menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gotong Royong
Suasana malam yang semakin larut menyisakan keheningan di sepanjang jalan menuju kediaman Silva. Setelah kekacauan bermain game dan perdebatan kecil di markas, Baffin akhirnya memutuskan untuk membawa Silva pulang.
Langkah kaki cowok itu terdengar mantap saat memasuki pelataran rumah. Di dalam dekapannya, Silva mendengkur halus, sama sekali tidak terganggu oleh guncangan langkah Baffin. Kedua lengan mungil gadis itu melingkar erat di leher Baffin, sementara kepalanya bersandar nyaman di dada bidangnya, mencari posisi paling hangat di tengah dinginnya angin malam.
Baffin melangkah masuk. Suasana dalam rumah sudah sepi. Dengan gerakan ekstra hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Baffin menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar Silva di lantai dua.
Begitu pintu kamar kayu itu terbuka, kegelapan langsung menyambut. Baffin mendekati dinding, lalu menyalakan lampu dengan menekan sakelar sebanyak tiga kali, mengubah pencahayaan utama menjadi pendar lampu tidur yang temaram dan menenangkan.
Baffin berjalan mendekati ranjang, lalu perlahan menurunkan tubuh Silva ke atas kasur yang empuk. Ia menghela napas lega, bersiap untuk menegakkan tubuhnya kembali dan pulang ke rumahnya sendiri. Namun, gerakannya mendadak terkunci.
Pelukan Silva di lehernya sama sekali tidak melonggar. Tarikan itu justru menahan wajah Baffin tepat beberapa sentimeter di depan wajah Silva.
Dalam jarak secat dekat itu, Baffin seketika terpaku. Jantungnya berdesir aneh saat sepasang matanya menatap wajah Silva yang tampak begitu tenang di bawah cahaya temaram.
Ia terdiam cukup lama, memperhatikan setiap detail wajah manis dan polos gadis itu yang masih terlelap nyenyak.
Tanpa sadar, ibu jari Baffin bergerak pelan, mengusap sebaris pipi Silva yang agak chubby dengan gerakan luar biasa lembut.
Pandangan Baffin perlahan turun. Matanya tertuju pada bibir mungil Silva yang sedikit terbuka, tampak begitu ranum dan menarik perhatiannya malam itu. Ada dorongan asing yang mendadak muncul di dadanya, mendesaknya untuk mendekat dan mencicipi kelembutan itu.
Baffin memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Namun, tepat sebelum jarak di antara mereka terkikis habis, akal sehatnya mendadak menamparnya.
Baffin tersentak. Ia langsung menarik kepalanya mundur dengan napas yang agak memburu.
"Gila lo, Fin,” umpatnya dalam hati, merutuki impulsivitasnya sendiri.
Baffin mencoba melepaskan kaitan tangan Silva di lehernya. Namun, setiap kali ia mencoba mengurainya, Silva justru melenguh pelan dan mempererat dekapannya, seolah enggan kehilangan sumber kehangatan. Karena benar-benar tidak tega membangunkan gadis yang tampak begitu kelelahan itu, Baffin akhirnya mengalah.
Sambil menghela napas pasrah, Baffin merebahkan tubuh jangkungnya di sisi kosong tempat tidur. Ia menarik tubuh Silva ke dalam dekapan, membiarkan gadis itu menjadikannya guling hidup.
Meski awalnya atmosfer terasa canggung—terutama karena bayangan wajah dekat Silva tadi masih menari-nari di kepalanya—perlahan rasa nyaman mulai merayap. Wangi sampo Silva yang familier menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Niat awalnya hanya ingin menunggu sampai pelukan Silva terlepas dengan sendirinya agar ia bisa pulang. Namun, kelelahan setelah dipaksa senam jantung di mall dan sesi latihan fisik yang menguras tenaga akhirnya menangkap Baffin.
Rasa kantuk yang berat menyelimuti kesadarannya, dan dalam waktu singkat, Baffin ikut tertidur pulas sambil mendekap erat gadis polos di sampingnya.
•••
Pagi pun datang menjemput. Semburat cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar.
Pintu kamar diketuk perlahan sebelum akhirnya terbuka. Airin melangkah masuk dengan niat awal untuk membangunkan putri semata wayangnya agar tidak terlambat ke sekolah.
Namun, langkah kakinya langsung terhenti di ambang pintu. Matanya membola sesaat, tersentak melihat pemandangan di atas ranjang.
Di sana, tidak hanya ada Silva. Baffin juga ada di tempat yang sama. Keduanya tampak begitu nyenyak dan nyaman, saling berpelukan erat seolah dunia luar tidak ada yang peduli.
Alih-alih berteriak badai, Airin justru tersenyum tipis. Ia melangkah lebih dalam ke dalam kamar, lalu dengan lembut menepuk lengan Baffin beberapa kali.
"Baffin... sudah pagi," bisik Airin lembut.
Baffin melenguh kecil, kelopak matanya mengerjap perlahan. Kesadarannya tidak langsung kembali penuh. Namun, begitu matanya menangkap sosok Airin yang berdiri di tepi ranjang, nyawanya langsung terkumpul seratus persen.
Baffin tersentak duduk, melepaskan pelukannya dengan gugup. "Eh, Tante... maaf, tadi malem itu—" kalimat Baffin terbata-bata, wajahnya mendadak pias karena panik tertangkap basah tidur satu kasur.
Airin memotong kalimat itu dengan lambaian tangan tenang, wajahnya memancarkan senyum keibuan. "Tante percaya sama kamu. Bangunin Silva, suruh dia cepat siap-siap sekolah. Habis itu kamu turun ke bawah, kita sarapan bareng."
