Indonesia
NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26. Wati Berangkat. Harjo Selalu Salah.

Wati dan Slamet pun akhirnya berangkat menuju Balai Kampung, mereka pergi sebelum jam pelajaran Wati berakhir. ***

Beberapa saat yang lalu.

Wati kIni sudah keluar dari dalam kantor Kepala sekolah. Wati berencana hendak menuju kelasnya untuk masuk memulai pelajaran yang tertunda, namun dI perjalanan dari kantor Kepala sekolah Wati ternyata sudah dinantikan oleh Slamet.

Slamet segera menghampiri Wati dan bertanya,

"Bu Wati... apakah sebaiknya kita berangkat sekarang saja sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11.00? Saya khawatir Bapak Kepala kampung pergi mempunyai kesibukan lain dan pergi keluar Balai Kampung." pinta Slamet yang tampak mulai risau.

Wati berhenti sejenak dan menjawab pertanyaan dari Slamet.

"Baiklah, namun saya masih memiliki kewajiban terhadap siswa saya. Saya harap Pak Slamet bersabar dan dapat memaklumi kesibukan saya." jawab Wati, Wati merasa Slamet terlalu memaksa, sebab Slamet mengetahui tugas dan tanggung jawab seorang guru.

Wati juga agak terlambat masuk ke ruangan kelasnya karena peristiwa yang tidak terduga, serta kewajiban meminta izin kepada Kepala sekolah sebagai pimpinan mereka di lembaga pendidikan itu. Wati tidak ingin melanggar prinsipnya.

"Tetapi Bu. jam 12 siang, Bapak Kepala kampung pasti pergi untuk makan sIang. Bagaimana jika beliau tidak kembali ke Balai kampung lagi setelahnya?" tanya Slamet kembali kepada Wati.

"Saya faham, Pak Slamet. Saya akan berusaha sebaik dan secepat mungkin menyelesaikan tugas saya." kembali Wati menjawab dengan cara diplomatis, lalu melanjutkan perjalanannya menuju ruangan kelas 4a.

Slamet tampak gusar sekali, namun tak dapat mencegah Wati. Slamet hanya dapat menyeka rambutnya kebelakang dengan sedikit kasar.

Wati menyadari apa yang dimaksudkan oleh Slamet, namun orang yang dapat disalahkan adalah Slamet. Sebab hukuman dari Slamet membuat Wati harus menunda masuk keruangan kelasnya, sehingga semuanya tertunda.

Wati mempercepat langkah kakinya dan segera tiba didepan pintu kelasnya, namun apa yang dilihatnya adalah hampir seluruh siswa kepanasan dan mengipasi diri mereka. Wati menyadari hal tersebut wajar terjadi sebab cuaca hari ini panas sekali, mereka juga baru saja dihukum dengan berjemur di bawah sinar matahari dan ditambah lagi, sekolah ini hanya sekolah kampung yang tidak memiliki kipas angin apalagi AC sebagai pendingin ruangan.

Wati memasuki kelasnya dan duduk di kursi yang disediakan untuk guru yang masuk mengajar dI kelas tersebut.

"Permisi Bu, kami meminta maaf soal kejadian tadi di lapangan sekolah serta saat ini kami merasa sangat kegerahan sehingga tidak dapat berkonsentrasi kalau belajar. Sekali lagi, kami meminta maaf Bu." tutur Naina, setelah terlebih dahulu diberikan izin oleh Wati untuk berbicara setelah sebelumnya menunjukkan tangan ke atas.

Mendengar permintaan siswanya, Wati pun merasa lega, sebab dirinya hanya bermaksud memberikan tugas dan meminta siswa agar tertib di ruangan kelas sebab dirinya akan berangkat ke Balai Kampung saat ini.

"Baiklah kalau begitu, kebetulan ibu juga memiliki kegiatan yang lain, maka kalian harus belajar sendiri. ibu harap kalian tertib, tidak ribut atau mengganggu kelas yang lain. Kerjakan latihan yang ada di akhir bab. Ketua kelas awasi teman-teman kamu." Ucap Wati.

"Baik Bu!" seru semua siswa serentak.

"Baiklah, kalau begitu, Ibu permisi." Wati segera keluar ruang kelas.

Wati segera menemui Slamet yang terlihat uring-uringan dengan wajah lesu.

"Mari, Pak Slamet. Kita segera berangkat, agar kita tidak kesiangan.

Mendengar perkataan Wati, wajah Slamet segera berubah drastis bak bunga mekar di pagi hari. Senyum lebar menghiasi sudut bibirnya.

"Apa?" tanya Slamet tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.

"Baiklah, mari berangkat!" seru Slamet cepat.

