Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Misi Mengubah Takdir

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bram cemas.

Dokter tersenyum tipis. "Secara fisik, tidak ada masalah yang serius. Kondisinya stabil. Hanya sedikit kelelahan karena hampir tenggelam. Saya telah memberikan beberapa obat dan menyarankan Nona banyak beristirahat."

Bram mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

"Tapi..." Raut wajah dokter berubah sedikit serius.

Bram yang baru saja lega kembali menegang. "Kenapa, Dok?"

"Justru ada hal lain yang membuat saya heran," lanjut dokter.

Bram dan Herman saling berpandangan.

"Seumur saya menjadi dokter keluarga Bapak, baru kali ini Nona Levia mau diperiksa tanpa mengeluh."

"Hah?" Bram melongo.

"Biasanya baru melihat tas dokter saja beliau sudah cemberut."

Herman spontan mengangguk. "Itu memang benar, Dok."

Dokter tersenyum kecil. "Tadi Nona bahkan bertanya apakah dirinya mengidap penyakit akibat obesitas."

Bram tampak terkejut. "Via bertanya begitu?"

"Iya. Nona juga meminta saya menjelaskan pola makan yang sehat dan cara menurunkan berat badan."

Bram sampai mengerjapkan mata beberapa kali. "Itu... benar anak saya?"

"Belum selesai." Dokter terkekeh pelan. "Yang paling membuat saya terkejut, Nona juga bertanya tentang kesehatan Bapak."

Bram membeku. "Saya?"

"Iya. Nona bilang tidak ingin Bapak sakit dan ingin membantu menjaga kesehatan Bapak."

Bram tidak langsung menjawab. Dadanya mendadak terasa sesak. Bukan karena sakit. Melainkan karena haru. Sudah bertahun-tahun ia menunggu putrinya memerhatikan dirinya, bukan hanya Vandra.

Ia menoleh pada Herman dengan mata berkaca-kaca. "Her, akhirnya putriku peduli padaku."

Herman mengangguk dengan seutas senyuman. "Selamat, Pak."

Dokter menepuk pelan bahu Bram. "Pak Gultom. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah kejadian di sungai tadi. Tapi kalau memang pengalaman itu membuat Nona Levia berubah menjadi lebih dewasa..." Dokter tersenyum hangat. "...bukankah itu kabar yang patut disyukuri?"

Bram menunduk. Sudut matanya mulai memanas. "Iya...."

Suaranya lirih. "Saya hanya takut perubahan ini tidak bertahan lama."

Dokter mengangguk pelan. "Jangan terburu-buru menyimpulkan apa pun. Untuk sementara, jangan tekan Nona dengan pertanyaan tentang kejadian tadi. Biarkan Nona beristirahat. Kalau memang ini awal perubahan yang baik, tugas kita adalah mendukungnya."

Bram menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Dok."

Saat Herman mengantar dokter, Bram menoleh ke arah pintu kamar putrinya yang masih tertutup.

Di dalam hatinya ia berdoa, "Kalau memang ini kesempatan kedua untuk Via... semoga kali ini dia benar-benar menemukan kebahagiaannya."

Bram akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar putrinya.

Tok. Tok.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

"Yah, ada apa?" tanya Vivian yang kini hidup sebagai Levia.

Bram tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah ponsel. "Ini. Tadi ponselmu dititipkan Bu Ratih ke Pak Herman."

Levia menerimanya. "Terima kasih, Yah."

Bram mengangguk. "Kalau ada apa-apa, bilang sama Ayah."

"Iya, Yah."

"Kalau begitu Ayah ke ruang kerja dulu."

"Iya."

Namun Bram tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapannya penuh keraguan. Ia masih belum terbiasa melihat putrinya yang mendadak berubah begitu drastis.

"Masih ada yang ingin Ayah bilang?" tanya Levia.

Bram tersenyum kecil. "Enggak. Kamu istirahat saja."

Meski masih berat hati, akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Levia memerhatikan punggung pria itu hingga menghilang di balik belokan lorong.

"Aneh juga...."

Ia mengangkat kedua bahunya pelan, lalu menutup pintu kamar.

Begitu ponsel diarahkan ke wajahnya, layar langsung menyala. Kunci layar terbuka otomatis melalui pengenalan wajah.

Namun, yang pertama kali menyambutnya bukan deretan aplikasi, melainkan wajah Kapten Arvandra Jayasena yang memenuhi layar.

Vivian sampai berkedip beberapa kali.

"Serius?" Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya. "Orang itu lagi."

Tatapan Vandra yang dingin seolah sedang menatap balik ke arahnya.

Vivian menggeleng pelan. "Segitunya, ya...."

