Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Ayah yang Kehilangan Putrinya
"SERAHKAN DILA!"
Suara Sekar mengoyak keheningan dari balik pintu kayu yang sudah lapuk. Teriakannya tidak hanya marah, ada kepanikan di dalamnya.
Di dalam rumah persinggahan itu, Dila berdiri kaku. Darah di wajahnya seolah surut.
Sebelum ia sempat bereaksi, Fadil sudah bergerak. Ia menarik Dila ke belakang tubuhnya, satu tangannya mengunci pergelangan istrinya dengan erat.
"Jangan lepas dari aku," bisik Fadil.
Azam tidak panik. Dengan satu isyarat mata, ia memerintahkan Laras untuk memeriksa akses keluar. Laras mengangguk dan bergerak senyap ke arah pintu belakang.
Hanya Jatmiko yang tetap berdiri di tempatnya. Tenang. Terlalu tenang. Kedua tangannya mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sekar..." gumam Jatmiko, nama itu keluar seperti luka lama yang kembali menganga.
Dila menatap lelaki yang baru beberapa menit lalu ia berani sebut Ayah.
"Dia benar-benar ingin menangkap saya?"
Jatmiko menoleh pada putrinya. Sorot matanya yang tadi penuh haru kini berubah menjadi tajam dan waspada.
"Bukan hanya dia, Dila."
"Lalu siapa lagi?"
"Orang-orang yang selama dua puluh delapan tahun memastikan kamu tidak akan pernah tahu siapa dirimu sebenarnya."
Dila menelan ludah, tenggorokannya kering. "Termasuk... orang yang membunuh Ibu?"
Jatmiko terdiam. Bahunya turun. Kesedihan yang ia tahan selama puluhan tahun akhirnya terlihat jelas.
"Ya."
BRAK!
Pintu depan kembali digedor, kali ini jauh lebih keras. Debu dari kusen berjatuhan.
Dila tersentak dan secara refleks mencengkeram baju Fadil.
Azam menatap kakaknya. "Kita tidak punya banyak waktu, Mas."
Jatmiko mengangguk tegas. "Bawa Dila lewat belakang. Aku akan tahan mereka di sini."
"Tidak," potong Azam cepat.
Jatmiko menatap adiknya. "Zam."
"Dua puluh delapan tahun lalu aku gagal melindungi Kak Larasati. Aku membiarkanmu pergi sendirian. Aku membiarkan semuanya terjadi," suara Azam yang biasanya datar kini terdengar berat dan retak. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tidak kali ini."
Dila terdiam. Di tengah ketakutan itu, untuk pertama kalinya ia melihat bukan dua pebisnis kaya raya, melainkan dua kakak beradik yang dipisahkan oleh rasa bersalah dan sebuah tragedi yang belum pernah sembuh.
Pintu belakang berderit terbuka. Laras memberi isyarat cepat dengan tangannya.
"Aman. Lewat kebun singkong, ada celah pagar."
Azam langsung mengambil alih. "Dila, Fadil, ikut saya sekarang."
Namun kaki Dila tidak bergerak. Ia menatap Jatmiko yang masih berdiri di dekat pintu depan, siap menjadi tameng.
Kata itu keluar begitu saja dari bibirnya, tanpa ia rencanakan.
"Ayah..."
Jatmiko membeku. Matanya yang sudah renta itu langsung berkaca-kaca. Satu kata itu menghancurkan seluruh pertahanan yang ia bangun selama dua puluh delapan tahun.
Dila sendiri terkejut karena menyebutnya demikian. Air matanya jatuh.
"Ayah..." ulangnya, kali ini lebih pelan, lebih jujur.
Jatmiko tersenyum, senyum kecil yang penuh luka. "Ya, Nak?"
"Kenapa Ayah tidak pernah mencari aku?" tanya Dila, suaranya pecah. Pertanyaan seorang anak kecil yang ditinggalkan.
