Asyifa adalah seorang gadis yatim piatu yang hidup bertiga dengan kedua adiknya. Sebagai anak sulung, dia bertanggung jawab membesarkan kedua adiknya, setelah ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan hebat saat pulang dari berjualan.
Suatu hari dia terlibat skandal dengan teman satu kelasnya, teman yang juga dia kagumi dalam diam.
Sebab skandal tersebut, dia harus kehilangan beasiswa dan menuntutnya untuk keluar dari sekolah favorit tersebut.
5 tahun kemudian, dia dipertemukan dengan teman sekelasnya dengan kondisi yang berbeda.
Tetapi cinta yang dulu pernah singgah... ternyata masih tetap menetap tanpa bisa terungkap.
Bagaimana kisah selanjutnya...
selamat membaca guys... semoga kalian terhibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASYIFA
Lelahnya seorang wanita yang berstatus istri, bukan karena padatnya pekerjaan rumah tangga, tetapi... Saat ketulusannya tidak dihargai...
...----------------...
BRAK!!!!
Hantaman keras membuat tubuh Asyifa terpental. Kepalanya mengeluarkan banyak darah, suara hingar bingar terdengar nyaring di telinganya. Tetapi... anggota tubuh yang menopang raga seolah lelah sekedar untuk bergerak.
Mata sayu itu... perlahan tertutup... Seiring dengan suara gemuruh manusia.
stretcher bergerak cepat memasuki ruang unit gawat darurat, seorang perawat memasang masker oksigen.
Darah yang mengalir di kepala pasien belum berhenti, tetapi... Nafas pasien bernama Asyifa masih stabil.
Di luar ruangan unit gawat darurat, seorang laki laki paruh baya menyerahkan tas Asyifa kepada seorang polisi, di mana terdapat ponsel yang sedari tadi berdering, tetapi pria paruh baya itu tidak berani mengangkat suara ponsel tersebut.
Dua orang polisi yang berada di depan UGD tersebut menerima dan memeriksa identitas Asyifa.
Beruntung Asyifa tidak memberi kode pada ponselnya. Ponsel kembali berdering sebelum polisi menelpon salah satu nomor yang ada di ponsel tersebut.
" Halo mbak syifa, kamu di mana mbak? Dari tadi aku menghubungi kamu tapi tidak kamu angkat" suara Bayu terdengar dengan nada cemas.
" Halo... Ini saya dari kepolisian.... Memberitahu bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan saat ini berada di rumah sakit...." polisi tersebut menjelaskan secara singkat lokasi rumah sakit.
Di tempat lain... Bayu yang mengetahui kakaknya kecelakaan, segera memberi tahu Radit dan Arka.
Derap langkah menggema di lorong rumah sakit, dua polisi yang berjaga dan menunggu keluarga pasien terlihat duduk di depan UGD.
" Selamat malam pak, saya Arka, apa benar pasien kecelakaan yang bernama Asyifa berada di dalam?" tanya Arka.
" Selamat malam pak Arka, benar. Kondisi pasien masih di tangani. silahkan menemui dokter terlebih dahulu." jawab polisi tersebut sebelum berlalu untuk kembali bertugas.
" Kalian tunggu di sini, biar mas yang masuk" kata Arka kepada kedua adik iparnya.
Seorang dokter memberi penjelasan secara singkat. Ruang operasi sudah di siapkan. Benturan keras mengakibatkan cidera serius di kepala.
Tanpa banyak bicara, Arka segera tanda tangan menyetujui semua proses.
Stretcher perlahan bergerak memasuki ruang operasi, Arka dan kedua adik iparnya mendampingi sampai di pintu masuk.
Lampu indikator menyala merah, Arka melihat kedua adik iparnya duduk saling berdampingan. Radit cukup tenang dengan menyatukan telapak tangan, Bayu menekuk lutut dan terisak.
Tes... Air mata Arka menetes melihat kedua adik iparnya, lalu melangkah dan memeluk kedua adik iparnya.
" Berdoalah dek... Semoga mbak Syifa mampu melewati masa sulitnya." ucap Arka.
Radit dan Bayu hanya bisa mengangguk, lalu tenggelam dalam doa masing masing.
Nadia dan Yamka berjalan cepat menuju ruang operasi menantunya.
" sayang pelan pelan jalannya... Ruang operasi tidak akan pindah." Yamka memperingati istrinya.
Nadia tersenyum dan memelankan langkahnya. Sungguh... perempuan malang itu sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
" Bagaimana kondisi Asyifa Ka? Tanya Yamka setelah sampai.
