"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Hadiah Mewah Untuk Sang Pelakor-2
Wajah Rian yang tadinya kemerahan akibat malu seketika berubah pucat pasi. "A-audit mendadak? Tapi Pak Danu, jadwal audit tahunan kan masih tiga bulan lagi—"
"Keputusan Komisaris Utama tidak bisa diganggu gugat, Pak Rian," potong Pak Danu tegas. "Kami menemukan adanya indikasi penyimpangan dana operasional sebesar ratusan juta rupiah yang dicairkan melalui rekening divisi pemasaran dalam dua bulan terakhir."
Eriska yang berdiri di belakang Rian mulai merasa panik. Jemari tangannya yang mengenakan gelang berlian mendadak gemetaran. Ia buru-buru menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
Namun, mata tajam Fandi tidak bisa dibohongi. Fandi melangkah satu tapak mendekati Eriska dan Rian. Aura pria dewasa itu begitu menekan, membuat Eriska menundukkan kepala tak berani menatapnya.
"Gelang yang sangat indah," desis Fandi dingin, menunjuk ke arah tangan Eriska. "Gelang berlian white gold senilai empat puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah, dibeli pada tanggal lima belas bulan ini."
Rian dan Eriska tersentak hebat! Jantung Rian serasa mau lompat dari dadanya!
Bagaimana mungkin Fandi Prasetyo tahu nominal harga dan tanggal pasti pembelian gelang itu secara sangat rinci?!
"P-Pak Fandi ... itu perhiasan pribadi milik staf saya, tidak ada hubungannya dengan kantor!" sela Rian dengan suara gemetar, berusaha keras menutupi kepanikannya.
Fandi tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin nan sinis yang membuat Rian makin ketakutan.
"Pribadi?" tanya Fandi dengan nada merendahkan. "Pak Rian, tim audit kami mencatat bahwa dua hari sebelum gelang itu dibeli, ada pencairan dana taktis pemasaran sebesar lima puluh juta rupiah dengan alasan 'biaya entertainment klien'. Dan menariknya, struk pembelian perhiasan tersebut masuk dalam berkas klaim reimbursement kantor yang kamu tanda tangani sendiri."
DEG!
Darah di tubuh Rian serasa berhenti mengalir. Mukanya pucat bagaikan mayat.
Seharian kemarin, karena panik kehabisan uang tabungan akibat ulah Annisa yang memblokir kartu kredit, Rian memang nekat memasukkan struk pembelian gelang berlian Eriska ke dalam klaim biaya kantor untuk menutupi uangnya yang terkuras! Ia mengira tidak akan ada yang memeriksa dokumen itu secara mendalam!
"I-itu ... itu ada kesalahan administrasi, Pak! Saya bisa jelaskan!" jerit Rian panik.
"Penjelasan kamu tidak dibutuhkan di sini, Pak Rian," potong Pak Danu dingin. "Mulai detik ini, seluruh kewenangan transaksi finansial kamu sebagai Manager Pemasaran dibekukan secara resmi. Seluruh kartu kredit fasilitas kantor kamu ditarik kembali, dan akun akses sistem keuangan kamu dinonaktifkan."
Pak Danu melangkah mendekati Rian dan langsung menyambar kartu identitas serta kartu kredit fasilitas Manager yang menggantung di leher Rian.
"Pak Danu! Jangan begini, Pak! Tolong kasih saya kesempatan!" mohon Rian dengan wajah memelas, rasa sombong dan angkuhnya hancur tak berbekas di depan seluruh stafnya yang kini menatapnya dengan pandangan shock dan berbisik-bisik.
Eriska berdiri membeku. Wajah cantiknya kini dipenuhi rasa horor dan ketakutan. Rian—pria yang baru saja ia agung-agungkan sebagai Manajer kaya raya—kini dikuliti kecurangannya di depan matanya sendiri!
Fandi Prasetyo menatap Rian yang tampak begitu menyedihkan dari atas ke bawah.
"Kamu tahu, Pak Rian?" bisik Fandi dengan suara berat yang hanya bisa didengar oleh Rian dan Eriska. "Seorang pria sejati tidak akan pernah memberi makan selingkuhannya menggunakan uang hasil mencuri, apalagi sambil merendahkan istri sah yang sudah berkorban untuknya di rumah."
Rian mendongak kaget, matanya melotot menatap Fandi. Istri sah?! Dari mana pria berkuasa ini tahu soal rumah tangganya dan perlakuan buruknya pada Annisa?!
Belum sempat Rian mencerna rasa kebingungannya, Fandi sudah membalikkan badan dengan gerakan sangat anggun dan berwibawa.
"Pak Danu, pastikan seluruh aset divisi ini disegel sampai proses audit selesai. Dan jika ditemukan tindak pidana penggelapan ... langsung serahkan berkasnya ke kepolisian," perintah Fandi dingin.
"Siap, Pak Fandi," jawab Pak Danu tegas.
Fandi melangkah pergi meninggalkan ruangan pemasaran bersama Pak Danu. Langkah kakinya yang mantap bergema di koridor, meninggalkan Rian yang terduduk lemas di kursinya dengan wajah hancur, serta Eriska yang berdiri mematung memegangi gelang berliannya yang kini terasa bagaikan borgol yang siap menyeretnya ke dalam penjara.
Sementara itu, di dalam mobil Mercedes-Maybach yang terparkir di basement gedung, Annisa Septiani sedang menyaksikan seluruh kejadian di ruangan pemasaran melalui layar tablet pintar yang terhubung ke kamera yang tersembunyi di kacamata Pak Danu.
Di sampingnya, Pak Yusuf tersenyum bangga menepuk pelan pundak putrinya.
Annisa menutup tabletnya, menyunggingkan senyuman dingin yang sangat memikat.
"Baru langkah pertama, Mas Rian," gumam Annisa pelan. "Nanti malam ... giliran rumah dan harga dirimu yang akan aku ratakan dengan tanah."
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu