Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Obat Anti Depresan

# Dibalik Obat Anti Depresan #

"Suara apa itu ribut-ribut, masih pagi juga? Sisi, coba kamu cek cepat."

Suara keributan Axcel dan Nyonya Evelyn terdengar hingga ruang kerja Profesor Antony yang kebetulan tak jauh dari paviliun belakang. Tak berapa lama terdengar lagi suara seperti barang pecah belah yang jatuh ke lantai. Sisi, salah satu asisten rumah tangga Profesor Antony, berteriak panik memanggil dirinya dan Mark. Profesor Antony menyibak tirai ruang kerja, dan nampak tak berapa jauh banyak orang sedang berkerumun di paviliun. Profesor Antony yang belum mengetahui apa yang terjadi langsung bergegas keluar menuju paviliun.

"Ada apa ini? Kenapa Evelyn pingsan? Terus kenapa piring-piring berhamburan kayak gini? Kalian cepat bersihin semua kekacauan ini! Mark, cepat bopong Evelyn ke kamar."

Sambil membuntuti Mark yang membawa Nyonya Evelyn ke kamar, Profesor Antony menelpon Dokter Darla untuk segera datang memeriksa kondisi Nyonya Evelyn. Sambil menunggu Dokter Darla yang sedang dalam perjalanan, Profesor Antony menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nyonya Evelyn. Mark langsung membungkuk dan segera memohon maaf, karena saat Nyonya Evelyn sarapan dengan Axcel, beliau menyuruh Mark menyiapkan semua berkas yang akan dipergunakan rapat pagi ini, jadi ia tak tahu apa-apa. Para asisten rumah tangga juga kebetulan sedang beres-beres di area lain. Salah satu asisten yang bertugas menyiapkan makanan hanya mengatakan kalau Nyonya Evelyn ingin sarapan berdua saja dengan Axcel tanpa perlu dilayani lagi.

Profesor Antony mengangguk paham, lalu mencoba menghubungi Axcel. Tapi nampaknya Axcel sedang dalam perjalanan dan tak bisa menerima panggilan telepon, atau memang Axcel tak mendengar ada panggilan masuk karena kebiasaannya yang selalu membisukan nada dering. Profesor Antony menghela napas panjang. Tak berapa lama Sisi datang bersama Dokter Darla. Tanpa dipersilakan, Dokter Darla langsung memeriksa kondisi Nyonya Evelyn yang nampak sangat lemah dengan bulir-bulir keringat dingin membasahi wajah pucatnya.

"Penyakit Nyonya Evelyn kambuh lagi, Prof. Saya sudah berikan suntikan dan infus. Obatnya tolong diperhatikan ya, Prof. Sepertinya Nyonya sering lupa minum obatnya. Dan seingat saya, dua bulan terakhir ini Nyonya Evelyn belum kembali kontrol ke poli saya. Apa mau rawat inap saja, Prof? Supaya kami bisa memantau lebih efektif."

Profesor Antony mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyuruh Mark dan Sisi menyiapkan keperluan Nyonya Evelyn untuk rawat inap. Karena bersedia untuk perawatan di rumah sakit, Dokter Darla pun tak langsung undur diri. Ia meminta izin pada Profesor Antony untuk mendatangkan ambulans dan akan mendampingi Nyonya Evelyn ke IGD. Sebenarnya Nyonya Evelyn sudah sadar sepenuhnya, tapi karena efek obat depresan, badannya terasa lemas seperti di awang-awang. Bahkan untuk membuka mulut dan matanya pun terasa sangat berat.

Mungkin kali ini Dokter Darla menaikkan lagi dosis obatnya. Nyonya Evelyn hanya bisa diam pasrah saat dirinya dibawa ke rumah sakit, tempat yang akhir-akhir ini enggan ia kunjungi karena sudah sangat lelah dan bosan. Semakin banyak Dokter Darla memberinya obat, sebanyak itu pula Nyonya Evelyn membuangnya ke tong sampah lobi rumah sakit. Kali ini Nyonya Evelyn tak bisa berkutik. Jika dirawat, pasti Dokter Darla akan memberinya obat dalam bentuk injeksi dan bukan obat-obatan lagi. Meskipun Nyonya Evelyn sudah mengatakan kalau dirinya keberatan mengonsumsi antidepresan, tetap saja Dokter Darla memaksanya.

"Ayolah Ev, jangan ngambek kayak gitu. Kalau kamu kayak gini terus, kapan sembuhnya? Andai kamu ini bukan sahabatku, pasti aku nggak perlu repot-repot maksa kamu buat sembuh."

Ternyata itulah alasan Dokter Darla selalu memperhatikan Nyonya Evelyn, karena mereka berdua terikat status sahabat sejak zaman kuliah dulu. Nyonya Evelyn yang masih terbaring lemas di bangsal IGD enggan mendengar ceramah Dokter Darla dan masih memalingkan wajahnya. Hingga berpindah ke ruang rawat pun Nyonya Evelyn tetap diam. Mark dan Sisi juga tak berani menanyakan apa pun.

