Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : BERMAIN API DI DUA DUNNIA

Pagi itu, udara di lantai empat puluh gedung Daniel Corporation terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin, hanya perasaan Azahra Aletta saja yang sedang tidak menentu.

Dalam hitungan dua puluh empat jam, papan nama di sudut meja kerjanya resmi berganti. Azahra yang kemarin hanyalah seorang staf administrasi biasa di lantai lima belas, kini menduduki posisi baru yang menjadi pusat perhatian seluruh isi gedung: Asisten Pribadi CEO. Keputusan mendadak James Daniel memindahkannya mengundang kasak-kusuk panas di antara para pegawai. Bisikan-bisikan miring di kantin, tatapan selidik dari rekan-rekan kerja, hingga tatapan tidak suka dari para sekretaris senior yang merasa terlangkai, semua harus Azahra telan bulat-bulat.

Namun, ketidaknyamanan itu menguap seketika tiap kali Azahra melirik aplikasi perbankan di ponselnya. Angka lima ratus juta rupiah sebagai bonus tunai di muka dari James telah bertengger manis di sana. Ditambah dengan sisa uang dari Ethan Austin, total kekayaannya saat ini melebihi apa yang pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya.

"Duit ini bukan cuma hadiah," gumam Azahra pelan pada dirinya sendiri di depan cermin toilet eksekutif. Ia merapikan blazer hitam terusan bernoda kancing emas yang baru saja dibelikan oleh tim penata busana James. "Ini uang bahaya. Uang yang bisa bikin kau masuk penjara kalau sampai teledor."

Azahra menarik napas panjang, menatap bayangannya di cermin. Mulai hari ini, strategi 'dua kehidupan' resmi dimulai.

Ia memisahkan ponselnya menjadi dua. Ponsel pertama—ponsel kerjanya yang biasa—khusus digunakan untuk segala instruksi dari James Daniel selama jam kerja kantor, dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Ponsel kedua—ponsel baru berspesifikasi tinggi yang dibelikan oleh asisten Ethan—hanya aktif untuk urusan Ethan Austin, terutama menjelang malam hari dan akhir pekan.

Aturannya sederhana dalam teori, tetapi pelaksanaannya terasa seperti berjalan di atas tali tipis di antara dua tebing curam.

"Azahra!"

Suara berat yang familier memanggilnya lewat pintu ruangan interkom yang terbuka. Azahra dengan cepat menyimpan ponsel keduanya ke dalam saku terdalam tasnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kerja James yang serba Obsidian.

James sedang berdiri di dekat jendela besar, memunggungi pintu sambil mengancingkan manset kemeja putihnya. Posturnya yang jangkung dan atletis tampak sangat mengintimidasi dalam bias sinar matahari pagi.

"Jadwal saya hari ini," ujar James tanpa menoleh.

Azahra membuka tablet kerja di tangannya dan membacakan instruksi dengan nada seprofesional mungkin. "Pukul sepuluh ada rapat dewan direksi mengenai ekspansi proyek pelabuhan. Pukul satu siang, makan siang bisnis dengan calon investor dari Singapura di Restoran Azure. Lalu pukul empat sore—"

"Batalkan rapat internal pukul empat sore," potong James seraya membalikkan badan. Matanya yang tajam menatap Azahra dari ujung rambut hingga sepatu hak tinggi lima sentimeter yang membungkus kakinya. James mengangguk tipis, menunjukkan kepuasan atas perubahan penampilan bawahannya. "Ganti jadwal pukul empat sore dengan perjalanan ke butik haute couture di kawasan Menteng."

Azahra tertegun sejenak. "Butik, Pak? Apakah ada acara dinas?"

"Ibu saya mengundang kita makan malam keluarga esok lusa di kediaman utama," jawab James dingin, melangkah mendekati meja kerjanya. "Dia ingin melihat sendiri wanita seperti apa yang sanggup membuat saya menolak putri dari Vance Enterprise. Saya tidak ingin kau tampil mengecewakan. Kita perlu gaun yang pas dan perhiasan yang tidak terkesan murahan."

