Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Runtuhnya Sebuah Kekaisaran
Tepat pukul dua siang, langit di atas kota metropolis tampak cerah, namun badai tak kasat mata bertenaga destruktif tingkat tinggi tengah menghantam bursa saham lokal.
Pusat dari badai itu berada di lantai teratas Pusat Perdagangan Internasional di pusat kota. Gedung pencakar langit megah ini secara khusus telah dibeli oleh Silas Mercer sebagai basis operasi mereka, telah membeli Pusat Perdagangan Internasional di pusat kota untuk mempersiapkan kedatangan sang raja.
Ruang penthouse eksekutif itu kini telah diubah menjadi ruang komando perang finansial yang sangat canggih. Puluhan layar monitor berukuran raksasa menutupi dinding kaca, menampilkan grafik pergerakan saham yang berkedip merah, aliran dana global, dan struktur kepemilikan aset dari puluhan perusahaan. Di tengah ruangan, selusin ahli strategi finansial dan peretas elit dari Phantom Vanguard bekerja dengan kecepatan dan presisi yang tidak masuk akal. Suara ketikan keyboard terdengar berderak layaknya rentetan peluru senapan mesin di medan perang.
Silas Mercer berdiri tegak di depan layar utama dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Setelan jas hitamnya tampak tanpa cela. Kekuatan organisasi mereka di dunia bawah tanah tidak tertandingi.
"Laporan status," perintah Silas, suaranya dingin dan memotong kebisingan ruangan.
Seorang operator wanita berpakaian rapi segera merespons dari mejanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Tuan Mercer, operasi pemotongan urat nadi finansial telah mencapai enam puluh persen. Kami telah membanjiri pasar dengan saham kosong milik perusahaan real estat Thorne, memicu kepanikan massal di antara para pemegang saham minoritas. Saham mereka telah anjlok sebesar empat puluh persen hanya dalam dua jam terakhir."
"Bagus," gumam Silas. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya, menyentuh alat komunikasi nirkabel di telinganya yang terhubung langsung ke saluran terenkripsi tingkat militer. "Jenderal, fase pengambilalihan paksa sedang berjalan. Keluarga Thorne mulai kehabisan napas."
Di seberang saluran, dari jalanan setapak yang rindang di luar Universitas St. Jude, Arthur Summers berjalan dengan santai. Tas kerja kulitnya tersandang rapi di bahunya. Meski penampilannya menyerupai seorang dosen biasa, tatapan matanya tetap setajam elang.
"Kerja bagus, Silas," suara Arthur terdengar tenang di telinga letnannya. "Namun, ada satu hal yang harus kau pastikan dengan nyawamu. Dengarkan baik-baik."
Silas seketika menegakkan posturnya, menyadari perubahan nada suara komandannya. "Saya siap menerima perintah, Jenderal."
"Pastikan namaku tidak muncul di satu pun dokumen pengambilalihan aset Yayasan Thorne. Gunakan perusahaan cangkang berlapis dan samarkan aliran dananya melalui rekening luar negeri," perintah Arthur dengan nada memperingatkan yang sangat serius. "Keluarga Thorne boleh hancur, Julian dan Elena boleh tahu bahwa aku yang melakukannya, tapi identitasku sebagai Jenderal Phantom Vanguard tidak boleh bocor ke publik atau media massa."
"Apakah ada pergerakan musuh yang mengkhawatirkan Anda, Jenderal?" tanya Silas waspada.
"Musuh-musuh kita dari negara tetangga dan mata-mata dari kekaisaran utara masih terus mengintaiku," jelas Arthur, suaranya merendah menjadi bisikan mematikan. "Mereka telah mengincarku selama lima tahun terakhir di perbatasan. Jika terdengar kabar resmi bahwa aku telah meninggalkan kemiliteran dan kembali ke kehidupan biasa tanpa perlindungan batalion penuh, mereka tidak akan ragu untuk mengirimkan pasukan pembunuh elit atau bahkan memicu perang baru di kota ini. Aku tidak ingin darah orang tak bersalah tumpah di kota kelahiranku hanya karena kecerobohanku."
