Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 - impian ku mendapatkan orang tulus

Indah kini berada di ruangan nomor dua, tengah memeriksa kondisi ibu pasiennya. Ternyata kebetulan yang luar biasa—wanita yang terbaring lemah itu adalah Tante Maya, sahabat dekat ibunya sendiri. Beliau selalu begitu ramah dan baik kepadaku sejak dulu.

Saat itulah aku tersentak menyadari sepenuhnya—pria yang baru saja kutemui di lorong tadi adalah Rizki. Ia berubah begitu drastis; kini terlihat jauh lebih dewasa, tampan, dan memancarkan wibawa yang kuat. Aku baru teringat kembali bahwa ia adalah Rizki, CEO dari Grup pratama dengan karir yang sudah menjulang tinggi. Tentu saja, ia adalah sosok laki-laki idaman yang sempurna di mata siapa pun.

Indah melihat Tante Maya perlahan membuka mata. Segera ia mendekat dengan senyum hangat.

"Tante sudah bangun... Jangan banyak bergerak dulu ya, luka bekas operasinya belum sepenuhnya pulih," ucapnya lembut namun tegas.

"Baik, Indah. Kamu sendirian yang jaga di sini?" tanya Tante Maya pelan.

"Kebetulan hari ini jadwal saya memeriksa Tante."

"Indah... apakah tadi kamu melihat Rizki ada di sini?" tanyanya dengan nada rindu.

"Oh, Rizki ya, Tante? Tadi kebetulan dia pulang sebentar tadi," jawabku.

"Begitu rupanya..."

"Tante cepat sembuh ya. Jangan lupa diminum obatnya nanti," tambah Indah sambil menyiapkan obat dengan teliti.

"Terima kasih ya, Indah, sudah begitu perhatian sama Tante."

"Itu sudah kewajiban saya sebagai dokter, Tante. Semoga Tante segera pulih sepenuhnya," jawabnya tulus.

"Kalau begitu, Indah pamit dulu ya."

"Iya, terima kasih Indah."

Tante Maya menatap punggung Indah yang perlahan menjauh, hatinya terasa hangat dan tenang.

"Indah... sungguh gadis yang lembut sekali," batinnya berbisik kagum. "Dulu akulah yang sering menggendongnya saat masih kecil, dan kini ia tumbuh menjadi wanita yang tidak hanya cantik, tetapi juga sudah menjadi dokter yang hebat."

Senyum tulus terukir di bibirnya yang pucat.

"Dia terlihat begitu anggun dan berbudi pekerti luhur... Seandainya saja Rizki bisa menikah dengannya, pasti aku akan merasa sangat bahagia. Betapa beruntungnya jika memiliki menantu sebaik Indah."

Setelah seluruh tugas di rumah sakit selesai dilaksanakan, Indah yang telah menyelesaikan jam kerjanya bersiap untuk pulang. Saat berjalan menuju lobi, ia berpapasan dengan Daffa.

"Indah..." panggilnya.

"Ada apa, Daf?"

"Mau pulang bareng tidak?"

"Enggak usah, gue saja naik taksi online. Lagian kan rumah gue sama rumah lu gak searah, tahu," tolakku halus.

"Kebetulan gue mau pergi, dan rutenya memang searah sama tempat tinggal lu dah," tukasnya meyakinkan. "Jadi bagaimana? Mau ikut tidak?"

"Ya sudah, baiklah aku ikut. Tapi janji ya, jangan mengemudi ngebut-ngebut," pesanku.

"Iya, tidak kok. Sumpah, gue nggak akan ngebut-ngebut lagi," janjinya dengan tangan disilang di dada.

"Ya sudah, awas saja kalau ngebut, nanti kupukul kepalamu lho," ancamku bercanda.

"Ampun, Indah... Pasti terpengaruh sama Dokter Intan, jadi ikut galak begini," keluhnya sambil tertawa.

"Ih, menyebelin! Kok gue disamakan sama dia sih..." sanggahku kesal.

"Memang lu kalau begitu terlihat galak kok..." godanya tak mau kalah.

Di jalan raya, terlihat Rizki sedang mengendarai motor sport andalannya dengan kecepatan yang luar biasa pelan.

Indah tak tahan berkomentar.

"Tumben sekali pelan banget, rasanya kayak naik siput tahu... Lama sekali perjalanannya," keluhnya.

Daffa hanya membalas sambil tersenyum tipis.

"Bukannya tadi yang bilang jangan ngebut-ngebut? Ya sudah, gue turuti saja."

Indah mengerucutkan bibirnya.

"Tapi jangan se-pelan ini juga kali, Daf..."

Daffa bergumam pelan sambil menggelengkan kepala,

"Dasar wanita aneh... Maunya selalu berubah-ubah."

Tiba-tiba Daffa memacu motornya melaju lebih kencang, membuatku terkejut dan seketika secara refleks melingkarkan pelukan di tubuhnya.

"Tuh kan... malah ngebut!" seruku protes di balik punggungnya.

"Makanya kalau naik motor itu pegangannya kencang, biar nanti tidak jatuh," ucapnya santai.

Tangan Indah yang kini digenggam dan melingkar di pinggang Daffa tiba-tiba menciptakan suasana hangat dan aneh yang berdenyut di antara mereka.

"Tapi jangan ngebut-ngebut begini... ihh..." keluhku lagi sedikit cemas namun ada rasa lain yang menyusup.

