"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Dingin tapi Melindungi
Mobil mewah berwarna hitam pekat itu melaju tenang membelah jalanan kota yang basah karena hujan. Roda-roda besarnya membelah genangan air tanpa suara, seakan benda itu sendiri pun tak ingin mengganggu keheningan yang menyelimuti dalam kabin. Di dalamnya, udara terasa hening, namun bukan hening yang kaku — ada kehangatan samar yang perlahan tumbuh di antara keheningan itu, kehangatan yang begitu halus namun tak bisa diabaikan. Su Yi duduk di sisi kanan, tangannya masih tergenggam erat oleh tangan Mo Han sejak mereka melangkah masuk ke dalam mobil. Ia berusaha menarik tangannya perlahan, bergerak sedikit demi sedikit dengan harapan pria di sampingnya tak akan menyadarinya, namun genggaman pria itu begitu kuat namun begitu lembut, seakan ia memegang benda paling berharga di dunia yang tak boleh terlepas sedikit pun.
"Jangan bergerak." Suara Mo Han terdengar rendah di sampingnya, tanpa menoleh sedikit pun. "Tanganmu dingin."
Dua kata sederhana itu membuat gerakan Su Yi terhenti seketika. Ia menoleh perlahan menatap pria di sampingnya. Mo Han menatap lurus ke depan, wajahnya kembali dingin dan tenang, seolah tak ada sesuatu pun yang mampu menggetarkan hatinya. Namun di bawah kegigihan itu, jari-jarinya perlahan mengatur posisi tangan Su Yi agar lebih nyaman di genggamannya, lalu mengerahkan sedikit panas dari telapak tangannya untuk menghangatkan tangan gadis itu. Tindakan itu begitu alami, begitu biasa, seakan ia sudah melakukan hal ini ribuan kali sebelumnya — bukan tindakan yang baru pertama kali dilakukan kepada seseorang yang baru saja dijumpainya.
"Kau... selalu bersikap seperti ini kepada semua wanita?" Su Yi bertanya pelan, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya yang semakin menggebu-gebu. Ia tahu pertanyaan itu mungkin terdengar bodoh, tapi ia harus tahu. Ia harus tahu apakah perlakuan lembut ini hanyalah kebiasaan yang diberikan kepada siapa pun, atau apakah ada sesuatu yang lain di baliknya.
Mo Han diam beberapa detik, seakan sedang mempertimbangkan jawabannya, lalu menjawab tanpa menoleh, suaranya datar namun tegas. "Aku tidak pernah menyentuh wanita lain."
Jawaban itu singkat dan padat, tanpa embel-embel, tanpa penjelasan panjang lebar, namun membuat jantung Su Yi berdebar kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia menatap profil wajah pria itu — garis rahang yang tegas, hidung yang tegak, bibir yang tipis namun terlihat kokoh. Bagaimana mungkin pria sepertinya — tampan, kaya, ditakuti seluruh kota — tidak pernah menyentuh wanita lain? Di luar sana, berapa banyak gadis yang rela melakukan apa pun hanya untuk bisa berdiri di sampingnya? Namun melihat tatapan pria itu yang begitu tulus dan serius, jauh di lubuk hatinya, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya percaya. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
"Kenapa aku?" Su Yi kembali bertanya, suaranya pelan namun jelas, berusaha menembus keheningan kabin mobil yang semakin terasa sempit karena ketegangan yang tak terucap. "Dari sekian banyak gadis yang jauh lebih cantik, jauh lebih kaya, dan jauh lebih pantas dariku... mengapa kau memilihku? Aku tidak punya apa-apa. Aku bahkan tidak bisa memberimu apa pun yang kau butuhkan."
Kali ini Mo Han menoleh perlahan, menatap lurus ke mata Su Yi. Cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam mobil menyoroti matanya yang dalam dan gelap, seperti dua permata hitam yang menyimpan rahasia tak terhitung jumlahnya. Dan di sana, untuk sesaat, Su Yi melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan — kerinduan yang begitu dalam, begitu menyakitkan, seakan ia telah menunggunya selama ribuan tahun, seakan ia telah merindukannya bahkan sebelum mereka bertemu.
