Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Pulang Makan

"Kamu mau ikut pulang makan akhir pekan ini?"

Pertanyaan Keira membuat sendok Reynard berhenti di atas wajan.

"Ke rumah Cici?"

"Ke Tangerang. Mama terus tanya keadaanmu karena Nessa masih di Brasil. Daripada aku menjawab lewat chat, sekalian saja kamu kenalan resmi."

Reynard menaruh sendok. "Papa sama Mama Cici tahu aku datang?"

"Tahu. Mama malah sudah menambah menu sejak kemarin."

"Aku harus bawa apa?"

"Diri sendiri. Jangan berlebihan."

Namun pada Sabtu pagi, Reynard muncul membawa dua kotak buah, kue, dan kopi kesukaan Papa Herman. Ia juga mengenakan kemeja biru muda yang membuatnya terlihat seperti kandidat menantu dalam iklan keluarga bahagia.

Keira menatapnya dari atas ke bawah. "Katanya jangan berlebihan."

"Ini biasa."

"Kamu bahkan menyisir rambut."

"Aku selalu sisir rambut."

"Nggak serapi ini."

Reynard memeriksa pantulan di pintu lift. "Jelek?"

Untuk pertama kalinya, Keira melihatnya gugup. Penemuan itu membuat hatinya lunak.

"Bagus," katanya. "Mama pasti suka."

Reynard mengembuskan napas perlahan, seolah jawaban tersebut menentukan jauh lebih banyak daripada penampilan.

***

Rumah Keluarga Halim berada di Perumahan Kencana Regency, Gading Serpong. Begitu pintu terbuka, aroma sup dan tumisan memenuhi teras.

Mama Lidya menyambut sambil masih mengenakan celemek. "Ini Reynard? Tinggi sekali. Masuk, masuk. Keira, kenapa tamunya disuruh bawa semua barang?"

"Aku sudah melarang, Ma."

"Tante, ini cuma sedikit," kata Reynard sopan. "Ada buah sama kue."

"Panggil Tante Lidya saja. Taruh di meja. Jangan berdiri terus."

Reynard belum sempat duduk ketika melihat Papa Herman membawa teko. Ia langsung mengambil nampan, menata cangkir, lalu membantu mengeluarkan mangkuk dari dapur.

Mama memperhatikan dengan mata berbinar. "Keira, kamu pintar juga jagain adiknya Vanessa. Anak baik begini sekarang jarang."

"Ma, dia bisa dengar."

"Biar dengar. Pujian kok disembunyikan."

Reynard tersenyum. "Terima kasih, Tante Lidya."

Vincent turun dari lantai dua dan hampir tersandung ketika melihat tamu mereka.

"Ko Rey?"

"Kalian sudah kenal?" tanya Mama.

"Dia anak baru yang ngalahin aku di basket," jawab Vincent.

"Dua kali," koreksi Reynard.

"Yang pertama hoki."

Mereka langsung berdebat tentang pertandingan. Mama tertawa melihat Vincent, yang biasanya malas menemani tamu, justru menarik Reynard ke meja dan menunjukkan video tembakan.

Keira berdiri di ambang dapur. Pemandangan itu terasa aneh dan sangat tepat sekaligus. Reynard tidak tampak seperti orang asing. Ia masuk ke ritme rumah dengan mudah, membantu tanpa dibuat-buat dan bercanda tanpa melewati batas.

***

Saat makan, Papa Herman menanyakan kuliah Reynard, lomba Nexera, dan sekolah asalnya.

"SMA Kristen Kasih Bangsa," jawab Reynard.

Papa mengangkat wajah. "Yayasan Kasih Bangsa? Papa mengajar di SMP-nya."

"Saya juga SMP di sana, Om Herman. Om pernah mengisi kelas sastra gabungan waktu saya kelas delapan."

Papa menatapnya lebih teliti. "Kelas yang membahas cerpen tentang stasiun?"

"Iya. Om bilang akhir yang bagus bukan akhir yang menjelaskan semuanya, tapi yang membuat pembaca membawa satu pertanyaan pulang."

Wajah Papa yang biasanya tenang berubah hangat. "Kamu masih ingat?"

"Saya suka kelas itu. Setelahnya saya cari buku yang Om sebut."

"Buku apa?" Papa menguji.

Reynard menyebut judul dan pengarangnya. Papa langsung mengajak bicara tentang bacaan, pendidikan, dan alasan Reynard memilih Computer Science. Percakapan mengalir seperti pertemuan guru dengan murid lama.

Keira menatap Reynard. Ia tidak pernah tahu cowok itu mengingat satu kelas dari bertahun-tahun lalu dengan begitu rinci.

