Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pangilan takumi dari lapangan

Di ruang tengah, Rin menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memandangi ponsel di tangannya. Setelah berpikir sebentar, ia menekan nama ayahnya dan melakukan panggilan yang tak butuh waktu lama untuk terangkat.

“Sudah selesai semua?” tanya sang ayah langsung pada intinya.

“Sudah. Aku sudah bertemu ketiganya,” jawab Rin mengubah posisi duduknya, lalu mulai menceritakan satu per satu. “Pria pertama namanya Kiba Hotori. Orangnya cukup menarik dan punya hobi yang sama denganku... game.”

“Game?”

“Iya, kami bahkan sempat main bersama.” Ayahnya terdengar menghela napas kecil, tetapi tidak berkomentar. “Lalu pria kedua, Arashi Hondo. Dia... sepertinya menolakku secara halus karena aku tidak kuliah dan tidak bekerja.”

Di ujung telepon, ayahnya tertawa kecil. “Memangnya itu mengejutkan?”

“Yah!” Rin mengembungkan pipinya kesal. “Pria ketiga namanya Kyo Hideki. Dia sebenarnya menyenangkan, tapi memberi makanan yang ada udangnya. Alergiku kambuh sampai hampir pingsan! Dia bahkan datang ke rumah pagi-pagi untuk menjengukku.”

Bukannya khawatir, ayahnya justru tertawa cukup keras. “Hahaha! Kamu sendiri yang langsung makan, kan? Mata kamu kalau melihat makanan baru memang begitu—apa pun yang terlihat enak langsung dimakan.”

Rin terdiam beberapa detik. “Ayah... bukannya Ayah seharusnya tanya kabarku dulu? Aku hampir mati gara-gara udang, tahu!”

“Baiklah, baiklah, Ayah mengerti,” sahut ayahnya menahan tawa. Setelah suasana tenang, ia kembali bertanya, “Jadi, dari ketiga pria itu, sudah ada yang kamu pilih?”

“Belum.”

“Kalau begitu pilih salah satu dari dua pria yang tersisa.”

Rin langsung mengerutkan kening. “Masih ada dua?”

“Masih. Ayah juga bisa mencarikan beberapa kandidat tambahan kalau tiga orang itu belum cocok.”

“Tidak mau!” potong Rin cepat, membuat ayahnya terdiam. “Sudah cukup, Yah. Percuma aku sudah sejauh ini dari rumah kalau Ayah terus saja menuntutku ikut acara perjodohan itu. Aku sudah bertemu tiga orang, itu saja sudah cukup.”

“Kalau begitu pilih fakultas yang Ayah berikan.”

Rin terdiam, terlalu lelah untuk kembali berdebat. “Sudahlah, Yah. Aku mau istirahat dulu.” Sebelum ayahnya membalas, Rin memutuskan panggilan dan meletakkan ponselnya di sofa.

Ia menyandarkan kepala sambil mengembuskan napas panjang. Tuntutan ayahnya seperti tidak pernah habis—menikah atau kuliah, seolah hidupnya hanya memiliki dua pilihan itu. “Capek...” gumamnya memejamkan mata.

Tring!

Suara notifikasi membuat Rin membuka sebelah mata. Ia meraih ponselnya dan mendapati pesan dari kiba,

Kiba Hotori:

Hai, Tachibana-san. Kau sudah bangun? Gimana pria setelah aku? Tidak cocok, kan...?!!

Mata Rin menyipit menahan senyum. pria ini... Ternyata Kiba benar-benar berharap kandidat setelah dirinya tidak cocok. Rin terkekeh kecil lalu mengetik balasan.

***

Di tempat lain, sebuah proyek pembangunan menara telekomunikasi sedang berlangsung. Di antara para pekerja yang sibuk memperhitungkan rangka baja, Kiba berdiri mengenakan perlengkapan keselamatan. Ponsel di saku celananya mendadak bergetar.

“Oh... balasan dari Tachibana-san.” Kiba merogoh sakunya dan membuka pesan tersebut, namun matanya seketika membelalak.

Rin Tachibana:

Sayang sekali, Hotori-san... aku sangat terkesan.

“AHHHKKK!” Teriakan kecewa Kiba membuat keempat temannya spontan menoleh.

“Ada apa? Ada yang tertinggal?”

“Bukan, bukan!”

Kiba buru-buru bergeser, berjongkok sambil meratapi layar ponselnya. “Tachibana-san... bagaimana mungkin mereka lebih menarik dariku? Dasar...”

Gumaman itu terdengar oleh Takumi yang berdiri tak jauh darinya. Takumi melirik sekilas ke arah Kiba yang sibuk mengetik pesan sambil tersenyum sendiri, dan ia langsung tahu siapa yang sedang diajak obrol oleh temannya itu. Takumi tak mengatakan apa-apa dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Tak lama kemudian, Kiba menekan tombol kirim:

"Aku kecewa 😭"

***

Di rumah, Rin yang membaca pesan tersebut langsung terdiam sesaat sebelum sudut bibirnya terangkat. “Apaan sih...” bisiknya menahan tawa, hingga akhirnya tetap terkekeh. “Memangnya aku harus memilih kamu hanya karena kamu kalah cepat?”

Melihat Kiba yang begitu santai dan mudah bercanda membuat pikiran Rin terasa sedikit lebih ringan. “Orang aneh...” Rin tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala, lalu bangkit dari sofa menuju kamar untuk mandi.

