Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bidak Catur Sang Raja
Cahaya keemasan matahari senja perlahan meredup, digantikan oleh gemerlap lampu neon kota metropolis. Di dalam kabin mobil sedan mewah milik Mia Zimmer yang tengah melaju tenang, Arthur Summers membaca ulang pesan singkat dari Maya Lin di layar ponselnya.
Seseorang dari Universitas St. Jude baru saja diculik oleh pasukan elit Keluarga Sterling. Mereka menginginkan gulungan kuno itu sebagai tebusan.
"Ada masalah, Arthur?" tanya Mia yang sedang mengemudi. Gadis itu melirik sekilas, menangkap perubahan raut wajah Arthur yang tiba-tiba menjadi sangat fokus.
"Keluarga Sterling mulai bertindak gegabah," jawab Arthur dengan nada datar. "Mereka menculik seseorang dari kampusku untuk memeras gulungan resep kuno ini."
Mia mengerutkan keningnya, tangan lentiknya mencengkeram kemudi lebih erat. "Keluarga Sterling sangat licik, Arthur. Secara publik, mereka adalah pahlawan. Perusahaan farmasi mereka menyumbangkan jutaan dolar setiap tahun untuk rumah sakit anak dan panti jompo. Citra publik mereka nyaris tanpa cela. Jika Anda menyerang mereka secara fisik seperti preman jalanan, media dan kepolisian akan memutarbalikkan fakta dan mencap Anda sebagai teroris."
"Aku tahu," sahut Arthur tenang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Kekerasan fisik adalah senjata bagi mereka yang kehabisan akal. Untuk menghancurkan sebuah institusi yang berlindung di balik topeng malaikat, kita harus membuat mereka merobek topeng mereka sendiri di depan publik."
Arthur menyentuh alat komunikasi kecil di telinganya, menyambungkannya ke saluran terenkripsi. "Silas, laporan."
"Jenderal," suara Silas Mercer terdengar tajam. "Orang yang diculik adalah Profesor Hemlock, ahli neurologi senior di Universitas St. Jude yang juga merupakan dosen pembimbing Nona Maya Lin. Keluarga Sterling menyekapnya di ruang bawah tanah fasilitas riset utama mereka. Pengamanan di sana menggunakan tentara bayaran berlisensi. Menyerbu tempat itu akan memicu baku tembak yang terekam oleh ratusan kamera keamanan kota."
Arthur terdiam sejenak, memutar otak taktisnya.
"Kita tidak akan menyerbu mereka, Silas. Kita akan membiarkan mereka yang menyerahkan Profesor Hemlock kepada kita secara sukarela," perintah Arthur dengan seringai tipis yang sangat mematikan. "Hubungi Tuan Tucker."
Di kota ini, Arthur memegang kartu as yang tidak diketahui siapa pun. Drake Tucker, orang terkaya di kota tersebut.
"Drake Tucker sudah bersiaga, Jenderal. Apa langkah kita selanjutnya?"
"Malam ini, Keluarga Sterling mengadakan malam Gala Amal Medis tahunan di hotel bintang lima milik mereka untuk mempresentasikan proyek obat baru," Arthur menjabarkan rencananya dengan presisi seorang grandmaster catur. "Aku akan datang ke sana secara pribadi untuk menyerahkan gulungan ini. Sementara itu, aku butuh Drake Tucker melakukan manipulasi agresif pada rantai pasokan bahan baku farmasi mereka dalam waktu satu jam ke depan. Buat perusahaan mereka berada di ujung jurang kebangkrutan tanpa disadari oleh media."
"Dimengerti, Jenderal. Sebuah operasi pencekikan finansial diam-diam."
Panggilan diputus. Arthur menoleh ke arah Mia yang sedari tadi mendengarkan rencananya dengan tatapan takjub.
"Mia, aku butuh bantuanmu malam ini," ucap Arthur dengan nada yang melembut. "Keluarga Zimmer pasti mendapat undangan ke Gala Amal tersebut, bukan? Bisakah kau membawaku masuk sebagai pendampingmu?"
Rona merah samar langsung menjalar di pipi Mia. Meskipun situasi sedang sangat genting, permintaan Arthur untuk menjadikannya 'pendamping' di acara resmi membuat jantung gadis itu berdebar sedikit lebih cepat.
"Tentu saja, Arthur," jawab Mia dengan senyum anggun, menekan perasaannya agar tetap profesional. "Tetapi, Keluarga Zimmer juga menguasai beberapa media independen terbesar di kota ini. Jika Anda ingin merobek topeng Keluarga Sterling, saya bisa memerintahkan jaringan jurnalis kami untuk meretas siaran langsung acara tersebut kapan pun Anda memberikan kode."
