Indonesia
NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEDIKASI DAN JEJAK KEBAIKAN

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, membiaskan warna merah muda kekuningan yang lembut di balik tirai kamar. Suara gemercik air hujan semalam masih meninggalkan hawa sejuk yang meresap hingga ke dalam selimut. Aku terbangun lebih awal, mendapati rasa mual yang biasanya menyergap di pagi hari kini perlahan mereda. Di sampingku, Ammar masih tertidur lelap dengan napas yang teratur sosok yang selama beberapa pekan terakhir menjelma menjadi pelindung utama di tengah pusaran arus ujian kehidupan kami.

Aku menyentuh perutku yang mulai terasa sedikit mengeras, sebuah kepastian kecil bahwa kehidupan di dalamnya tumbuh makin kuat setiap harinya. Dengan hati-hati agar tidak mengganggu istirahat Ammar, aku bergeser turun dari tempat tidur, mengenakan mukena, dan melangkah menuju ruang tengah lantai atas untuk menenangkan jiwa dalam sujud panjang.

Rasa syukur membuncah tanpa batas. Badai yang berembus kencang dari cemoohan publik, tekanan media, hingga intimidasi terselubung perlahan-lahan mulai kehilangan daya rusaknya. Tindakan tegas Ammar membawa masalah pencemaran nama baik ke ranah hukum membuat pihak-pihak yang tadinya berniat memperkeruh suasana mendadak bungkam. Namun, aku tahu bahwa pemulihan nama baik dan ketenangan sejati tidak hanya didapatkan dari kemenangan hukum, melainkan dari konsistensi berbuat kebaikan.

Usai menuntaskan salat dan zikir, aku melangkah turun ke dapur. Di sana, Ibu sudah sibuk memotong sayuran segar yang dibeli dari pedagang keliling.

"Sudah bangun, Aisyah?" sapa Ibu dengan senyum hangat yang merekah sempurna di wajah tuanya. "Bagaimana perutmu pagi ini? Masih mual?"

Aku menggerakkan jemariku mengusap perut, lalu tersenyum lelah namun bahagia. "Alhamdulillah, Bu... pagi ini terasa jauh lebih nyaman. Aisyah mau bantu masak buat sarapan."

"Jangan terlalu lelah, Nak," ingat Ibu lembut seraya menyerahkan mangkuk berisi kentang rebus. "Ammar pesan betul sama Ibu kemarin, kalau kamu mulai pucat sedikit saja, kamu harus langsung istirahat."

"Mas Ammar cuma berlebihan, Bu," jawabku terkekeh halus. "Padahal Aisyah merasa makin segar kalau ada kegiatan."

Saat kami sedang menyiapkan hidangan di meja makan, suara langkah kaki tegap terdengar mendekat. Ammar turun dengan kemeja katun santai berwarna krem dan celana panjang gelap. Rambutnya yang sedikit basah usai berwudu memancarkan kesegaran alami. Tidak ada lagi wajah tegang atau sorot mata tajam seperti saat menghadapi konflik kemarin; yang ada hanyalah pandangan penuh kehangatan saat matanya beradu dengan pandanganku.

"Assalamu'alaikum," sapa Ammar lembut. Ia berjalan melintasi ruang makan, menghampiri Ibu untuk mencium tangannya penuh takzim, lalu berdiri di sampingku.

"Wa'alaikumussalam, Mas," balasku.

Ammar mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepalaku yang tertutup balutan jilbab instan rumahan, lalu membiarkan telapak tangannya bertengger sejenak di atas perutku. "Bagaimana kabar anak Bapak pagi ini? Tidak membuat Ibunya kerepotan, kan?"

Ibu yang menyaksikan adegan itu terkekeh pelan. "Kalian ini makin hari makin menempel saja. Ayo duduk, sarapan dulu selagi hangat."

Di meja makan, Ammar membeberkan agenda hariannya. Selain jadwal rutin mengajar di majelis, hari ini ia berencana meninjau langsung proyek pembangunan ruang belajar santri di area pesantren Syekh Ali, sekaligus menemani Syekh Ali—Abahnya—yang memantau jalannya pesantren setelah beberapa hari fokus memimpin kajian kitab di ruang utama. Kendati sempat terdampak oleh penarikan dana dari pihak Kyai Dahlan, pembangunan itu tidak sepenuhnya terhenti.

