"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Sirkuit Lambat
SZZZT!
Dua bilah pisau lempar taktis melesat membelah senyap, menancap dalam pada dinding beton tepat di antara kepala Nio dan Nora.
"NIOOO!" jerit Nora seraya tertarik ke belakang oleh genggaman cepat tangan Nio.
"Tetap di belakang gue, Nora! Jangan menyentuh dinding!" bentak Nio seraya meraba tekstur kertas kosong di sakunya demi memaku fokusnya.
Vane memutar pisau ketiganya di sela jemari, menatap Nio dengan pendar merah dari layar lipat di lengannya.
"Eksistensimu yang tak beridentitas itu berakhir di sini, Pakar Data!" seru Vane seraya menerjang maju dengan dorongan penuh.
'Dia menggunakan agresi fisik untuk memutus konsentrasi analisis gue,' batin Nio meneliti gerak-gerik lawan.
Tanpa bergeming, Nio mengangkat tablet Tinta Mati yang merebut sinyal frekuensi dari gelang lipat Vane.
CLANG!
Nio menangkis sabetan pisau Vane menggunakan bingkai pelindung baja tabletnya, menciptakan percikan api tipis di udara.
Dampak benturan itu mendorong tubuh Nio ke belakang, namun jemarinya sudah sempat mengetikkan tiga baris perintah terenkripsi.
"Lu pikir bisa bertarung fisik sambil meretas?!" cibir Vane seraya mengayunkan tendangan lurus ke arah dada Nio.
Nio mengecilkan tubuhnya, meloloskan diri dari tendangan itu seraya melemparkan kabel jumper ke soket daya rel tua di bawah kaki Vane.
SPARK!
"AAAGHHH!" raung Vane saat lonjakan listrik rendah menyengat pergelangan kakinya, memaksanya meloncat mundur.
"Nio! Layar tabletmu membeku!" teriak Nora mendapati indikator kecepatan transfer data merosot tajam.
"Gue sengaja menurunkan kecepatan lalu lintas sirkuitnya," pangkas Nio tenang seraya mengusap jelut di pipinya.
Vane tertawa keras, menyeka keringat di dahinya seraya menatap layar pergelangan tangannya yang memerah.
"Laris manis! Lu kehabisan memori prosesor sampai sistemmu melambat bagai siput!" ejek Vane penuh percaya diri.
"Serangan kilatku akan menghancurkan barisan pertahananmu sebelum tablet itu sempat merespons!" seru Vane melangkah maju.
Nio menatap Vane tanpa ketakutan, bibirnya membentuk sunggingan tipis yang penuh perhitungannya sendiri.
"Peretas amatir selalu terobsesi dengan kecepatan, Vane," ujar Nio dengan nada dingin yang menekan.
"Dalam perang sirkuit lambat, kecepatan tinggi cuma akan membawa lu lebih cepat masuk ke dalam rahang jebakan," pangkas Nio.
Vane mengerutkan dahi, jarinya mengetik kode serangan balik dengan tempo liar pada layar lengannya.
"Bicara omong kosong! Aku akan membumihanguskan peladen lokalmu sekarang!!" teriak Vane dengan vokal meninggi.
BEEP! BEEP! BEEP!
Tiba-tiba, lampu indikator pada lengan Vane berubah menjadi kuning berkedip secara konstan.
Tampilan arus datanya tertahan dalam lingkaran lalu lintas fiktif yang direkayasa oleh sistem pertahanan Nio.
"A-apa yang terjadi?! Kenapa transfer paket kodedu tertahan di angka lima persen?!" cecar Vane panik seraya menekan tombol reset.
"Itu honeypot data... umpan berupa replika file Milo yang sudah gue pasang di memori lambat," jelas Nio datar.
"Lu menyerang umpan itu dengan kecepatan penuh, dan sekarang sistemmu terikat dalam enkripsi melingkar milik gue," lanjut Nio.
Nora membelalak heran, menatap perubahan drastis pada dinamika pertarungan di depan matanya.
"Nio... kamu menjebak seluruh jaringan peretasnya?" tanya Nora terperanjat.