"Pantas sok pintar," sela Vincent. "Ternyata dulu murid Papa."

"Bukan murid tetap," kata Papa. "Tapi daya ingatnya bagus. Kamu harus belajar."

"Kenapa aku yang kena?"

Tawa memenuhi meja.

Reynard membagikan sup kepada Mama sebelum mengambil untuk dirinya. Ia memindahkan sambal jauh dari piring, dan Keira tanpa sadar menukar lauk pedas dengan ayam kecap. Mama melihat gerakan itu.

"Reynard nggak bisa pedas?"

"Nggak kuat sama sekali," jawab Keira.

"Sedikit masih bisa," protes Reynard.

"Kemarin hampir sakit gara-gara level dua."

Mama langsung mengambil sambal dari dekatnya. "Sudah, jangan dipaksa. Di rumah ini makan harus nyaman."

Reynard mengangguk patuh. Tatapannya singgah pada Keira, dan sesuatu dalam dada perempuan itu menghangat. Kalimat di rumah ini terdengar seperti penerimaan yang bahkan belum berani ia minta.

Sesudah makan, Papa dan Vincent mengajak Reynard memeriksa komputer lama di ruang kerja. Mama menarik Keira ke dapur.

"Anak itu perhatian sekali sama kamu," bisiknya.

"Dia memang baik."

"Baik sama semua orang atau sama kamu saja?"

Keira hampir menjatuhkan piring. "Mama jangan mulai. Dia adiknya Nessa."

"Mama tahu. Kalian nggak ada hubungan darah. Mama cuma bilang dia kelihatan sayang."

"Dia lebih muda tiga tahun."

"Tiga tahun itu apa? Papa lebih tua empat tahun dari Mama, tetap saja kadang Mama yang lebih dewasa."

Keira menahan tawa. Dari ruang kerja terdengar protes Papa, disusul tawa Vincent dan Reynard.

Ketika mereka kembali ke ruang tamu, komputer lama Papa sudah menyala lebih cepat. Reynard juga memasang sistem pencadangan agar bahan ajar tidak hilang lagi.

"Berapa biayanya?" tanya Papa.

"Nggak ada, Om. Saya cuma merapikan."

Papa mengambil satu buku kumpulan cerpen dari rak dan menyerahkannya. "Kalau begitu bawa ini. Anggap bayaran. Buku yang kamu cari setelah kelas dulu."

Reynard menerima dengan kedua tangan. Untuk sesaat, ketenangannya retak oleh kegembiraan tulus seorang murid yang diingat gurunya.

"Terima kasih, Om Herman. Saya jaga baik-baik."

Vincent memotret mereka lalu mengirim ke grup keluarga. Mama langsung menambahkan keterangan: murid lama Papa ditemukan lagi, sekarang jadi tukang masak Keira.

"Ma!" protes Keira.

Reynard justru meminta foto itu dikirim kepadanya. Buku tersebut ia letakkan paling atas di tas, lebih hati-hati daripada kotak buah mahal yang dibawanya saat datang.

Melihat itu, Papa mengangguk kecil. Penerimaannya tidak diucapkan panjang, tetapi terasa jelas.

***

Menjelang sore, Keira dan Reynard berpamitan. Mama membekali mereka makanan sampai tas hampir penuh. Papa menjabat tangan Reynard dan menyuruhnya datang lagi jika ingin meminjam buku. Vincent sudah membuat janji basket berikutnya.

Di depan pintu, Reynard membantu memasukkan kotak makanan ke kendaraan. Mama menarik tangan Keira dan menurunkan suara, meski tidak cukup rendah.

"Keira, cowok sebaik ini kalau bukan buat kamu, sayang banget. Jangan sampai kelewatan."

Wajah Keira langsung panas. "Mama!"

Papa berdeham, Vincent menutup mulut menahan tawa. Beberapa langkah dari mereka, Reynard jelas mendengar. Ia berdiri di samping pintu kendaraan, menatap Keira dengan mata yang perlahan menyipit oleh senyum.

"Ayo pulang," kata Keira cepat.

"Iya, Ci Kei."

Dalam perjalanan, Reynard tidak menggoda. Ia hanya memandang keluar jendela dengan sudut bibir yang terus terangkat.

"Berhenti senyum," gerutu Keira.

"Aku nggak bilang apa-apa."

"Wajahmu berisik."

Reynard akhirnya menoleh. Di balik senyum tenang itu ada keyakinan yang membuat jantung Keira berdetak satu kali terlalu keras.

Seolah ucapan Mama bukan candaan.

Seolah bagi Reynard, menjadi bagian sungguhan dari rumah tadi hanyalah soal waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!