Satu malam penuh gairah dengan pria asing bak dewa Yunani mengubah hidup Lara selamanya. Gadis yatim piatu yang polos itu terbangun keesokan paginya—ditinggalkan, dengan setumpuk uang dan sebuah nota. Yang tak ia sadari: dari malam itu, ia mengandung benih seorang penguasa dunia bawah tanah.
Nikolai Pushkin, Don Bratva paling ditakuti di Rusia, tak pernah bisa melupakan "malaikat"-nya. Tiga tahun ia dihantui aroma dan bayang perempuan yang merenggut kendali dirinya—sampai takdir mempertemukan mereka kembali, dan Nikolai menemukan kenyataan yang mengguncang: ia punya seorang putra. Pewaris yang tak pernah ia duga.
Namun mencintai seorang raja mafia berarti masuk ke sarang serigala. Tunangan yang terobsesi, aliansi politik yang mematikan, dan musuh dari masa lalu yang paling kelam siap menghancurkan segalanya. Nikolai bersumpah akan melawan langit dan bumi demi keluarganya—bahkan jika itu berarti melepaskan takhtanya.
Sanggupkah cinta yang lahir dari satu malam bertahan di dunia yang dibangun di atas darah, kuasa, dan pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessilane Santos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
POV Nikolai
Kutempelkan keningku ke keningnya.
"Ayo pulang sekarang, malaikatku. Aku perlu melepas gaun ini dan melahap setiap bagian tubuhmu."
Kugigit bahunya, dan ia melepas erangan.
"Ayo, kumohon!"
Kami merapikan diri, kutautkan jari kami, lalu kami keluar dari rumah mewah itu. Tapi sebelum tiba di mobil, kulihat Hadassa. Ia menatap tangan kami yang bertautan dan tersenyum dingin.
"Masuk ke mobil, Malaikatku," ucapku.
"Baiklah," kata Lara.
Kututup pintu, dan Hadassa berdiri menghadangku.
"Sudah pamer-pamer dengan jalang itu?"
Kucengkeram lehernya, kukeluarkan pistolku, dan kutodongkan ke kepalanya.
"Hormati perempuanku, sialan! Semua ini gara-gara aku menolakmu?"
"Aku akan mendapatkanmu, Nikolai, dengan satu atau lain cara."
Kulepaskan lehernya, tapi jalang itu bergerak cepat, mengecup bibirku sekilas lalu pergi sambil tertawa. Kuseka bibirku dengan tangan penuh amarah.
"Akan kubunuh kau, jalang."
Aku menggeram dan masuk ke mobil.
"Malaikatku."
Ia tak menatapku.
"Antar aku pulang," ucap Lara.
"Maafkan aku, itu bukan salahku, aku tak menduga itu."
Ia menatapku penuh amarah lalu tersenyum sinis.
"Tentu. Besok apa lagi? Aku akan memergokinya telanjang di ranjangmu, dan kau akan mengatakan hal yang sama padaku?"
"Itu takkan pernah terjadi, Malaikatku."
"Aku tak mau tahu! Aku harus jalan kaki?"
Aku menelan amarah dan memberi isyarat pada anak buahku. Perjalanan ke rumah diselimuti keheningan yang menyiksa. Ia mengabaikanku, menatap jendela mobil. Begitu mobil berhenti, ia bergegas turun. Aku menarik napas dalam dan menyusulnya. Aku masuk ke rumah, dan ia menuju tangga.
"Kaupikir aku sungguh akan membiarkannya menciumku?"
"Itu tak penting bagiku, Nikolai. Kita tak punya hubungan apa-apa."
"Tak punya? Baru saja milikku yang menyetubuhimu."
"Itu cuma kekhilafan, tak lebih," ucapnya tegas.
"Jadi begini caranya? Kukira kita akan baik-baik saja setelah hari ini."
"Aku juga berpikir begitu, Nikolai, tapi tampaknya aku dan kau memang tak ditakdirkan bersama."
Ia masuk ke kamar, aku menyusul dan menutup pintu. Ia duduk di ranjang dan melepas sepatu haknya.
"Kau cuma sedang marah, makanya bicara begini."
"Menurutmu begitu?"
Ia melepas gaunnya di depanku, membuatku gila, lalu melepas celana dalamnya, dan kulihat spermaku mengalir. Dengan langkah cepat kulempar ia ke ranjang.
"Lepaskan aku."
Kutahan kedua tangannya hanya dengan satu tangan, dan kubawa jariku ke belahannya yang basah, lalu kubasahi jariku.
"Kalau kita tak punya hubungan apa-apa, malaikatku, lalu kenapa spermaku yang mengalir dari kewanitaanmu?"
"Bajingan, lepaskan aku sekarang juga."
"Kau yakin?"
Kugosok saraf yang menegang dengan ibu jariku, dan ia melepas erangan.
"Ya! Aku yakin."
Kumasukkan dua jari.
"Kau yakin, malaikatku?"
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Aku bersumpah aku tertangkap lengah tadi. Aku janji akan menempatkan anak buah untuk mengawasinya, dan kalau ia berani berbuat sesuatu lagi, aku bersumpah akan membunuhnya sendiri."
"Aku tak ingin menderita."
Ia berkata dengan mata berkaca-kaca, dan aku merasa bersalah.
"Percayalah pada cintaku padamu, Sayang. Aku mencintaimu, dan aku mencintai keluarga kita."
"Aku merasakan hal yang sama."
Aku tak bisa menyembunyikan senyumku, jantungku berpacu.
"Kau mencintaiku, Malaikatku?"
"Aku tak pernah melupakanmu... Kau menandaiku, Nikolai, menandaiku sebagai milikmu—bukan cuma tubuhku, tapi juga hatiku. Aku mencintaimu, Nikolai."
"Ini hari paling bahagia kedua dalam hidupku. Yang pertama adalah saat aku menemukanmu kembali bersama anak kita, dan sekarang mendengar dari mulutmu sendiri bahwa kau mencintaiku."
Aku melahap bibirnya sampai kehabisan napas, lalu kulepaskan.
"Aku berjanji akan membuatmu bahagia, Sayang! Kau dan anak kita."