Ruang VVIP itu terasa semakin dingin dan membisu.

Sementara itu di kampus, Axcel mengikuti kelasnya dengan gelisah. Ia tak sabar ingin mencari Sora karena sedari tadi pagi ponsel Sora tidak aktif. Audry yang terus saja mengoceh di sampingnya membuat Axcel semakin tak sabar untuk keluar kelas. Axcel tak sempat melihat catatan panggilan tak terjawab, padahal ia terus mengirim pesan berulang kali ke Sora.

-----

"Sora...? Sora hari ini nggak masuk kelas, nggak izin juga kayaknya. Soalnya diabsensi alfa sama Pak Rayyan. Coba telepon aja."

Axcel berkacak pinggang dan dengan kesal memukul pilar koridor. Sepertinya benar Sora ingin kabur diam-diam.

"Eh... Kalian udah dengar kabar belum? Ada rumor seru, tahu! Katanya ketua tim kita mau ngelamar Sora lho... Beruntung banget ya Sora, akhirnya usahanya yang bertahun-tahun nggak sia-sia. Udah nggak bertepuk sebelah tangan lagi."

Perkataan teman-teman Easton yang baru saja melewati Axcel membuat wajah Axcel memerah karena menahan emosi.

Apa jangan-jangan karena ingin menerima lamaran Easton, Sora akan melarikan diri diam-diam? Pikiran itu membuat Axcel semakin gusar dan berniat mencari Sora ke rumahnya. Tapi belum sempat mengambil motornya, ponsel Axcel kembali berdering. Saat diangkat, suara Profesor Antony memekik seakan ingin menghancurkan gendang telinga Axcel.

"Axcel, kamu apakan Mamamu tadi pagi?! Cepat datang ke rumah sakit!"

Axcel bingung dengan situasinya saat ini. Ia harus menemui Sora sebelum gadis itu menerima lamaran Easton, tapi di sisi lain Mamanya sedang berada di rumah sakit. Axcel memukul-mukul ponsel ke telapak tangannya. Setelah itu ia menghubungi Mark untuk memastikan apakah benar Nyonya Evelyn sedang sakit. Sebab tadi pagi Mamanya terlihat sehat-sehat saja, dan setahu Axcel Mamanya tak punya riwayat penyakit ataupun sedang mengidap penyakit lain.

Dengan berat hati Axcel memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya, karena Mark hanya membenarkan pertanyaannya tanpa mau menjelaskan apa yang salah dengan kesehatan Nyonya Evelyn. Sepanjang perjalanan perasaannya tak enak, entah karena takut ibunya mengidap penyakit kronis atau khawatir tentang status Sora yang akan menjadi tunangan sepupunya sendiri jika ia terlambat.

----

"Ma... Mama kenapa? Axcel minta maaf, Ma... Axcel nggak ada maksud mau marah sama Mama. Axcel lagi emosi sesaat aja, Ma. Mama sakit apa? Apa lagi-lagi karena Axcel, Ma...? Ma... Ngomong dong, Ma, lihatin Axcel..."

Nyonya Evelyn tak ingin menoleh karena takut Axcel melihatnya sedang menangis. Selama ini dengan sekuat hati Nyonya Evelyn selalu menyembunyikan kesedihan dan penyakitnya dari Axcel, hingga berhasil menjadi sosok ibu yang tegar untuk putranya. Seolah tahu kalau Nyonya Evelyn sedang tak ingin bicara, Mark menghampiri Axcel lalu menepuk bahu kirinya, memberikan isyarat untuk mengikutinya keluar ruangan.

"Ma... Kalau Mama mau istirahat nggak apa-apa. Asal Mama nggak marah lagi sama Axcel. Axcel cuma punya Mama doang. Tolong jangan sakit ya, Ma. Axcel izin ke rumah Sora sebentar ya, Ma. Nanti ke sini lagi nemenin Mama."

Axcel menyusul Mark yang sudah keluar ruangan lebih dulu. Mark sedang duduk di ruang tunggu yang tak jauh dari ruangan VVIP Nyonya Evelyn. Melihat Axcel yang sudah duduk di depannya dengan gelisah dan wajah penuh tanya, Mark langsung menyodorkan kartu nama Dokter Darla dan mengatakan kalau Axcel bisa menemuinya di Klinik Asmer setelah membuat janji temu terlebih dahulu. Axcel membolak-balikkan kartu nama Dokter Darla dan bertanya untuk keperluan apa ia harus menemui sahabat Mamanya itu.

"Saya dilarang membocorkan rahasia Nyonya, tapi saya juga tak bisa terus-terusan diam. Demi kebaikan Nyonya, tolong Tuan Axcel temui Dokter Darla dan mintalah beliau untuk menceritakan semua tentang sakit yang diderita Nyonya."