Slamet segera bangkit dari kursi yang didudukinya. Slamet memang terbiasa cepat tanggap untuk sesuatu yang menguntungkannya. ***

Mereka pun segera berangkat. Awalnya posisi berjalan mereka sedikit sejajar, walaupun Wati berposisi lebih di depan, sebab Wati tidak ingin terlihat terlalu dekat dengan Slamet, karena mencegah terjadi gosip-gosip yang tercipta dimasyarakat dengan sendirinya, bahkan Slamet sendiri yang akan menciptakan gosip-gosip tersebut. Wati sudah sering sekali mendengar Slamet mengatakan bahwa gadis-gadis Kampung adalah pacarnya dan dirinya selalu saja menjadi idola para gadis tersebut, namun setelah didapati, ternyata hanya cerita sepihak dari Slamet saja.

Oleh sebab itu Wati berusaha sedikit menjaga jarak posisi tubuhnya saat ini. Namun anehnya, kecepatan langkah kaki Wati tidaklah terlalu cepat, mengapa jarak mereka semakin jauh?

Posisi mereka sudah seperti petugas pengamanan dengan pejabat besar saat kunjungan kerja.

Wati tidak menyadari hal tersebut, sebab keinginannya adalah cepat sampai di Balai Kampung, ditambah lagi keadaan cuaca karena terik sinar matahari cahaya panasnya.

Ternyata hal ini terjadi karena Slamet berjalan dengan mode sangat lambat. Slamet saat berjalan sambil menikmati pemandangan yang terjadi saat ini.

Namun lama-kelamaan Slamet tersadar juga, setelah mengetahui Wati menghilang dari pandangan matanya.

Slamet segera mempercepat langkah kakinya mencari keberadaan Wati. Slamet akhirnya dapat melihat keberadaan Wati yang sesaat lalu hilang dari pandangan matanya, sebab Wati sudah melewati persimpangan jalan dan berbelok menuju Balai Kampung.

Dengan nafas terengah-engah Slamet memanggil nama Wati.

"Bu Wati, tunggu!!! Pelankan sedikit langkah kaki anda, kita tidak perlu terlalu terburu-buru." seru Slamet yang sedikit kelelahan. Namun Wati tidak menghiraukan ucapan Slamet.

Karena tIdak hiraukan, Slamet kini berusaha mempercepat langkahnya untuk setidaknya menyamai posisi Wati yang kini berada di depannya dengan jarak beberapa langkah.

Saat akan berhasil menyamai keberadaan Wati, Slamet kembali berbicara,

"Sebaiknya kita berjalan lebih lambat," pinta Slamet lagi, namun tanpa disadari Slamet langkah kaki Wati semakin cepat juga.

Semakin cepat langkah kaki Slamet semakin cepat juga langkah kaki Wati. Demikian seterusnya, sehingga jarak antara merela tetap saja semakin tercipta dengan jelas.

Slamet tersadar lalu berhenti sejenak karena kelelahan. Dia teringat, beberapa hari yang lalu Wati masih dalam keadaan marah terhadap dirinya dan dirinya baru saja mendapatkan maaf, walaupun tanpa perkataan minta maaf atau sejenisnya.

"Sebaiknya aku tidak terlalu memaksakan keinginan ku, sebab kemungkinan Bu Wati masih menyimpan rasa marah kepadaku." gumam Slamet di dalam hatinya.

Slamet kembali berjalan dan walaupun mempercepat langkahnya namun Slamet tidak berupaya menyamai kedudukan Wati lagi.

Wati yang mengetahui Slamet berjalan sedikit dibelakangnya, kembali menurunkan sedikit pergerakan kakinya, sebab semakin lama semakin terasa sedikit lelah dibagian kakinya.

Slamet merasa bingung sekali dengan apa yang saat ini hendak di ucapkannya kepada Wati, namun bingung, bagaimana cara mengungkapkannya. ***

Di tempat lain, di sebuah ladang yang saat ini di tanam jagung. Harjo sudah tampak lelah sebab setiap yang dikerjakannya selalu saja terasa salah dan tidak maksimal, sehingga Harjo memutuskan untuk pulang dan menuju rumahnya.

"Sudah, sebaikanya aku pulang saja, rasanya letih sekali hari ini, apapun yang ku kerjakan tidaklah sebaik hari biasanya. Mungkin Yang Maha Kuasa ingin aku beristirahat saja hari ini." Runtuk Harjo di dalam hatinya.

Kelelahan tampak di wajahnya yang merasa kurang beruntung hari ini.

Harjo mengumpulkan peralatan yang di bawanya dan bersiap untuk pulang kerumahnya. ***

Apaan yang dipikirkan oleh Slamet?

Apakah yang terjadi selanjutnya?

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!