"Saya bermaksud mengajak kamu ikut, Aisyah," ujar Ammar di sela-sela menikmati hidangannya. "Tentu kalau kondisi fisikmu memungkinkan dan kamu tidak merasa keberatan. Abah Syekh Ali juga menyampaikan rindu dan mau melihat keadaannmu."

Aku menatapnya terkejut, namun berbinar. "Ke pesantren, Mas? Abah Syekh Ali ada di sana juga? Apa... apa tidak apa-apa kalau aku hadir di sana?"

"Kenapa tidak?" Ammar menatapku mantap, menyentuh jemariku yang bertengger di tepi meja. "Kamu adalah bagian dari hidup saya, bagian dari keluarga pesantren itu juga. Para pengurus dan santri perlu mengenali siapa ibunya nanti. Lagipula, beraktivitas di udara terbuka mungkin bisa membuat pikiranmu jauh lebih segar."

Ibu mengangguk setuju dari seberang meja. "Ikutlah, Aisyah. Selama ada Ammar yang menjaga dan kamu tidak memaksakan diri, Ibu rasa itu ide yang bagus."

Pukul sembilan pagi, rombongan kecil kami berangkat menuju area pesantren yang terletak di pinggiran kota. Perjalanan ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit. Sepanjang jalan, Ammar tak hentinya menceritakan sejarah berdirinya pesantren tersebut—bagaimana Syekh Ali membangun fondasi awal dari sebuah mushola kecil hingga berkembang menjadi kompleks pendidikan yang menampung ratusan anak kurang mampu dan anak yatim.

Ketika mobil kami melintasi gerbang utama pesantren yang megah bertuliskan kaligrafi emas, rasa haru menyergap dadaku. Di sepanjang jalan dalam kompleks, tampak para santri berpakaian putih-putih tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Begitu melihat mobil Ammar melintas, mereka menghentikan aktivitas, berdiri tegap, dan menundukkan kepala memberikan penghormatan penuh takzim.

Mobil berhenti di depan gedung sekretariat utama. Ustaz Ridwan dan beberapa pengurus senior pesantren sudah menyambut di depan teras, didampingi oleh Syekh Ali yang berdiri anggun berbalut jubah putih dan sorban khasnya. Wajah Abah memancarkan ketenangan dan wibawa yang amat teduh.

Aku merapikan gamis serta niqab hitamku sebelum melangkah keluar. Begitu kakiku memijak tanah pesantren, Ammar berjalan di sisiku—tidak terlalu dekat untuk menjaga norma di depan para santri, namun cukup sigap untuk merengkuhku jika aku tersandung.

"Assalamu'alaikum, Abah... Ustaz Ridwan..." sapa Ammar seraya mencium tangan Syekh Ali penuh takzim.

Aku mengekor di belakang Ammar, menundukkan pandangan seraya mencium punggung tangan mertuaku. Syekh Ali mengusap puncak kepalaku pelan dari balik jilbab, menyalurkan kehangatan seorang ayah.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Nak," tutur Syekh Ali dengan suara seraknya yang khas namun penuh wibawa. "Alhamdulillah, sehat kamu, Aisyah? Dijaga baik-baik kandunganmu ya."

"Alhamdulillah sehat, Abah. Terima kasih banyak," jawabku tulus.

Ustaz Ridwan menyambung penuh rasa syukur. "Alhamdulillah, Habib, Syekh. Meski ada beberapa penyesuaian anggaran setelah peristiwa pekan lalu, para pekerja tetap melanjutkan struktur dasar. Malah, ada beberapa donatur lokal dan alumni yang mendadak menyalurkan bantuan tambahan setelah melihat keteguhan Habib di media."

Pernyataan Ustaz Ridwan membuatku terpaku. Rencana manusia yang berniat menjatuhkan dengan cara menarik dukungan keuangan rupanya tidak mampu membendung pintu-pintu rezeki lain yang dibukakan oleh Allah dari arah yang tak disangka-sangka.

