Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang tanpa kabar
Hari-hari berikutnya berlalu dengan begitu berat bagi Zia, yang terus mencoba menghubungi Baska melalui berbagai cara, namun selalu berakhir dengan kekecewaan karena tidak ada satu pun respons yang dia terima dari pemuda tersebut. Panggilan teleponnya tidak diangkat, pesan-pesannya hanya menunjukkan tanda telah dibaca tanpa balasan, sebuah keheningan yang begitu menyiksa mengingat betapa dekatnya komunikasi mereka sebelumnya.
"Mas, please, jelasin ke aku kenapa kamu diem aja. Aku udah coba jelasin soal kejadian kemarin, tapi kamu nggak pernah bales," tulis Zia untuk kesekian kalinya, mengirimkan pesan tersebut dengan perasaan putus asa yang semakin bertambah setiap harinya.
Di sisi lain, Baska yang memang sengaja mengisolasi dirinya dari segala bentuk komunikasi, menghabiskan waktu tersebut dengan bekerja lembur di kantor, berusaha mengalihkan pikirannya dari kekacauan emosional yang dia rasakan dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang menumpuk tersebut.
Dika, yang menyaksikan langsung perubahan drastis pada sahabatnya tersebut, mulai merasa khawatir dengan kondisi mental Baska yang semakin hari semakin terlihat murung dan tertutup. "Bas, lo udah berapa hari nggak bales chat Zia? Kasian dia terus-terusan nyoba hubungin lo."
"Gue belum siap, Dik. Gue masih bingung harus mikir gimana soal semua ini," jawab Baska dengan nada yang menunjukkan kelelahan emosional yang mendalam, tidak sepenuhnya yakin bagaimana cara menyelesaikan kekacauan perasaan yang dia alami tersebut.
"Tapi lo nggak bisa terus-terusan diem gini, Bas. Ini malah bikin masalahnya makin runyam. Zia udah coba jelasin, tapi kalau lo nggak mau dengerin, gimana bisa selesai?" ujar Dika dengan nada yang mulai sedikit frustrasi, khawatir bahwa sikap Baska tersebut justru akan menghancurkan hubungan yang selama ini begitu berharga bagi kebahagiaan sahabatnya itu.
Baska terdiam, menyadari kebenaran dalam kata-kata Dika tersebut, namun rasa sakit dan kebingungan yang masih menghantuinya membuat dia belum sepenuhnya siap untuk menghadapi konfrontasi yang diperlukan guna menyelesaikan situasi tersebut. "Aku tau, Dik. Tapi aku butuh waktu lebih buat mikir jernih."
Sementara itu, Reta yang menyaksikan penderitaan Zia dari dekat, mencoba memberikan dukungan emosional sebaik mungkin, meski dia sendiri merasa frustrasi dengan situasi yang terus berlarut-larut tersebut. "Zi, mungkin kamu perlu coba dateng langsung ke rumahnya. Kadang, ketemu langsung itu lebih efektif daripada cuma lewat pesan."
"Aku takut, Ret. Takut kalau dia beneran udah nggak mau lagi sama aku," jawab Zia dengan suara yang bergetar menahan tangis, mengungkapkan ketakutan terbesarnya mengenai kemungkinan bahwa hubungan yang telah dia bangun dengan penuh kebahagiaan tersebut mungkin akan berakhir akibat kesalahpahaman yang tidak kunjung terselesaikan.
"Kamu harus coba, Zi. Daripada terus-terusan nunggu tanpa kepastian kayak gini, mending kamu ambil langkah buat cari kejelasan," saran Reta dengan penuh keyakinan, mendorong sahabatnya tersebut untuk mengambil tindakan yang lebih tegas guna mengakhiri ketidakpastian yang begitu menyiksa tersebut.
Zia merenungi saran tersebut dengan serius, mengumpulkan keberanian yang dia butuhkan untuk mengambil langkah besar berikutnya. Malam itu, setelah berhari-hari penuh kesedihan dan kebingungan, dia akhirnya memutuskan bahwa keesokan harinya, dia akan mendatangi rumah Baska secara langsung, bertekad untuk mendapatkan kejelasan mengenai nasib hubungan mereka, apa pun hasil yang akan dia terima dari pertemuan tersebut, sebuah keputusan berani yang akan menjadi titik penting dalam perjalanan mereka menuju penyelesaian dari kesalahpahaman yang telah begitu lama menggantung tersebut.
Sebelum tidur malam itu, Zia menuliskan seluruh perasaannya di buku catatan kecilnya, mencoba menata kembali pikirannya yang begitu berantakan akibat berbagai kejadian yang telah menghantam hubungannya dengan Baska belakangan ini. "Aku nggak nyangka, sesuatu yang dulu terasa begitu indah bisa berubah jadi begitu menyakitkan. Tapi aku nggak akan nyerah semudah itu. Besok, aku harus dapetin kejelasan, apa pun jawabannya."
Bu Marlina, yang menyadari kesedihan mendalam yang dirasakan putrinya selama beberapa hari terakhir, mendekati kamar Zia sebelum gadis tersebut benar-benar tidur, memberikan sedikit dukungan yang sangat dibutuhkan. "Zia, apa pun yang terjadi besok, Ibu selalu dukung kamu, Nak. Yang penting kamu udah berusaha semaksimal mungkin buat perbaiki keadaan."
"Makasih, Bu," jawab Zia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, merasakan kehangatan dukungan ibunya tersebut di tengah ketidakpastian besar yang sedang membebani hatinya, sebuah kekuatan yang akan sangat dia butuhkan untuk menghadapi pertemuan penting yang telah dia rencanakan untuk keesokan harinya tersebut.
Malam itu terasa begitu panjang bagi Zia, yang terus terjaga memikirkan berbagai skenario yang mungkin terjadi keesokan harinya, antara harapan bahwa Baska akan mendengarkan penjelasannya dengan lapang dada, atau ketakutan bahwa pemuda tersebut sudah benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai kekhawatiran tersebut, dia akhirnya berhasil terlelap menjelang dini hari, bersiap menghadapi hari yang akan menentukan arah masa depan hubungannya dengan Baska tersebut.