Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Suara Diluar Hujan
Tetesan air sisa hujan di sudut atap toko perhiasan menetes perlahan, jatuh tepat di atas pundak kemeja Ethan yang sudah basah kuyup. Pria itu masih terpaku di posisi yang sama, menatap kosong ke ujung jalan tempat mobil hitam milik Liam Vance melaju dan menghilang di balik kegelapan.
Senyum pahit terukir di bibirnya.
Mia benar-benar pergi bersama pria itu.
Tiba-tiba, suara decitan ban yang kasar memecah keheningan jalanan. Sebuah SUV hitam dengan kaca gelap gulita berhenti mendadak tepat di depan toko.
Pintu pengemudi terbuka lebar, dan seorang pria bertubuh tegap melangkah keluar dengan terburu-buru sambil membentangkan sebuah payung besar.
“Ethan! Kamu gila, ya?!”
Marcus, manajer sekaligus sahabat, melangkah lebar mendatangi Ethan, langsung menaungi tubuh aktor papan atas itu dengan payung. Wajah Marcus dipenuhi perpaduan antara rasa panik dan amarah yang meluap-luap.
“Aku sudah menduganya! Saat kamu tidak menjawab teleponku selama tiga jam dan pelacak mobilmu menunjukkan kamu masih tertahan di sini, aku tahu pikiranmu sudah tidak beres!” cecar Marcus dengan suara meninggi.
Tanpa menunggu tanggapan, ia meraba lengan kemeja Ethan “Tubuhmu dingin seperti mayat, Ethan! Kamu berdiri di luar saat hujan deras hanya untuk ini? Apa kamu mau mati konyol?”
Ethan tidak menjawab. Rambutnya yang basah menutupi sebagian matanya. Suara gemertak giginya karena kedinginan terdengar jelas di antara embusan angin malam.
“Lihat dirimu!” Marcus mencengkeram bahu Ethan, memaksanya berpaling dari ujung jalan.
“Proses syuting film barumu sedang berjalan ketat! Besok pagi kamu ada take adegan penting dengan sutradara, belum lagi jadwal press conference yang sudah di depan mata. Kamu malah membuang kesehatanmu demi berdiri di pinggir jalan seperti ini? Kalau sampai kamu demam atau ada paparazzi yang mengambil foto kondisimu sekarang, seluruh produksi bisa tertunda dan reputasi yang kita bangun bertahun-tahun akan hancur, Ethan!”
“Dia pergi dengannya, Marcus...” bisik Ethan parau. Suaranya terdengar pecah, begitu rentan hingga membuat omelan Marcus terhenti seketika.
Marcus menghela napas panjang, meredam emosinya yang memuncak. Rasa jengkel di dadanya perlahan terkikis melihat remuknya batin sang sahabat.
“Mia punya hak untuk pergi. Dan kamu tidak bisa memaksa seseorang yang lukanya belum sembuh untuk langsung mendengarkanmu,” ujar Marcus, kali ini dengan nada yang jauh lebih pelan namun tegas. Ia menatap Ethan lurus-lurus.
“Tapi satu hal yang pasti, kamu tidak akan bisa menjelaskan apa pun kalau tubuh dan suaramu ambruk saat syuting besok. Sekarang masuk ke mobil sebelum ada orang yang mengenali wajahmu.”
Tanpa menunggu persetujuan Ethan lagi, Marcus menarik lengan pria itu dengan kuat, menuntunnya masuk ke dalam kabin SUV yang hangat.
****
Lokasi syuting keesokan harinya mendadak diselimuti ketegangan yang pekat. Di bawah sorotan lampu set yang menyilaukan, Ethan berdiri bergeming dengan kostum peran yang melekat di tubuhnya.
Namun, riasan wajah yang tebal sekalipun tak mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dan bibirnya yang mengering. Tubuhnya yang menggigil hebat, berjuang keras mempertahankan posisi tegak di tengah aba-aba sutradara.
“Action!”
Teriakan suara sutradara menggema dari balik meja monitor.
Ethan mencoba melangkah maju dan mengucap baris dialognya. Niatnya sekuat tenaga, tetapi suaranya yang parau berubah menjadi bisikan serak sebelum akhirnya tenggorokan pria itu tercekat total.
Pandangannya berbayang, mengabur di antara deretan kamera beresolusi tinggi. Kesadarannya goyah, dan hanya dalam hitungan detik, lutut sang aktor papan atas itu menyerah.
Tubuh Ethan ambruk, menghantam lantai set dengan dentuman keras yang membuat seluruh kru menjerit panik.
“Ethan!” Marcus melompat dari balik layar monitoring, berhamburan mendekati sahabatnya yang sudah tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang membakar.
Tim medis darurat berdesakan maju, memecah hiruk-pikuk kru yang panik seketika.