Jatmiko menunduk, menatap lantai. "Karena Ayah pikir kamu sudah meninggal, Dila. Seseorang yang sangat Ayah percaya datang dan berkata bahwa kamu tidak sempat lahir. Bahwa kamu pergi bersama ibumu."
"Siapa yang bilang begitu? Siapa?"
"Nanti," Jatmiko memegang kedua bahu putrinya. Tangannya kasar dan dingin, tapi genggamannya begitu hangat. "Dengarkan Ayah. Kalau kamu ingin tahu semuanya, kamu harus tetap hidup dulu. Kamu mengerti?"
"Ay... aku sudah menunggu seumur hidup tanpa tahu Ayah itu ada."
"Ayah juga," bisik Jatmiko, suaranya bergetar. "Ayah menunggu setiap hari selama dua puluh delapan tahun, memanggil namamu di dalam doa tanpa pernah tahu apakah kamu mendengarnya."
Dila tidak tahan lagi. Ia memeluk Jatmiko erat.
Jatmiko sempat terdiam kaku, seolah lupa bagaimana rasanya dipeluk. Lalu perlahan, kedua tangannya yang gemetar itu membalas pelukan putrinya. Pelukan pertama seorang ayah kepada anak yang selama ini ia yakini telah tiada.
"Maafkan Ayah," bisik Jatmiko di atas kepala Dila.
"Aku tidak tahu harus memaafkan siapa," isak Dila di dadanya.
Jatmiko mengusap rambutnya dengan lembut. "Kalau begitu jangan memaafkan siapa pun dulu. Cari kebenarannya. Setelah itu, kamu putuskan sendiri siapa yang pantas kamu maafkan."
Mereka akhirnya menyelinap keluar melalui pintu belakang.
Baru beberapa meter melintasi kebun yang gelap dan lembap, Laras tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Tubuhnya menegang.
"Jangan bergerak."
Dari balik tembok pembatas, dua pria bertubuh besar muncul dengan senter.
Azam bergerak lebih dulu. Tanpa suara, ia menyergap. Perkelahian singkat yang senyap terjadi. Azam berhasil menghindari satu pukulan dan menjatuhkan salah satunya.
Fadil menarik Dila ke belakang sebuah pohon mangga.
"Dila, mundur!"
Dila melihat semua itu dengan jantung berdebar hingga sakit. Beberapa hari lalu hidupnya hanya tentang tagihan listrik dan belanjaan pasar. Kini hidupnya tentang pelarian dan identitas yang bahkan tidak pernah ia minta.
Salah satu pria yang lolos dari Azam melihat Dila dan berlari ke arahnya.
"Dila!"
"MAS!" Dila berteriak.
Fadil tanpa berpikir langsung mendorong tubuh istrinya menjauh dan menahan pria itu dengan bahunya. Sebuah pukulan keras mendarat di pelipis Fadil.
Fadil terjatuh ke tanah.
"Mas Fadil!" Dila berlari menghampirinya, lututnya kotor oleh tanah.
Fadil meringis, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Ia mencoba tersenyum untuk menenangkan istrinya.
"Aku tidak apa-apa."
Dila melihat darah itu dan air matanya tumpah deras. Ia memegang wajah suaminya dengan kedua tangan.
"Kenapa Mas selalu melindungi aku seperti ini? Kenapa harus Mas yang kena?"
Fadil menatap mata istrinya yang penuh air mata, dan menjawab dengan jawaban yang paling sederhana dan paling jujur di dunia.
"Karena aku suamimu, Dila. Itu tugas ku."
Di belakang mereka, Azam berhasil membuat kedua pria itu kabur terbirit-birit ke arah jalan.
Laras berlari menghampiri mereka. "Pak Azam, kita harus pergi sekarang juga sebelum mereka kembali dengan lebih banyak orang!"
Azam mengangguk. Mereka berlari menuju mobil tua yang sudah menunggu di ujung gang. Jatmiko duduk di kursi depan. Dila dan Fadil di belakang. Sepanjang perjalanan yang guncang itu, Dila tidak pernah melepaskan tangan Fadil yang berlumuran tanah dan darah.
