Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Sebuah mesin pemotong batu industri berukuran masif didorong ke tengah panggung oleh empat orang teknisi.

Mesin itu memiliki mata pisau berlian berdiameter dua meter yang khusus digunakan untuk membelah batu raksasa.

Master Seno berdiri tepat di depan mesin tersebut dengan dada dibusungkan seperti seorang pahlawan perang yang baru kembali.

Ia melambaikan tangannya ke arah para teknisi untuk segera memulai prosesi suci pemotongan batu Raja Hijau.

"Nyalakan mesinnya dan belah tepat di bagian tengah urat lumut itu!" perintah Master Seno dengan suara lantang dan penuh kemenangan.

"Biar pemuda kampungan di ujung sana melihat warna hijau sejati yang akan membutakan mata sombongnya malam ini!" tambahnya sambil menunjuk ke arah Gibran.

Gibran hanya membalas tunjukan itu dengan mengangkat cangkir tehnya ke udara merayakan kebodohan musuhnya.

Ngiiiiing.

Mesin raksasa itu menyala dengan suara dengungan yang sangat memekakkan telinga hingga membuat lantai aula bergetar pelan.

Mata pisau raksasa perlahan turun menggigit permukaan keras dari batu Raja Hijau seharga seratus lima puluh miliar tersebut.

Bzzzt. Crak crak crak.

Debu putih tebal seketika menyembur ke udara menutupi hampir seluruh area panggung utama.

Bratasena Mahendra berdiri dari kursinya dan berjalan maju mendekati panggung dengan napas memburu.

Uang itu adalah hasil menggadaikan seluruh aset perusahaan, rumah mewah, dan tabungan masa depan keluarganya.

Brak.

Suara hantaman keras terdengar saat batu raksasa itu akhirnya terbelah sempurna menjadi dua bagian dan menimpa alas karet mesin.

"Cepat siram dengan air dan perlihatkan hijau zamrudnya kepada dunia!" teriak Bratasena dengan wajah memerah karena kegirangan.

Dua teknisi segera menyemprotkan air bertekanan tinggi dari selang besar untuk membersihkan debu pekat tersebut.

Byur.

Debu putih itu luruh mengalir deras ke saluran pembuangan di bawah mesin.

Keheningan yang sangat mengerikan mendadak menyergap seluruh sudut ruangan aula pelelangan akbar itu.

Ratusan pasang mata konglomerat melotot sempurna melihat hasil belahan batu yang baru saja disiram air tersebut.

Tidak ada kilauan hijau zamrud kaisar seperti yang dijanjikan.

Bagian dalam batu raksasa itu sepenuhnya berwarna putih keabu-abuan pucat seperti kapur jalanan biasa.

"K-kosong? Kenapa isinya cuma batu kapur tanpa ada setitik pun warna hijau?!" teriak seorang pengusaha memecah kesunyian.

"Itu batu palsu yang sengaja ditempeli fosil lumut di kulit luarnya, Keluarga Mahendra baru saja membuang seratus lima puluh miliar untuk sampah!" sahut konglomerat lainnya.

Mata Master Seno membelalak horor nyaris keluar dari kelopaknya melihat zonk mutlak di depannya.

Kakinya langsung kehilangan tulang dan ia jatuh berlutut di atas panggung dengan air mata penyesalan yang mengucur deras.

"Tidak mungkin, ini ilusi, mataku tidak mungkin salah menilai batu legendaris ini!" racau Master Seno menarik-narik rambutnya sendiri seperti orang gila.

Bratasena Mahendra yang berdiri di bawah panggung tiba-tiba mematung kaku seperti tersambar petir di siang bolong.

Wajah pria paruh baya yang tadinya merah karena sombong itu kini berubah pucat pasi seperti mayat kehabisan darah.

Uang seratus lima puluh miliar lenyap menjadi debu kapur dalam hitungan detik.

"Harta keluargaku... Perusahaanku... Rumahku..." gumam Bratasena dengan napas yang mulai putus-putus.

Dada Bratasena tiba-tiba terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum besi panas dari dalam.

Uhuk.

Bratasena memuntahkan gumpalan darah kental ke atas lantai marmer aula lalu jatuh telentang dengan mata mendelik ke atas.

