Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Restoran yang dituju Tae-jun ternyata hanyalah kedai makan kecil di gang sempit, beberapa blok dari gedung hotel. Ji-eun cukup terkejut, ia mengira Tae-jun akan membawanya ke restoran mewah seperti kemarin malam.
Kedai ini terasa begitu hangat, sederhana, dan dipenuhi oleh para pekerja kantoran yang menikmati jam istirahat.
"Kenapa memilih tempat ini?" tanya Ji-eun seraya menarik kursi.
Tae-jun melepas mantel panjangnya dan menggantungnya di sandaran kursi. "Karena makanannya enak."
"Kau pernah makan di sini?"
"Sering."
Ji-eun menatapnya tak percaya. "Sendirian?"
"Ya."
Jawaban singkat itu membuat Ji-eun tertegun. Pria setingkat Seo Tae-jun bisa menyewa seluruh restoran bintang lima jika mau, tetapi ia justru memilih duduk di sudut kedai mungil ini seorang diri.
Pesanan mereka tiba. Ji-eun memperhatikan gerak-gerik Tae-jun yang tenang saat mengisikan air putih ke gelasnya.
"Tae-jun-ssi."
"Hm?"
"Apa kau sedang mendekatiku?"
Tangan Tae-jun yang memegang teko air terhenti sejenak. "Tidak. Aku tidak merasa sedang mendekatimu."
"Kau mengajakku makan dua hari berturut-turut."
"Itu hanya makan siang biasa."
"Kau juga mengirimkan pesan sepagi ini."
"Itu hanya memastikan bawahanku sudah bersiap."
"Dan menanyakan apakah aku sudah sarapan atau belum?" pangkas Ji-eun cepat.
Tae-jun mendadak bungkam.
Ji-eun tersenyum puas menyaksikan keterdiaman itu. "Nah."
Tae-jun menatapnya tajam namun tanpa ancaman. "Apa?"
"Kamu kehabisan kata-kata untuk membuat alasan."
Tae-jun menyandarkan punggungnya, berusaha bersikap acuh tak acuh. "Kalau begitu, tidak usah terlalu dipikirkan."
Ji-eun tertawa renyah. "Baiklah. Aku akan menganggap ini sikap baik atasan kepada bawahan."
Makan siang berlanjut. Namun di tengah santapan, Ji-eun mendadak tersedak hingga batuk-batuk kecil. Tanpa membuang waktu, Tae-jun menggeser gelas air ke hadapan Ji-eun.
"Minum dulu. Pelan-pelan."
Ji-eun meraih gelas itu dan meminumnya cepat. "Terima kasih..."
Tae-jun mengangguk singkat. "Kenapa kau selalu terburu-buru saat makan?"
"Aku tidak terburu-buru."
"Tapi kau hampir tersedak."
"Ini karena kuahnya terlalu pedas," elak Ji-eun seraya mengusap bibirnya.
Tae-jun menatap mangkuk sup Ji-eun. "Kau tidak kuat pedas?"
"Sedikit."
"Lalu kenapa tetap dipesan?"
"Karena aromanya menggoda."
Tae-jun menghela napas pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat sumpitnya, mengambil beberapa potong daging lembut dari mangkuknya sendiri, lalu memindahkannya ke mangkuk Ji-eun.
"Ini tidak pedas. Makan yang ini."
Ji-eun menatap potongan daging di mangkuknya, lalu beralih menatap Tae-jun dengan pandangan tak menyangka. "Tae-jun-ssi, kau..."
"Apa?"
"Sebenarnya kau ini tipe orang yang perhatian, ya?"
Tae-jun seketika meletakkan sumpitnya dengan bunyi klak yang agak keras. "Bukan."
Ji-eun tertawa geli melhat reaksi defensif itu. "Iya, iya. Percaya."
Ji-eun melahap daging pemberian Tae-jun dengan lahap. Diam-diam, Tae-jun memperhatikannya dari seberang meja. Dan tanpa ia sadari, lengkungan senyum paling tipis terukir indah di sudut bibirnya.
Sore harinya, Ji-eun kembali berkutat dengan tumpukan tugas operasional. Pukul 18.30, ponselnya berdering menyuarakan panggilan masuk dari Busan.
"Nenek?" panggil Ji-eun lembut saat mengangkatnya.
"Ji-eun-ah," suara parau sang nenek terdengar dari ujung telepon.
"Iya, Nenek. Bagaimana kabarnya?"
"Baik, Cucu. Kamu sedang sibuk?"
"Tidak terlalu, Nek. Ada apa?"
"Besok Nenek mau ke rumah sakit sebentar."
Tubuh Ji-eun seketika menegak kaku. "Ke rumah sakit? Nenek sakit?"
"Hanya kontrol rutin bulanan, Ji-eun. Jangan panik begitu."
"Nenek pergi sendiri?"
"Nenek bisa naik bus sendiri, tidak usah khawatir."