"Iya, tidak ngebut lagi... tenang saja," janjinya pelan, lalu melambatkan laju motornya kembali

Kami pun tiba di dalam kawasan perumahan tempat tinggalku. Seperti biasa, ia mengantarku hingga ke depan rumah.

"Nah, sudah sampai, Tuan Putri..." ucapnya sambil tersenyum lebar.

"Ih, Tuan Putri... dasar kau suka sekali bergombal," sahutku sambil mencibir kecil namun tersipu.

"Mau mampir tidak?" tawarku ramah.

"Enggak deh, gue lagi agak buru-buru. Sampaikan salamku saja untuk Paman dan Bibi ya," tolaknya sopan.

"Ya sudah kalau begitu... Hati-hati di jalan," pesanku.

"Iya. Jangan lupa hati-hati, jangan ngebut-ngebut ya," tambahku mengingatkan sekali lagi.

"Iya, si Bawel... ingat terus," jawabnya sambil tertawa pelan lalu melajukan kendaraannya pergi.

Aku baru saja melangkah masuk ke rumah, dan Mama langsung menyambutku di depan pintu.

"Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana tadi di rumah sakit? Pasti lagi ramai ya?" tanyanya hangat.

"Iya nih, Mah... Badan Indah rasanya pegal semua," jawabku sambil mengeluh lelah.

Mama menatapku lekat. "Tadi kamu diantar sama Daffa lagi, ya?"

"Iya, Mah. Kenapa memangnya?"

"Kamu itu terus-terusan berdua sama dia. Kalian ini pacaran atau bagaimana sebenarnya?" tanyanya menyelidik.

Indah menggeleng cepat. "Pacaran sama dia? Enggak lah, Mah. Kami itu cuma sahabat biasa saja. Mana mungkin dia suka sama Indah, orang dia suka sekali mengerjai dan ngeselin begitu."

"Kamu ini... Cuma menurutmu saja begitu. Siapa tahu dia sebenarnya menyukaimu. Kalau ternyata dia benar menyukaimu, bagaimana?"

"Indah tidak tahu, Mah. Indah belum mau memikirkan hal itu," jawabku menghindar.

"Indah, kamu ini sudah umur dua puluh delapan tahun lho. Kapan lagi kamu mau menikah?"

"Sudah ah, Mah... Jangan bahas soal nikah terus-terusan. Indah rasanya belum siap," tolakku pelan.

"Terus kapan kamu siapnya?"

"Mama cuma ingin kamu segera punya keluarga sendiri, Sayang. Supaya kamu bisa merasakan kebahagiaan yang utuh," ucapnya lembut.

"Iya, tapi Indah belum dapat jodohnya, Mah. Nanti juga kalau sudah waktunya, pasti datang sendiri," jawabku sambil menuangkan segelas air minum.

"Jangan berpikir begitu. Jodoh itu harus dijemput. Kalau kamu tidak cari, ya tidak akan dapat-dapat," tegur Mama.

"Nanti juga ada kok, Mah jodohnya," ucapku sambil meneguk air.

"Kalau begitu, Mama saja yang mencarikan jodoh untukmu," putusnya tiba-tiba.

"Ih, Mama... Apa-apa dijodohkan? Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi," keluhku sambil tersipu kesal namun bercanda.

"Mama cuma ingin kamu bahagia, Sayang. Dan Mama ingin segera punya cucu," ucapnya penuh harap.

"Nanti saja lah, Mah... Indah capek sekali, mau istirahat di kamar dulu..."

Mama tetap mengejar sambil tersenyum. "Mama akan carikan jodoh yang baik untukmu ya..."

"Terserah Mama saja... Indah capek, Indah sudah mengantuk sekali," jawabku pelan lalu bergegas menghindar menuju kamar.

Aku terbaring di kasur, membiarkan tubuhku yang lelah terkulai lemas. "Ya Tuhan... hari ini rasanya sungguh melelahkan sekali," keluhku dalam hati.

Pikiranku melayang kembali pada ucapan Mama yang terus mendesak agar segera menikah. Padahal mencari pasangan itu tidak mudah, terlebih lagi lelaki zaman sekarang... banyak yang kelakuannya aneh-aneh dan rumit. Hati rasanya pusing memikirkannya, entah bagaimana caranya agar bisa mendapatkan jodoh yang benar-benar baik.

Seharian penuh kuhabiskan hanya untuk bekerja, tak ada waktu untuk berkenalan dengan orang baru. Dan lelaki yang kutemui setiap hari... hanyalah Daffa.

Di tengah kebingungan itu, aku pun memanjatkan harap pada Tuhan. "

Ya Tuhan... berikanlah aku jodoh yang tampan, tinggi, hidung mancung, mapan, kaya... dan yang paling penting, selalu mencintaiku sepenuh hati, ya Tuhan..."

Dalam heningnya kamar, perlahan aku menyadari betapa beratnya daftar harapan tadi. Akhirnya hati berbisik lebih tulus, meruntuhkan segala syarat berlebihan itu.

"Kali ini aku tidak minta banyak... Aku hanya ingin ada seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, itu saja," ucapku dalam hati, melepaskan segala ambisi duniawi. Cukup kasih sayang yang murni dan setia, itulah yang paling kurindukan. 🛏️🤍🙏

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!