Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Senyum Si Ketua Pensi dan Kulkas yang Terbakar

Efek dari pelukan di atas motor sport semalam ternyata jauh lebih mematikan daripada yang Amira perkirakan.

Sepanjang pagi, gadis itu tidak bisa fokus memperhatikan penjelasan guru Matematika di depan kelas.

Setiap kali ia memejamkan mata, aroma mint dan kehangatan punggung Alfian kembali menyergapnya, membuat wajahnya memerah tanpa sebab.

"Mir, lo kesambet jin halte ya? Senyum-senyum sendiri dari tadi," tegur Rara menyenggol lengan Amira dengan sikutnya.

Amira buru-buru mengubah ekspresinya menjadi datar.

"Siapa yang senyum? Ini bibir gue lagi kram aja," ngeles Amira sekenanya, langsung pura-pura sibuk mencatat rumus di papan tulis.

Rara dan Maya hanya bisa saling lirik dan memutar bola mata malas melihat tingkah tsundere temannya itu.

Jam istirahat kedua kembali dihabiskan Amira di aula utama untuk mengurus persiapan Pensi.

Hari ini tugasnya adalah menata puluhan tanaman hias artifisial di sekitar pinggiran panggung.

"Duh, berat juga ya ini pot kayunya," keluh Amira sambil berusaha mengangkat salah satu pot besar berwarna cokelat.

Keringat mulai mengucur di pelipisnya, menembus plester kecil yang masih menempel di sana.

Baru saja ia hendak menarik napas panjang untuk mencoba mengangkatnya lagi, sepasang tangan yang kokoh lebih dulu meraih sisi pot tersebut.

"Biar gue aja. Ini terlalu berat buat cewek sekecil lo."

Suara lembut dan bersahabat itu membuat Amira mendongak kaget.

Seorang cowok berwajah tampan dengan senyum yang luar biasa manis berdiri di sebelahnya.

Seragamnya rapi, lengkap dengan dasi dan pin lambang OSIS yang bertengger di dada kirinya.

"Eh? Nggak usah, Kak, aku bisa sendiri kok," tolak Amira merasa tidak enak.

Namun cowok itu sudah lebih dulu mengangkat pot kayu tersebut dengan mudah dan meletakkannya tepat di sudut panggung.

Cowok itu menepuk-nepuk tangannya, lalu menoleh menatap Amira dengan senyum yang membuat matanya ikut menyipit membentuk bulan sabit.

"Lo panik banget, santai aja kali. Gue Devan, kelas XII IPA 1," ucapnya memperkenalkan diri, mengulurkan tangan kanannya.

Amira mengerjap, buru-buru membalas uluran tangan itu.

"A-aku Amira, Kak. Dari kelas XI IPS 2," balas Amira agak gugup.

"Oh, jadi lo yang namanya Amira? Anak baru yang lagi viral itu ya?" Devan terkekeh pelan, suaranya renyah dan sangat enak didengar.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dari suara bariton Alfian yang selalu terdengar mengintimidasi.

"Viral karena sial sih lebih tepatnya," ringis Amira malu.

Devan tertawa lepas, sebuah tawa yang hangat dan tulus.

"Sebagai Ketua Pelaksana Pensi, gue harus mastiin panitia gue nggak kelelahan. Nih, buat lo," Devan menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin yang baru saja ia ambil dari kantong kreseknya.

"Wah, makasih banyak, Kak Devan!" mata Amira berbinar, menerima botol itu dengan senang hati.

Mereka berdua akhirnya mengobrol ringan di pinggir panggung.

Devan ternyata sangat asyik diajak bicara; dia lucu, perhatian, dan selalu menatap mata Amira saat gadis itu sedang bercerita.

Untuk sejenak, Amira lupa akan rasa lelahnya bekerja sedari tadi.

"Terus nanti properti yang ini ditaruh di mana, Kak?" tanya Amira sambil menunjuk tumpukan kardus di pojok.

Devan mencondongkan tubuhnya sedikit, memperhatikan kardus yang ditunjuk Amira.

Saat itulah, tangan Devan dengan sangat natural terulur ke arah wajah Amira.

"Rambut lo kena debu," ucap Devan lembut.

Jari-jari panjang Devan menyelipkan anak rambut Amira ke belakang telinganya, merapikannya dengan sentuhan ringan yang tak terduga.

