Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Keluarga
Sementara penyelidikan mengenai sumber rumor di Aether Global Group masih berlangsung, Amara dan Leon memutuskan untuk mengambil waktu sejenak dari kesibukan mereka.
Mereka memilih Swiss sebagai tujuan. Bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk menikmati waktu sebagai pasangan yang baru saja menikah.
Leon bahkan sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Villa pribadi di tepi danau. Pengamanan berlapis, dokter pribadi dan chef khusus, serta kendaraan yang siap digunakan kapan saja.
Namun ada satu hal yang membuat rencana bulan madu mereka sedikit berubah. Keluarganya juga ikut.
Kakak Amara tidak bisa bergabung karena belum waktunya mengambil cuti tahunan. Ia hanya bisa mengirim pesan sebelum keberangkatan dan berjanji akan ikut pada kesempatan lain.
Akhirnya, rombongan yang berangkat tetap cukup besar. Amara dan Leon, Arsen bersama Elena, Raka bersama Hana, Nayla bersama Kael, serta dua keponakan kesayangan Amara, yaitu Susan dan Gilberth.
Belum lagi beberapa staf pribadi dan pengawal yang membuat perjalanan mereka terlihat seperti rombongan pejabat negara.
Pagi itu, area keberangkatan privat sudah dipenuhi koper. Gilberth berdiri di depan tumpukan koper hitam sambil menatapnya dengan wajah tidak percaya.
“Om.”
Leon menoleh.
“Apa?”
“Kita pergi berapa hari?”
“Tiga.”
Gilberth menunjuk koper yang memenuhi ruangan.
“Cuma tiga hari, kenapa barang Om sebanyak itu?”
Leon menjawab datar.
“Kebutuhan penting.”
Susan yang kebetulan lewat langsung tertarik.
“Kebutuhan penting apa?”
Leon diam. Susan membuka salah satu koper yang berada paling dekat dengannya. Begitu tutupnya terbuka, ia langsung membelalakkan mata.
“OH ASTAGA!”
Semua orang menoleh.
Gilberth mendekat.
“Apa?”
Susan mengangkat satu botol.
“Wine.”
Gilberth mengambil botol itu.
“Banyak banget!”
Leon langsung mengambilnya kembali dan menutup koper.
“Itu kebutuhan penting.”
Semua langsung tertawa. Amara bahkan sampai menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawa.
Gilberth masih belum menyerah.
“Om, kita mau temani Om bulan madu atau buka restoran?”
Leon menatapnya datar.
“Kalau kau terus bicara, kau tidak perlu ikut.”
Gilberth langsung mengangkat kedua tangan.
“Baik. Aku diam.”
Arsen yang berdiri tidak jauh dari sana hanya menggeleng.
“Elena.”
“Hm?”
“Kenapa aku merasa liburan ini akan lebih melelahkan daripada bekerja?”
Elena tersenyum.
“Karena keluarga kita memang seperti itu.”
Perjalanan menuju Swiss berlangsung cukup nyaman.
Begitu mereka tiba, kendaraan langsung membawa seluruh rombongan menuju villa pribadi yang berada di kawasan tenang dengan pemandangan pegunungan bersalju dan danau luas di kejauhan.
Begitu pintu kendaraan terbuka, udara dingin langsung menyambut mereka.
Gilberth menarik napas panjang.
“Dingin.”
Susan tertawa.
“Makanya pakai jaket.”
“Aku pikir Swiss romantis.”
“Romantis bukan berarti tidak dingin.”
Gilberth mengangguk serius.
“Benar juga.”
Di depan mereka berdiri sebuah villa besar dengan dinding kaca dan kayu. Dari balkon lantai atas, pemandangan danau terlihat begitu jelas. Pegunungan putih berdiri megah di kejauhan.
Nayla berjalan perlahan sambil memandang sekeliling.
“Indah sekali.”
Kael berdiri di sampingnya.
“Kalau kau suka, kita bisa jalan-jalan besok.”
Nayla menoleh.
“Kamu mau?”
Kael mengangguk.
“Kenapa tidak?”
Nayla tersenyum kecil.
Sementara itu, Amara berdiri di depan pintu villa. Leon datang membawa dua tas.
“Kau tidak kedinginan?”
Amara menggeleng.
“Aku baik-baik saja.”
Leon menatapnya beberapa detik. Kemudian mengambil syal dari salah satu tas dan melilitkannya di leher Amara.