"Saya mengerti, Jenderal. Keamanan identitas Anda adalah prioritas mutlak," jawab Silas mantap. "Semua dokumen akan ditandatangani di bawah nama entitas bayangan kita. Dunia luar hanya akan mengira keluarga Thorne hancur karena krisis pasar global dan hutang buruk."
"Lanjutkan eksekusi. Jangan beri mereka ampun," pungkas Arthur sebelum memutus komunikasi.
Silas menurunkan tangannya dari telinga. Matanya menatap tajam ke arah layar utama. "Hubungi Tuan Tucker. Sudah waktunya pion terkuat kita memukul paku terakhir di peti mati keluarga Thorne."
Drake Tucker adalah orang terkaya di kota ini yang menguasai hampir seluruh sektor industri hulu. Yang tidak diketahui oleh masyarakat umum maupun keluarga Thorne adalah, taipan besar tersebut dulunya pernah menjadi salah satu pengikut setia organisasi mereka, dan begitu sang komandan tiba di kota, ia siap melayani segala kebutuhannya.
Dalam hitungan detik, panggilan video terenkripsi tersambung ke layar utama. Wajah pria paruh baya yang berwibawa, Drake Tucker, muncul di layar. Ia segera menundukkan kepalanya dengan hormat yang mendalam.
"Tuan Mercer," sapa Drake dengan nada penuh kepatuhan. "Semua persiapan di pihak saya telah selesai. Kami tinggal menunggu komando."
"Lakukan sekarang, Drake," perintah Silas datar. "Tarik semua investasi, batalkan semua kontrak pasokan material, dan pastikan setiap relasi bisnismu di kota ini tahu bahwa berbisnis dengan keluarga Thorne adalah sebuah tindakan bunuh diri."
"Sesuai perintah Anda. Keluarga Thorne tidak akan melihat matahari terbenam hari ini," jawab Drake sebelum panggilan diputus.
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran mewah yang berjarak lima kilometer dari pusat komando Silas, suasana di kantor pusat Yayasan Thorne menyerupai kapal raksasa yang tengah tenggelam ke dasar lautan.
Richard Thorne, ayah dari Julian dan pemimpin absolut dari kekaisaran bisnis keluarga itu, duduk membeku di kursi kebesarannya. Kemeja mahalnya yang biasa disetrika licin kini sudah basah oleh keringat dingin. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, matanya terbelalak menatap layar komputernya yang terus berkedip merah menyala.
Telepon di mejanya berdering tanpa henti layaknya alarm kematian. Sekretarisnya berlari masuk dan keluar ruangan dengan raut wajah panik hingga nyaris menangis, membawa tumpukan dokumen pembatalan kontrak dari berbagai mitra bisnis.
"Pak! Bank Sentral menolak panggilan darurat kita! Mereka bilang seluruh aset kita sedang diselidiki atas tuduhan pencucian uang!" jerit salah satu direktur keuangannya yang rambutnya sudah acak-acakan karena stres. "Saham kita anjlok bebas! Nilai valuasi perusahaan menguap ratusan juta dolar hanya dalam waktu tiga jam!"
"Diam! Biarkan aku berpikir!" raung Richard sambil memukul meja kerjanya dengan keras. Jantungnya berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Selama puluhan tahun, keluarga Thorne telah membangun dinasti yang tak tersentuh di kota ini. Mereka dengan mudah menyuap politisi, menyewa preman, dan menghancurkan saingan bisnis mereka tanpa ampun. Namun hari ini, sebuah kekuatan tak kasat mata seolah tiba-tiba mencengkeram leher perusahaannya dan mencekiknya dari segala arah.
Tiba-tiba, pintu ruangannya didobrak dari luar dengan kasar. Julian Thorne menyerbu masuk dengan napas terengah-engah dan wajah yang seputih kertas.
"Ayah! Ayah, kita harus melakukan sesuatu!" teriak Julian histeris. Arogansi pewaris muda yang biasanya menguasai kampus itu kini telah lenyap tak berbekas, digantikan oleh teror murni. "Dosen itu... pria bernama Arthur Summers... dia ada di kampus! Dia tidak mati! Algojo Viper yang kita sewa semalam... dia mengembalikan mereka semua dalam keadaan hancur lebur! Ini pasti perbuatannya, Ayah!"
