Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

"Saya berani bersumpah demi nyawa saya sendiri, Ibu!" jerit Savea, menyatukan kedua tangannya di dada dengan sisa-sisa tenaga yang terpancar dari matanya yang liar. "Lakukan tes darah! Lakukan tes DNA pada Ocean Sterling Blackwood dan Benedictus Arthur Blackwood! Lihat saja sendiri apakah bayi haram itu memiliki pertalian darah dengan keluarga Ashford!"

Rentetan kalimat racun itu menggema keras di lantai dua Sayap Timur, memantul di antara pilar-pilar marmer yang dingin dan sunyi. Kalimat demi kalimat meluncur tajam, menusuk pendengaran siapa pun yang bersembunyi di balik bayang-bayang lorong.

Di balik tirai tebal pembatas lorong pelayan—tak jauh dari lokasi pertengkaran—sesosok wanita berdiri mematung.

Snow.

Kata-kata itu masih terngiang begitu jelas di telinga Snow.

Bayangannya bergetar tajam, menghantam setiap sudut pikirannya. Namun, bukannya rasa takut atau panik yang mendominasi, sudut bibir Snow perlahan terangkat. Sebuah senyuman sinis yang amat dingin terukir di paras cantiknya. Matanya menyipit, memancarkan aura kepuasan yang tak terhingga.

Dia telah menyaksikan semuanya dari balik kegelapan.

Setiap makian, setiap tamparan, hingga jeritan penuh keputusasaan dari Savea yang mengklaim bahwa Ocean bukanlah anak kandung Arthur—semuanya tercatat sempurna dalam benak Snow.

"Bagaimana reaksimu jika tahu Ocean positif putra Arthur?" bisik Snow amat lirih pada angin malam yang berembus lewat celah jendela. Suaranya sehalus sutra, namun sarat akan intonasi yang begitu menohok dan mematikan.

Napas Snow teratur, tenang, dan terhitung dingin. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap bayangan Savea yang tersungkur di lantai marmer dengan tatapan kejam.

"Aku tidak sabar... sangat tidak sabar menantikan kegilaanmu selanjutnya, Savea," gumam Snow. Matanya berbinar oleh kilatan dendam yang telah lama membeku. "Takdir rupanya begitu baik padaku. Semua berjalan begitu lancar... tanpa perlu aku mengotori tanganku sendiri."

Snow mendongak pelan, menatap langit-langit koridor istana yang megah.

"Ibu... lihat..." lirih Snow, suaranya bergetar oleh rasa emosional yang amat mendalam. "Bukankah menjadi gila... adalah harga yang sangat sebanding dengan apa yang sudah dia lakukannya? Penjara tiga bulan... benar-benar sebuah permainan kekuasaan yang kotor."

Jemari Snow mencengkeram lengan gaun sederhananya hingga kusut.

"Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri... aku sudah memberikan keadilan untukmu, Ibu," sambungnya, menatap lurus ke kegelapan dengan tatapan tajam bagaikan sembilu. "Jika mereka merasa bisa berkuasa dengan uang dan takhta... maka kita hanya perlu memainkan permainan baru. Melakukan hal gila... hal berbahaya... yang sama sekali tidak bisa diatasi oleh orang-orang seperti mereka."

Pandangan Snow kemudian bergulir, beralih pada sosok pria yang kini merosot berlutut di tengah lorong—Arthur.

"Arthur..." sebut Snow pelan. Sangat pelan, bagai desahan bisikan iblis yang menggoda.

Dada Snow berdesir naik-turun. Ada dorongan liar di dalam dadanya untuk melangkah keluar dari balik tirai, berdiri tegap di hadapan pria itu, lalu berteriak tepat di depan wajahnya: Ocean adalah putramu! Ocean adalah putra kandungmu, Arthur!

Namun, Snow segera menahan gejolak itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak..." bisik Snow pada dirinya sendiri, diiringi terkekeh pelan yang amat dingin. "Itu terlalu mudah. Permainan ini... tidak akan lagi seru jika aku mengatakan hal sebesar itu secara langsung sekarang. Biarkan kau mati perlahan dalam keraguanmu, Arthur."