Syekh Ali mengangguk pelan seraya tersenyum teduh. "Allah maha mencukupi hamba-Nya yang bersandar hanya kepada-Nya. Jika niat awal mendirikan bangunan ini untuk santri, maka pertolongan-Nya tidak akan pernah terlambat."

Kami diajak mengelilingi area pesantren. Ammar dan Syekh Ali memperkenalkanku kepada para pengurus senior dan pengajar. Tidak ada pandangan curiga atau bisikan miring yang kuterima; sebaliknya, mereka menyambutku dengan kehangatan yang amat tulus. Penghormatan yang mereka berikan padaku murni karena rasa hormat mereka yang begitu besar kepada Syekh Ali dan Ammar, serta keanggunan sikap yang berusaha kutampilkan di hadapan mereka.

Saat langkah kami sampai di area pembangunan gedung baru, Ammar dan Syekh Ali berdiskusi serius dengan arsitek dan mandor proyek. Aku memilih berdiri sedikit agak jauh, berteduh di bawah pohon beringin rindang di tepi lapangan.

Dari arah asrama putri, tampak segerombolan santriwati remaja berjalan canggung menghampiriku. Mereka mengenakan seragam putih hijau dengan buku-buku kitab di pelukan mereka. Raut wajah mereka menyiratkan rasa penasaran yang besar, namun berbaur dengan rasa segan.

"Assalamu'alaikum, Ustadzah..." sapa salah seorang santriwati dengan suara cicitan halus, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Aku tersentak pelan mendengar panggilan 'Ustadzah' yang terucap dari bibirnya. Hati kecilku merasa berdesir canggung dan tak pantas. Dengan senyuman hangat di balik niqabku, aku menyambut mereka seraya menggelengkan kepala secara halus.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Adik-adik," balasku ramah. Aku memegang jemari santriwati yang menyapaku tadi dengan lembut. "Tapi... tolong jangan panggil aku Ustadzah, ya?"

Santriwati itu mendongak terkejut, saling pandang dengan teman-temannya yang berdiri di belakangnya. Raut cemas mendadak menyelimuti wajah polos mereka, seolah takut telah melakukan kesalahan besar.

"M-maafkan kami... apakah kami salah menyapa, Ustadzah... eh, Mbak?" tanyanya terbata-bata.

Aku terkekeh halus melihat kepolosan mereka, berusaha meredakan ketegangan di antara kami. "Kalian tidak salah, tapi gelar Ustadzah itu sangat berat dan mulia. Gelar itu milik orang-orang yang berilmu tinggi, yang bertahun-tahun mengaji dan mendidik kalian di sini. Sedangkan aku... aku masih orang biasa yang baru belajar, sama seperti kalian. Panggil saja aku Mbak Aisyah, ya? Supaya kita terasa lebih dekat dan tidak ada jarak."

Mendengar penjelasanku yang disampaikan dengan kerendahan hati tanpa kesan menggurui, raut cemas di wajah para santriwati itu seketika sirna, berganti menjadi senyuman lega dan pendar rasa kagum yang makin membuncah.

"Baik, Mbak Aisyah..." sahut santriwati berbaju paling depan dengan mata berbinar-binar. "Masya Allah... Mbak Aisyah ternyata ramah dan rendah hati sekali. Kami kemarin melihat tayangan ceramah Habib di televisi. Habib membela Mbak Aisyah dengan sangat tegas. Kami semua di asrama sampai menangis terharu membayangkan betapa mulianya Mbak Aisyah di mata Habib."

Dada saya berdesir hangat mendengar ketulusan ucapan anak-anak muda ini. Masa lalu yang sempat kutakuti akan merusak pandangan orang terhadap diriku rupanya terkikis habis oleh narasi kebaikan dan kerendahan hati yang berusaha kutunjukkan.

"Habib Ammar adalah pria yang sangat baik," tuturku jujur, menatap anak-anak itu satu per satu. "Tapi yang harus kalian tahu, kemuliaan seseorang bukan dilihat dari siapa pasangannya atau dari mana ia berasal. Selama kita terus berusaha memperbaiki diri, belajar dengan sungguh-sungguh, dan takut kepada Allah, siapapun di antara kalian bisa menjadi wanita yang paling terhormat di mata hukum-Nya."

