Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The King
Tidak lama setelah menghabiskan cairan wine yang tersisa di dalam gelasnya, Sang Raja tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia meletakkan cangkirnya dengan gerakan tersendat, lalu kedua tangannya langsung mencengkeram erat lehernya sendiri. Napasnya mendadak tersengal-sengal, sementara wajahnya berubah menjadi pucat pasi seiring sensasi terbakar yang luar biasa menyiksa di tenggorokannya.
Miyura memiringkan kepalanya dengan anggun, menatap sang ayah yang mulai sekarat tanpa secercah pun rasa panik di matanya. Ia memasang senyuman tipis yang dingin, lalu bersuara dengan nada santai. "Ada apa, Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?" tanyanya pura-pura khawatir. Sambil berkedip pelan, ia memberikan gestur tangan yang sederhana kepada pelayannya—sebuah isyarat mutlak untuk menuntaskan sandiwara malam itu.
Aragoto, yang sejak tadi berdiri kaku dengan amarah membara di balik punggungnya, melangkah maju tanpa suara. Dengan tatapan kosong yang menyimpan ribuan luka dan dendam masa lalu, ia mengambil pisau makan milik Sang Raja yang tergeletak di atas piring. Tanpa ragu dan tanpa ampun, Aragoto menghujamkan pisau tersebut beberapa kali dengan cepat ke leher sang penguasa tiran.
Darah segar seketika memuncrat membasahi meja makan yang mewah itu. Setelah memastikan tugasnya selesai, Aragoto dengan sigap melepaskan pisau bernoda darah tersebut dan menyelipkannya kembali ke dalam genggaman tangan Sang Raja, menciptakan seolah-olah sang raja mengakhirinya sendiri atau tewas dalam insiden berdarah.
Sang Raja terkapar lemah di atas kursi kebesarannya, napasnya tersengal di antara genangan darah dengan tenggorokan yang hancur. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang hampir padam, ia menatap putrinya dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. Sebelum nyawanya benar-benar lepas, ia membisikkan kata-kata terakhirnya dengan suara yang tercekat dan terbatuk-batuk darah. "M-Miyura... k-kenapa..."
Miyura perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Ia merapikan gaunnya sejenak, lalu mendekati tubuh sang ayah yang sekarat. Dengan tatapan merendahkan dan senyuman sinis yang mengerikan, ia membisikkan kalimat pamungkas tepat di telinga pria tua itu.
"Inilah akibatnya jika kau berani meremehkan Ibu dan menganggapnya lemah," bisik Miyura dingin. "Lagi pula... selama ini kau sudah meniduri banyak wanita di belakangnya kan, Pria tua? Sudah saatnya kau menyusulnya ke neraka."
Miyura berhenti sejenak sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, seolah baru saja teringat sesuatu. Ia membalikkan badannya sedikit, menatap jasad ayahnya yang kini tak bernyawa dengan pandangan meremehkan.
"Ah, tunggu sebentar. Aku harus merevisi perkataanku tadi," ucap Miyura dengan nada ringan yang terasa begitu kejam di tengah situasi berdarah tersebut. "Ibu pasti pergi ke surga... sedangkan kau, Ayah, kaulah yang akan membusuk di neraka sendirian."
Setelah melontarkan kalimat terakhirnya, sang ratu muda itu berbalik dan melangkah anggun meninggalkan ruang makan yang kini beraroma anyir darah, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Kini, di dalam ruangan yang sunyi dan mencekam itu, hanya tersisa Aragoto dan tubuh kaku Sang Raja.
Aragoto berdiri tegak dalam keheningan selama beberapa saat, menatap nanar ke arah pria yang secara biologis adalah ayahnya sendiri—pria yang telah menghancurkan hidupnya sejak ia belum mengerti apa-apa tentang dunia. Perlahan, Aragoto melangkah maju mendekati tubuh yang bersimbah darah itu.
Dengan ekspresi sedingin es dan nada suara yang sangat tenang namun menyayat hati, Aragoto memecah keheningan. "Ternyata benar apa yang mereka katakan. Kau memang orang yang sangat jahat," bisiknya pelan, memastikan setiap kata terdengar jelas di telinga sang raja yang mungkin masih menyimpan sisa-sisa pendengaran di detik-detik terakhirnya. "Kau memisahkan diriku dari Miyura, membuang anak kandungmu sendiri ke jalanan yang kotor demi takhtamu yang busuk. Dan yang paling tidak bisa kumaafkan... kau menghasut Ibu hingga ia terpaksa menyingkirkanku dan harus menanggung penderitaan seumur hidupnya dengan berpura-pura hanya memiliki satu anak."
Sang Raja yang kini hanya memiliki sisa-sisa napas penghabisan, dengan susah payah menggeser bola matanya. Ia melirik lemas ke arah Aragoto, menatap pelayan yang selama ini ia rendahkan namun ternyata merupakan darah dagingnya sendiri yang kembali untuk menuntut balas. Tidak ada kata yang bisa keluar dari tenggorokannya yang hancur. Perlahan, seiring dengan pudarnya cahaya kehidupan, pria tua itu memejamkan matanya untuk selama-lamanya.
Setelah memastikan sang penguasa tiran itu benar-benar menghembuskan napas terakhir, Aragoto membalikkan badannya tanpa sedikit pun penyesalan. Dengan langkah yang tenang dan teratur, ia berjalan keluar meninggalkan ruang makan, membiarkan jasad ayah kandungnya membusuk bersama ambisi dan rahasia kelam kerajaan yang mulai terkuak.
Keesokan paginya, suasana Istana Hikari mendadak gempar dan berubah kacau. Para pelayan, pengawal, serta para bangsawan berlarian di koridor utama setelah kabar mengejutkan menyebar ke seluruh penjuru istana: Sang Raja ditemukan tewas di ruang makan pribadinya dengan kondisi yang mengenaskan, dikabarkan melakukan bunuh diri menggunakan pisau makan miliknya sendiri saat sedang menikmati santapan seorang diri.
Di tengah kerumunan yang panik dan hiruk-pikuk para pengawal yang berjaga, Putri Miyura tampak berdiri di dekat pintu ruang makan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan mata yang membelalak lebar, membiarkan air matanya tumpah membasahi pipinya sementara ia meratap histeris.
"Ayah...!" teriak Miyura dengan suara parau yang sarat akan kepedihan palsu, mencengkeram ujung gaunnya erat-erat di hadapan para pengawal yang menunduk iba. "Bagaimana mungkin ini terjadi?! Kenapa Ayah meninggalkan aku sendirian dengan cara seperti ini... apa salahku hingga Ayah memilih mengakhiri hidupnya sendiri?!"
Seorang panglima pengawal istana segera maju, membungkuk dalam-dalam dengan ekspresi tegang untuk menenangkan sang putri mahkota. "Yang Mulia, mohon bersabarlah. Kami menemukan barang bukti berupa pisau yang masih digenggam oleh Baginda, serta segelas wine di sisinya. Indikasi awal memang menunjukkan beliau bunuh diri."
Miyura terus terisak pelan, menyembunyikan senyuman miring yang nyaris terbit di bibirnya. Ia sengaja memainkan peran sebagai anak yang hancur kehilangan figur seorang ayah, mengelabui siapa pun yang melihatnya tanpa ada yang tahu bahwa kematian itu adalah hasil rencana tangannya sendiri yang dieksekusi oleh bayangannya.
Namun, di balik kehebohan besar yang mengguncang istana tersebut, ada satu orang penting yang tidak berada di lokasi kejadian. Aragoto—pria yang menjadi algojo di balik kematian sang raja malam sebelumnya—kini justru tidak tampak batang hidungnya di istana.
Jauh dari tembok-tembok megah istana, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota tempat Martha dan Goro tinggal, Aragoto justru tengah terduduk diam di balik pintu kayu yang terkunci rapat.
Martha berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan tatapan penuh kecemasan yang mendalam, sementara Goro berjaga di dekat jendela, memastikan situasi aman. Martha baru saja mengurung pemuda itu di dalam rumah sejak pagi buta begitu mendengar kabar kematian sang raja menyebar ke telinga warga.
"Ibu... kenapa Ibu mengurungku di sini?" protes Aragoto dengan suara rendah, menatap Martha dengan kening berkerut. "Istana sedang gempar. Aku harus segera kembali sebelum Miyura mencariku dan menyadari aku tidak ada di tempat."
Martha menggelengkan kepalanya dengan keras, air matanya menetes perlahan. Suaranya bergetar hebat saat ia mencengkeram kedua bahu Aragoto, memaksa pemuda itu menatap langsung ke dalam matanya.
"Dengar, Aragoto! Kau tidak boleh kembali ke tempat terkutuk itu sekarang!" seru Martha dengan nada penuh peringatan dan kekhawatiran seorang ibu. "Raja sudah mati, dan istana sedang berada dalam kekacauan besar. Kalau kau muncul di sana di tengah situasi seperti ini, kau bisa menjadi kambing hitam atau terseret dalam pembalasan darah!"
Aragoto terdiam sejenak, menatap manik mata wanita yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh ketulusan itu. "Tapi Ibu... tugasku belum selesai. Miyura membutuhkan aku di sisinya untuk mengendalikan keadaan."
"Cukup, Aragoto!" potong Martha tegas, air matanya semakin deras mengalir. "Ibu tidak peduli lagi dengan takhta Hikari atau apa pun yang direncanakan oleh saudaramu itu! Yang ibu pedulikan sekarang adalah keselamatanmu! Kau sudah menderita terlalu banyak sebagai bayangan mereka, dan ibu tidak akan membiarkanmu kembali berjalan di atas genangan darah istana!"
Goro yang berdiri di dekat jendela turut menoleh, memperkuat perkataan istrinya dengan suara berat. "Ibumu benar, Nak. Perbuatanmu semalam sudah lebih dari cukup untuk menuntut balas atas masa lalumu. Biarkan istana itu runtuh oleh ambisi mereka sendiri. Jangan korbankan dirimu lagi."
Aragoto menundukkan kepalanya, merasakan hantaman emosi yang luar biasa di dalam dadanya. Terkurung di rumah kecil itu di antara dekapan perlindungan orang tua angkatnya, ia menyadari bahwa di balik rantai pengurungan tersebut tersimpan kasih sayang tulus yang tidak pernah ia temukan di balik dinding-dinding megah istana berdarah tempat ia dibesarkan.
Sementara istana masih diselimuti kehebohan dan duka palsu atas kematian Sang Raja, suasana di kamar pribadi Putri Miyura terasa jauh berbeda. Jauh dari kerumunan para pelayan dan pengawal yang sibuk berbisik-bisik di koridor, Miyura duduk bersandar dengan santai di atas kursi empuk berlapiskan sutra.
Di pangkuannya, kucing hitam kesayangannya, Kuro, dan si kecil berbulu putih, Shiro, tengah bermain-main dengan jumbai pita yang digoyangkan oleh jemari sang ratu. Miyura tersenyum kecil, membelai lembut kepala kedua hewan peliharaannya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah tidak ada peristiwa mengerikan yang baru saja terjadi semalam di meja makan.
Namun, di balik senyuman manis dan gelak tawanya yang ringan saat memperhatikan polah kedua kucing tersebut, tatapan mata Miyura perlahan berubah menjadi dingin. Ia menghentikan gerakannya, lalu menatap kosong ke arah dinding kamar sambil mulai bergumam pelan seorang diri.
"Sekarang... semuanya sudah berjalan sesuai rencana," bisik Miyura dengan nada suara yang terdengar begitu tenang namun mengerikan. "Ayah sudah pergi menyusul takdir busuknya. Tapi, tugasku belum benar-benar selesai."
Miyura mengangkat sebelah tangannya, memainkan kuku-kukunya yang terawat sambil terus bergumam merangkai skenario berikutnya di dalam kepalanya.
"Masih ada satu orang lagi yang tahu terlalu banyak tentang semua rahasiaku..." lanjutnya lirih, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh perhitungan. "...satu orang yang harus dihilangkan agar tidak ada seorang pun yang bisa menarik benang merah atas kematian Ayah."
Orang yang dimaksud tidak lain adalah Aragoto—pelayan setia yang selama ini menjadi bayangannya, tangan kanannya, sekaligus algojo yang telah mengeksekusi perintah-perintah kejamnya tanpa pernah membantah.
Miyura mendengus pelan, lalu menoleh sekilas ke arah jendela kamar yang memperlihatkan lanskap luas kompleks istana.
"Aragoto... kau memang sudah membantuku dengan sangat baik selama ini," gumam Miyura pada dirinya sendiri, menyuarakan rasa paranoia yang bersemayam di balik ambisinya. "Kau tahu terlalu banyak rahasia istana, dan tanganmu telah kotor karena aku. Seseorang yang memegang begitu banyak kekuasaan atas kelemahanku tidak akan pernah dibiarkan hidup terlalu lama."
Ia menyipitkan matanya, memperkuat tekad dingin yang sudah berakar di dalam hatinya.
"Meskipun kau setia sekarang... suatu saat nanti, cepat atau lambat, kau pasti akan berbalik mengkhianatiku," ucap Miyura dengan suara penuh kepastian mutlak seorang diktator. "Dan sebelum hari itu tiba, aku sendiri yang akan memastikan untuk melenyapkanmu, Aragoto."