"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Jebakan!
Kata-kata pria tadi membuat Zidan semakin terhimpit dalam dilema. Ia tidak ingin melepaskan Humaira, namun hatinya tak bisa memungkiri bahwa ia masih sangat mencintai Melodi.
Hubungan yang telah terjalin selama lebih 7 tahun bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja.
Dengan pikiran yang kacau, Zidan menyambar botol alkohol yang ditinggalkan pria asing tadi.
Tanpa ragu, ia menenggaknya hingga tuntas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang dokter yang selalu terkontrol itu terlihat sangat rapuh, tidak berdaya, dan gagal menentukan arah jalan hidupnya.
Saat Davin kembali ke meja, ia terkejut melihat kondisi Zidan yang sudah amat berantakan. Davin menyapu pandangan dengan cemas lalu memegang kepalanya.
"Aduh, bagaimana ini?" gumam Davin frustrasi.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Ah, lebih baik aku telepon istrinya saja."
Davin langsung merogoh ponsel dan mencari kontak Melodi. Davin pikir, Melodi adalah wanita yang dinikahi Zidan.
Karena sebelumnya Davin tahu Zidan berencana menikah dengan Melodi kekasihnya, namun di hari pernikahan itu Davin tak bisa hadir karena ada urusan mendesak.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa pernikahan itu batal dan Zidan justru berakhir menikah dengan Humaira.
Yakin bahwa Melodi adalah istri sah sahabatnya, Davin memanggil nomor tersebut agar wanita itu datang menjemput suaminya yang terkulai tak berdaya.
Tut... tut... tut...
Suara nada dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu terhubung.
"Halo, Davin? Ada apa?" tanya Melodi dari seberang telepon.
"Kau di mana, Mel?" tanya Davin cepat.
"Di apartemen. Ada apa, sih?"
"Ini, suamimu lagi mabuk berat di bar. Gak tahu dia lagi ada masalah apa, tiba-tiba saja dia ngajak minum. Kamu bisa datang ke bar sekarang, nggk?" ujar Davin panik.
"Suami? Maksud kamu Zidan?" Melodi tertegun sejenak.
"Ya iyalah! Siapa lagi kalau bukan Zidan? Kan kalian yang nikah. Udah deh, gak usah banyak tanya. Dia minum banyak banget dan sekarang mabuk berat, kayaknya udah gak bisa jalan. Kamu jemput dia di sini sekarang ya, aku juga bingung ini."
"Ya udah, kamu kirim lokasinya ke aku sekarang," jawab Melodi.
"Oke."
Davin langsung menutup telepon dan mengirimkan lokasi bar tersebut.
Di tempatnya, Melodi yang baru saja menutup ponsel langsung menyunggingkan senyum licik. Keberuntungan seolah sedang berpihak padanya. Tanpa buang waktu, ia segera berganti pakaian dengan rapi dan bergegas pergi menuju lokasi bar untuk menjemput Zidan.
Setibanya di bar, Melodi langsung mendapati Zidan yang sudah tak berdaya dan benar-benar berantakan.
"Ini gimana nih?" tanya Davin pada Melodi.
"Udah, bantu aja aku angkat dia ke mobilku," jawab Melodi.
Davin yang sama sekali tidak menaruh curiga langsung membantu mengangkat tubuh besar Zidan dan membawanya keluar hingga ke dalam mobil Melodi.
"Makasih ya, Davin," ucap Melodi.
"Ya, sama-sama. Kamu hati-hati di jalan ya," balas Davin.
Melodi langsung melajukan mobilnya membawa Zidan menuju apartemennya.
Sesampainya di lantai bawah apartemen, karena merasa tidak akan sanggup memapah tubuh Zidan sendirian, ia meminta bantuan satpam gedung untuk membantunya membawakan Zidan masuk ke dalam lift hingga ke unit apartemennya.
Sesampainya di dalam unit apartemen, pintu tertutup rapat. Melodi menyunggingkan senyum jahat penuh kemenangan.