Setelah hampir satu jam berkendara memutar, mereka berhenti di sebuah rumah yang sangat sederhana di pinggiran sawah. Jauh dari kemegahan kediaman keluarga Wiratama.
Catnya mengelupas, halamannya hanya tanah yang ditumbuhi rumput liar.
"Ini rumah siapa?" tanya Dila pelan.
Jatmiko mematikan mesin mobil dan menatap rumah itu dengan tatapan kosong yang penuh kenangan.
"Rumah Ayah," jawabnya. "Di sinilah Ayah tinggal setelah kehilangan ibumu. Setelah semua orang menganggap Ayah juga sudah mati."
Mereka masuk. Di dalamnya hanya ada ruang tamu sempit, dapur kecil, dua kamar tidur, dan sebuah ruang kerja yang penuh dengan tumpukan kertas.
Namun anehnya, Dila merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan di rumah-rumah mewah Wiratama. Aroma kayu tua dan buku-buku lama.
Matanya tertuju pada sebuah rak kayu di sudut ruangan. Di atasnya ada beberapa bingkai foto yang berdebu.
Ia mengambil salah satunya. Foto Larasati. Masih sangat muda, tertawa lepas sambil menggendong seorang bayi.
"Ibu..." bisik Dila.
Jatmiko berdiri di belakangnya.
"Ibumu sangat menyayangimu, Dila. Lebih dari nyawanya sendiri."
"Apakah dia pernah bercerita tentang aku?"
"Setiap hari," Jatmiko duduk di kursi reot di sebelahnya. "Dia bilang kamu anak yang keras kepala. Kalau sudah mau sesuatu, tidak akan berhenti sebelum dapat."
Dila tertawa kecil di sela tangisnya. "Benarkah?"
"Dan mudah menangis. Persis seperti sekarang."
Dila menatap ayahnya, lalu mengangguk. "Yang terakhir itu benar."
Jatmiko ikut tersenyum, untuk pertama kalinya senyum yang tulus. "Dia juga bilang satu hal lagi. Dia bilang, kamu akan menjadi perempuan yang jauh lebih kuat dari kami berdua."
Dila terdiam. Kata-kata itu terasa begitu berat.
"Ayah percaya itu?"
"Sangat," jawab Jatmiko mantap. "Dan kamu sedang membuktikannya sekarang."
Malam semakin larut. Fadil beristirahat di kamar depan, lukanya sudah dibersihkan dan dikompres oleh Laras.
Azam duduk di teras luar, menatap sawah yang gelap, sebatang rokok yang tidak ia nyalakan ada di antara jarinya.
Dila berada di ruang kerja bersama Jatmiko. Di atas meja kayu ada beberapa dokumen lama yang sudah menguning.
Jatmiko mengambil sebuah map kain yang sudah usang.
"Ini milik ibumu. Dia titipkan padaku sehari sebelum... sebelum hari itu."
Dila menerimanya dengan hati-hati. "Boleh aku buka?"
"Buka."
Di dalamnya ada beberapa pucuk surat tulisan tangan.
Dila membaca surat pertama, tulisan Larasati yang halus namun tergesa-gesa.
Untuk Jatmiko,
Jika suatu hari sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan anak kita jatuh ke tangan keluarga Wiratama. Selamatkan dia.
Napas Dila tercekat. "Kenapa Ibu begitu takut pada keluarganya sendiri? Keluarga Ayah?"
Jatmiko menghela napas panjang. "Karena dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui."
"Apa?"
"Larasati menemukan bahwa ada seseorang yang menggunakan perusahaan keluarga untuk mencuci uang hasil kejahatan. Jumlahnya miliaran."
Dila terkejut. "Siapa?"
"Dia tidak pernah menulis namanya di surat. Dia takut kalau surat itu ditemukan orang lain."
Dila membuka surat kedua, tulisannya lebih berantakan, seolah ditulis dengan panik.
Aku menemukan bukti bahwa seseorang di dalam keluarga kita bekerja sama dengan pihak luar. Aku belum tahu siapa dalangnya.
