya wajah teduhnya yang pucat. Dia mengagungkan nama Sang Pencipta, memulai ibadah malamnya di tengah sunyinya sepertiga malam.

​Saat dahi Alana menyentuh kain sajadah pada sujud terakhirnya, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Dia menahan posisi sujud itu sangat lama. Di atas tempat terbaik untuk mengadu itulah, dada Alana terguncang hebat oleh tangis yang tak lagi mampu dia sembunyikan.

"Ya Allah... Ya Rabb..." jerit Alana dalam bisikan batinnya yang paling dalam.

"Engkau yang Maha Tahu betapa lelahnya jiwaku malam ini. Engkau yang tahu betapa perihnya menahan rasa sepi di antara ramai yang semu..."

​Jemarinya mencengkeram pinggiran sajadah dengan erat.

"Aku tidak membenci takdir ini, Ya Allah. Aku tidak pernah menyesal menerima amanah dari Mbak untuk merawat Tania. Tapi aku ini hanya manusia biasa... Aku punya hati yang merindukan dipeluk, aku punya jiwa yang ingin dihargai, bukan sekadar dianggap sebagai pajangan atau pengasuh yang diberi status istri."

​Bayangan wajah almarhumah kakaknya enam tahun lalu kembali berkelebat di ingatan Alana. Wajah pucat di atas bangsal rumah sakit, dengan selang oksigen dan suara napas yang terengah-engah sebelum mengembuskan napas terakhir.

"Tolong... jaga Tania, De. Anggap dia anak kandungmu sendiri. Dampingi Mas Gema... jangan biarkan mereka kesepian..."

​Pesan wasiat itu adalah rantai yang mengikat kaki dan hati Alana selama enam tahun ini. Sebuah janji suci yang membuat Alana rela mengorbankan masa mudanya, mengubur impiannya untuk dicintai secara utuh oleh seorang pria, demi menjadi pelindung bagi anak yang tak berdosa.

"Mbak..." panggil Alana pada bayangan sang kakak di dalam pikirannya. "Aku sudah menjalankan janjiku. Aku menyayangi Tania melebihi jiwaku sendiri. Tapi suamimu... dia mengunci pintunya begitu rapat. Dia tidak pernah membiarkan aku masuk, Mbak. Aku harus bagaimana?"

​Airmata Alana menetes deras, membasahi kain sajadah tepat di bawah dahinya. Rasa sakit maag akut nya yang terus melilit terasa seolah menyatu dengan rasa sakit di lubuk hatinya yang paling dalam.

"Apakah bersabar saja sudah cukup, Ya Allah? Ataukah kesabaranku ini sebenarnya hanyalah sebuah kebodohan yang perlahan merusak diriku sendiri?"

​Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, tak pernah menemukan jawaban.

​Setelah menyelesaikan salamnya, Alana tidak langsung beranjak. Dia duduk bersila di atas sajadah, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tertutup tirai tipis. Di luar, angin malam berhembus kencang, menampar dedaunan hingga menimbulkan suara gemericik yang dingin.

​Alana mengelus dada dan perutnya secara bergantian. Dia menatap bayangan dirinya di cermin rias yang berdiri di sudut kamar. Di sana, terpantul sosok wanita berusia dua puluh delapan tahun dengan paras manis, mata yang teduh, dan kulit yang bersih. Di luar rumah ini, banyak pria yang mungkin akan bertekuk lutut untuk mendapatkan senyumannya. Namun di dalam rumah ini, dia hanyalah sesosok hantu tanpa wujud.

​Alana menarik napas panjang, mencoba mengalirkan pasokan oksigen ke paru-parunya yang terasa sesak. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan ujung mukena.

"Cukup, Alana," bisiknya tegas pada diri sendiri, mencoba menegakkan kembali puing-puing martabatnya yang sempat berserakan.

"Jangan mengemis cinta pada manusia yang sudah menutup hatinya. Kamu punya Tania yang menyayangimu tulus tanpa syarat. Kamu punya Lumina Bakehouse yang kamu bangun dengan keringatmu sendiri. Jika Gema memilih untuk tetap membeku dalam duka masa lalunya, maka biarkan saja."

​Alana bangkit dari sajadahnya, melipat kain putih itu dengan rapi, lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang yang terlalu luas untuk dirinya sendiri.

​Sambil memandangi langit-langit kamar yang gelap, Alana kembali berbisik pelan, sebuah kalimat yang menjadi mantra penguatnya setiap kali malam terasa terlalu dingin untuk dilalui sendirian.

"Esok hari, kamu harus tersenyum lagi, Alana. Demi Tania... dan demi dirimu sendiri."

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!