Jantung Azahra mendadak berdesir cepat. Makan malam keluarga esok lusa? Itu artinya ia harus menghadapi ibu dari seorang CEO kaya raya yang pasti akan menguliti latar belakangnya habis-habisan.

"Baik, Pak. Saya akan atur jadwalnya," jawab Azahra, menahan rasa gugup.

"Satu hal lagi, Azahra," James melangkah lebih dekat, menundukkan sedikit tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Aroma parfum leather dan tobacco milik pria itu kembali menguasai indra penciuman Azahra. "Mulai hari ini, saat kita hanya berdua di ruangan ini atau di luar jam kantor, panggil saya James. Kata 'Pak' membuat sandiwara kita terdengar kaku dan tidak natural."

Azahra menelan ludah, memundurkan kepalanya satu senti secara refleks. Tatapan James terlalu intens, seolah pria itu tidak hanya sedang memainkan peran sebagai kekasih pura-pura, melainkan benar-benar menuntut kepemilikan penuh atas dirinya.

"Baik... James," cicit Azahra pelan.

Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibir pria itu. "Bagus. Sekarang kembali ke mejamu."

Hari pertama berjalan seperti angin puting beliung. James adalah atasan yang sangat menuntut. Pria itu tidak hanya meminta Azahra mencatat setiap detail rapat, tetapi juga menyuruhnya berdiri di sampingnya saat makan siang bisnis, memperkenalkannya kepada para pengusaha Singapura sebagai "wanita istimewa" yang berhasil mencuri hatinya.

Setiap kali tangan James melingkar posesif di pinggangnya di depan para relasi bisnis, darah Azahra seolah mendidih antara rasa tegang dan debaran aneh yang tak seharusnya ada. James memainkan perannya dengan sangat sempurna—terlalu sempurna hingga membuat batas antara akting dan kenyataan menjadi kabur.

Namun, ujian sebenarnya baru dimulai pada pukul empat sore lewat empat puluh lima menit.

Saat Azahra sedang mendampingi James di butik mewah kawasan Menteng, mencoba sebuah gaun malam berwarna merah marun atas pilihan James sendiri, saku tasnya mendadak bergetar hebat.

Itu ponsel keduanya. Ponsel khusus Ethan Austin.

Azahra tersentak di balik tirai kamar ganti. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera di layar: ETHAN AUSTIN.

Napas Azahra tertahan. Ia mematung sejenak, mendengarkan suara langkah kaki James yang sedang berjalan santai di luar kamar ganti sambil berbincang dengan pemilik butik. Dengan sangat hati-hati dan suara selirih mungkin, Azahra menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Ha... halo?" bisik Azahra penuh kecemasan.

"Kau di mana?" Suara Ethan di seberang telepon terdengar sangat dingin, tegas, dan tak menerima penolakan. Tidak ada nada sapaan, hanya perintah mutlak.

"Saya... saya masih ada urusan di luar," jawab Azahra berbohong, matanya terus melirik ke arah celah tirai.

"Pukul enam sore. Pengemudi saya sudah dalam perjalanan menuju tempat kosmu," ujar Ethan tanpa memedulikan alasan Azahra. "Kakek saya mendadak ingin makan malam privat di penthouse beliau malam ini. Kau punya waktu satu jam untuk bersiap-siap. Saya tidak suka orang yang tidak tepat waktu, Azahra."

Kepanikan hebat langsung melanda benak Azahra. Pukul enam sore? Ini sudah pukul lima kurang lima belas menit! Ia masih berada di Menteng bersama James, dan James pasti menuntutnya untuk ikut kembali ke kantor atau menemaninya makan malam!

"Tapi... Ethan, ini terlalu mendadak. Saya mungkin butuh waktu lebih—"

"Pasal tiga ayat dua dalam kontrak," potong Ethan tajam, mematikan kalimat Azahra di udara. "Waktumu di luar jam kerja adalah milik agenda saya. Kau sudah menerima pembayaranmu, Azahra. Jangan buat saya mempertanyakan profesionalisme yang kau janjikan."

Klik.