Tapi aku tahu satu hal. Mereka tidak menginginkan anak kita hidup, Jatmiko. Mereka mengincar dia.
Tangan Dila gemetar hebat hingga surat itu hampir terjatuh.
"Aku? Mereka ingin membunuhku? Sejak aku masih bayi?"
Jatmiko mengangguk, matanya penuh kebencian yang ditahan. "Ya. Karena kamu adalah satu-satunya pewaris sah yang lahir dari pernikahan kami. Jika kami memiliki anak, posisi Ayah sebagai pewaris utama akan semakin kuat dan tidak tergoyahkan. Mereka takut itu."
"Jadi semua ini karena warisan?" Dila menggeleng tidak percaya.
"Awalnya mungkin iya. Tapi ada alasan lain yang jauh lebih berbahaya."
"Apa?"
"Ibumu menemukan sebuah buku. Buku catatan transaksi asli. Bukan yang palsu yang ada di kantor."
"Di mana buku itu sekarang?"
Jatmiko menggeleng. "Tidak tahu. Dia menyembunyikannya sehari sebelum kecelakaan itu. Dia hanya sempat berkata, 'Aku titipkan pada masa depan'."
Dila tiba-tiba teringat sesuatu. Jantungnya berdegup kencang.
"Surat yang diberikan Azam padaku dulu... surat yang alamatnya untuk seseorang bernama Dila. Surat yang disegel."
Wajah Jatmiko berubah tegang. "Azam memilikinya?"
"Iya. Dia bilang hanya aku yang boleh membukanya."
Jatmiko terdiam lama, tatapannya kosong menembus dinding. "Berarti... akhirnya Azam menemukan surat itu. Surat terakhir Larasati."
Di luar rumah, angin sawah berembus dingin.
Azam masih duduk di teras. Laras menghampirinya membawa dua gelas teh hangat.
"Bagaimana keadaan Fadil?" tanya Azam tanpa menoleh.
"Sudah lebih baik. Lukanya tidak dalam."
Azam mengangguk pelan.
"Kita harus menjaga mereka dengan lebih ketat mulai sekarang."
Laras menatap Azam lama, lalu memberanikan diri bertanya, "Pak... boleh saya bertanya sesuatu yang pribadi?"
"Silakan."
"Kenapa Bapak begitu melindungi Dila? Saya sudah lama bekerja untuk Bapak. Saya tahu Bapak bukan tipe orang yang mudah tersentuh."
Azam diam.
Laras tersenyum kecil, pahit. "Ini bukan lagi soal kontrak itu, kan, Pak?"
Azam menatap ke dalam rumah. Dari celah jendela, ia bisa melihat Dila yang sedang menangis sambil membaca surat ibunya, ditemani Jatmiko.
"Awalnya memang karena kontrak," jawabnya akhirnya, jujur. "Aku butuh dia untuk sebuah tujuan."
"Sekarang?"
Azam tidak menjawab selama beberapa detik.
Laras sudah memahami jawabannya bahkan sebelum diucapkan.
"Bapak mencintainya."
Azam menghela napas panjang, asap yang tidak ada itu seolah keluar dari mulutnya.
"Dia sudah menikah, Laras. Dan aku sangat menghormati pernikahan itu. Aku menghormati Fadil."
"Tapi?"
"Tapi hati tidak pernah mau diajari soal aturan, Laras," ucap Azam dengan senyum pahit yang menyakitkan.
Laras terdiam. Ia tidak melanjutkan pertanyaan itu.
Pagi berikutnya, Dila terbangun lebih awal.
Ia keluar kamar dan melihat Fadil di dapur kecil, sedang mencoba membuat kopi dengan satu tangan sambil memegang luka di pelipisnya.
"Mas?" panggil Dila.
Fadil menoleh dan tersenyum. "Bangun, Sayang?"
Dila berjalan mendekat dan memperhatikan wajah suaminya. Luka itu membiru.
"Katanya tidak parah? Ini bengkak begini."
"Sedikit saja," Fadil berbohong dengan wajah datar.
"Mas bohong lagi."
Kali ini Dila tidak marah. Ia mengambil tangan Fadil dan menggenggamnya erat.
"Terima kasih," bisiknya.
"Untuk apa?"
"Untuk semalam. Untuk selalu di depan aku."
Fadil menatap istrinya dalam. "Aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa, Dila. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang suami."
"Buatku, itu istimewa. Sangat istimewa."
Dila memeluk suaminya dari belakang. Fadil membalas pelukan itu.
Dari teras, Azam melihat pemandangan itu. Ia hanya melihatnya sekilas, lalu segera mengalihkan pandangan ke sawah, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tidak boleh ia tunjukkan.
Beberapa jam kemudian, mereka semua berkumpul di ruang tamu.
Jatmiko membawa sebuah kotak kayu jati kecil yang terkunci. Ukirannya sudah usang.
"Dila," panggilnya. "Ini milik ibumu. Dia ingin kamu memilikinya saat usiamu dua puluh lima tahun. Maaf, Ayah baru bisa memberikannya sekarang."
Dila menerima kotak itu dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar.
"Buka ketika kamu sudah siap."
Dila membuka pengaitnya yang berkarat. Di dalamnya, di atas kain beludru merah yang sudah pudar, tergeletak sebuah kalung.
Dila langsung mengenalinya. Liontinnya berbentuk bunga kecil.
"Ini... ini seperti kalung yang pernah diberikan Azam padaku dulu?"
Jatmiko menggeleng. "Bukan. Yang diberikan Azam itu replikanya. Yang ini... yang asli. Milik ibumu."
Jatmiko menunjuk liontin itu. "Buka bagian belakangnya. Ada celah kecil."
Dila meraba dan menemukan celah itu. Ia menekannya dengan kuku jarinya.
Klik.
Bagian belakang liontin terbuka. Di dalamnya bukan mesin jam, melainkan sebuah potongan foto yang sangat kecil, sudah menguning, dan selembar kertas yang dilipat begitu kecil.
Foto seorang bayi yang dibedong kain putih.
"Itu... aku?" tanya Dila dengan suara bergetar.
"Ya. Kamu, tiga hari setelah lahir."
Di balik foto itu, ada tulisan tangan Larasati yang sangat kecil.
Untuk putriku, Dila.
Jika suatu hari kamu membaca ini, berarti Ibu gagal menjagamu.
Jangan pernah percaya siapa pun yang mengatakan Ayahmu meninggalkan kita. Ayahmu tidak pernah meninggalkan kita. Dia dikhianati.
Dan orang yang mengkhianati ayahmu... masih hidup.
Air mata Dila jatuh membasahi kalung itu.
"Ayah..." Dila mengangkat wajahnya, menatap Jatmiko dan Azam bergantian. "Siapa? Siapa yang mengkhianati Ayah?"
Jatmiko menatap Azam. Azam terlihat sama terkejutnya.
"Aku sudah lama mencurigainya, Zam," kata Jatmiko pelan. "Tapi aku butuh bukti."
"Siapa?" desak Dila.
Jatmiko membuka mulut untuk menjawab.
Namun tepat pada saat itu...
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu depan. Tiga kali. Sopan, pelan, namun membuat semua orang di ruangan itu membeku seketika.
Laras dengan sigap bergerak ke monitor CCTV kecil yang terpasang di sudut ruangan.
Wajahnya seketika pucat pasi.
"Pak..."
"Siapa?" tanya Azam waspada.
Laras menelan ludah, suaranya hampir tidak terdengar.
"Yang datang... Bu Ratih."
Dila langsung berdiri. "Ibu Azam? Ibu kandung Azam?"
Laras mengangguk, tapi matanya masih terpaku pada layar.
"Tapi... dia tidak sendirian."
Di belakang Bu Ratih yang tampak menangis, berdiri Sekar dengan senyum kemenangan yang dingin.
Dan di belakang mereka berdua, berdiri seorang pria tua berjas rapi, dengan tongkat di tangannya, yang selama ini tidak pernah Dila lihat.
