Indonesia
NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 : Pertengkaran

Rahang Guru Wu masih menggantung hingga nyaris menyentuh kerah bajunya. Tongkat bambunya dibiarkan mengapung terbawa arus sungai. Di seberang sana, tempat sepuluh batu purba raksasa dulunya berdiri dengan angkuh, kini hanya tersisa kawah dangkal yang masih mengepulkan asap tipis.

"Shen... Shen Rui..." Guru Wu menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar hebat. "Jurus... aliran sesat mana yang baru saja kau gunakan?! Cahaya merah keperakan itu... itu bukan elemen es!"

Yui, yang kini menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata yang melotot ngeri, justru mengerjapkan matanya yang kelewat polos. Ia melihat ke arah tangannya sendiri, lalu menoleh ke arah kawah di seberang sungai, sebelum akhirnya kembali menatap Guru Wu dengan wajah kebingungan tingkat dewa.

"Cahaya merah apa? Aliran sesat apa?" Yui menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Guru Wu, Anda jangan menuduh sembarangan. Aku ini pewaris elemen es yang murni dan suci! Aku hanya bernapas panjang, lalu meninju ke depan karena lumut di batu ini sangat licin dan membuatku kesal. Ledakan tadi pasti kebetulan. Mungkin ada petir siang bolong yang menyambar batu-batu itu!"

"Petir siang bolong matamu!" jerit Wang Jian dari pinggir sungai, bangkit dari lumpur dengan wajah cemong. "Kami semua melihatnya keluar dari tanganmu, dasar monster!"

"Oh, ya? Masak sih?" Yui menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak yakin dengan apa yang ia lakukan sendiri. Ia merentangkan kuda-kudanya lagi. "Tunggu, biar kucoba sekali lagi. Kalau benar aku sekuat itu, aku ingin menghancurkan tebing di atas sana sekalian."

Seluruh murid langsung menjerit panik dan berlindung di balik batu. Guru Wu bahkan bersiap mengeluarkan perisai Qi terkuatnya.

Yui menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, memutar pinggang, dan... WUSSS!

Ia meninju udara sekuat tenaga. Namun kali ini, tidak ada cahaya merah berhias perak rembulan. Tidak ada ledakan sonik pembelah sungai. Yang keluar dari kepalan tangannya hanyalah sebuah balok es seukuran melon yang meluncur lemah, berbunyi plung saat jatuh ke dalam air, lalu mengapung bersama bebek-bebek es buatannya tadi.

Keheningan kembali melanda.

Yui menatap tangannya dengan kecewa. "Yah... es lagi. Kan sudah kubilang, Guru. Tadi itu pasti hanya kebetulan. Mungkin batu raksasa itu memang sudah rapuh dimakan usia."

Guru Wu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut makin keras. Pikirannya buntu. Fluktuasi energi merah tadi jelas-jelas nyata, tapi melihat kebodohan natural di wajah Shen Rui sekarang, sang Guru akhirnya menyimpulkan bahwa anak ini mungkin tak sengaja memicu salah satu meridian rahasianya sesaat karena tekanan.

"Sudah! Latihan selesai! Semuanya kembali ke asrama dan bersihkan diri kalian!" raung Guru Wu frustrasi.

---

Malam harinya, angin musim gugur bertiup membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Langit malam ini berbeda dari biasanya. Tidak ada bulan purnama yang menggantung. Sebagai gantinya, kanvas malam yang pekat dihiasi oleh taburan jutaan bintang yang bersinar terang benderang.

Di teras kayu Asrama Utara, Shen Yuan dan Shen Rui duduk bersila berdampingan. Yuan menyeduh teh hijau untuk menenangkan aliran Qi di tubuhnya yang masih terguncang akibat insiden tadi pagi. Sementara Yui, seperti biasa, berbaring telentang menatap langit sambil mengunyah kacang panggang.

"Kak Yuan," panggil Yui tiba-tiba, menunjuk ke atas. "Kenapa malam ini bulannya bolos? Apa dia takut kedinginan? Lalu bintang-bintang itu... apa mereka sebenarnya adalah remah-remah bakpao bercahaya yang sengaja disebar oleh Dewa Dapur untuk burung-burung di surga?"

Yuan menghentikan seruputan tehnya. Ia menatap adiknya dengan tatapan iba yang bercampur rasa ingin menggetok kepala anak itu.

"Rui, otakmu itu sungguh bodoh," desah Yuan pelan, meletakkan cangkirnya. Namun, sebagai seorang kakak dan calon pemimpin masa depan, Yuan selalu berusaha mendidik adiknya. "Bintang bukanlah bakpao. Dalam Kronik Bintang peninggalan leluhur, bintang adalah manifestasi dari energi murni semesta yang terbakar abadi. Formasi mereka saling terhubung, menahan keseimbangan dunia fana dan alam spiritual. Dan bulan tidak bolos, malam ini adalah fase bulan mati. Bulan sedang bersembunyi di balik bayangan bumi untuk memulihkan energi Yin-nya."

"Membosankan," cibir Yui, melempar sebutir kacang ke udara dan menangkapnya dengan mulut. "Penjelasanmu terlalu kaku, Yuan. Kalau aku jadi Dewa, aku akan membuat bintang dari permen gula. Jadi kalau ada yang jatuh ke bumi, kita tinggal memakannya."

"Bintang jatuh itu meteorit berapi, bodoh. Kau memakannya, perutmu bolong."