Para santriwati itu mengangguk-angguk khidmat, menyerap setiap kata yang keluar dari mulutku bagaikan dahaga yang terobati. Salah seorang dari mereka, yang bertubuh mungil dan terlihat paling muda, memberanikan diri menyentuh pinggiran gamisku.

"Mbak Aisyah... boleh kami minta didoakan? Pekan depan kami ada ujian hafalan juz amma," bisiknya malu-malu.

Aku berlutut sedikit menyamakan tinggi badanku dengannya, mengusap bahu kecil itu dengan penuh kelembutan. "Tentu saja. Semoga Allah mudahkan hafalannya, dikuatkan ingatannya, dan dijadikan anak-anak yang sholehah serta menjadi kebanggaan orang tua kalian kelak, ya."

"Aamiin..." sahut mereka serentak dengan senyuman yang merekah indah.

Tanpa kusadari, Ammar telah selesai berdiskusi dan berdiri beberapa meter di belakang kami bersama Syekh Ali. Kedua pria itu menyaksikan interaksiku bersama para santriwati, termasuk saat aku menolak panggilan Ustadzah tadi. Ketika aku bangkit dan melambaikan tangan melepas kepulangan anak-anak itu kembali ke kelas, pandanganku beradu dengan mata Ammar dan senyuman teduh Syekh Ali.

Sorot mata cokelat mewah milik suamiku dipenuhi pendar ketakjuban dan kasih sayang yang teramat dalam. Ia melangkah mendekat, berdiri di sampingku seraya menatap ke arah santriwati yang mulai menjauh.

"Kamu punya bakat alami untuk berada di sini, Aisyah," bisik Ammar halus, suaranya mengalun seperti irama musik yang menenangkan.

"Bakat apa, Mas?" tanyaku bingung.

"Menyentuh hati orang lain dengan kerendahan hatimu," jawab Ammar lugas. Ia menatapku lurus. "Penolakanmu saat dipanggil Ustadzah tadi menunjukkan betapa jernihnya hatimu. Abah Syekh Ali tadi bahkan tersenyum bangga melihat cara kamu merangkul mereka. Kehadiranmu hari ini bukan hanya sekadar mendampingi saya, tapi memberi energi baru bagi tempat ini."

Aku menundukkan pandanganku, meremas jemariku yang mendadak dingin oleh rasa haru. "Aku cuma berusaha menyampaikan apa yang kurasakan, Mas. Aku merasa belum pantas menyandang gelar semulia itu. Aku hanya ingin berguna untuk tempat yang sangat Mas Ammar dan Abah cintai ini."

Ammar mengulurkan tangannya, menyelipkan jemarinya di antara jemariku secara tersembunyi di balik lipatan jubah luasnya. "Dan sikapmu itu justru membuatmu jauh lebih terhormat di mata saya, di mata Abah, dan di mata mereka."

Siang harinya, kami menikmati santap siang di kediaman pimpinan pesantren—sebuah rumah panggung kayu tua namun sangat terawat yang ditempati oleh Syekh Ali. Umi Khadijah dan Nabila rupanya juga menyusul tiba di sana menjelang makan siang.

Suasana makan siang terasa begitu hangat dan kekeluargaan. Syekh Ali duduk di kepala meja, memimpin doa bersama. Umi Khadijah tak henti-hentinya menyendukkan lauk-pauk terbaik ke piringku, memastikan aku menyantap gizi yang cukup untuk janin yang kukandung.

"Mulai bulan depan, Umi mau kamu mengurangi aktivitas luar rumah dulu ya, Aisyah," ujar Umi Khadijah di sela-sela menikmati buah pencuci mulut. "Biar Nabila dan pengurus majelis wanita yang mengurusi acara-acara di luar. Kamu fokus menjaga kesehatan di rumah."

"Iya, Aisyah," timpal Nabila cepat dari sampingku. "Biar aku saja yang handle bagian koordinasi jemaah putri. Kamu cukup duduk manis dan kasih aku arahan saja!"

Syekh Ali mengangguk pelan menandakan persetujuan. "Umi benar, Aisyah. Kesehatanmu dan calon cucu Abah adalah yang utama sekarang."