Arthur menatap Mia dengan kekaguman yang tulus. "Kau sangat cerdas, Mia. Perpaduan yang sempurna."
Dua jam kemudian, ballroom utama Sterling Hotel dipenuhi oleh para elit kota metropolis. Politisi, selebritas, dan pengusaha berkumpul di bawah lampu kristal raksasa, menikmati sampanye mahal dan mendengarkan pidato filantropi dari Lord Vance Sterling, kepala keluarga dan ayah dari Kaelen Sterling.
Lord Vance adalah pria paruh baya yang karismatik dengan rambut memutih yang disisir rapi. Ia berdiri di mimbar, berbicara tentang dedikasi keluarganya untuk menyembuhkan penyakit langka, menuai tepuk tangan meriah dari para hadirin. Citra publiknya benar-benar menyerupai seorang santo pelindung.
Di sudut ruangan, Arthur berdiri berdampingan dengan Mia. Keduanya tampak sangat serasi. Mia mengenakan gaun malam berwarna emerald yang menonjolkan keanggunannya, sementara Arthur mengenakan tuksedo hitam pekat yang membuat auranya terasa misterius namun berwibawa. Tidak ada yang menduga bahwa pria tampan ini adalah komandan dari pasukan paling mematikan di dunia.
Kaelen Sterling, yang siang tadi dipermalukan oleh Arthur di kafe, tiba-tiba melihat kehadiran mereka. Wajah Kaelen memucat, namun ia segera berbisik kepada ayahnya yang baru saja turun dari mimbar.
Lord Vance menatap ke arah Arthur. Senyum ramah di wajah sang patriark tidak luntur sedikit pun. Ia melangkah mendekati Arthur dan Mia dengan dikawal oleh dua orang pria berjas yang gerak-geriknya sangat terlatih.
"Nona Zimmer, sebuah kehormatan melihat Keluarga Zimmer hadir malam ini," sapa Lord Vance dengan nada berat dan berwibawa. Matanya kemudian beralih menatap Arthur. "Dan ini pasti Tuan Arthur Summers. Kaelen memberitahuku bahwa Anda memegang sesuatu yang 'seharusnya' menjadi milik kami."
"Itu tergantung pada definisi Anda tentang kepemilikan, Lord Sterling," jawab Arthur dengan senyum tenang, mengeluarkan kotak kayu kecil berukir naga dari saku jasnya. "Saya membawa apa yang Anda inginkan. Sekarang, di mana Profesor Hemlock?"
Lord Vance tertawa pelan, tawanya terdengar sangat sopan namun penuh racun. "Profesor Hemlock sedang menjadi tamu kehormatan di fasilitas kami. Beliau sedang beristirahat. Tentu saja, beliau bisa pulang kapan saja setelah kita menyelesaikan 'transaksi' kita. Mari kita bicara di ruangan privat saya."
Arthur mengangguk pada Mia, mengisyaratkan gadis itu untuk tetap berada di aula, sebelum ia mengikuti Lord Vance dan Kaelen menuju ruang VIP yang kedap suara di lantai dua.
Begitu pintu ruang VIP ditutup dan dikunci dari dalam oleh para pengawal, senyum ramah Lord Vance seketika lenyap, digantikan oleh raut wajah iblis yang sesungguhnya.
"Berikan gulungan itu sekarang, Tuan Summers," perintah Lord Vance dingin, duduk di sofa kulitnya dan menyalakan sebatang cerutu. "Kau mungkin pandai berkelahi dan bisa menggertak putraku, tapi kau sedang berhadapan dengan institusi bernilai miliaran dolar. Kami bisa melenyapkanmu dan membuat media memberitakan bahwa kau adalah buronan kasus narkoba."
Arthur tidak terintimidasi. Ia meletakkan kotak kayu itu di atas meja kaca di tengah ruangan, lalu duduk dengan santai menyandarkan punggungnya, menyilangkan kakinya layaknya seorang raja yang sedang mengunjungi rumah bawahannya.
"Gulungan itu berisi rumus senyawa saraf tingkat tinggi," ucap Arthur tenang. "Kalian menculik Profesor Hemlock karena para ilmuwan bodoh kalian tidak bisa menguraikan simbol alkimia kuno di dalamnya. Kalian ingin memonopoli obat saraf baru, mematenkannya, dan menjualnya dengan harga gila-gilaan, mengorbankan ribuan pasien miskin demi mengisi brankas kalian."
