Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN ALETA
Begitu sampai di halaman depan, Aleta mendapati Julian berdiri di dekat pintu gerbang dengan napas tersengal-sengal, pakaiannya sedikit berantakan, dan wajahnya basah oleh air mata.
"Jendral kecil!" panggil Aleta kaget, langsung mempercepat langkahnya menghampiri anak tirinya.
Julian yang melihat sosok Aleta langsung berlari ke pelukan ibu tirinya, menangis sejadi-jadinya sambil mencengkeram erat baju Aleta.
"Hiks... ibu... aku nggak mau sekolah di sana lagi! Guru nya jahat hiks...!" adu Julian menangis.
Aleta berjongkok, mendekap tubuh kecil Julian erat-erat, lalu mengusap punggung anak itu dengan lembut untuk menenangkannya.
"Sstt... tenang, tarik napas dulu, kenapa nangis gini Hem? Coba cerita pelan-pelan sama ibu," bujuk Aleta sabar, meski tatapan matanya mulai berubah tajam dan dingin.
Julian mendongak, menyeka air matanya dengan punggung tangan nya.
"Tadi aku minta buku sama Nyonya Marie, karena semua teman-teman kelas ku mendapatkan buku untuk menulis, Nyonya Marie bilang aku anak baru dan belum bisa membaca dan menulis, aku bilang sama Nyonya Marie kalau aku sudah bisa membaca dan menulis, iya kan Bu aku udah bisa membaca dan menulis kan?" cerita Julian, dengan jujur.
"Nyonya Marie tidak percaya dan mengatakan aku berbicara omong kosong Bu! Lalu Nyonya Marie menjewer telinga ku, teman-teman kelas ku juga menertawakan aku!" lanjut Julian, dengan menggebu-gebu.
"Diego menginjak kaki ku, aku balas memukul nya, dan teman-teman yang lain ikut menarik-narik rambut ku dan Nyonya Marie kembali menjewer telinga ku, Nyonya Marie bilang aku nakal!" cerita Julian dengan jujur.
Mendengar ucapan anak tirinya, rahang Aleta langsung mengeras seketika, aura dingin dan berbahaya langsung menguar dari tubuh wanita itu.
"Betul begitu Julian?" tanya Aleta, dingin menahan amarahnya.
"Betul Bu..." cicit Julian pelan.
"Sekarang kamu masuk, makan dan istirahat, Ibu akan pergi ke sekolah mu itu," ucap Aleta menyeka sisa air mata di pipi anak itu.
Julian menatap wajah Aleta yang kini terlihat sangat menyeramkan, membuat bocah itu buru-buru mengangguk kecil sambil menyeka sisa air matanya.
Aleta langsung menyerahkan Julian kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka untuk dibawa masuk dan dibersihkan badannya.
"Jaga Putra saya!" perintah Aleta dingin.
"B-baik Marchiones," jawab nya, sopan, membawa Julian.
Begitu memastikan Julian aman di dalam rumah, aura dingin di tubuh Aleta langsung menguar.
"Beraninya dia," gumam Aleta, mengepalkan tangannya.
Aleta berjalan ke halaman depan, kebetulan disana ada Seno.
"Seno, ku pinjam kuda mu," ucap Aleta dingin.
"A-apa? Anda bicara apa Marchiones?" tanya Seno, terkejut.
"Ck, minggir, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan mu," desis Aleta dingin dan langsung melompat naik ke atas kuda milik Seno.
"Marchiones Anda mau kemana? Jangan berkuda sendirian itu sangat berbahaya, kalau Marquez tahu beliau akan marah," ucap Seno, khawatir.
"Persetan dengan pria itu," ucap Aleta menarik kangkang kuda nya, pergi dari sana.
Seno menatap kepergian Aleta dengan tatapan gelisah.
"Bagiamana ini? Apa aku perlu melapor pada Marquez, tapi Nyonya itu mau kemana?" batin Seno bingung.
Aleta terus memacu kudanya dengan cepat, tangannya mencengkram kuat tali kuda nya, dengan dada bergemuruh mengingat apa yang di alami anaknya hari ini.
"Sialan! Aku bersumpah akan membuat guru keparat itu menyesal karena telah menyentuh Jendral kecil ku," batin Aleta, terus melaju menuju akademi Kerajaan Salova.
Beraninya orang-orang rendahan di akademi itu menyakiti anak yang sudah dia anggap dan rawat seperti darah dagingnya sendiri.
Tidak butuh waktu lama bagi Aleta untuk tiba di halaman depan Akademi Kerajaan Salova.
Brak
Para penjaga gerbang yang melihat kedatangan seorang wanita dengan aura membunuh langsung menelan ludah ketakutan, belum sempat mereka membuka mulut untuk bertanya, Aleta sudah melompat turun dari punggung kuda dengan gerakan gesit layaknya seorang pembunuh profesional.
"Hei! Siapa ka-"
"Minggir!" sentak Aleta dingin, membuat para penjaga gerbang langsung terdiam.
Aleta melangkah masuk dengan langkah tegap.
Setiap pasang mata murid dan guru yang berpapasan langsung menyingkir, merasa ngeri melihat tatapan mematikan yang terpancar dari wajah sang Marchiones.
"Marchiones? Suatu kehormatan bagi saya karena Anda datang berkunjung," ucap seorang pria tua, sopan.
Aleta menatap tajam pada pria tua itu, tidak berniat menjawab pertanyaan nya, karena tujuan nya saat ini hanya ingin segera memberikan pelajaran pada guru yang sudah kurang ajar pada Putra nya.
Di dalam ruang kelas, pelajaran jam kedua sedang berlangsung, Nyonya Marie tengah berdiri di depan papan tulis sambil merapikan tumpukan kertas.
Brak
Pintu kelas itu ditendang dari luar hingga terbuka lebar, menimbulkan suara dentuman keras yang membuat seluruh penghuni kelas terlonjak kaget.
"AAAAKKKKKKHHHH!"
"Siapa yang berani membuat keributan di jam pelajaran saya?!" bentak Nyonya Marie kesal, memutar tubuhnya ke arah pintu.
Sosok Aleta melangkah masuk dengan perlahan, wanita itu tersenyum miring, sebuah senyuman penuh darah dingin yang langsung membuat bulu kuduk Nyonya Marie meremang seketika.
"Jadi... kau guru tua bermulut sampah yang bernama Marie?" tanya Aleta dengan suara rendah, dingin.
Nyonya Marie mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengenali wanita di hadapannya sebelum akhirnya mendengus meremehkan untuk menutupi rasa gugupnya.
"Oh, jadi kau ibu dari anak bodoh dan tidak tahu aturan itu? Baguslah kalau kau datang sendiri ke sini! Anakmu itu benar-benar-"
Plak
Suara tamparan keras membuat keadaan semakin mencekam.
Nyonya Marie bahkan tidak sempat melihat pergerakan tangan Aleta saking cepatnya, wanita paruh baya itu langsung tersungkur jatuh ke lantai, pipinya membengkak merah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.
Seisi kelas langsung menjerit tertahan. Anak-anak bangsawan yang tadi pagi menertawakan Julian kini menutup mulut mereka rapat-rapat.
"Guru!" teriak salah seorang murid perempuan histeris.
Nyonya Marie memegang pipinya yang terasa panas membara, matanya melotot tak percaya menatap Aleta yang kini berdiri tepat di atas kepalanya.
"Beraninya kau, beraninya kau memukul seorang pengajar resmi di akademi kerajaan?!" jerit Nyonya Marie murka, mencoba bangkit berdiri.
Aleta sama sekali tidak gentar, dengan gerakan cepat, dia menginjak bahu Nyonya Marie hingga wanita tua itu kembali terjatuh dan tertunduk di lantai.
BHUK
"Pengajar? Kau sebut diri mu pengajar, hah?" cibir Aleta tajam.
"Melakukan kekerasan, membiarkan murid-muridmu melakukan perundungan, dan merendahkan martabat keluarga sendiri? Di mataku, kau bukan guru. Kau hanya sampah busuk berseragam yang pantas dibuang ke tempat sampah!" bentak Aleta dengan aura membunuhnya yang begitu kuat.
"Jaga mulutmu, Nyonya! Aku akan melaporkan tindakan tidak terpuji ini langsung kepada kepala akademi!" ancam Nyonya Marie gemetar ketakutan, meski masih mencoba mempertahankan harga dirinya.
"Silakan," jawab Aleta tanpa rasa takut sedikit pun.