Jatmiko yang melihat sosok itu di layar langsung berdiri. Wajahnya yang tadi sudah pucat kini seputih kertas.
"Tidak mungkin..." bisiknya dengan suara bergetar hebat.
Dila menatap ayahnya panik. "Siapa dia, Ayah?"
Jatmiko menjawab dengan suara yang nyaris hilang,
"Dia adalah orang yang selama ini kami cari. Orang yang membuat semua ini terjadi."
Pintu depan terbuka perlahan dari luar, seolah pemilik rumah sudah tidak punya hak atas rumahnya sendiri.
Pria tua itu masuk lebih dulu. Ia menatap Jatmiko, lalu tersenyum tipis, senyum yang sangat dingin.
"Sudah lama sekali, Jatmiko."
Dila menatap pria itu dengan bingung.
Azam langsung berdiri dari kursinya, wajahnya menegang.
"Paman... Paman Bagaskara..."
Pria itu adalah Bagaskara Wiratama, adik kandung dari ayah Jatmiko dan Azam. Paman mereka sendiri.
Bagaskara berjalan mendekat, matanya tidak lepas dari Dila.
"Dila," ucapnya lembut, seolah sudah mengenalnya seumur hidup. "Kamu sudah besar sekarang, ya."
Dila mundur selangkah, terkejut. "Bagaimana Anda tahu nama saya?"
Bagaskara tersenyum, senyum seorang kakek yang penuh kasih sayang — yang justru membuat bulu kuduk Dila berdiri.
"Karena Paman sudah mengenalmu sejak kamu masih bayi merah. Paman yang menggendongmu pertama kali setelah Larasati melahirkanmu."
Jatmiko langsung melangkah maju, berdiri di depan Dila, menjadi tameng hidup.
"Jangan mendekat, Bagaskara!"
Bagaskara tertawa pelan. "Masih sama seperti dulu. Selalu reaktif, Jatmiko."
"Kau yang menghancurkan keluargaku! Kau yang menghancurkan hidupku!" bentak Jatmiko, air matanya akhirnya tumpah.
Bagaskara menggeleng pelan, tatapannya berubah dingin menusuk.
"Tidak, Jatmiko. Bukan Paman yang menghancurkan keluargamu. Keluargamu sendiri yang menghancurkan dirinya sendiri karena keserakahan."
Dila menatap pria tua itu dengan kebencian yang mulai membakar dadanya.
"Apakah Anda... apakah Anda yang membunuh ibu saya?" tanyanya, suaranya bergetar hebat menahan amarah.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas.
Bagaskara menatap Dila lekat-lekat, lalu tersenyum tipis yang mengerikan.
"Tidak, Sayang. Paman tidak membunuh ibumu."
Dila terkejut. "Lalu siapa?"
Bagaskara tidak menjawab. Ia perlahan mengalihkan pandangannya... kepada perempuan yang berdiri di belakangnya sambil terisak.
Kepada Bu Ratih.
Semua mata di ruangan itu ikut beralih kepada Bu Ratih.
Bu Ratih menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat karena tangisan.
Bagaskara melanjutkan dengan suara yang tenang namun mematikan,
"Tanyakan kepada ibumu sendiri, Dila."
Dila membeku. "Ibu? Ibu yang mana?"
Bagaskara melanjutkan kalimatnya yang menggantung,
"Karena orang yang mengkhianati Larasati... orang yang menyerahkan bukti itu... yang membiarkan Larasati celaka..."
Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap kata meresap.
"...bukan orang asing, Dila."
Tatapan Bagaskara kini terkunci pada sosok Bu Ratih yang menangis ketakutan.
"Dia adalah orang yang paling dipercaya Larasati di dunia ini. Sahabatnya sendiri."
Dan untuk pertama kalinya, Dila melihat ketakutan yang sesungguhnya, penyesalan yang sesungguhnya, di mata perempuan yang selama ini ia kenal sebagai ibu dari Azam.
Bersambung...