Richard menatap putranya dengan tatapan kosong, mencoba memproses informasi absurd tersebut di tengah kepanikan finansial yang melanda. "Dosen? Kau bilang seorang dosen sejarah paruh waktu yang melakukan semua ini?! Kau gila, Julian! Seseorang dengan kekuatan finansial sebesar ini bisa membeli sebuah negara! Ini bukan ulah seorang dosen rendahan!"
Sebelum Julian bisa membalas bentakan ayahnya, telepon pribadi di saku jas Richard bergetar hebat. Layar ponsel itu menampilkan nama 'Drake Tucker - Pemimpin Konsorsium'.
Mata Richard sedikit berbinar oleh secercah harapan. Drake Tucker adalah sekutu bisnis terbesarnya, orang terkaya, dan pilar ekonomi terkuat di kota ini. Jika ada yang bisa memberikan suntikan dana darurat untuk menyelamatkan yayasannya dari kebangkrutan, itu adalah Drake. Dengan tangan gemetar parah, Richard mengangkat panggilan itu dan menekan tombol pengeras suara agar putranya bisa ikut mendengar.
"T-Tuan Tucker! Syukurlah Anda menelepon," ucap Richard dengan suara memelas yang bergetar. "Pasar sedang kacau balau, ada serangan short-selling massal pada saham yayasan saya. Saya butuh pinjaman darurat, lima ratus juta dolar untuk menstabilkan harga, saya berjanji akan memberikan jaminan tanah kampus—"
"Richard," suara Drake Tucker memotong dari seberang telepon. Nada suaranya sangat dingin, tanpa sedikit pun keramahan yang biasanya ia tunjukkan saat bermain golf bersama. "Mulai detik ini, seluruh kontrak kerja sama antara Tucker Group dan Thorne Corporation secara resmi dibatalkan. Tim hukumku sedang mengirimkan berkas tuntutan pinalti keterlambatan proyek senilai dua ratus juta dolar. Bayar paling lambat pukul lima sore ini, atau kami akan menyita seluruh asetmu, termasuk gedung yayasan dan universitas."
Dunia Richard seolah runtuh menimpanya. Udara di sekitarnya terasa lenyap. "A-apa? Drake, kau tidak bisa melakukan ini! Kita sudah berbisnis selama lima belas tahun! Apa yang terjadi?! Kenapa kau menikamku dari belakang?!"
Terdengar helaan napas sinis dari seberang telepon. "Kau punya anak yang sangat bodoh, Richard. Putramu baru saja menyinggung sosok raja yang tidak seharusnya ia tatap. Kau bertanya siapa yang melakukan ini? Tanyakan pada putramu, siapa pria yang ia sebut sebagai dosen rendahan itu. Kalian telah memancing amarah penguasa sejati, dan sekarang, kalian harus membayar harganya dengan kehancuran."
Klik. Panggilan diputus sepihak.
Ponsel berlapis emas itu terlepas dari genggaman lemah Richard dan jatuh membentur lantai berkarpet. Pria tua itu jatuh terduduk di kursinya, tatapannya kosong menatap putranya yang kini gemetar hebat dengan lutut lemas di tengah ruangan.
Semua kekuasaan, uang, dan reputasi yang keluarga Thorne bangun selama puluhan tahun... musnah dalam setengah hari hanya karena putranya mengganggu pria yang salah.
Di waktu yang sama, Arthur Summers telah mencapai tempat parkir kampus. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jas wolnya. Di saat kekaisaran sebuah keluarga konglomerat runtuh hingga tak bersisa karena jentikan jarinya, Arthur tidak menunjukkan raut bangga sedikit pun. Pikirannya masih tertuju pada pengintaian dari kekaisaran tetangga dan masa lalunya yang kelam di perbatasan.
Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar, menandakan panggilan masuk. Saat ia mengeluarkan benda pipih itu dan melihat layarnya, sebuah senyum sinis yang sangat dingin mengembang di wajahnya.
Nomor yang tertera di layar adalah milik Elena istrinya wanita yang baru semalam ia pergoki berada dalam pelukan pria yang kini kekaisarannya telah hancur.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...