Baru setelah itu pandangannya beralih ke deretan aplikasi di layar. Matanya langsung berhenti pada ikon mobile banking.

"Mari kita lihat... seberapa kaya sebenarnya Levia."

Ia menekan ikon aplikasi tersebut. Layar meminta kata sandi.

"Hm...." Levia berpikir sejenak. "Kalau melihat tingkat obsesinya... Jangan-jangan..."

Ia memasukkan tanggal lahir Vandra.

Klik.

Aplikasi langsung terbuka.

Levia membelalak. "Astaga...."

Jumlah saldo yang terpampang membuatnya terdiam beberapa saat.

Rp18.742.000.000.

"Hampir sembilan belas miliar?" Ia menelan ludah. "Levia... ternyata kamu bukan cuma bucin. Tapi juga tajir."

Ia buru-buru melihat mutasi rekening. Tak ada transaksi mencurigakan.

Sebagian besar hanya transfer dari perusahaan milik Bram Gultom, keuntungan investasi, dan bunga deposito.

"Syukurlah."

Setelah merasa sedikit tenang, Levia membuka galeri. Detik berikutnya, sudut bibirnya langsung berkedut.

Foto Vandra. Foto Vandra lagi. Masih foto Vandra. Sebagian besar diambil diam-diam dari kejauhan.

Ada saat Vandra sedang latihan. Sedang membaca buku. Sedang minum. Bahkan sedang mengikat tali sepatu pun ada.

"Ya ampun...."

Ia menemukan sebuah album khusus. Isinya ratusan foto candid Vandra.

Levia bergidik. "Astaga... segininya?"

Ia memejamkan mata sambil memijat pelipis. "Levia... kamu sudah di level mengkhawatirkan. Stadium akhir. Pantesan sampai bunuh diri cuma karena mau diceraiin."

Tanpa berpikir panjang, ia mengganti wallpaper bergambar Vandra dengan foto langit biru yang tersimpan di galeri. Ponsel kemudian diletakkannya di atas meja.

Levia menatap bayangannya sendiri di cermin. Tatapannya kini jauh lebih mantap.

"Mulai hari ini... Levia yang baru gak bakal ngejer Kapten Arvandra Jayasena." Ia mengepalkan kedua tangan. "Misi pertamaku... menyelamatkan hidup Levia."

Lalu ia tersenyum tipis. "Dan misi berikutnya... Menjadi desainer terbaik di dunia ini."

Tok. Tok. Tok.

"Non, saya masuk, ya."

Pintu kamar perlahan terbuka.

Vivian menoleh.

Seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun melangkah masuk sambil membawa nampan. Di atasnya tersusun sepotong black forest, beberapa donat dengan berbagai macam toping, dan segelas cokelat hangat dengan krim tebal. Gadis itu tersenyum ramah.

"Nona jangan sedih terus.Katanya makanan manis bisa bikin mood lebih baik. Ini makanan kesukaan Nona."

Vivian spontan menelan ludah. "Astaga... Kalori semua."

Begitu melihat wajah gadis itu, sepotong ingatan kembali menyerbu kepalanya.

Ninis.

Anak pembantu yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Gultom.

Sejak kecil, Levia selalu menganggap Ninis sebagai saudara sendiri. Apa pun yang dimilikinya, hampir selalu ia bagi dengan gadis itu.

Namun...

Satu kenangan lain tiba-tiba muncul.

>"Kalau Kak Vandra tetap nolak, ya bikin saja dia bertanggung jawab. Yang penting nanti kalian menikah dulu. Perasaan bisa datang belakangan."

Vivian membeku. "Bukankah.. Ide menjebak Vandra itu berasal dari Ninis?"

Ia perlahan mengangkat kepala. Tatapannya berhenti pada senyum manis gadis itu.

"Aku gak tahu kenapa... senyum gadis ini gak terlihat setulus yang aku bayangin."

 

...✨"Perubahan sejati dimulai ketika kita berhenti mengejar seseorang dan mulai memperbaiki diri sendiri."...

..."Jangan terlalu sibuk mengejar orang yang tak peduli, hingga lupa menghargai mereka yang selalu peduli."✨...

.

To be continued

1
Anitha
nah rasain sekarang masalahnya jadi tambah besar gara² bukti pertama tidak cukup jadi terpaksa Vandra memberikan bukti lain yang menyangkut nama Pramono srorang Jendral yang menekan bawahannya,good Vandra semoga dengan bukti terakhir itu kalian bisa lolos dan menang dalam sidangnya...

si Jendral dan anaknya di Penjara karena kelakuannya sendiri🤣
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
anonim: Sama-sama Author 🙏🙏🙏👍👍/Heart/
total 2 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!