Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

“Aku selalu benar,” kata Xavier. Dia mengamatiku lalu berganti menatap camilanku dengan sedikit rasa penasaran. “Baiklah. Aku akan mencobanya. Dalam hitungan ketiga.”

Aku hampir saja bertanya apakah dia serius tentang hitungan sampai tiga itu harus sekali di lakukan, sebelum aku teringat bahwa selera humornya lebih tidak berkembang daripada kosakata anak balita.

“Satu,” kataku.

“Dua.” ringisnya, wajahnya serupa dengan wajahku.

“Tiga.”

Aku menyendokkan sesuap es krim ke dalam mulutku bersamaan dengan dia menggigit keripikku.

Keheningan memenuhi ruangan, hanya diinterupsi oleh suara renyahnya makanan dan derung halus dari kulkas.

Aku sudah bersiap-siap menahan rasa mual, tetapi kombinasi es krim vanila Perancis dan kecap asin ini ternyata…

Ini tidak mungkin benar. Mungkin saraf pengecapku yang rusak.

Aku menyendoknya sekali lagi hanya untuk memastikan.

Bibir Xavier melengkung membentuk senyuman puas yang sudah tahu segalanya. “Sudah nambah suapan kedua saja?”

“Jangan merasa sepuas itu. Rasanya tidak se-enak itu, kok,” bohongku.

“Kalau begitu, aku akan mengambil es krimnya kembali......”

“Jangan!” Aku menarik mangkuk itu lebih dekat ke dadaku. “Aku sudah memakannya. Tidak… higienis kalau berbagi makanan. Ambil mangkukmu sendiri.”

Senyum Xavier makin melebar.

Aku mengembuskan napas panjang. “Baiklah. Rasanya memang enak. Kamu senang sekarang?” Aku melemparkan tatapan tajam ke atas meja island. “Aku bukan satu-satunya yang salah, ya. Kamu sudah menghabiskan setengah keripik itu dalam lima menit terakhir.”

“Itu berlebihan.” Dia mencelupkan kombinasi acar dan keripik lainnya ke dalam puding. “Tapi ini memang tidak seburuk yang kubayangkan.”

“Nah, kan? Aku tidak akan pernah menyesatkanmu kalau soal makanan.” Aku menancapkan sendokku ke suapan vanila yang segar dan mulai rileks dalam keakraban yang tak biasa namun terasa menyenangkan di antara kami. Mungkin gencatan senjata ini memang ide yang bagus.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa menemukan kombinasi ini?”

Aku tidak bisa membayangkan Xavier mencoba-coba pasangan makanan yang berbeda di waktu luangnya sampai menemukan kombinasi yang hebat seperti yang kulakukan. Dari apa yang kulihat, dia bahkan hampir tidak punya waktu untuk makan.

Dia hening sejenak sebelum berkata, “Alex dan aku dulu sering menghabiskan waktu di dapur saat masih kecil. Kami punya ruang bermain, meja biliar, semua mainan terbaru… hampir semua hal yang diinginkan anak di bawah usia dua belas tahun. Tetapi terkadang, kami ingin teman selain satu sama lain, dan koki rumah adalah satu dari sedikit orang di kediaman kami yang memperlakukan kami seperti manusia sungguhan. Dia membiarkan kami bermain-main di sana saat dia tidak sedang memasak.” Xavier mengibaskan bahunya. “Kami dulu masih anak-anak. Kami bereksperimen.”

Bagian dalam dadaku terasa hangat membayangkan gambaran Xavier kecil berlarian di dapur bersama adiknya. “Kalian berdua pasti sangat dekat.”

Aku sudah bertemu Alex di pesta pertunangan. Dia cukup sopan, meskipun aku menangkap kesan bahwa dia tidak terlalu senang dengan pernikahanku dan kakaknya. Kami hanya berbicara selama beberapa menit sebelum dia mendadak pamit pergi.

Ekspresi Xavier langsung tertutup rapat. “Tidak sedekat dulu lagi.”

Aku tertegun mendengar nada aneh dalam suaranya. Untuk beberapa alasan, topik tentang adiknya adalah hal yang sensitif.

“Apakah dia bekerja di perusahaan?” aku beranikan diri bertanya saat dia tidak memberikan informasi lebih lanjut.

Aku tidak ingin mendesak Xavier terlalu keras dan membuatnya menutup diri saat kami akhirnya mulai membuat kemajuan, tetapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Aku tidak tahu banyak tentangnya selain apa yang sudah menjadi konsumsi publik.

Dia berasal dari keluarga sangat tua dan sangat kaya yang mengumpulkan kekayaannya dari industri tekstil sebelum kakeknya mendirikan Romanov Group dan mengepakan sayap kekaisaran keluarga hingga menjadi seperti sekarang ini. Dia lulusan terbaik dari Harvard Business School dan telah meningkatkan nilai pasar perusahaannya lima kali lipat sejak mengambil alih posisi sebagai CEO. Dia menyingkirkan para pesaingnya dengan efektivitas yang mengejutkan, baik dengan menghancurkan mereka atau menguasai saham mereka, dan ketegasan tim keamanannya yang tanpa ampun telah melambungkannya ke status yang legendaris.

Aku sempat membaca-baca tentang Xavier saat dia berada di Eropa.