Sementara itu, di tengah lorong marmer Sayap Timur, dunia Arthur serasa runtuh sepenuhnya.

Pria tegap berpangkat Pangeran dan Duke Blackwood itu merosot berlutut di lantai yang membeku. Seluruh sendi di tubuhnya serasa dilepas satu per satu. Napasnya memburu kasar, naik-turun dengan cepat, namun paru-parunya serasa tak mendapatkan pasokan udara sedikit pun.

Hancur. Hancur sembilu.

Dua kata yang terngiang di benak Arthur hanyalah satu nama kecil yang amat ia cintai: Ocean Sterling Blackwood.

"Ocean..." bisik Arthur penuh dengan kepedihan yang tak tertahankan. Suaranya parau, pecah di tenggorokan. "Putra yang selama ini kucintai... putra yang selalu kucium setiap kali aku lelah... bukan putraku?"

Keheningan malam seolah menertawakan kehancurannya. Pikiran Arthur berputar liar, dihantam guncangan hebat yang menghancurkan akal sehatnya.

"Bagaimana mungkin...?" tanyanya pada kehampaan udara malam. Matanya membelalak lebar, kosong, menatap lantai marmer tanpa fokus. "Kegilaan apa lagi yang sedang kau lakukan padaku, Savea?!"

Dengan rahang menegang rapat dan jemari yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, Arthur menoleh tajam ke arah Savea yang masih merintih berselimutkan bathrobe.

"Bayiku... anak kandungku meninggal?!" jerit Arthur mendadak, suaranya melengking penuh histeria dan amarah yang meremukkan dada. "Kau kejam, Savea! Kau benar-benar iblis! Beraninya kau melakukan kebohongan sebesar ini padaku selama Tiga Bulan Terakhir?!"

Savea yang tersungkur hanya menyunggingkan senyum miring berdarah, tidak memberi jawaban pasti, hanya membiarkan benih racun itu makin menggerogoti jiwa Arthur.

Dan di tengah kebingungan gila yang membakar otaknya, satu nama mendadak melintas tajam bagaikan sabetan pedang di benak Arthur.

Snow.

Raut wajah Arthur memucat seketika. Peluh dingin mengalir deras menembus pelipis hingga membasahi lehernya.

"Jadi... Ocean... dia putra kandungmu, Snow?" desis Arthur, kata per kata meluncur dengan irama yang menekan dadanya sendiri. "Putra kandungmu... bersama pria lain?"

Ingatan Arthur mendadak terlempar kembali pada satu bulan awal kehadiran Snow di Istana Blackwood sebagai ibu susu. Ia teringat jelas bagaimana Snow pernah berucap dengannya dengan nada dingin yang menyayat hati: Anakku sedang bersama Ayahnya... dan kami tidak lagi bersama.

Jantung Arthur berdegup kencang.

Deg.

Pola demi pola teka-teki tragis itu seolah menyatu rapat di kepala Arthur, membentuk kesimpulan paling mengerikan yang tak pernah ingin ia percayai.

"Sungguh... akting yang sangat sempurna..." lirih Arthur, menyunggingkan senyuman hancur yang amat pahit.

Pria itu memegangi dadanya yang terasa sangat sesak, mencengkeram kemeja hitamnya kuat-kuat seolah jantungnya baru saja dicabut paksa dari tempatnya. Rasa dibohongi, dikhianati, dan dimanipulasi menghantam dirinya dari dua arah sekaligus.

"Apa ini?" gumam Arthur dengan air mata keputusasaan yang akhirnya menetes membasahi pipinya. "Apa ini bentuk balas dendam... yang kau rencanakan untukku, Snow? Balas dendam karena aku tidak pernah mencarimu?!"

Dada Arthur naik-turun dalam ritme kepanikan yang tak teratur. Pandangannya menggelap sejenak seolah langit-langit istana hendak menimpanya.

"Ah, Tuhan..." rintih Arthur pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh dinginnya marmer. "Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau sekejam ini padaku, Snow?"

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!