"Tuan Besar! Panggil ambulans cepat, Tuan Besar Bratasena terkena serangan jantung parah!" teriak sekretarisnya panik memeluk tubuh majikannya yang kejang-kejang.

Aula itu langsung berubah menjadi arena kekacauan di mana para pengawal Keluarga Mahendra berlarian menggotong tubuh Bratasena keluar.

Gibran berdiri dari kursinya dengan sangat perlahan dan merapikan setelan jas tuksedonya.

Ia tersenyum penuh kepuasan melihat kehancuran absolut dari keluarga yang telah menginjak-injak harga dirinya dulu.

"Karma memang datang sangat cepat jika kita membelikannya tiket pesawat kelas satu," ucap Gibran dengan suara bariton yang menggema menembus kekacauan.

Aurel Larasati ikut berdiri dan menatap Gibran dengan rasa kagum yang kini berubah menjadi ketundukan mutlak.

"Kau benar-benar menghapus nama Keluarga Mahendra dari peta bisnis kota ini hanya dengan menggunakan kebodohan mereka sendiri," bisik Aurel pelan.

Gibran melangkah melewati kerumunan orang panik itu dan naik ke atas panggung utama dengan sangat elegan.

Ia menendang batu kapur milik Bratasena itu hingga terguling ke bawah mesin.

"Pembawa acara, panggung ini belum selesai karena aku membawa hidangan penutup yang sesungguhnya malam ini," perintah Gibran mengambil alih mikrofon.

Suara Gibran yang berwibawa langsung membungkam kepanikan ratusan orang di dalam aula tersebut.

Empat pengawal tentara bayaran Gibran melangkah masuk membawa sebuah kotak brankas baja berukuran sedang ke atas panggung.

Klik.

Gibran membuka kunci kombinasi brankas itu dan mengeluarkan sebuah batu yang sudah dipoles sempurna sebesar kepala manusia.

Sring.

Sebuah cahaya putih kebiruan yang sangat murni dan menyilaukan meledak keluar dari tangan Gibran menyapu seluruh ruangan.

Aura suci dari batu itu seketika membuat suhu ruangan terasa sejuk dan damai menenangkan jiwa.

"Ya Tuhan, cahaya surgawi apa ini yang menembus masuk ke dalam mataku?" gumam seorang konglomerat tua sambil menangis terharu.

"Itu Giok Salju Surgawi! Benda pusaka yang sudah hilang dari dunia selama puluhan tahun kini ada di tangan pemuda itu!" teriak master giok lain yang duduk di barisan belakang.

Seluruh konglomerat langsung berdesakan maju mendekati panggung seperti sekumpulan orang beriman yang melihat mukjizat nabi.

"Aku tawar tiga puluh miliar untuk benda itu Tuan Gibran!" teriak seorang bos tambang.

"Minggir kau orang miskin, aku berani bayar lima puluh miliar rupiah tunai malam ini juga untuk membawanya pulang!" potong pengusaha properti dari luar negeri.

Harga Giok Salju Surgawi itu melonjak gila-gilaan menembus angka lima puluh miliar rupiah hanya dalam waktu kurang dari satu menit.

Namun Gibran hanya tersenyum tipis dan mengangkat tangannya untuk menghentikan hujan tawaran tersebut.

"Simpan uang kalian, karena Giok Salju Surgawi ini tidak akan kujual kepada siapa pun malam ini."

"Batu ini akan menjadi pusaka abadi milik Aliansi Bisnis Dirgantara dan Larasati sebagai bukti siapa penguasa giok nomor satu di negara ini," deklarasi Gibran dengan suara mutlak.

Ratusan pengusaha itu langsung terdiam dan menundukkan kepala mereka mengakui kekalahan mutlak di hadapan Gibran.

Mereka sadar bahwa pemuda ini bukan lagi orang sembarangan, melainkan seorang raja baru yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Aurel yang berdiri di bawah panggung menatap Gibran dengan dada berdebar kencang yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Malam ini, legenda baru telah lahir dari seorang pemuda desa yang merangkak naik menghancurkan para naga tua ibu kota.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!