" sementara dokter mengatakan ada cidera di kepala pa" jawab Arka.
" Papa sudah meminta kepolisian menyelidiki kasus ini secara tuntas. CCTV aktif pada saat kejadian, sementara... Dari cara laju mobil terlihat ada unsur kesengajaan, mereka akan segera menangkap pelaku." Yamka menjelaskan.
Sebelum kerumah sakit, Yamka dan Nadia sengaja ke kantor polisi terlebih dahulu, untuk memastikan proses penyelidikan.
Nadia memberikan beberapa botol air pada adik adik Asyifa.
"Jangan khawatir... Mama akan selalu bersama kalian." ucap Nadia pada Radit dan Bayu.
" Terimakasih Bu...." jawab Radit.
Radit dan Bayu memang tidak mau memanggil Nadia dengan sebutan mama. Selain sungkan... sebutan ibu membuat mereka nyaman, serasa memiliki seorang ibu yang sedari kecil tidak mereka rasakan. Nadia... Tidak keberatan.
" Administrasi sudah selesai apa belum Ka?" tanya Nadia.
" Sudah ma." jawab Arka dengan singkat.
"Katakan pada dokter, berikan penanganan yang terbaik, soal biaya tidak masalah." kata Nadia.
Radit mendekat Arka, lalu mengeluarkan sebuah kartu debit dan memberikannya pada kakak iparnya.
" Mas... ini mas Arka bawa... Tetapi maaf... Jumlahnya tidak banyak." Radit berkata pada iparnya dengan sungkan.
" Apa apaan kamu Dit, mas sudah menyelesaikan semua, biaya sudah mas lunasi hingga 1 minggu kedepan. Kakakmu adalah tanggung jawab mas Arka. Simpan debit ini untuk tabunganmu." jawab Arka.
"Tetapi mas..." Radit tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika Arka langsung memotong.
" Sudah. Kamu bekerja, tabung hasilnya, jika memungkinkan, gunakan untuk membuka usaha. Mbak Asyifa adalah istri mas, tanggung jawab mas Arka. Kamu jangan terlalu sungkan." kata Arka dengan lugas.
Sejauh ini Yamka tetap bangga pada putranya. Meskipun dia tidak mencintai istrinya, tetapi Arka adalah suami yang cukup bertanggung jawab.
" Nak Radit... Kamu jangan khawatir, jikapun mas iparmu kekurangan biaya, kami siap membantu. Asyifa bukan sekedar menantu... Tetapi juga anak kami. Begitupun dengan kalian berdua. Sudah... Simpan uang dan debit kamu, serahkan semua pada kami dan kakak iparmu." ucap Nadia ikut menguatkan Radit.
Dua jam berlalu, lampu indikator belum juga berganti warna.
Raka dan Lala tiba dengan membawa baju ganti untuk kedua orang tuanya.
" Sayang... kamu duduk dulu" kata Raka sambil menuntun Lala yang sedang hamil.
" Radit... Bayu... Kalian pulang dulu, bersih bersih dan makan." perintah Nadia.
Radit dan Bayu tidak membantah perintah Nadia. Mereka meraih tangan Yamka, Nadia dan semua yang ada di sana untuk salim dan berpamitan dengan sopan.
" Adik adik Asyifa sopan sopan ya dek" kata Lala pada Arka."
"Setahu mama... Asyifa mendidik mereka dengan mengutamakan adab, jadi wajar jika mereka sesopan itu pada orang tua." bukan Arka yang menjawab... Tetapi mama Nadia.
Arka masih berdiri menatap lampu indikator, meskipun Yamka berkali kali memintanya untuk duduk, tetapi Arka tetap berdiri di depan pintu, tidak bergeming sedikitpun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
skrg saat syifa sdh mnyerah dgnmu.... km bru merasa syifa adalah hidupmu....
km bilang sangat mncintai luna.... bhkn cinta untuk luna sdh mengakar kuat di hatimu.... tpi km brsikeras ingin tetap mnjadi suami syifa....🙄🙄
sedangkn arka.... tetap trjebak dgn yg konon cinta hnya untuk luna...
jgn iri dgn ayifa krna mnikah dgn arka....
wloupun arka mnjadi suaminya.... tak ada cinta untuk syifa...
cinta arka hnya untuk luna seorang,yumna....
jdi stop jgn km trlalu dlm mmbnci syifa... hingga km khilangan akal sehatmu...