Aku tertawa halus mendengar antusiasme dan perhatian mereka. "Terima kasih banyak, Abah, Umi, Nabila. Aisyah nurut apa kata Abah, Umi, dan Mas Ammar."

Usai santap siang dan salat Dzuhur berjamaah di mushola dalam, Ammar memintaku untuk beristirahat sejenak di kamar masa kecilnya di lantai dua rumah panggung tersebut.

Kamar itu terasa sangat bersahaja. Dinding kayunya beraroma khas jati tua, dipenuhi rak-rak buku tebal berisi kitab-kitab gundul dan literatur keislaman klasik. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kayu sederhana tempat Ammar kecil hingga remaja menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu di bawah bimbingan langsung Syekh Ali.

Aku melangkah mendekati meja tersebut, mengusap permukaannya yang halus. Di atas meja, terdapat sebuah bingkai foto tua berlatar hitam putih—menampilkan sosok Ammar kecil berusia sekitar delapan tahun berdiri tegap di samping Syekh Ali yang masih muda, tampak gagah dan berwibawa.

Suara pintu kayu berdecit pelan. Ammar melangkah masuk, menyandarkan tubuhnya di daun pintu seraya menatapku yang sedang mengamati foto masa kecilnya.

"Foto itu diambil waktu saya baru selesai mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an pertama kali di hadapan Abah," tutur Ammar seraya berjalan mendekat. Ia berdiri di belakangku, melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan menyandarkan dagunya di bahuku yang tertutup jilbab.

Aku menyentuh lengan tegapnya yang memelukku. "Mas Ammar kelihatan sangat mirip dengan Abah Syekh Ali waktu muda."

"Banyak orang yang bilang begitu," jawab Ammar pelan, suara baritonnya bergetar halus di dekat telingaku. "Abah selalu berpesan pada saya, seorang laki-laki tidak diukur dari seberapa banyak orang yang memujinya saat ia berada di atas, tapi dari seberapa kuat ia memegang kebenaran dan melindungi orang-orang yang diamanahkan Allah kepadanya saat ujian datang."

Ammar memutar tubuhku perlahan hingga kami saling berhadapan. Di dalam kamar masa kecilnya yang sarat akan sejarah perjuangan hidupnya, Ammar menatapku dengan seluruh kejujuran jiwa.

"Dulu, saya pikir jalan hidup saya akan sepenuhnya lurus dan datar—hanya berisi tentang mengajar, berdakwah, dan meneruskan perjuangan Abah mengurus pesantren," aku Ammar jujur. "Tapi kehadiranmu... dengan segala keindahan, ketulusan, dan bahkan ujian yang kau bawa... menyempurnakan arti perjuangan saya sebagai seorang pria."

Aku menatap mata cokelat mewahnya yang berkaca-kaca, merasakan hangatnya jemari Ammar yang menangkup kedua pipiku dengan teramat lembut.

"Aku yang berterima kasih, Mas..." bisikku parau, menahan gejolak air mata bahagia. "Mas Ammar dan Abah tidak pernah melepas tanganku saat seluruh dunia mencoba memojokkanku. Mas Ammar mengangkat derajatku di saat aku sendiri merasa tidak berharga."

Ammar membungkuk pelan, mendaratkan kecupan yang teramat lama, dalam, dan penuh takzim di keningku. Sebuah ciuman yang tidak lagi dipenuhi oleh gelora gairah semata, melainkan oleh rasa hormat, perlindungan, dan ikatan janji suci yang telah teruji oleh kerasnya terpaan angin kehidupan.

"Kita akan membesarkan anak kita di sini, Aisyah," janji Ammar seraya menatap perutku yang bergetar halus. "Di tempat ini, di bawah bimbingan Abah Syekh Ali dan di antara doa-doa orang sholeh, kita akan membangun cerita baru yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh prasangka manusia."

Di luar jendela, angin sore berembus lembut menggoyahkan dedaunan pohon beringin di halaman pesantren. Cahaya matahari yang perlahan menggelincir ke barat menembus kaca jendela, membungkus kami berdua dalam kehangatan yang tak tergoyahkan. Hari ini, kami tidak hanya berhasil melewati badai, melainkan telah menanamkan akar yang jauh lebih dalam untuk masa depan keluarga dan dedikasi kami di jalan kebaikan.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!