Amira mematung seketika, matanya melebar karena terkejut dengan perlakuan manis yang terlalu tiba-tiba itu.

Namun, sebelum Amira sempat bereaksi, sebuah suara berat yang menggelegar membelah suasana aula.

"Kerja, atau cari jodoh?!"

Deg.

Amira dan Devan serempak menoleh ke arah pintu masuk aula.

Alfian berdiri di sana.

Aura cowok itu seolah sedang memancarkan badai salju bercampur lahar panas.

Matanya yang setajam elang menyorot lurus ke arah tangan Devan yang baru saja turun dari rambut Amira.

Rahang Alfian mengeras, urat di lehernya terlihat menonjol menahan amarah yang meledak-ledak.

Dengan langkah panjang yang dipenuhi hentakan mematikan, Alfian berjalan menghampiri mereka berdua.

"Eh, Fian. Kebetulan lo di sini," sapa Devan ramah, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura membunuh kapten basket itu.

"Gue tadi baru aja—"

"Tangan lo ngapain barusan?" potong Alfian dengan nada super rendah dan mengancam.

Devan mengerutkan keningnya, bingung dengan reaksi protektif Alfian.

"Cuma ngerapiin rambut Amira yang kena debu. Kenapa, Yan?" jawab Devan santai.

Mata Alfian beralih menatap Amira dengan kilatan tajam.

"Lo," tunjuk Alfian tepat di depan wajah Amira.

"Kerjaan divisi lo udah selesai semua sampai lo bisa asyik ngobrol dan pegang-pegangan sama Ketua Pelaksana di sini?!"

Amira yang tadinya masih shock, mendadak tersulut emosinya mendengar tuduhan tak berdasar itu.

"Siapa yang pegang-pegangan?! Kak Devan cuma bantuin aku ngangkat pot ini karena berat!" bantah Amira tak terima dibentak di depan umum.

"Bantuin ngangkat pot atau bantuin nyari kesempatan?" sindir Alfian menatap sinis ke arah Devan.

Devan tertawa kecil, menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap koordinatornya ini.

"Santai, Yan. Lo kenapa jadi sensi banget gini? Gue cuma friendly ke panitia gue sendiri," ucap Devan berusaha meredakan ketegangan.

"Gue nggak butuh lo friendly ke panitia divisi gue," desis Alfian tajam, sengaja menekankan kata 'divisi gue'.

Alfian melangkah maju, memposisikan tubuh besarnya tepat di antara Amira dan Devan.

"Anak-anak logistik nyariin lo dari tadi di ruang sekretariat. Mending lo urus sana, daripada gangguin anggota gue," usir Alfian tanpa tedeng aling-aling.

Devan mengangkat kedua tangannya tanda mengalah, senyum maklum terukir di wajah tampannya.

"Oke, oke, gue balik ke sekre sekarang," kata Devan tenang.

Sebelum pergi, Devan menyempatkan diri mengintip dari balik bahu Alfian untuk menatap Amira.

"Semangat kerjanya, Amira! Kalau ada yang berat-berat, panggil gue aja, oke?" pamit Devan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Brak!

Alfian langsung menendang pot kayu di dekat kakinya dengan keras, membuat Devan terkekeh dan akhirnya benar-benar melangkah pergi.

Begitu punggung Devan menghilang dari balik pintu aula, Amira langsung meledak.

"Kamu itu kenapa sih?! Datang-datang marah-marah nggak jelas!" omel Amira sambil menghentakkan kakinya.

Alfian berbalik badan, menatap Amira dengan tatapan yang bisa membekukan lautan.

"Lo yang kenapa!" balas Alfian membentak pelan.

Cowok itu melangkah maju, memaksa Amira mundur selangkah karena terintimidasi.

"Baru dikasih senyum dikit sama cowok, langsung gatel dibelai-belai rambutnya?!" sarkas Alfian tanpa saringan.

Plak!

Tanpa pikir panjang, Amira memukul lengan Alfian dengan botol minuman isotonik yang dipegangnya.

"Jaga mulut kamu ya, Kapten Kulkas! Siapa yang gatel?!" sungut Amira dengan dada naik-turun menahan marah.