Setelah mengucapkan itu, Airin berbalik dan melangkah keluar kamar, memberikan privasi bagi keduanya.
Baffin mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di tenggorokan. lalu menoleh ke arah gadis yang masih meringkuk di sampingnya. Silva masih memejamkan mata dengan damai. Tampak sangat manis di bawah siraman cahaya pagi.
Baffin terdiam sejenak, mencuri beberapa detik berharga untuk menikmati pemandangan itu sebelum akhirnya mengulurkan tangan.
Baffin menggoyang-goyangkan bahu Silva pelan. "Silva. Bangun."
Silva mengerang kecil. Ia mengolet sebentar, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Namun, begitu kelopak matanya terbuka sepenuhnya dan menangkap siluet tegap Baffin yang duduk di tepi kasurnya, sepasang matanya langsung membola sempurna. Rasa kantuknya hilang seketika.
"Kok... kok kamu bisa di sini?!" pekik Silva tertahan,
Baffin berusaha memasang ekspresi sedatar dan secool mungkin. "Bangun. Persiapan sekolah," ujar Baffin singkat sambil beranjak berdiri dari kasur. Ia merapikan sedikit pakaiannya yang kusut. "Aku pulang dulu."
•••
Di sisi lain, Kenya mengerjap, mendapati dirinya terbangun di kamar sendiri. Alih-alih langsung beranjak, ia memilih merapatkan kembali selimut tebalnya, berusaha mencari kenyamanan sembari mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer.
Namun, begitu ingatan samar tentang kejadian semalam berputar di otaknya, ia langsung terlonjak kaget hingga terduduk tegak di atas kasur.
"Gue... gue semalam kan di markas temen-temennya Kaisan?" gumam Kenya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Jantungnya mendadak berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyambar ponsel di atas nakas. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendial nomor laki-laki itu. Begitu panggilan tersambung, suara kasual Kaisan langsung menyapa telinganya.
"Halo, Ken? Kenapa? Barang lo ada yang ketinggalan di markas?"
Kenya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Enggak. Gue... semalam siapa yang bawa gue pulang?"
"Ya sopir lo lah. Aneh banget pertanyaan lo."
"Sopir gue juga yang bawa gue dari dalam markas ke mobil?" cecar Kenya tak sabar.
"Mmm..." Kaisan hanya bergumam tidak jelas, terdengar sengaja mengulur waktu. Tapi, gumamannya itu membuat Kenya langsung overthinking.
"San? Gue gak aneh-aneh, kan, semalam?" tanya Kenya lagi. Ia mulai menggigit bibir bawahnya cemas, takut jika ia melakukan hal memalukan saat tidak sadar, padahal sebenarnya tidak terjadi apa-apa.
"Mmm, gimana ya? Mending gak usah dibahas, deh. Dengan begitu kita semua bakal lebih cepat lupa," balas Kaisan santai, namun sukses membuat bulu kuduk Kenya meremang.
"Lo kalau ngomong yang jelas, deh! Jangan bikin gue tebak-tebakan!"
"Sudah dulu ya... gue udah dipanggil makan nih. Lo juga sana makan. Sama orang tua lo yang ada."
"Gue tabok lo ya, San!" ancam Kenya, emosinya mulai tersulut.
Kaisan terkekeh di seberang sana. Ia tidak akan berani mengatakan hal seperti itu kalau berhadapan langsung.
Tepat saat Kenya sudah bersiap mematikan sambungan telepon dengan dongkol, cowok itu kembali bersuara. "Jadi mau gue kasih tahu gak nih?"
"Apa? Cepet!"
"Tapi lo jangan nanya yang lain lagi ya. Gue cuma kasih tahu siapa yang bawa lo semalam."
"Cerewet banget sih lo! Udah cepet, gue mau mandi nih!"
"Aduh, gue lupa lagi," jawab Kaisan menjengkelkan. Namun, sebelum Kenya sempat memaki, ia langsung meralat cepat dengan nada menahan tawa, "Maksudnya... gini. Semalam kami kan habis latihan, tuh. Pada capek semua. Jadi lo dibopong bareng-bareng. Gue lupa siapa aja yang megang tangan sama kaki lo. Gitu maksudnya."
Kenya langsung melongo di tempatnya. Kepalanya mendadak kosong. Bisa-bisanya ia diperlakukan beramai-ramai layaknya korban kecelakaan atau gotong royong warga. "Lo... serius?"
"Seriuslah! Gue mana berani macam-macam sama lo," ujar Kaisan sekenanya.
Di seberang telepon, cowok itu sebenarnya sedang tertawa tanpa suara dalam hati. Puas sekali rasanya bisa membohongi Kenya.
Habisnya, gadis itu sehari-hari terlalu bar-bar dan galak. Kaisan hanya ingin memanfaatkan momen ini untuk membalas dendam dengan menjahilinya habis-habisan.
"Gue harus apa sekarang...?" gumam Kenya frustrasi, membayangkan betapa malunya dia jika bertemu teman-teman Kaisan lagi.
"Oplas aja ganti muka. Atau b*nuh diri sekalian, biar ketemu sama mereka. Lo kangen, kan?" saran Kaisan asal.
Pip.
Sambungan telepon langsung diputus sepihak oleh Kaisan. Kenya terpaku, menatap layar ponselnya yang menggelap dengan dada yang mendadak terasa sesak oleh amarah yang bercampur aduk dengan rasa perih.
Rasa dongkol karena dijahili seketika menguap, berganti dengan denyut nyeri di dadanya. Berani-beraninya Kaisan membawa-bawa topik sensitif itu. Cowok itu tahu betul bahwa orang tua Kenya sudah meninggal, dan ucapan sarkas barusan benar-benar terasa keterlaluan di telinganya.