"Suatu hari nanti... kau akan tahu semuanya." Mo Han berkata pelan, suaranya lembut namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan, seakan ia sedang bersumpah di hadapan langit dan bumi. "Saat itu tiba... kau mungkin akan membenciku, atau mungkin akan memaafkanku. Tapi sampai hari itu datang... percayalah padaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Su Yi menatapnya lama, kata-kata itu begitu berat namun begitu tulus. Ia ingin bertanya lebih banyak, ingin mendesaknya untuk menjelaskan sekarang juga, namun melihat kesedihan yang tersembunyi di balik tatapan pria itu — kesedihan yang begitu dalam sehingga membuat hatinya ikut terasa perih — ia memilih untuk diam. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan, tanpa sadar, ia membiarkan tangannya tetap berada di genggaman Mo Han, bahkan secara halus, ia sedikit merapatkan tangannya ke telapak tangan pria itu.
Mobil melaju terus hingga sampai ke sebuah kawasan perumahan di bukit tertinggi di kota itu, di mana rumah-rumah besar dan mewah berdiri berjauhan di antara pepohonan hijau yang rimbun dan tertata rapi. Mobil itu berhenti di depan gerbang besar yang terbuat dari besi tempa bermotif bunga mawar yang elegan dan rumit, dan saat gerbang itu terbuka secara otomatis, pemandangan di dalamnya membuat Su Yi terbelalak tak percaya.
Di sana, di atas bukit yang menghadap ke seluruh kota, berdiri sebuah rumah besar bergaya klasik Eropa yang megah namun hangat — dinding berwarna krem yang lembut, atap berwarna cokelat tua yang kokoh, dan jendela-jendela besar yang memancarkan cahaya kuning lembut dari dalam, seakan rumah itu sendiri sedang menyambut kedatangannya. Di sekeliling rumah itu terdapat taman luas yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran dalam berbagai warna — mawar merah dan putih, melati yang harum, dan barisan bunga matahari yang berdiri tegak meski di tengah hujan — serta pepohonan tinggi yang memberikan keteduhan, dan kolam kecil di tengahnya yang airnya jernih dan berkilauan terkena cahaya lampu taman yang tersembunyi di antara dedaunan.
"Ini... ini rumahmu?" Su Yi bertanya tak percaya saat mereka turun dari mobil, matanya tak mampu berhenti berkeliling melihat keindahan di sekelilingnya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga yang harum, dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah orang tuanya, ia tidak merasa cemas. Ia merasa... tenang.
"Ini kediaman utama Keluarga Mo. Dan mulai hari ini... ini juga rumahmu." Mo Han menjawab sambil mengulurkan tangannya membimbingnya masuk ke dalam, gerakannya begitu alami, begitu terbiasa, seakan ia telah melakukan ini setiap hari selama bertahun-tahun. "Kau bebas pergi ke mana saja di dalam rumah ini. Semua ruangan terbuka untukmu. Tapi jangan pergi keluar rumah sendirian, terutama saat malam. Wilayah ini belum sepenuhnya aman. Dan aku belum siap... belum siap membiarkanmu berhadapan dengan bahaya apa pun."
Su Yi mengangguk pelan, berjalan di samping pria itu menuju pintu utama yang besar dan indah. Saat mereka masuk ke dalam rumah, suasana di dalamnya hangat dan tenang — tidak terlalu mewah hingga terasa kaku dan dingin, namun setiap sudutnya menunjukkan kemewahan yang elegan dan berkelas, kemewahan yang tidak perlu berteriak untuk dilihat. Lantai terbuat dari marmer berwarna putih yang berkilauan namun tidak menyilaukan, dinding dihiasi lukisan-lukisan pemandangan yang menenangkan, dan di tengah ruangan utama terdapat tangga besar yang melengkung anggun ke lantai atas dengan pagar kayu jati yang diukir dengan motif bunga yang sama persis dengan yang ada di gerbang luar.