Sambungan telepon diputus secara sepihak dari ujung sana. Azahra memegang ponselnya dengan jemari yang bergetar hebat. Peluh dingin mulai membasahi dahinya. Pria dingin itu benar-benar tidak memberi ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.

"Azahra? Kau sudah selesai?" Suara ketukan pelan dari James di luar tirai kamar ganti membuat jantung Azahra nyaris melompat keluar dari dadanya.

Dengan cepat, Azahra menyembunyikan ponsel keduanya kembali ke dalam tas, menetralkan raut wajahnya, lalu membuka tirai.

James berdiri di sana, mengamatinya dari atas ke bawah. Gaun merah marun berlengan panjang itu melekat sempurna di tubuh Azahra, memamerkan lekuk tubuhnya yang anggun namun tetap sopan. Mata kelam James berbinar tipis, menunjukkan kepuasan murni.

"Luar biasa," puji James singkat, langkahnya mendekat lalu jemarinya menyentuh bahu Azahra yang terbuka sedikit. "Gaun ini milikmu. Kita akan pakai ini untuk makan malam lusa."

"Terima kasih, James," kata Azahra cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Um... jika sudah tidak ada hal lain yang diperlukan, apakah saya boleh izin pulang lebih awal sore ini? Ada... ada urusan keluarga yang sangat mendesak."

Alis James terangkat sebelah. Pandangannya langsung berubah menjadi tajam dan menyelidik. Sifat otoriternya yang posesif mendadak bangkit.

"Urusan keluarga?" tanya James penuh nada curiga. "Setahu saya, ibumu sudah meninggal dan kau tidak punya kerabat dekat di kota ini. Urusan keluarga seperti apa, Azahra?"

Pertanyaan James menghantam Azahra tepat di dada. Ia lupa bahwa James telah memeriksa seluruh dokumen pribadinya hingga ke akar-akarnya! Kebohongan yang baru saja ia lontarkan terlalu amatir.

Azahra memutar otaknya secepat kilat, menahan guncangan panik yang mengancam melumpuhkan lidahnya.

"Maksud saya... rumah kos saya," jawab Azahra panik, berimprovisasi sebisa mungkin dengan raut wajah yang dibuat secemas mungkin. "Pipa air di kamar saya bocor parah dan menyiram berkas-berkas penting. Pemilik kos menyuruh saya pulang sekarang sebelum barang-barang saya rusak semua."

James diam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Azahra. Pria itu terus menatap mata Azahra, seolah mencari celah kebohongan di sana. Suasana di dalam butik mewah itu mendadak sangat mencekam.

Akhirnya, James menghela napas panjang. Ia merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan kartu kredit hitam tanpa batas, dan menyerahkannya pada kasir.

"Saya minta pengemudi saya mengantarmu pulang," ujar James tegas.

"Tidak perlu, James!" sahut Azahra agak terlalu cepat, membuat James kembali memicingkan mata. Azahra berdeham pelan, mencoba melunakkan nadanya. "Maksud saya... jalanan sedang sangat macet. Saya bisa naik ojek sepeda motor agar bisa sampai lebih cepat. Terima kasih atas perhatianmu."

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari James, Azahra mengambil tasnya, berganti pakaian dengan kecepatan kilat, lalu setengah berlari keluar dari butik tersebut setelah mengucapkan terima kasih yang canggung.

James berdiri di dekat pintu butik, memperhatikan punggung Azahra yang menghilang di tengah keramaian jalan raya dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang janggal dalam gerak-gerik bawahannya sore ini, dan James bukan tipe pria yang suka dibohongi.

Pukul lima lewat lima puluh menit.

Azahra tiba di depan gang rumah kosnya dengan napas terengah-engah dan pakaian yang sedikit berantakan akibat diterpa angin jalanan. Tepat di ujung jalan, sebuah mobil sedan berbalut warna hitam elegan dengan kaca gelap sudah terparkir manis.

Seorang pria bersetelan jas rapi—pengemudi suruhan Ethan—segera turun dan membukakan pintu belakang.

"Mbak Azahra? Tuan Ethan sudah menunggu di penthouse," ujar sang pengemudi dengan nada formal yang dingin.