Sebelum Yuan sempat menceramahi adiknya lebih panjang soal astronomi dasar, suara tawa meremehkan yang sangat sumbang terdengar dari ujung koridor asrama.

"Cih, dengarkan itu. Dua anak kampung sedang berkhayal tentang alam semesta. Sungguh pemandangan yang menyedihkan."

Wang Jian melangkah keluar dari bayang-bayang, diikuti oleh dua ekor anjing setianya, Li Mo dan Zhao Qi. Ketiga pemuda bangsawan itu melipat tangan di dada, memandang remeh ke arah Yuan dan Yui. Rasa malu karena terhempas lumpur tadi pagi membuat dendam Wang Jian memuncak hingga ke ubun-ubun.

Yui tidak bangun dari posisinya, ia hanya memiringkan kepalanya. "Oh, kurasa aku mencium bau sampah. Yuan, apa tukang sampah asrama lupa mengangkut tiga kantong kotoran ini pagi tadi?"

Wajah Wang Jian langsung merah padam. Urat di lehernya menonjol. "Tutup mulutmu, Shen Rui! Kau pikir kau hebat dengan trik murahanmu tadi pagi, hah?! Kami sudah menyelidikinya. Cahaya merah tadi pasti bukan kekuatanmu! Kau pasti menyembunyikan Artefak Iblis tingkat rendah di balik sabukmu untuk menciptakan ledakan itu!"

"Benar!" seru Li Mo memanasi. "Orang dari pedesaan kumuh seperti kalian mana mungkin punya garis keturunan untuk teknik setinggi itu. Kalian berdua hanyalah penipu yang mencoba mencari perhatian Tetua!"

Yuan berdiri perlahan. Aura angin di sekitarnya mulai berdesir tajam. "Jaga ucapan kalian. Ketidakmampuan kalian memahami kekuatan bukanlah alasan untuk melempar fitnah rendahan."

"Siapa yang memfitnah?!" Zhao Qi ikut maju, menunjuk tepat ke hidung Yuan. "Kalian berdua adalah aib! Apalagi adikmu ini, hanya parasit malas yang bisanya menggoda perempuan dan bermain trik curang. Aku yakin orang tua kalian di desa sana pasti sama-sama penipu miskin—"

Ucapan Zhao Qi terhenti. Bukan karena ia ingin berhenti, tapi karena sebuah tombak es seukuran paha orang dewasa tiba-tiba menancap di lantai kayu, hanya satu inci di antara kedua kakinya.

Suhu di teras itu anjlok seketika. Yui, yang tadinya berbaring santai, kini sudah berdiri tegak. Mata birunya menyala terang, memancarkan hawa membunuh yang begitu pekat hingga membuat napas ketiga antagonis itu tercekat. Tidak ada cahaya merah rembulan, hanya ada es murni yang mematikan. Hinaan tentang orang tua mereka sang Raja dan Ratu adalah garis batas yang tidak boleh dilewati siapa pun.

"Tarik kembali ucapanmu tentang orang tuaku," desis Yui. Suaranya tidak keras, tapi terdengar seperti bisikan iblis dari neraka beku. "Atau es berikutnya tidak akan meleset dari tubuhmu."

Wang Jian yang merasa terhina karena sempat mundur selangkah, langsung mengamuk. "BERANINYA KAU MENGANCAMKU, SAMPAH!"

Dengan raungan marah, Wang Jian memusatkan seluruh elemen apinya. Kedua tangannya diselimuti kobaran api merah yang sangat panas. Ia melompat maju, melepaskan Tinju Naga Api langsung ke arah wajah Yui.

"RUI, MUNDUR!" teriak Yuan panik, segera membentuk dinding pusaran angin untuk menghalau api.

Namun Yui tidak mundur. Ia justru menyambut serangan itu. Dengan satu sapuan tangannya, Yui melepaskan gelombang es yang bertabrakan hebat dengan api Wang Jian.

BOOM!

Ledakan uap panas dan serpihan es menghancurkan pagar teras. Wang Jian terpental ke belakang, tapi Li Mo dan Zhao Qi yang melihat kesempatan langsung ikut campur. Mereka menembakkan pilar batu dan tebasan angin untuk mengeroyok Yui.

"Hajar dia, Kak Wang! Patahkan kaki si sombong ini!" provokasi Li Mo sambil terus menembakkan batu.

"Beraninya kalian mengeroyok?!" Yuan kehabisan kesabaran. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Badai angin hijau meledak dari tubuh Yuan, mementalkan batu-batu Li Mo dan membuat asrama bergetar hebat.

Kekacauan pecah dalam sekejap. Api menyambar tiang kayu, es membekukan lantai, dan badai angin menghancurkan lentera-lentera. Teriakan, makian, dan bunyi ledakan energi membuat seluruh penghuni Asrama Utara terbangun.

Beberapa murid junior yang berlari keluar dari kamar mereka membelalakkan mata melihat teras asrama yang sudah berubah menjadi medan perang hidup dan mati.

"CEPAT! SESEORANG PANGGIL TETUA PERTAMA DAN GURU WU! MEREKA SALING MEMBUNUH!" jerit seorang murid yang langsung berlari terbirit-birit menembus kegelapan malam, menyisakan Yui yang kini membekukan kedua tangan Wang Jian ke tiang bangunan, bersiap mendaratkan pukulan telak ke wajah sang tuan muda arogan yang terus menyumpah serapah.

***

Likeeeeeww

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!