Beberapa pelayan yang sudah menunggu di ruang tengah segera membungkuk hormat saat melihat mereka masuk, namun tidak ada yang berbicara atau bergerak tanpa perintah. Su Yi merasa canggung di hadapan mereka — ia terbiasa hidup sederhana, berbagi ruang dengan orang lain, dan semua kemewahan serta perhatian penuh ini membuatnya merasa seperti orang asing yang tersesat di istana orang lain. Ia menunduk sedikit, berusaha tidak menatap siapa pun, berusaha menjadi sekecil mungkin agar tidak diperhatikan.
Namun Mo Han seakan membaca kegelisahannya. Tanpa menoleh, ia berbicara dengan suara rendah namun tegas kepada semua orang yang ada di ruangan itu. "Ingatlah mulai hari ini. Nyonya Su Yi adalah tuan rumah di sini. Segala kebutuhannya adalah prioritas utama kalian. Apa pun yang ia minta, penuhi tanpa pertanyaan. Dan jika ada yang berani bersikap tidak sopan atau membuatnya merasa tidak nyaman... kalian tahu akibatnya."
"Baik, Tuan Muda." Semua orang menjawab serempak, lalu mundur dengan tenang dan teratur, meninggalkan mereka berdua sendirian di ruangan yang luas itu.
Mo Han berbalik menatap Su Yi, dan tatapannya kembali melembut, berbeda dengan nada tegas yang ia gunakan tadi. "Jangan takut pada mereka. Mereka akan menghormatimu sebagaimana mereka menghormatiku. Dan jangan pernah merasa seperti tamu di sini. Kau adalah nyonya rumah ini. Kau berhak atas segalanya."
Su Yi menatapnya, dada bagian atasnya terasa sesak karena perasaan yang campur aduk — bingung, bersyukur, dan sesuatu yang lain yang belum berani ia akui. "Terima kasih." Ucapnya pelan, tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Ikuti aku. Aku akan menunjukkan kamarmu." Mo Han berkata pelan, lalu berjalan menuju tangga besar itu, langkahnya tenang dan mantap, seakan ia sedang menuntunnya menuju rumahnya sendiri.
Mereka berjalan naik ke lantai dua, di mana koridor yang luas dan hangat itu dipenuhi lukisan-lukisan pemandangan yang menenangkan dan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman di bawah. Mo Han berhenti di depan pintu besar di ujung koridor — pintu yang terbuat dari kayu cokelat tua yang halus, dengan gagang pintu berbentuk bunga matahari yang terbuat dari emas murni. Ia membukanya perlahan dan memberi isyarat agar Su Yi masuk.
"Ini kamarmu."
Su Yi melangkah masuk, dan matanya melebar tak percaya. Kamar itu begitu luas dan begitu indah — dinding berwarna krem lembut yang membuatnya merasa seperti berada di dalam pelukan hangat, lantai berwarna kayu cokelat hangat yang terasa nyaman di bawah kakinya, dan jendela besar dari lantai hingga ke langit-langit yang menghadap ke taman dan kota di bawahnya, membiarkan cahaya redup sore hari masuk dengan bebas. Di sudut ruangan terdapat meja kerja yang terbuat dari kayu jati tua dengan permukaan yang halus dan berkilauan, rak buku yang luas yang sudah terisi buku-buku yang tampak disesuaikan dengan seleranya, dan sofa empuk berwarna krem yang menghadap ke jendela, tempat sempurna untuk membaca atau sekadar melamun. Tempat tidur besar berwarna putih dan emas berdiri di tengah ruangan, dengan tirai tipis yang berwarna putih susu yang melambai pelan tertiup angin malam yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka.
Dan di atas meja samping tempat tidur... terdapat vas berisi bunga matahari yang masih segar dan bermekaran indah, kelopaknya berwarna kuning cerah seakan menangkap cahaya matahari terakhir sore itu dan menyimpannya di sana.