Azahra tidak punya waktu untuk bernapas. Ia langsung melompat masuk ke dalam mobil tersebut. Di dalam mobil, sebuah kotak hadiah berukuran besar sudah tergeletak di kursi sampingnya, lengkap dengan sebuah catatan kecil berhuruf rapi:

Pakai gaun ini dan pasang perhiasannya. Kau punya waktu lima belas menit di dalam mobil sebelum kita sampai di lokasi.

— Ethan.

Azahra memejamkan mata sejenak, meratapi nasibnya. Baru saja ia lolos dari cengkeraman James Daniel, kini ia harus langsung bersiap masuk ke dalam wilayah kekuasaan Ethan Austin.

Dengan susah payah di dalam mobil yang sedang melaju menembus kemacetan lalu lintas Jakarta, Azahra berganti pakaian. Gaun malam bernuansa biru navy berbahan sutra lembut membungkus tubuhnya, dilengkapi dengan sebuah kalung berlian kecil yang berkilau di bawah lampu kabin mobil.

Ketika mobil berhenti di pelataran parkir privat sebuah pencakar langit di kawasan bisnis utama, Azahra sudah menjelma menjadi sosok tunangan anggun seorang konglomerat.

Lift khusus membawa Azahra langsung menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka, menyambutnya dengan interior penthouse minimalis modern berskala raksasa yang mendominasi pemandangan kota dari ketinggian.

Di sana, di dekat meja makan panjang berbahan marmer putih, Ethan Austin sedang berdiri. Pria itu tampak sangat tampan dan dingin dalam balutan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan hingga ke siku.

Ethan membalikkan badan saat mendengar langkah kaki Azahra. Mata kelabunya yang tenang dan tajam langsung menyapu penampilan Azahra dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kau terlambat tiga menit," kata Ethan datar, berjalan mendekati Azahra dengan langkah santai namun anggun seperti seekor predator yang sedang mengawasi wilayahnya.

"Maaf... jalanan sangat macet," jawab Azahra lirih, menundukkan kepalanya.

Ethan berhenti tepat di depan Azahra. Pria itu mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh tangan Azahra, melainkan menyentuh helai rambut Azahra yang agak kusut di dekat lehernya. Sentuhan jari Ethan yang dingin membuat Azahra menahan napas seketika.

Ethan mendekatkan wajahnya ke leher Azahra, menghirup udara di sekitar gadis itu secara perlahan. Alis Ethan mendadak bertaut tajam.

"Aroma apa ini?" tanya Ethan dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat berat dan membahayakan.

Jantung Azahra seolah berhenti berdetak saat itu juga.

"A... aroma apa maksudmu, Ethan?" gagap Azahra, mematung di tempatnya.

"Ini bukan parfum yang saya sediakan untukmu," ujar Ethan dingin, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Azahra dengan intimidasi mutlak. "Ini aroma parfum pria. Campuran leather dan tobacco."

Darah di sekujur tubuh Azahra rasanya membeku. Ia lupa! Saat berada di kamar ganti butik tadi, James sempat berdiri sangat dekat dengannya, dan aroma parfum mahal milik CEO Daniel Corp itu rupanya menempel tipis di sekitar pakaian atau kulit lehernya!

Ethan menatap Azahra tanpa berkedip. Cengkeraman jemarinya di dagu Azahra mengencang pelan, tidak menyakiti, namun menyiratkan peringatan bahaya yang teramat sangat.

"Kau ingat isi perjanjian kita pada pasal pertama, Azahra?" bisik Ethan tepat di depan wajahnya, suaranya mengandung ancaman terselubung yang sanggup membekukan darah. "Selama kau memegang status sebagai tunangan pura-pura saya... tidak boleh ada pria lain dalam radius hidupmu. Siapa yang baru saja bersamamu?"

Azahra berdiri kaku di bawah tatapan kelabu Ethan yang menghujam, menyadari sepenuhnya bahwa permainan ganda yang baru ia jalani satu hari ini sudah berada di ambang kehancuran.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!