"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon Ustadz Syaiful
Telepon dari Ustadz Syaiful mengagetkanku. Tidak biasanya beliau menelepon, kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting. Lantas, hal penting apa kali ini?
“Assalamu’alaikum, Ustadz,” jawabku setelah mengangkat telepon.
“Wa’alaikumussalam. Gimana kabarnya, Nak?” tanya Ustadz Syaiful di seberang sana.
“Baik, Ustadz,” jawabku singkat.
Hening sejenak. Kemudian kudengar helaan napas beliau yang cukup panjang.
“Ya Allah, Nak…” suara beliau terdengar berat. “Sebenarnya rencana Ustadz mengirimmu ke sana itu agar kamu bisa saling mengenal dengan Aisyah. Tapi Ustadz tidak tahu kalau ternyata Aisyah sedang mengambil sanad.”
Aku terdiam.
Sanad?
Dadaku seketika terasa sesak. Jadi… Aisyah sedang mengambil sanad?
Selama ini bukankah aku sedang berinteraksi dengan Aisyah? Aku bahkan sudah beberapa kali berbicara dengannya, bekerja dalam satu kepengurusan, dan tanpa kusadari, mulai memperhatikannya lebih dari yang seharusnya.
Kalau Aisyah pergi untuk mengambil sanad, lalu siapakah Aisyah yang selama ini kutemui?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku.
Aku terlalu lama diam sampai sepertinya Ustadz Syaiful mengira aku kecewa.
“Iya, Nak… maafkan orang tua ini,” lanjut beliau dengan nada bersalah. “Tak apa-apa. Masih ada waktu. Ustadz baru tahu kemarin kalau Aisyah ternyata baru mengambil sanad tahfidz.”
Aku menarik napas perlahan.
“Bukan begitu, Ustadz…”
Aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Bukan kecewa karena rencana beliau gagal.
Justru yang membuatku gelisah adalah kenyataan bahwa selama ini, tanpa kusadari, keberadaan Aisyah sudah mulai mengambil ruang tertentu dalam pikiranku.
Dan sekarang, hanya dengan mendengar kabar bahwa dia bukan seseorang yang dikenalkan untukku, aku baru menyadari betapa takutnya aku kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah kumiliki.
Ya, keberadaan Aisyah yang selama ini berinteraksi denganku, sedikit demi sedikit telah mengisi relung hatiku.
Awalnya aku mengira semua itu hanya sebatas rasa nyaman karena sering bertemu dalam pekerjaan. Namun semakin sering berinteraksi dengannya, semakin sulit bagiku untuk menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa.
Kini, hanya dengan membayangkan dia pergi, ada rasa kehilangan yang bahkan belum semestinya kurasakan.
Aku mulai dilema.
Bagaimana ini?
Apakah aku harus mengikhlaskan Aisyah yang selama ini kukenal, kemudian mencoba membuka hati untuk mengenal Aisyah yang lain melalui proses ta’aruf?
Ataukah aku tetap memelihara perasaan ini dan memilih untuk melupakan rencana ta’aruf yang sejak awal sudah disiapkan Ustadz Syaiful?
Aku mengusap wajahku perlahan.
Keduanya terasa sama-sama sulit.
Jika aku memilih ta’aruf, bukankah aku harus belajar melepaskan perasaan yang perlahan tumbuh kepada Aisyah yang selama ini kukenal?
Namun jika aku memilih mempertahankan perasaan ini, apakah aku tidak sedang menutup pintu yang mungkin saja sebenarnya Allah bukakan untukku?
Yang lebih membuatku bingung, ternyata aku sendiri belum tahu...
Aisyah yang mana yang sebenarnya sedang ingin kukenal lebih jauh?
Aisyah yang selama ini hadir di hadapanku, yang perlahan membuat hatiku nyaman?
Atau Aisyah yang selama ini hanya kukenal dari sebuah nama, biodata, dan cerita orang lain?
Aku terdiam cukup lama.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban dari perasaan sendiri, sampai lupa bahwa urusan hati bukan sepenuhnya berada dalam kendaliku.
Namun satu hal yang pasti...
Untuk pertama kalinya, aku takut kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi milikku.
“Melamun lagi, Lam.”
Tepukan tangan Hammad di pundakku membuatku tersentak dari lamunan.
“Akhir-akhir ini kamu sering melamun. Ada apa, Teman? Kalau ada masalah, ceritakan,” sambungnya.
Aku hanya tersenyum kecut.
“Ente tahu Aisyah, cucunya Umi?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja.
Sebenarnya aku tidak ingin bercerita. Aku hanya ingin mengorek informasi lebih banyak darinya.
“Oh, ya… beliau baru ambil sanad tahfidz,” jelas Hammad.
Aku mengangguk pelan.
“Entahlah. Sekarang ada ustadzah Aisyah baru. Namanya juga Aisyah. Wah, bagaimana nanti membedakannya?”
Hammad langsung tertawa.
“Ustadzah Aisyah A! Ustadzah Aisyah B!”
Dia bahkan mempraktikkan seolah-olah sedang memanggil dua orang yang memiliki nama sama.
Aku ikut tersenyum tipis, meskipun sebenarnya pikiranku sedang tidak ingin bercanda.
“Eh, kenapa tiba-tiba bertanya?” Hammad kembali bertanya, kali ini dengan tatapan penuh curiga.
“Eh…”
Aku terdiam sesaat, mencari jawaban yang paling aman.
“Nggak. Tak kira ustadzah Aisyah yang di sini itu yang cucunya Umi.”
Hammad mengangguk-angguk.
“Eh, masa kamu dulu nggak ingat? Aisyah waktu kecil kan pernah main ke pondok putra.”
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat.
“Iya, itu kan dulu waktu kecil. Dan itu cuma beberapa kali saja.”
Memang aku hampir tidak mengingatnya. Bagiku, peristiwa itu hanyalah potongan masa lalu yang sudah lama berlalu.
Hammad tiba-tiba kembali bersuara.
“Kalau ustadzah Aisyah yang di sini, bagaimana menurutmu?”
Aku menoleh.
“Maksudmu?”
“Eh…” Hammad justru tampak ragu. “Nggak usah dipikirin.”
Lalu dia mengalihkan pandangan, seolah pertanyaan itu tidak pernah terlontar.
Namun justru karena itulah pikiranku semakin dipenuhi rasa penasaran.
Apa maksud Hammad bertanya seperti itu?
Apakah dia hanya sekadar bertanya?
Atau…
Jangan-jangan selama ini dia sudah melihat sesuatu yang bahkan belum berani kuakui kepada diriku sendiri?
Aku menatap punggung Hammad yang mulai menjauh.
Satu pertanyaan terus berputar di kepalaku.
“Apa yang dimaksud Hammad?”
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