Di atas ranjang, Zidan perlahan membuka matanya. Di tengah kesadarannya yang sudah menipis dan separuh mabuk, pandangannya mengabur. Ia melihat wajah wanita di hadapannya berubah menjadi wajah Humaira.
"Humaira..." panggil Zidan parau saat Melodi merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Seketika itu juga, senyum di wajah Melodi lenyap. Wajahnya berubah menjadi bengis dan kesal ketika Zidan justru menyebut nama wanita lain dalam keadaan tidak sadar, bukan namanya.
Kebencian Melodi terhadap keponakannya itu semakin membuncah di dalam dada.
Aku tidak akan membiarkanmu terus-menerus memikirkannya! batin Melodi penuh amarah.
Ia mulai melancarkan niat liciknya. Melodi merangkak naik ke atas tubuh Zidan, berusaha merapat dan menggodanya.
Dengan sedikit kesadarannya, Zidan masih melihat bayangan Humaira. Melodi menunduk, bersiap menautkan bibirnya pada bibir pria itu.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, pria itu tiba-tiba tertidur. Dia benar-benar kehilangan kesadarannya sepenuhnya dan tak ingat apa-apa lagi.
Melihat Zidan yang terlelap, Melodi mendengus keras dan berteriak karena geram.
"Argh!"
Kemarahannya meledak. Melodi akhirnya mulai sadar bahwa kekasihnya itu sebenarnya sudah mulai beralih mencintai keponakannya sendiri—hanya saja, Zidan masih terlalu bodoh dan belum menyadari perasaan hatinya yang sesungguhnya.
Melodi turun dari tubuh Zidan dengan dada naik turun menahan amarah. Ia menjambak rambutnya frustrasi lalu melempar barang-barang yang ada di atas meja rias hingga berhamburan ke lantai. Matanya memerah, napasnya memburu dikuasai kegilaan.
"Tidak... aku tidak akan membiarkanmu jatuh hati padanya! Kau hanya milikku! Kau milikku, Zidan! Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu dimiliki oleh wanita lain... apalagi anak haram itu!" Seru Melodi penuh dendam.
Ia melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang sembari menatap Zidan yang sudah tertidur lelap.
"Jika aku tidak bisa mendapatkanmu dengan cara yang baik, maka aku akan mendapatkanmu dengan cara yang licik," gumamnya nekat.
Tanpa rasa malu sedikit pun, Melodi menarik kemeja Zidan dan membuka kancingnya satu per satu. Ia menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuh pria itu hingga tak tersisa, lalu melemparnya ke sembarang arah sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh Zidan.
Setelah itu, Melodi melangkah nekat mengambil sebuah pisau kecil. Demi melancarkan skenario gilanya, ia sengaja menggores pahanya sendiri hingga darah segar menetes di atas sprei putih ranjang tersebut—merekayasa seolah-olah baru saja terjadi hubungan badan dan menampakkan darah itu sebagai bukti keperawanannya.
Melodi sengaja tidak melukai bagian lengan, karena tahu Zidan seorang dokter; pria itu pasti akan dengan mudah menyadari luka tersebut dan mengetahui kebohongannya.
Setelah aksi nekatnya selesai, Melodi kembali melepas seluruh pakaiannya sendiri, lalu merangkak masuk ke balik selimut yang sama dengan Zidan.
Ia menyandarkan tubuhnya di samping pria yang masih hilang kesadaran itu dengan senyum licik.
Melodi tak peduli seberapa jauh ia harus melangkah. Baginya, Zidan harus menjadi miliknya, dan tidak akan ada satu orang pun—termasuk Humaira—yang boleh merebutnya.
Melodi memegang rahang Zidan, menatap wajah pria itu dengan pandangan obsesi.
"Setelah ini, kau tidak punya alasan lagi untuk tidak menceraikan Humaira..."
"Tujuh tahun... tujuh tahun kita membina hubungan ini! Aku tidak akan pernah membiarkan waktu tujuh tahun itu terbuang sia-sia hanya menjadi wanita yang menjaga suami orang!"
Bagi Melodi, jebakan itu adalah jalan buntu yang tidak akan pernah bisa ditolak lagi oleh Zidan.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