“Aku tidak bertanya apakah kau baik-baik saja.”
Amara mengangkat alis.
“Aku hanya memastikan.”
Amara tersenyum.
“Kau semakin cerewet setelah menikah.”
Leon mendekat sedikit.
“Aku suamimu.”
“Lalu?”
“Jadi aku berhak cerewet.”
Amara tertawa. Dari belakang, Nayla yang melihat mereka langsung berbisik kepada Elena.
“Lihat.”
Elena tersenyum.
“Biarkan.”
“Mereka berdua lucu.”
Leon tiba-tiba menoleh.
“Kalian membicarakan apa?”
Nayla langsung menggeleng.
“Tidak ada.”
Leon menyipitkan mata. Amara justru tertawa.
Pagi pertama di Swiss terasa jauh lebih tenang. Tidak ada rapat, tidak ada laporan, dan tidak ada telepon dari direksi.
Tidak ada orang yang datang membawa masalah perusahaan.
Amara duduk di balkon mengenakan sweater putih sederhana. Tangannya menggenggam secangkir kopi hangat. Ia memandang danau yang masih diselimuti kabut tipis. Untuk beberapa saat, semuanya terasa begitu damai.
Leon keluar membawa selimut. Ia meletakkannya di pundak Amara.
“Masih dingin?”
“Sedikit.”
“Aku sudah bilang.”
Amara menatapnya.
“Jangan mulai.”
Leon duduk di sampingnya.
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Kau mau mengatakan aku keras kepala.”
Leon tersenyum.
“Karena kau memang keras kepala.”
Amara menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Leon.
“Dan kau masih mencintaiku.”
“Sayangnya.”
Amara tertawa kecil.
“Sayangnya?”
Leon menoleh.
“Bukan sayangnya.”
Ia menggenggam tangan Amara.
“Untungnya.”
Amara tersenyum. Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit. Dari dalam villa terdengar suara Gilberth.
“OM LEON!”
Leon menutup mata. Amara langsung tertawa. Gilberth muncul dari pintu balkon.
“Breakfast!”
Leon menatapnya.
“Kau bisa makan tanpa memanggilku.”
Gilberth menunjuk meja makan.
“Tapi chef membuat terlalu banyak.”
Leon menghela napas.
“Pergilah.”
Gilberth pergi sambil tertawa. Amara masih tersenyum.
“Bulan madu kita sepertinya tidak akan tenang.”
Leon memandangnya.
“Aku baru sadar.”
“Menyesal?”
Leon menggeleng.
“Tidak.”
Ia kembali menatap keluarganya yang mulai memenuhi ruang makan.
“Justru aku suka.”
Amara terdiam sesaat. Kemudian tersenyum.
Hari itu mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar kawasan villa.
Arsen dan Elena lebih banyak menikmati suasana bersama. Raka dan Hana sibuk berdebat mengenai rencana perjalanan.
“Kita ke desa dulu.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kita sudah punya jadwal ke danau.”
“Jadwal itu bisa berubah.”
“Kalau semua berubah, buat apa kita membuat jadwal?”
Hana menatap Raka.
“Kamu terlalu serius.”
Raka menghela napas.
“Kamu terlalu spontan.”
Amara yang kebetulan berjalan melewati mereka berhenti.
“Kalian sedang bertengkar?”
“Tidak,” jawab keduanya bersamaan.
Amara tersenyum.
“Kalian romantis sekali.”
Hana langsung diam. Raka memalingkan wajah. Leon yang mendengar percakapan itu tertawa kecil.
“Anakmu semakin mirip ibunya.”
Amara menoleh.
“Dalam hal apa?”
“Suka membuat orang tidak nyaman.”
Amara mencubit lengannya.
“Diam.”
Tidak jauh dari sana, Nayla dan Kael berjalan lebih santai. Nayla beberapa kali berhenti mengambil foto pemandangan. Kael hanya menunggu.
Ketika angin semakin dingin, ia mengambil sarung tangan dari sakunya dan memberikannya kepada Nayla.
“Pakai.”
Nayla menatapnya.
“Kamu?”
“Aku tidak apa-apa.”
Nayla tersenyum.
“Terima kasih.”
Kael mengangguk.
Sementara Gilberth justru sibuk membuat kekacauan kecil dengan Susan. Ia melempar sedikit salju ke arah Susan.
Susan langsung membalas.
Dalam beberapa detik, keduanya sudah seperti anak kecil.
“Gilberth!”
“Hahaha!”
Arsen yang melihat dari kejauhan hanya menggeleng.
“Aku tidak percaya.”
Elena tertawa.
“Biarkan saja.”
Malam harinya, salju turun. Perapian besar di ruang utama dinyalakan. Seluruh keluarga berkumpul di sana dengan pakaian santai.
Gilberth bermain kartu bersama Leon. Namun Susan langsung menunjuk kartu di tangannya.
“Kau curang.”
“Aku tidak curang.”
“Kau menyembunyikan kartu.”
“Itu strategi.”
Leon menatapnya.
“Itu curang.”
Gilberth menghela napas.
“Om juga ikut menyalahkan aku?”
“Karena memang curang.”
Semua tertawa. Di sisi lain, Arsen duduk bersama Elena. Sesekali ia membantu mengurus anak mereka yang mulai mengantuk.
Raka dan Hana masih memperdebatkan perjalanan besok.
Nayla duduk dekat perapian. Kael mengambil selimut yang hampir jatuh dari bahunya dan membetulkannya.
Amara hanya duduk diam dan memperhatikan semuanya. Tawa, percakapan, kehangatan.
Tidak ada seorang pun yang membicarakan bisnis. Tidak ada yang membahas dunia bawah tanah.
Leon memperhatikan wajah istrinya.
“Kau bahagia?”
Amara menoleh.
“Ya.”
Leon tersenyum. Kemudian bersandar di kursinya.
“Dulu aku tidak pernah membayangkan hidup seperti ini.”
Amara menatapnya.
“Hidup bagaimana?”
Leon memandang sekeliling.
“Berisik.”
Semua langsung memprotes.
“OM LEON!”
“Kami tidak berisik!”
“Ini namanya suasana keluarga!”
Leon dan Amara tertawa.
Dan malam itu terasa begitu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, momen itu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beberapa saat kemudian, Gilberth yang sudah lebih tenang tiba-tiba bertanya.
“Aunty.”
Amara menoleh.
“Hm?”
“Kalau suatu hari dunia bawah tanah hancur…”
Ruangan perlahan menjadi sunyi.
Gilberth melanjutkan.
“Aunty bakal nyesel?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Leon menatap Amara. Arsen dan Raka berhenti berbicara. Nayla juga menoleh.
Amara memandang api perapian cukup lama.
Pertanyaan itu sederhana. Namun jawabannya membawa perjalanan hidup yang sangat panjang.
Ia pernah kehilangan. Pernah dikhianati. Pernah hidup dalam ketakutan. Pernah membangun sesuatu yang begitu besar hanya agar keluarganya tidak lagi hidup dalam kelemahan.
Dan sekarang, ia memiliki semuanya di depan mata.
Amara tersenyum kecil.
“Tidak.”
Gilberth mengernyit.
“Kenapa?”
Amara memandang satu per satu wajah keluarganya.
“Karena akhirnya aku sadar…”
Ia berhenti sebentar.
“Semua yang kubangun sebenarnya hanya untuk sampai ke momen seperti ini.”
Tidak ada yang berbicara. Kalimat itu sederhana. Namun membuat ruangan terasa semakin hangat.
Leon meraih tangan Amara. Wanita itu menggenggamnya kembali.
Di luar, salju terus turun. Dunia di luar sana mungkin masih mengenal Amara sebagai Madam A. Seorang perempuan yang memiliki kekuasaan besar. Seorang wanita yang namanya mampu membuat banyak orang berhati-hati.
Namun malam itu, di sebuah villa kecil di Swiss, semua gelar itu tidak berarti apa-apa. Ia hanya seorang perempuan yang duduk bersama orang-orang yang dicintainya.
Dan Leon menyadari satu hal.Mungkin inilah bulan madu yang sebenarnya. Bukan ketika mereka berdua berjalan di tepi danau. Bukan ketika mereka menikmati makan malam dalam suasana romantis. Tetapi ketika ia melihat istrinya tersenyum di tengah keluarga yang berhasil mereka bangun bersama.
Leon menggenggam tangan Amara sedikit lebih erat.
Amara menoleh.
“Apa?”
Leon tersenyum.
“Tidak ada.”
“Kok senyum?”
“Tidak boleh?”
Amara ikut tersenyum.
“Boleh.”
Di luar jendela, salju terus turun perlahan.