Setelah itu Mark meninggalkan Axcel, berniat pamit pada Nyonya Evelyn untuk kembali ke kantor. Sedangkan Axcel bersandar di kursi dan menepuk-nepuk kartu nama itu di telapak tangan kirinya. Ia harus ke mana dulu? Baginya urusan Sora sangat mendesak, tapi kalau melihat kondisi ibunya yang enggan berbicara dengannya juga cukup menguras perhatiannya. Hal mana yang harus ia dahulukan? Haruskah ia jadi seorang anak yang egois dan menelantarkan ibunya hanya untuk urusan wanita?

"Halo... Dokter Darla, ini saya Axcel. Apa Dokter punya waktu luang hari ini? Saya ada sedikit keperluan pribadi. Ya... Baik... Jam tiga sore di Cafe Miu-Miu yang dekat klinik ya... Baik, terima kasih Dok, sampai jumpa."

Ya, akhirnya Axcel memutuskan untuk mendahulukan kesakitan ibunya, meskipun Axcel masih yakin kalau Nyonya Evelyn hanya sedang bersandiwara karena tak ingin Axcel mengulangi pertanyaannya lagi tentang Selena.

Dan untuk Sora, ia mungkin hanya akan melakukan satu hal jika gadis itu benar-benar menerima lamaran Easton. Ya... Tentu saja ia akan merebutnya kembali, bukankah memang itu tujuan awalnya? Membalaskan dendam perundungan yang selama ini ia terima dari Easton sekeluarga dengan cara membuat mereka bangkrut dan kehilangan semua kesenangannya. Jadi, biarkan Sora bersenang-senang dulu.

----

"Bunda... Axcel itu sahabat aku. Seriusan! Kemarin kita ke Moon Cafe cuma mau cari tahu informasi tentang seseorang kok, kita nggak ngapa-ngapain. Bunda kalau nggak percaya bisa tanya Manajer San, ini aku ada kontaknya."

Sora yang ingin meyakinkan ayah dan bundanya malah keceplosan kalau dirinya mengunjungi Moon Cafe bersama Axcel. Cafe yang jika kamu hanya berdiri di depan pintunya saja sudah cukup membuat orang lain salah paham dan mengecap dirimu sebagai anak klub malam.

Tentunya itu membuat Nyonya Jolly murka. Dengan cekatan beliau mengambil sapu lantai dari lemari alat kebersihan di bawah tangga dan langsung memburu Sora, yang sesekali terkena sabetan sapu di bokongnya. Sora sudah berkali-kali meminta maaf dan memohon ampun. Ia juga berteriak meminta bantuan Tuan Mubis, tapi ayahnya masih dengan santai membaca buku sambil menikmati tehnya, seolah tak peduli dengan kerusuhan yang terjadi di depan matanya.

"Sudahlah Ayah, kita nggak bisa percaya lagi sama anak ini. Baiknya kita terima saja lamaran dari keluarga Wistlen daripada anak ini dirusak sama si Axcel-Axcel itu. Malam ini keluarga Wistlen mau berkunjung, mungkin mau bahas soal tunangan. Bunda lebih suka Easton, nggak pernah macam-macam. Kalau bisa nikahkan cepat-cepat saja."

Tuan Mubis menutup buku lalu mengangguk setuju. Lagipula rumor yang ia dengar saat menghadiri acara-acara kampus Sora, gadis itu sudah lama mengejar-ngejar Easton. Bukankah ini adalah kabar baik untuk semua orang?

Tapi berbeda dengan Sora. Ia yang sedang meringkuk di atas rak buku untuk menghindari pukulan dari bundanya bersikeras menolak usulan lamaran itu. Sora mengatakan kalau dirinya sudah lama melupakan Easton karena sadar cuma dimanfaatkan saja. Bahkan Sora mengancam tidak akan turun dari rak jika bundanya tetap ingin menikahkannya dengan Easton.

"Permisi Tuan, Nyonya... Di depan ada tamu yang cari Nona Sora, namanya Axcel."

---

"Bi Muna, cepat suruh Axcel kabur, Bik! Cepetan, Bik!" Sora sekuat tenaga berteriak untuk melindungi Axcel, jangan sampai bundanya melabrak Axcel dengan brutal.

**

WADUH KIRAVERS! BOKONG SORA KENA KEPRAK SAPU SAMPAI MANJAT RAK BUKU! 😭🤣🤣

Mana ada cewek lagi nangkring di atas rak buku gara-gara kabur dari sabetan sapu Bundanya, eh cowok yang bikin masalah malah datang langsung ke rumahnya?! Axcel beneran nekad banget atau memang lagi nggak tahu situasi?! 😱🔥

Mana nanti malam keluarga Easton juga mau datang buat ngelamar Sora! Apa jadinya kalau Bunda Jolly yang lagi emosi membara langsung melabrak Axcel di depan rumah?! Dan rahasia besar apa soal kesehatan Nyonya Evelyn yang bakal dibongkar Dokter Darla nanti jam tiga sore?!

Yuk, tumpahkan teori gokil dan tebakan kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇

Jangan lupa ya Kiravers:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Sora yang lagi meringkuk ketakutan di atas rak buku!

SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 27!

FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!

Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!