Kaelen Sterling mendengus sinis. "Lalu kenapa? Itulah bisnis, gembel! Serahkan kotak itu, atau profesor tua itu akan mati malam ini karena 'serangan jantung mendadak', dan kau akan menjadi tersangka utamanya."
Arthur tersenyum tipis. Sebuah senyum yang membuat udara di dalam ruangan kedap suara itu terasa menurun suhunya.
"Lord Sterling," panggil Arthur, menatap langsung ke mata pria paruh baya itu. "Tahukah Anda bahwa dalam setengah jam terakhir, seluruh pemasok bahan kimia dasar untuk Sterling Pharmaceuticals telah memutuskan kontrak secara sepihak?"
Lord Vance mengerutkan keningnya. "Apa omong kosong yang kau bicarakan?"
"Konsorsium Drake Tucker baru saja memblokir semua akses impor kalian," lanjut Arthur dengan nada santai, seolah ia sedang menceritakan cuaca hari ini. "Tanpa bahan baku, pabrik kalian akan berhenti berproduksi besok pagi. Saham kalian yang dijaminkan ke bank sentral akan anjlok saat pasar dibuka, memicu gagal bayar triliunan dolar."
Kaelen tertawa terbahak-bahak. "Kau gila! Drake Tucker adalah teman baik ayahku! Dia tidak mungkin menuruti perintah dari seorang dosen sejarah miskin sepertimu!"
Namun, tawa Kaelen terhenti saat ponsel Lord Vance bergetar hebat. Patriark keluarga Sterling itu mengangkat telepon genggamnya, dan wajahnya seketika berubah sepucat kertas HVS.
"B-bagaimana mungkin..." gumam Lord Vance, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Pesan dari dewan direksinya mengonfirmasi setiap kata yang baru saja diucapkan Arthur. Perusahaannya sedang dicekik dari segala arah oleh raksasa bisnis Drake Tucker.
"Selain itu," Arthur mengetukkan jarinya ke meja kaca, sebuah kode rahasia. "Kalian sangat bangga dengan citra publik kalian, bukan?"
Di luar ruangan VIP, di dalam ballroom utama, Mia Zimmer yang telah menerima kode dari ketukan mikrofon tersembunyi Arthur, segera memberikan instruksi kepada tim media keluarganya.
Seketika, layar proyektor raksasa di aula utama yang sebelumnya menampilkan logo Sterling berubah menjadi siaran langsung. Layar itu menampilkan video Profesor Hemlock yang disekap di ruang bawah tanah kotor dengan tangan diborgol, dijaga oleh tentara bayaran bersenjata dengan logo Keluarga Sterling di seragam mereka.
Suara keributan, jeritan kaget, dan kamera para wartawan yang memotret layar raksasa itu langsung terdengar riuh menggema hingga terdengar samar dari balik pintu ruang VIP.
Wajah Lord Vance dan Kaelen kini benar-benar pias. Dunia mereka baru saja runtuh dalam waktu kurang dari lima menit.
"Rekaman langsung penyekapan Profesor Hemlock kini disaksikan oleh seluruh donatur medis, gubernur, dan media massa di aula bawah," jelas Arthur dengan suara bariton yang teramat tenang dan menusuk. "Dan aku baru saja mengirimkan lokasi GPS laboratorium ilegal itu kepada kepolisian federal. Mereka akan tiba di sana dalam lima menit."
"K-kau... apa yang kau inginkan?!" geram Lord Vance, suaranya bergetar karena teror absolut. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukanlah manusia biasa. Kecerdasan dan kekuatan di balik rencana ini terlalu mengerikan.
"Pertama, perintahkan pasukanmu untuk membebaskan Profesor Hemlock sekarang juga dan biarkan polisi menemukannya," perintah Arthur mutlak. "Kedua, saat kau turun ke aula nanti, kau akan mengumumkan pengunduran dirimu secara publik dan menyerahkan diri ke kepolisian atas tuduhan penculikan, untuk menyelamatkan sisa perusahaanmu."
"Dan jika aku menolak?" desis Lord Vance putus asa.
"Jika kau menolak," wajah Arthur berubah menjadi sangat gelap, auranya menekan Lord Vance dan Kaelen hingga mereka berdua merasa kesulitan bernapas. "Aku akan membiarkan Drake Tucker menghancurkan seluruh aset kalian malam ini, dan besok pagi... Kaelen akan ditemukan mengambang di sungai kota. Pilihan ada di tanganmu, Tuan filantropi."
Dihadapkan pada kehancuran dan bukti publik yang tak terbantahkan, Lord Sterling jatuh terduduk di kursinya. Kesombongan dan citra sucinya telah hancur lebur tanpa Arthur perlu melepaskan satu pun peluru.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...