"Bunga matahari..." Su Yi membisikkan pelan, matanya berkaca-kaca karena terkejut dan haru. "Ini... bunga favoritku. Tapi bagaimana kau tahu? Aku belum pernah menyebutkannya kepada siapa pun, apalagi kepadamu."
Mo Han berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan lembut yang tak biasa, tatapan yang penuh dengan kerinduan yang tak terucap. "Aku tahu banyak hal tentangmu, Su Yi. Lebih dari yang kau bayangkan. Lebih dari yang bisa kuceritakan saat ini."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati gadis itu, lalu melanjutkan dengan suara yang tenang dan tegas. "Kamar mandi ada di sebelah sana. Pakaian dan perlengkapanmu sudah ada di dalam lemari — semuanya ukuran dan warna yang biasa kau pakai. Jika kau butuh apa pun, tekan tombol di samping tempat tidur — pelayan akan datang segera. Dan jika kau tidak bisa tidur... pintu kamarku ada di seberang koridor ini, tepat di hadapan pintumu. Kau boleh datang kapan saja, apa pun alasannya. Aku selalu ada untukmu."
Su Yi menatapnya, hatinya terasa hangat namun juga semakin bingung. Semua hal yang dilakukan pria ini — menggenggam tangannya untuk menghangatkannya, menyiapkan bunga matahari favoritnya, memberinya kamar yang begitu indah dan disesuaikan dengan seleranya, bahkan menempatkan kamarnya tepat di hadapan kamarnya — semuanya menunjukkan bahwa ia bukan pria yang kejam dan dingin seperti yang dikatakan orang-orang. Tapi mengapa ia menyembunyikannya? Dan mengapa ia begitu memperhatikannya seakan ia adalah pusat dunianya?
"Terima kasih." Su Yi berkata pelan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda terima kasih yang tulus, rasa terima kasih yang lebih dalam dari sekadar kata-kata. "Untuk semuanya."
Mo Han mengangguk pelan, lalu berbalik hendak pergi, namun sebelum menutup pintu, ia berhenti dan menoleh sekali lagi, menatapnya seakan ingin mengingat setiap detail wajahnya di bawah cahaya lembut lampu kamar itu.
"Ingat satu hal, Su Yi. Di sini... kau bukan tamu. Kau adalah nyonya rumah ini. Jangan pernah merasa takut atau canggung untuk meminta apa pun. Apa pun yang kau butuhkan, apa pun yang kau inginkan... selama itu ada di dunia ini, akan kupastikan kau memilikinya. Dan jika itu tidak ada di dunia ini... aku akan menciptakannya untukmu."
Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Su Yi sendirian di kamar yang hangat dan indah itu. Ia berjalan perlahan mendekati meja samping tempat tidur, menatap bunga matahari yang bermekaran cerah itu. Tangannya perlahan menyentuh kelopak bunga yang lembut dan hangat itu, dan air mata perlahan jatuh membasahi pipinya — bukan karena sedih, melainkan karena rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, rasa hangat yang seakan berasal dari tempat yang sangat dalam, dari waktu yang sangat lama.
"Siapa sebenarnya kau, Mo Han?" Ia membisikkan pelan di dalam keheningan kamar, suaranya bergetar namun penuh harapan. "Dan mengapa kau membuat hatiku berdebar seperti ini, seakan aku sudah mencintaimu sejak lama sekali?"
Di seberang koridor, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Mo Han berdiri diam menatap pintu kamarnya yang baru saja ia tutup. Tangan kanannya menekan dada kirinya yang berdebar kencang, seakan jantungnya ingin melompat keluar dan berlari masuk ke kamar di hadapannya, untuk tinggal di sana bersama gadis itu. Ia menutup matanya rapat-rapat, menahan rasa rindu yang meluap-luap, rindu yang telah ia simpan selama sepuluh tahun penuh kesepian dan penantian.
"Tidurlah dengan tenang, Yi." Ia berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Mulai malam ini... tidak ada yang berani menyakitimu lagi. Aku janji. Bahkan jika aku harus membakar seluruh dunia ini demi melindungimu... aku akan melakukannya."
salam interaksi thor😉