***

Kiba akhirnya berdiri dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celana, lalu berjalan bergabung dengan rekannya di area proyek. Takumi sempat memperhatikan Kiba selama beberapa detik; tadi ia jelas mendengar nama Rin disebut dalam gumaman temannya itu—berarti mereka masih saling berkirim pesan.

Takumi mengembuskan napas pelan lalu merogoh ponselnya sendiri. Entah kenapa, ia hanya ingin memastikan keadaan Rin.

Jarinya menekan nama Rin Tachibana. Panggilan tersambung. Sambil menatap rekan-rekannya, Takumi menunggu nada dering yang mengalun dari ponselnya—satu kali, dua kali, tiga kali—namun tetap tidak diangkat.

Takumi mengerutkan dahi. “Ke mana dia?”

Panggilan itu akhirnya mati. Tak langsung menyerah, Takumi menekan nama Rin sekali lagi, namun nada dering yang berulang tetap tak berbalas. Takumi akhirnya kehilangan kesabarannya.

Ia berbalik cepat menuju area parkir. Pikiran Takumi mulai melayang ke mana-mana, sementara tangannya perlahan mengepal. Panggilan ketiga kembali diabaikan, begitu pula panggilan keempat.

Ia berbalik cepat menuju area parkir.

“Takumi?” panggil Makoto yang terkejut melihat pergerakannya.

Namun Takumi tak memedulikannya. Ponsel masih menempel rapat di telinganya sementara langkahnya berubah menjadi setengah berlari. Dua teman mereka yang lain ikut menoleh kebingungan.

“takumi, kemana dia?”

Makoto tak menjawab dan justru segera menyusulnya.

Begitu sampai di depan mobil, Takumi langsung menekan tombol remote hingga terdengar bunyi klik. Kunci mobil terbuka. Namun tepat saat jemarinya hendak membuka pintu, suara yang sejak tadi ditunggunya akhirnya mengalun dari sambungan telepon.

“Halo...”

Langkah Takumi terhenti seketika. Ia terdiam kaku.

“Takumi?” suara Makoto terdengar semakin mendekat dari belakang.

Takumi menoleh dan melihat Makoto berdiri beberapa meter darinya. Ia mengangkat satu tangan memberi isyarat agar Makoto tidak mendekat, membuat wanita itu refleks terdiam. Tatapan Makoto menyapu gerak-gerik Takumi yang membuka pintu mobil, masuk ke dalam, lalu menutup pintunya rapat-rapat.

“Halo... Kurosawa-san?” panggil Rin lagi dari ujung telepon.

Takumi memejamkan mata sebentar. “Kenapa lama sekali mengangkat teleponku? Kau sedang apa?!” serunya dengan nada jauh lebih frustrasi daripada biasanya.

“Ah, maaf, maaf, Kurosawa-san. Aku sedang mandi.”

Takumi terbungkam. Beberapa detik kemudian, tubuhnya yang sejak tadi tegang perlahan bersandar pasrah pada jok mobil. Tangannya naik memijat pelipis. Ya Tuhan... ternyata dia sedang di kamar mandi.

“Ya sudah,” cetusnya singkat, lalu langsung mematikan panggilan.

Takumi duduk hening beberapa saat sebelum akhirnya keluar dari mobil. Makoto masih berdiri setia tak jauh dari sana. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak ada apa-apa. Ayo,” sahut Takumi berjalan melewati Makoto.

Namun baru beberapa langkah, jemari Makoto tiba-tiba menahan lengannya. Takumi terhenti. Ia menunduk menatap tangan Makoto, lalu beralih menatap wajah wanita itu.

“Tunggu. Kita belum ada waktu untuk berbicara,” bisik Makoto melepaskan napas pelan.

Takumi terdiam beberapa saat menatapnya tanpa kata. Sebenarnya ia tahu mereka memang belum sempat berbicara dengan baik sejak tiba di Ishikawa—terutama setelah Makoto mendadak menemuinya semalam. Jika dibicarakan di tengah kesibukan proyek seperti sekarang, waktunya pasti tak akan cukup.

Takumi akhirnya mengangguk kecil. “Baiklah. Malam ini, sekalian kita bicara.”

Senyum Makoto langsung mengembang lega. “Benarkah?”

“Ya.” Takumi melepaskan genggaman tangan Makoto pada lengannya lalu berjalan lebih dulu menuju area proyek, disusul Makoto dari belakang. Bagi Takumi, ajakan itu hanyalah kesempatan untuk menyelesaikan pembicaraan yang tertunda—setidaknya, itulah yang ada di pikirannya saat itu.

***

Sementara itu di rumah, Rin memandangi layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. “...Hah?”

Ia berkedip beberapa kali. Begitu teleponnya diangkat, Takumi malah terdengar marah hanya karena ia tak segera menjawab, dan sekarang teleponnya justru diputus begitu saja.

Rin mengerutkan hidung. “Apaan, sih?” gumamnya mendengus kecil lalu kembali melihat layar ponsel. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa. “Dasar aneh.”

Rin merasa geli mengingat nada suara Takumi tadi yang terkesan sangat panik hanya karena panggilan teleponnya diabaikan. “Padahal aku cuma lagi mandi,” terkekeh kecil, Rin meletakkan ponselnya lalu melanjutkan langkah menuju kamar.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, Takumi sempat panik setengah mati memikirkan berbagai kemungkinan buruk hanya karena panggilannya tak diangkat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!