"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pilihan Kejam!
"Tante Ratna..." gumam Humaira, saat melihat kedatangan sosok wanita angkuh itu.
Mbak Ratna... Batin Yanti.
Di ambang pintu, berdiri Ratna—istri tua dari ayahnya, yang mulai melangkah masuk dengan senyuman penuh arti.
"Hai, Humaira sayang... Aku dapat kabar kalau adikmu masuk rumah sakit. Makanya aku datang menjenguk," ucap Ratna. Senyumnya berubah aneh saat ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan untuk menyentuh dagu Humaira.
Humaira dengan cepat mengelak dan menarik wajahnya menjauh. Ia tahu, kedatangan wanita itu tidak pernah membawa niat baik.
"Untuk apa Mbak datang kemari?" tanya Yanti curiga pada madunya itu.
"Aku cuma datang silaturahmi, Adik maduku sayang... Kamu tidak perlu khawatir," ujar Ratna santai, yang justru membuat Yanti semakin tidak tenang.
Ratna berjalan mendekati ranjang, lalu meletakkan keranjang buah-buahan yang dia bawa.
"Ini Tante bawa untuk kamu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ratna pada gadis yang terbaring di sana.
"A-aku sudah merasa lebih baik, Tante..." jawab Nabila pelan, menatap Ratna dengan pandangan takut.
"Terus terang saja. Untuk apa Tante datang kemari?" Humaira melangkah maju, memotong sandiwara ramah wanita itu.
Ratna mendengkus pelan, merasa gerah karena terus dicurigai. "Kau terlalu berburuk sangka, Anakku..."
"Aku bukan anakmu," tegas Humaira.
"Santai saja..." sahut Ratna seraya mengibaskan tangannya.
"Kalau Mbak sudah tidak punya keperluan apa-apa lagi, lebih baik Mbak pergi!" usir Yanti tegas.
Yanti tidak ingin Ratna membuat keributan di ruangan itu, terlebih kondisi putri bungsunya masih belum stabil.
"Padahal aku datang baik-baik. Tapi apa begini cara kalian menyambut tamu?" Sindirnya.
"Tidak! Kau tidak pernah punya niat baik untuk silaturahmi ke sini!" potong Yanti.
"Baiklah. Aku akan langsung mengutarakan niat utamaku," sahut Ratna.
Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Humaira, meneliti penampilan gadis itu.
"Humaira... kapan kau akan bercerai dengan Dokter Zidan?"
Humaira mengerutkan dahinya. "Apa maksud Tante?"
"Kau tinggal menjawab. Apa susahnya, sih? Tidak usah balik bertanya!" sergah Ratna.
"Mau saya bercerai atau tidak, saya rasa itu bukan urusan, Tante. Dan Tante tidak punya hak sedikit pun untuk mempertanyakannya," tegas Humaira.
"Ayolah, Humaira. Jangan terlalu sombong! Kau tahu sendiri, kan? Pernikahanmu dengan Dokter Zidan itu hanya sebatas status pengganti. Kau tidak berpikir untuk terus-menerus menempel pada pria itu, kan?"
"Tolong pergi, Tante. Tante tidak diundang di sini," pangkas Humaira, menolak meladeni wanita di hadapannya.
"Aku punya tawaran menarik untukmu." Bukannya pergi, dia justru kembali memberi sebuah tawaran.
Humaira menatap wanita itu. Dia sudah menduga, kalau kedatangan ibu tirinya punya maksud tertentu.
"Tidak usah mengutarakan tawaran apa pun. Saya tidak tertarik. Tolong Tante pergi sekarang!"
Tanpa memedulikan penolakan Humaira, Ratna merogoh tas di tangannya lalu mengeluarkan sebuah dokumen penting.
Mata Yanti sedikit membola, saat mengenali wujud sertifikat tersebut.
"Dari mana Mbak mendapatkan itu?!" Panik Yanti. "Itu surat sertifikat rumahku! Jangan coba-coba Mbak permainkan!" Yanti bergegas maju hendak merebut kertas itu, namun dengan cekatan Ratna menarik tangannya menyembunyikan dokumen tersebut di balik tubuhnya.
"Tenang... Kan sudah kukatakan, aku punya tawaran," sahut Ratna dengan senyum licik.
Humaira mengepalkan kedua tangannya, menyadari ada niat tidak baik yang sangat berbahaya dari gerak-gerik wanita ini.
"Tawaran apa yang Tante inginkan?"
"Gampang. Segera bercerai dengan Dokter Zidan," ujar Ratna tanpa beban. "Aku tahu Dokter Zidan tidak pernah mencintaimu, begitu pun sebaliknya.
Lagipula dari kabar yang kudengar, Dokter Zidan akan segera menikahi kekasihnya yang sempat tertunda itu. Kau hanya puing yang tidak berguna lagi di rumah tangga mereka. Setelah kau bercerai nanti, aku akan menjodohkanmu dengan pria pilihanku."
"Apa?! Tante sudah gila?!" geram Humaira, langsung menolak keras. "Saya bukan putri Tante! Jangan seenaknya mengatur dan menjodohkan hidup saya!"
"Saya bukan barang, Tante, yang bisa dilempar dan digulir ke sana kemari!" Lanjut Humaira dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca menahan amarah.
"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Mbak Ratna!" potong Yanti membela, melangkah pasang badan di depan putrinya. "Humaira itu anak yang aku lahirkan dari rahimku sendiri! Kalian orang-orang kaya tidak bisa seenaknya mempermainkan hidup putriku! Kalau Kau mau mengatur-ngatur anak, melahirkan saja sendiri!"
Skakmat!
Wajah Ratna langsung berubah keras dan tegang. Kalimat Yanti menghantam titik paling sensitif dalam hidupnya—semua orang tahu bahwa Ratna adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan.
"Bagus," ujar Ratna dengan nada dingin menyengat. "Kalau kalian tidak mau menurut, jangan salahkan aku kalau sertifikat ini berganti nama!"
Yanti kaget setengah mati. Wajahnya berubah pucat, digantikan panik luar biasa. "Tidak! Jangan lakukan itu, Mbak! Jangan jual rumah kami!"
Ratna tersenyum puas melihat histeria Yanti, lalu menatap Humaira. "Pilihan ada di tanganmu, Humaira. Ceraikan Dokter Zidan, terima perjodohan dari Tante, atau biarkan ibumu dan adikmu yang sakit ini terlunta-lunta di jalanan tanpa tempat tinggal!"
KEJAM!
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