“Dia bekerja di sana sekarang.” Nadanya menyiratkan bahwa perubahan itu bukanlah pilihan Alex. “Dia magang di perusahaan saat kuliah. Itu adalah sebuah bencana, jadi kakek kami mengizinkannya untuk mengejar passionnya alih-alih mengambil peran di korporasi. Kakek sudah memiliki aku sebagai ahli waris, dia tidak membutuhkan Alex. Tetapi memberikan adikku terlalu banyak kebebasan adalah sebuah kesalahan. Alex berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain selama satu dekade. Dia menjadi DJ di satu hari, dan menjadi aktor di hari berikutnya. Dia menghabiskan setengah dari dana perwaliannya untuk sebuah klub malam yang gulung tikar dalam waktu delapan bulan setelah dibuka. Dia membutuhkan stabilitas dan struktur, bukan lebih banyak waktu dan uang untuk dibakar.”

Itu adalah kata-kata terbanyak yang pernah kudengar keluar dari mulut Xavier sejak kami bertemu.

“Jadi kamu memberinya pekerjaan,” simpulku. “Apa yang dia kerjakan sekarang?”

“Salesman.” Ujung bibir Xavier terangkat saat aku memberinya tatapan ragu. “Dia tidak mendapatkan perlakuan khusus hanya karena dia adikku. Saat aku mulai bekerja di Romanov Group, aku bekerja sebagai petugas gudang. Itu adalah salah satu pelajaran terbesar yang diajarkan kakekku padaku. Untuk bisa memimpin sebuah perusahaan, kamu harus mengenali perusahaan tersebut. Setiap seluk-beluknya, setiap posisi, setiap detailnya. Pemimpin yang tidak paham lapangan adalah pemimpin yang akan gagal.”

Entah bagaimana, Xavier selalu berhasil mengejutkanku setiap kali kami berbicara. Aku tadinya mengira dia menjalankan perusahaannya dari atas ke bawah tanpa memedulikan karyawannya dan secara terang-terangan menyalahgunakan nepotisme seperti yang dilakukan banyak rekan sejawatnya, tetapi filosofinya sangat masuk akal.

Karena aku tidak bisa mengatakan hal itu tanpa menyinggung perasaannya, aku tetap bertahan pada topik tentang adiknya.

“Aku merasa Alex tidak menyukaiku,” aku mengakui. “Setiap kali aku mencoba berbicara dengannya di pesta, dia selalu membuat alasan dan langsung pergi.”

Xavier terdiam. Ketegangan menyelimuti udara sejenak sebelum bahunya menjadi rileks dan awan mendung itu menghilang.

“Jangan dimasukkan ke dalam hati. Dia memang sering tidak bersemangat di acara-acara seperti itu.” Xavier dengan mahir mengalihkan topik percakapan. “Bicara soal pesta, kamu belum pernah memberitahuku siapa saja yang ada di daftar suami impianmu.”

Oh, demi Tuhan.

Aku menyebutkan daftar itu hanya sebagai lelucon. Aku tidak tahu kenapa dia begitu terpaku padanya. Tapi karena dia memang penasaran… sebaiknya aku bersenang-senang sedikit.

“Aku akan memberitahumu kalau kamu berjanji tidak akan merasa minder,” kataku manis. Aku menyebutkan nama-nama selebriti favoritku satu per satu. “Nate Reynolds, Asher Donovan, Rafael Pessoa…”

Xavier tampak tidak terkesan. “Aku baru tahu kamu penggemar berat sepak bola.”

Asher Donovan dan Rafael Pessoa keduanya bermain untuk Holchester United di Inggris.

“Aku penggemar pemain sepak bolanya,” koreksiku. “Ada perbedaannya.”

Aku baru pernah menonton total tiga pertandingan olahraga seumur hidupku. Aku hanya menyebutkan Asher dan Rafael karena aku melihat mereka di kampanye iklan kemarin dan nama mereka masih segar di ingatanku.

“Reynolds sudah menikah, dan Donovan serta Pessoa tinggal di Eropa,” kata Xavier dengan suara selembut sutra. “Aku takut kamu tidak beruntung, mia cara.”

“Benar.” Aku mengembuskan napas panjang yang penuh penderitaan. “Kalau begitu, kurasa aku harus puas denganmu saja.”

Sebuah tawa membumbung di tenggorokanku saat matanya menyipit.

“Kamu sedang memancingku.”

“Hanya sedikit.” Tawaku akhirnya pecah melihat wajah bersungut-sungutnya. Aku bisa melihat goresan luka yang sedang terbentuk pada harga dirinya.

Aku tidak memiliki anggapan romantis bahwa dia tertarik pada daftar itu karena dia menyukaiku. Dia hanya benci gagasan bahwa dirinya tidak menjadi nomor satu di daftar siapa pun.

Kami tidak banyak berbicara setelah itu, tetapi keheningan di antara kami terasa tidak setajam seperti pada hari-hari awal pertunangan kami.

Aku mencuri pandang ke arah Xavier saat dia secara metodis meratakan lapisan puding di atas keripik terakhir, dahinya berkerut karena konsentrasi. Itu terlihat aneh tapi menggemaskan.

Aku hampir tertawa lagi ketika membayangkan bagaimana reaksinya jika dia mengetahui ada orang yang menggambarkan dirinya sebagai sosok yang menggemaskan.

Aku menyembunyikan senyumku sambil mengaduk sendokku di dalam es krim yang mulai meleleh. Aku mendadak merasa bersyukur bahwa aku tidak bisa tidur tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!