"Dia terlalu jumawa untuk menyadari bahwa paket data yang melambat sedang menyedot koordinat aslinya," sahut Nio mendahului.
Vane gemetar, jemarinya memukul-mukul layar lengannya yang kini menampilkan pesan error beruntun.
"Tidaaak! LEPASKAN AKSESKU! LEPASKAN!!!" jerit Vane murka dengan vokal melengking yang menggema di rel.
"Setiap detik lu memaksa koneksi itu terbuka, sirkuit lambat gue mengupas lapisan enkripsi server perantaramu," pangkas Nio.
'Rekonstruksi data perantara Tinta Mati... selesai,' batin Nio melihat deretan alamat IP tersembunyi terekspos di layarnya.
Di layar tablet Nio, sebuah peta topologi jaringan Sektor Utama mengejawantah secara sempurna.
Lokasi server perantara milik faksi Tinta Mati yang menyembunyikan eksistensi para korban kini terbuka tanpa sisa.
"Residu kode tempat penyimpanan Milo... akhirnya ketemu," gumam Nio menatap titik pendar hijau di peta.
Vane memegang kepalanya yang pening, jatuh berlutut di atas rel beton akibat kejutan umpan balik sinyalnya sendiri.
"Z-Zero... Zero tidak akan membiarkanmu menembus fasilitas Sektor Utama..." rintih Vane dengan vokal lemas dan merendah.
"Zero mencabut sejarah dari dada manusia, tapi malam ini kodenya tersapu air hujan sebelum sempat mengering," balas Nio dingin.
"Kamu sudah kalah, Vane. Sampaikan itu pada bosmu kalau lu masih punya akses," pangkas Nio melangkah melewati sang peretas.
Nora menatap Vane yang terkapar lemas, lalu bergegas menyusul langkah Nio yang terus maju menelusuri lorong bawah tanah.
"Nio! Apakah server perantara itu benar-benar memegang jejak digital Milo?" tanya Nora penuh desakan harapan.
"Bukan cuma Milo, Nora. Seluruh presensi korban tereliminasi yang diproses Tinta Mati ada di sana," jawab Nio.
"Artinya... kita bisa mengembalikan nama mereka ke pendaftaran publik?" seru Nora dengan mata berbinar.
"Terlalu dini untuk merayakannya. Zero pasti menyadari bahwa Vane sudah tumbang," sahut Nio seraya meraba kertas di sakunya.
Langkah mereka terhenti ketika lorong bawah tanah itu berakhir pada sebuah pintu baja kedap udara berukuran raksasa.
Di atas pintu baja tersebut, logo megah bertuliskan "Pusat Pengolahan Data Sektor Utama" berpendar biru dingin.
Anomali suara dengungan mesin pendingin skala besar terdengar sangat pekat dari balik dinding tebal tersebut.
"Ini dia... fasilitas induk Tinta Mati," bisik Nora menahan napasnya.
Nio menempelkan tablet kendali yang telah direkonstruksi ke panel pemindai pintu baja.
BZZZZT... KLAK!
Sistem kunci hidrolik tebal terbuka secara perlahan, menyemburkan uap nitrogen dingin ke arah kaki mereka.
Ruangan besar di dalam sana tampak bagai labirin rak server raksasa yang membisu dalam senyap.
Namun di tengah ruangan, sebuah kursi medis berteknologi tinggi berdiri di bawah pendar lampu sorot tunggal.
Sesosok remaja laki-laki terbaring lemah di atas kursi itu dengan kabel-kabel data menempel di pelipisnya.
"MILOOO!" jerit Nora histeris seraya menerjang masuk ke dalam ruangan server tersebut.
"NORA, TUNGGU! ADA YANG ANEH!" teriak Nio mencoba menahan, namun keterlambatan refleks membuat langkah Nora terlanjur masuk.
BAMMM!
Pintu baja di belakang mereka tertutup kembali secara otomatis, mengunci mereka sepenuhnya di dalam ruangan pendingin server.
Dari pengeras suara di langit-langit ruangan, gelak tawa dingin Zero menggema, memotong seluruh harapan yang baru saja tumbuh.
"Selamat datang di kuburan sejarahmu sendiri, Nio," sapa Zero penuh kemenangan.