"Tidak!" potong Ji-eun tegas. "Aku akan pulang ke Busan besok."
"Jangan, Nak. Kamu, kan, harus bekerja. Jangan bolos hanya karena Nenek."
"Aku bisa ambil jatah cuti, Nek."
Neneknya tertawa pelan di balik telepon. "Kau ini selalu saja berlebihan. Nenek bai-baik saja."
Ji-eun terdiam, mengulum bibir bawahnya rapat-rapat. "Janji padaku, Nenek tidak boleh memaksakan diri."
"Iya, Nenek janji."
Panggilan terputus. Ji-eun menyandarkan punggungnya di kursi, menunduk dalam-dalam. Sudut matanya mendadak terasa panas dan menyengat. Ia buru-buru menyapu sudut matanya dengan punggung tangan.
Tidak boleh menangis. Jangan di sini, batinnya menguatkan diri.
Namun ketika ia mendongak, sesosok tubuh tinggi sudah berdiri diam di ambang pintu ruangannya yang terbuka sedikit.
Seo Tae-jun.
Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana. Pandangannya yang tajam terkunci lurus pada mata Ji-eun yang memerah. Raut wajah Tae-jun seketika berubah.
"Kau menangis?"
Ji-eun kaget, lalu memaksakan sebuah senyuman lebar. "Tidak. Siapa yang menangis?"
"Kau baru saja mengusap mata."
"Cuma kemasukan debu."
"Di dalam ruangan ber-AC?" cecar Tae-jun datar.
Ji-eun tertawa kecil yang terdengar sumbang. "Iya, kadang AC-nya berdebu."
Tae-jun tidak ikut tertawa. Ia melangkah maju mendekati meja kerja Ji-eun. "Siapa yang meneleponmu tadi?"
"Nenek."
"Ada masalah?"
Ji-eun menggeleng pelan. "Tidak ada hal serius."
Tae-jun kini berdiri tepat di seberang mejanya. "Ji-eun-ah."
Ji-eun kaget Tae-jun menyebut namanya seperti itu. Bahkan panggilan itu diucapkan dengan nada yang begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan karakter resminya selama ini. Dan justru kelembutan spontan itulah yang meruntuhkan pertahanan Ji-eun.
"Nenek harus kontrol ke rumah sakit besok," bisik Ji-eun lirih, tak mampu lagi berbohong.
"Sakit parah?"
"Katanya hanya pemeriksaan rutin."
"Kau mau pulang?"
Ji-eun mengangguk pelan. "Iya, aku harus pulang."
Tae-jun terdiam sejenak, memproses informasi tersebut. "Ke Busan?"
"Iya."
"Aku antar."
Ji-eun mendongak kaget dan langsung menggeleng cepat. "Tidak perlu, Tae-jun-ssi! Tidak usah!"
"Kenapa?"
"Jarak Seoul ke Busan cukup jauh. Lagipula aku bisa naik KTX sendiri."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa..."
"Aku ingin mengantarmu," potong Tae-jun lugas.
Ji-eun memandangnya tak percaya. Tae-jun membalas tatapan itu tanpa jeda. Tidak ada keangkuhan Direktur Seo di sana, tidak ada nada perintah seorang atasan, hanya ada seorang pria yang menawarkan perlindungan dengan tulus.
"Aku tidak ingin merepotkanmu..." lirih Ji-eun.
"Kau tidak pernah merepotkanku."
Ji-eun tercekat, tak mampu membantah lagi. Tae-jun kemudian meraih mantelnya yang sempat ia sangkutkan di lengan.
"Besok pagi aku jemput di apartemenmu."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Itu biar jadi urusanku. Kau tidak perlu cemas."
"Tae-jun-ssi..."
"Hm?"
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Tae-jun terhenti di dekat pintu. Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti hening. Pria itu tidak langsung berbalik, hingga akhirnya ia bersuara pelan.
"Karena aku tidak suka melihatmu menanggung air mata sendirian."
Pintu terkatup pelan.
Ji-eun membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang melebihi ritme normal. Ia menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat, mencoba menetralkan napasnya yang mendadak sesak.
"Kenapa..." bisiknya pada ruangan yang kosong, "...pria itu selalu bisa membuatku merasa seperti ini?"
Sementara itu di luar ruangan, Tae-jun menyusuri koridor hotel yang lengang. Langkah kakinya perlahan memelan.
Ia sendiri tertegun dengan ucapan yang baru saja lolos dari mulutnya. Namun, satu hal yang pasti, senyum Ji-eun selalu menjadi pemandangan yang ingin ia pandangi lebih lama. Dan ketika senyum itu mendadak sirna digantikan duka... ia ingin menjadi sosok yang mengembalikannya.
Mungkin, itulah awal dari benih perasaan yang tak pernah ia izinkan tumbuh, sebuah perasaan yang kini mekar tanpa meminta persetujuannya.
...****************...