Di lantai atas area balkon lokasi syuting, terpisah dari kekacauan di bawah, Liam Vance menyandarkan kedua tangannya di atas pembatas besi. Tatapannya dingin, menghujam lurus ke arah tubuh Ethan yang sedang dikerumuni.
Liam sama sekali tidak terkejut. Senyum tipis yang penuh kemenangan terukir di sudut bibirnya saat ia menyaksikan keretakan sosok pria yang selama ini berdiri di antara dirinya dan Mia.
Mobil ambulans meluncur membelah jalanan kota dengan sirine yang mengudara.
Di dalam ruangan darurat VIP rumah sakit, aroma antiseptik yang menyengat menyambut Marcus yang terus melangkah bolak-balik di depan pintu. Ponsel di genggamannya tak berhenti bergetar. Puluhan panggilan masuk dari produser, awak media, dan agensi menumpuk tanpa henti.
Sementara itu, di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ethan terbaring lemah dengan jarum infus menancap di punggung tangannya. Masker oksigen mengembun tipis seiring napasnya yang berat dan teratur.
“Kondisinya sudah stabil, tapi dia mengalami hipotermia ringan dan kelelahan ekstrem,” ucap dokter sembari mencatat rekam medis.
“Dia butuh istirahat total setidaknya tiga hari. Jangan biarkan dia stres,” tambah dokter.
Marcus memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Tiga hari istirahat berarti penundaan besar untuk jadwal produksi, dan berita tumbangnya Ethan pasti sudah bocor ke telinga para pemburu berita.
Marcus melangkah keluar dari kamar rawat VIP setelah memastikan dokter dan perawat selesai menangani Ethan. Begitu pintu tertutup rapat, ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor rumah sakit yang dingin, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
Layar ponselnya masih terus menyala, menampilkan nama-nama produser eksekutif dan wartawan papan atas yang menagih klarifikasi.
Ia tahu betul bahwa dalam industri hiburan, rumor liar bisa membakar reputasi Ethan jauh lebih cepat daripada demam yang menimpa tubuhnya saat ini.
Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu mengetik pesan singkat ke tim humas agensi.
“Keluarkan rilis resmi. Ethan pingsan karena kelelahan fisik akibat jadwal syuting yang padat dan cuaca ekstrem. Tidak ada pernyataan soal masalah pribadi. Amankan lokasi rumah sakit dari paparazzi.”
Setelah mengirim pesan tersebut, ia kembali masuk ke dalam kamar.
Ethan masih memejamkan mata, wajahnya yang biasa dipenuhi kharisma kini terlihat sangat rapuh di bawah terpaan lampu kamar yang samar.
Marcus duduk di kursi samping tempat tidur, menatap sahabatnya dengan tatapan campur aduk antara prihatin dan gemas.
“Kamu selalu pintar memainkan karakter apa saja di depan kamera, Ethan,” bisiknya pelan pada udara hampa. “Tapi untuk urusan hatimu sendiri, kamu aktor paling payah yang pernah aku kenal.”
Marcus memandang wajah pucat Ethan yang masih terpejam erat. Tatapannya melunak, menyisakan kepedihan mendalam seorang sahabat yang menyaksikan kehancuran batin orang terdekatnya.
“Dasar bodoh,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi ritmis monitor jantung.
“Di depan jutaan penggemar dan kamera, kamu bisa berakting jadi pria paling tangguh dan sempurna. Kamu bisa menaklukkan peran apa pun tanpa cela. Tapi begitu berhadapan dengan Mia, kamu langsung hancur begini...”
Marcus menggelengkan kepala perlahan, menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya. Ada rasa iba yang tak tertahankan saat melihat pria bergengsi yang biasanya menguasai panggung hiburan itu kini terbaring tak berdaya hanya karena satu nama.
“Harusnya aku paham dari awal,” lanjut Marcus dengan nada menyesal.
“Kamu tidak hanya mengejar dia ke toko perhiasan itu sebagai seorang mantan, tapi sebagai pria yang kehilangan seluruh arah hidupnya. Kamu rela mempertaruhkan reputasi, kesehatan, bahkan nyawamu hanya untuk menatap mobil yang membawa dia pergi...”
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamar rawat VIP yang serbaputih.
"Kamu selalu menyimpan semuanya sendiri. Kamu berpura-pura kuat di depan Jane, berpura-pura profesional di depan Sarah Parker dan seluruh kru di lokasi syuting, tapi hatimu sebenarnya masih tertinggal di masa lalu bersama Mia. Kalau sudah begini... siapa sebenarnya yang paling terluka?
“Bangunlah cepat, Ethan. Bereskan kekacauan ini, atau kamu akan benar-benar kehilangan dia selamanya.”
–tbc–
Liam Vance