"Aku ini lagi kerja dari tadi! Kak Devan baik, bantuin aku, ngasih minum. Nggak kayak kamu yang datang cuma bisa nyuruh dan marah-marah!"

"Oh, jadi dia cowok baik, gitu?" Alfian menyeringai sinis, meremehkan.

"Asal lo tahu, Devan itu terkenal playboy bermulut manis. Cewek kayak lo itu cuma target gampang buat dia."

"Setidaknya dia tahu caranya ngomong sopan sama orang! Nggak kayak kamu!" bantah Amira tak mau kalah.

"Lagian, apa peduli kamu aku mau diapain sama Kak Devan?! Kan kamu sendiri yang bilang, kamu nggak peduli sama urusan aku!"

Kalimat telak dari Amira itu seolah membungkam mulut Alfian seketika.

Suasana aula yang sepi mendadak terasa mencekik.

Rahang Alfian bergemeretak, matanya menyorotkan badai emosi yang gagal ia kendalikan.

"Ikut gue," geram Alfian tiba-tiba.

Alfian mencengkeram pergelangan tangan Amira dengan erat, namun tidak sampai menyakitinya.

"Eh! Mau ke mana?! Aku belum selesai nata ini!" berontak Amira sambil berusaha melepaskan tangannya.

Namun tenaga Amira jelas bukan tandingan seorang kapten basket.

Alfian setengah menyeret gadis itu keluar dari area panggung yang terbuka, membawanya ke lorong sempit di belakang backstage yang gelap dan sepi.

Begitu sampai di sudut lorong, Alfian langsung menghempaskan tangan Amira pelan.

Amira terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding triplek pelapis backstage.

Brak!

Belum sempat Amira memprotes, Alfian sudah menempelkan sebelah tangannya ke dinding, tepat di samping kepala gadis itu.

Alfian memojokkan Amira kedinding, salah satu tangannya nempel dinding didekat bahu Amira. kali kedua terjadi, tapi kali ini auranya seratus kali lebih intens dari sebelumnya.

Napas Alfian memburu, menyapu wajah Amira dengan hembusan yang terasa panas.

Jarak mereka tak lebih dari sejengkal tangan.

"L-lepasin! Kamu mau ngapain?!" panik Amira, jantungnya kembali berdetak brutal hingga nyaris menembus tulang rusuk.

Alfian tidak menjawab.

Matanya hanya menatap lekat ke wajah Amira, menyapu setiap inci wajah gadis yang sukses mengobrak-abrik akal sehatnya hari ini.

Cowok itu mengangkat tangannya yang bebas, dan dengan gerakan yang tak terduga, ia menyentuh pelipis Amira.

Tepatnya, di titik di mana jari-jari Devan sempat bersarang beberapa menit yang lalu.

Sentuhan jempol Alfian terasa sedikit kasar, namun luar biasa hangat saat ia mengusap pelipis itu dengan tekanan posesif.

"Gue emang pernah bilang gue nggak peduli," bisik Alfian, suaranya sangat rendah dan parau.

"Tapi.....gue ralat. Gue benci ngelihat lo senyum-senyum ke cowok lain."

Napas Amira tertahan sempurna.

Matanya membelalak menatap Alfian yang kini menatapnya dengan penuh keputusasaan dan gengsi yang berbaur menjadi satu.

"Gue benci ngelihat ada cowok lain yang berani nyentuh lo," tambah Alfian, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.

Amira menelan ludah, tubuhnya membeku tak bisa bergerak.

"K-kenapa... kamu harus benci?" cicit Amira, nyaris kehilangan suaranya sendiri.

Alfian terdiam, menatap bibir Amira sejenak sebelum kembali menatap mata bulat gadis itu.

Sebuah tawa frustrasi yang pelan lolos dari tenggorokan Alfian.

"Karena gue juga nggak tahu, Amira," aku Alfian dengan nada putus asa yang jarang sekali terdengar.

"Gue nggak tahu kenapa otak gue mendadak gila tiap kali lo ada di dekat orang lain."

Alfian memiringkan kepalanya sedikit, menempelkan dahinya ke dahi Amira dengan gerakan yang luar biasa lembut, berbanding terbalik dengan kemarahannya tadi.

"Jadi tolong... jangan bikin gue ngerasa kayak orang bodoh karena cemburu nggak jelas gini," bisik Alfian tepat di depan bibir Amira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!