Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman dan Kecelakaan
Kini yang terlihat adalah Rangga dan Nisa yang sedang duduk di bangku taman kecil yang tidak jauh dari arah rumah mereka. Keduanya hanya duduk melihat banyak muda- mudi yang berlalu lalang di depan mereka. Malam ini adalah malam minggu jadi wajar jika banyak pasangan muda- mudi yang keluar malam. Nisa tidak henti- hentinya menghembuskan nafasnya karena kedinginan dikarenakan udara malam yang terasa cukup dingin apalagi dia yang sedang hamil besar. Mantelnya sudah kekecilan apalagi ditambah dengan perut buncitnya yang tampak begitu besar. Rangga yang menyadari itu melepas mantelnya dan membaluti tubuh mungil Nisa dengan mantelnya itu.
"Kenapa Mas Rangga melepas mantelnya, nanti Mas kedinginan." Nisa cukup terkejut dengan tindakan Rangga.
"Sudah, jangan banyak bicara. Aku tahu kamu kedinginan. Jadi, jangan protes. Setelah kamu puas kita harus segera kembali. Jangan lama-lama diluar. Tidak baik untuk janin kita." kata Rangga berwibawa. Perlahan air mata kembali turun memenuhi pipinya Nisa. Sungguh, dia begitu bahagia sekarang. Rangga memperhatikannya dengan perhatian kecil seperti ini, sudah membuatnya seperti terbang ke langit ketujuh.
Dengan perlahan pula Nisa mulai merebahkan kepalanya di bahu Rangga yang tidak berkutik. Pria itu masih ragu dengan perasaannya sekarang.
"Mas Rangga tau tidak? Aku selalu berharap hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Hanya hal sederhana seperti ini..." Nisa terdiam sesaat dengan air mata yang masih saja turun perlahan di pipinya
"Dulu, Almarhum ayahku mengatakan aku menyedihkan karena menikah denganmu. Adikku mengatakan aku murahan karena aku hamil denganmu, dan kakakku mengatakan aku bodoh karena mencintai pria yang mencintai wanita lain. Tapi bagiku cinta yang ku miliki adalah anugerah, hanya saja caraku yang salah. Walau aku kini di caci oleh dunia, aku tetap akan bertahan selagi kau masih disampingku" ungkap Nisa dengan air mata kebahagiaan. Rangga hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata- kata mendengar pengakuan itu.
Dari awal pernikahan mereka, Rangga sudah tahu kalau Nisa begitu mencintainya terbukti dengan bagaimana wanita itu sampai gelap mata menjebaknya hanya agar bisa memilikinya. Hanya saja Rangga tidak bisa membalasnya begitu saja, karena Rangga tidak punya perasaan sejenis cinta seperti itu pada Nisa. Tapi sekarang, setelah pengakuan bagaimana Nisa yang harus menghadapi semua itu hanya demi bisa bersamanya kenapa terasa begitu menyakitkan?.
Setelah puas beristirahat di bangku sebelumnya. Keduanya kini mulai berjalan menapaki trotoar di pinggir jalan raya. Nisa tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur di hati sembari terus memandang wajah tampan suaminya yang terus saja memegang mantelnya untuk menutupi tubuh Nisa seutuhnya agar tidak masuk angin.
"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Rangga sambil menghentikan langkahnya yang tadi berjalan pelan beriringan dengan sang istri.
"Karena mas Rangga tampan" jawab Nisa sambil tersenyum tulus
"Ku rasa itu bukan alasannya, jawab dengan jujur!" pinta Rangga agak menuntut
"Karena aku mencintai Mas Rangga, dan aku bersyukur kini mas Rangga masih di sampingku" jawab Nisa lembut dan jujur dengan tangan yang menyentuh lembut wajah Rangga yang menatapnya.
Rangga terpaku saat pandangannya menatap wajah istrinya, wajah itu tersenyum namun air mata tetap memenuhi pipinya. Entah apa dan kenapa, dengan tiba- tiba Rangga menarik tengkuk Nisa dan mengecup lembut bibirnya, bibir yang sudah kedinginan terkena udara malam kini menghangat. Nisa semakin banyak mengucapkan syukur saat suaminya dengan sadar menciumnya. Padahal sebelumnya Rangga tidak pernah ingin bersentuhan dengannya.
Namun, tiba- tiba...
"TIDAK RANGGA..." terdengar teriakan dari seorang wanita. Rangga yang mendengar suara itu dengan cepat melepaskan kecupannya dan memandang kearah pemilik suara.
"Tiwi..." gumamnya terpaku saat melihat Tiwi memandangnya dengan air mata memenuhi wajah wanita itu. Tiwi menggeleng dan berlari menjauhi keduanya. Rangga yang belum siap dengan situasi juga ikut berlari mengejar wanita itu sembari memanggil namanya.
Nisa terdiam, matanya yang tadi terpejam kini terbuka melihat sang suami yang tidak lagi di depannya. Dia tidak tuli saat mendengar dengan jelas suaminya menggumam nama kekasihnya, Tiwi. Perlahan tangannya terangkat menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat. Ini nyata. Dia tidak bermimpi bahwa Rangga menciumnya tadi.
Menyadari suaminya sudah tidak lagi di depannya. Kini, Nisa juga berlari mengejar sang suami yang mengejar wanita lain. Nisa bahkan melupakan perutnya yang tengah hamil besar.
"Mas Rangga." panggilnya dengan mata yang kini buram tertutupi oleh air mata yang turun dengan derasnya. Sedangkan Rangga yang mengejar Tiwi tidak henti- hentinya memanggil nama wanita itu.
"Tiwi, berhenti! Tolong jangan lari lagi. Tiwi aku mohon berhenti!" pinta Rangga berteriak. Dia tidak peduli dengan pandangan beberapa orang lewat yang melihat kearah mereka aneh. Akhirnya Tiwi menghentikan langkahnya tepat di tepi jalan. Wanita itu bersegera membalikkan badannya memandang kearah Rangga dan berucap,
"Diam disana! Jangan dekati aku!" Rangga langsung menghentikan langkahnya begitu tuturan itu terdengar
"Tiwi, aku bisa jelaskan, jadi tenanglah." pinta Rangga
"Tidak! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria yang mencintai wanita lain," ucap Tiwi
"TIDAK" teriak Rangga lantang bahkan tanpa berpikir panjang akan jawabannya yang tidak mencintai Nisa. Tidak jauh darinya, Nisa juga terhenti mendengar jawaban lantang itu. Air matanya bahkan sudah membasahi jilbab yang dikenakannya. Perutnya kesakitan dengan darah yang kini mengalir menuruni kaki mungilnya. Tapi rasa sakit itu tak ada apa- apanya dengan rasa sakit di hatinya yang kini bahkan sudah tak berbentuk. Rangga sungguh tidak pernah memandangnya. Pria itu bahkan dengan lantang menjawab tidak mencintainya tanpa berpikir dahulu.
Tiwi terkejut mendengar jawaban lantang itu, tapi dia tetap menggeleng dan berjalan mundur di tengah jalan raya saat tiba- tiba sebuah truk menyorotinya dengan lampu. Rangga yang panik langsung berlari menyelamatkan sang kekasih hati. Namun, siapa sangka, Nisa dengan kekuatan terakhirnya tetap berlari ingin menyelamatkan sang suami walau kesakitan luar biasa menyerang perutnya yang mengandung.
Waktu berlalu dalam sekejap, saat tubuh keduanya terhempas oleh sebuah truk yang melaju kencang sebelum Nisa sempat mendorong tubuh suaminya. Tubuh Tiwi jatuh telungkup diatas rerumputan di tepi jalan setelah Rangga berhasil mendorongnya. Namun, tubuh kedua insan yang berstatus suami istri itu kini terbaring di aspal yang dipenuhi dengan darah dalam keadaan berpelukan.
Rangga yang diambang batas kesadaran memandang wajah Nisa yang tampak menahan kesakitan yang dahsyat namun tanpa suara.
"An..nisa is..tri..ku" kata terakhir Rangga sebelum kegelapan menghilangkan kesadarannya. Nisa hanya mampu berteriak dalam hati saat kesakitan maha dahsyat menyerang dirinya. Wajah suaminya ada di depannya, wajah tampan yang kini berlumuran darah.
Jangan tanyakan bagaimana wajahnya sendiri sekarang. Wajahnya kini bahkan bermandikan air mata dan darah. Samar- samar telinganya mendengar suara merdu lantunan ayat suci Al- qur'an yang menentramkan jiwa..
"Maafkan hambamu yang kotor ini ya Allah" pinta batinnya sebelum kegelapan menghilangkan kesadarannya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean