Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam merayap makin larut di pedesaan Bandung. Angin dingin berembus kencang membentur dinding-dinding kayu rumah panggung, membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus. Di dalam kamar utama, pendar redup lampu minyak menciptakan nuansa hangat dan romantis.

​Kinanti berbaring bersandar di dada bidang Arka, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Jemari halus Kinanti memainkan kancing kemeja Arka tanpa henti.

​"Mas Arka..." panggil Kinanti pelan, suara seraknya memecah keheningan malam.

​"Iya, Sayang?" sahut Arka lembut seraya mengusap punggung istrinya penuh kasih sayang.

​Kinanti mendongak, menatap mata tajam Arka yang kini memancarkan rasa cinta yang amat dalam. "Makasih ya, Mas. Walaupun hidup kita sederhana di desa ini, aku ngerasa jadi wanita paling bahagia dan aman di dunia karena ada Mas di samping aku."

​Arka menyunggingkan senyum hangat. Ia mendaratkan kecupan lembut di dahi Kinanti, merapatkan pelukannya hingga tak ada jarak di antara mereka. "Mas yang harusnya terima kasih, Kin. Kamu surga buat Mas. Apapun yang terjadi, Mas bakal taruh nyawa Mas demi jaga senyum kamu."

​Kinanti tersenyum manis, menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk leher Arka. Dalam beberapa menit, hembusan napasnya mulai teratur ,tanda bahwa wanita itu telah terlelap dalam tidur nyenyaknya.

​Arka perlahan melepaskan pelukannya tanpa menimbulkan gerakan kasar. Ia memastikan selimut tebal membungkus tubuh istrinya dengan sempurna. Begitu berdiri di samping ranjang, kehangatan di wajah Arka meluap tanpa sisa.

​Insting pemangsanya telah menangkap sinyal bahaya sejak sepuluh menit yang lalu.

​Di luar sana, di bawah kegelapan malam dan bisingnya deru angin malam, lima bayangan hitam bergerak cepat mengepung rumah panggung dari berbagai sudut. Mereka adalah tim 'Red Berry' unit eksekutor taktis paling berdarah dingin milik Club Strawberry. Masing-masing memegang belati beracun dan senjata senyap (suppressed weapon).

​Ponsel rahasia di saku Arka bergetar sekali. Sebuah pesan dari Lingga:

​Bos, tim elit 'Red Berry' udah masuk perimeter tengah. Gua dan anak-anak White Dragon siap serbu dari luar.

​Arka mengetik balasan singkat:

​Jangan bergerak. Biarkan mereka mendekat ke pekarangan. Aku yang akan selesaikan sendiri agar Kinanti tidak terbangun.

​Arka menyelipkan sepasang pisau lipat taktis ke dalam sakunya, melangkah tanpa suara keluar dari kamar, dan mengunci pintunya dari luar secara perlahan.

Arka melangkah keluar dari pintu samping rumah panggung tanpa menimbulkan derit sedikit pun. Udara malam yang membeku langsung menyapa kulitnya, namun tatapan Arka jauh lebih dingin dari malam di pegunungan Bandung tersebut.

​Di bawah kegelapan pekarangan samping, lima anggota tim 'Red Berry' bergerak merayap bagai siluet hantu. Sang ketua tim memberikan kode jemari untuk meretas pintu belakang.

​Namun, sebelum perintah itu tereksekusi, Arka sudah berdiri tegak di tengah kegelapan, hanya tiga meter di depan mereka.

​"Mencari aku?" bisik Arka, suaranya halus namun memancarkan aura dominasi yang mengerikan.

​Ketua tim 'Red Berry' membelalakkan mata kaget. "Serang!"

​Dua anggota di barisan depan langsung melompat menerjang dengan belati taktis terayun ke arah leher Arka. Dengan refleks luar biasa, Arka memiringkan tubuhnya, menangkap pergelangan tangan musuh pertama lalu memutarnya hingga terdengar bunyi krek yang tertutup deru angin. Tanpa membuang waktu, Arka menggunakan tubuh musuh pertama sebagai tameng untuk menahan sabetan musuh kedua.

​Brak!

​Satu tendangan presisi dari Arka mendarat telak di dada musuh kedua, membuatnya terlempar menabrak batang pohon pinus dan langsung pingsan tak sadarkan diri.

​Dua anggota tersisa mencoba mencabut senjata berperedam suara, namun Lingga yang mengintai dari atas dahan pohon melompat turun dengan gerakan akrobatik. Pria berambut mullet itu mengunci leher salah satu eksekutor dari belakang dan menumbangkannya ke tanah dalam hitungan detik.

​Kini hanya tersisa sang ketua tim 'Red Berry'. Ia gemetar hebat, menyadari bahwa seluruh tim elitnya telah dilumpuhkan hanya dalam waktu kurang dari satu menit.

​Arka melangkah mendekat dengan tenang. Setiap langkah kakinya seolah ketukan lonceng kematian bagi sang eksekutor.

​"Siapa yang ngirim kalian dari Club Strawberry?" tanya Arka dingin.

​"K-kami cuma menjalankan perintah markas pusat..." gagap sang ketua tim, mencoba menarik pisau tersembunyi dari sepatu boot-nya.

​Sebelum jemarinya menyentuh pisau, Arka melayangkan satu pukulan cepat dan presisi ke leher bagian samping pria itu.

Brukk

Sang ketua tim roboh seketika ke atas tanah basah, pingsan tanpa sempat bersuara lagi.

​Lingga menyapu tangan dari debu seraya menyeringai santai. "Tim 'Red Berry' ternyata cuma sekelas buah berry busuk, Bos. Anak-anak The White Dragon siap bersihkan pekarangan."

​"Pastikan tidak ada jejak yang tersisa," ujar Arka tegas. "Aku tidak mau Kinanti melihat ada bekas pertarungan besok pagi."

​"Beres, Bos," sahut Lingga dengan jempol terangkat.

​Pukul empat pagi.

​Arka membersihkan tangannya dengan air hangat di belakang rumah sebelum menyelinap kembali ke dalam kamar utama. Suasana kamar masih sama bahagianya seperti saat ia tinggalkan.

​Kinanti tampak menggeliat kecil di bawah selimut tebal. Saat merakan kehadiran Arka yang kembali berbaring di sampingnya, Kinanti langsung bergeser rapat, melingkarkan tangannya di dada Arka dan menyandarkan kepalanya di sana.

​"Mas Arka... dari mana? Kok badannya agak dingin..." gumam Kinanti dengan suara serak khas bangun tidur.

​Arka tersenyum sangat lembut, mengusap punggung istrinya dan mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.

​"Habis minum air hangat di dapur, Sayang," jawab Arka mulus. "Tidur lagi ya, Mas ada di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!